
"Anda kenapa, nona Rafa? Apakah anda sedang tidak enak badan?" Livia bertanya saat ia mendapati Rafa yang terlihat terdiam melamun.
Gadis Seithr itu menatap seolah menembus buku yang ada di hadapannya. Dan tampak terkejut saat mendengar pertanyaan Livia tersebut.
"Ah, tidak. Aku baik-baik saja, Livia" jawab Rafa yang kembali melanjutkan pekerjaannya. Menulis sesuatu dalam bukunya.
Mereka sedang berada di ruang depan gedung percetakan. Sedang mempersiapkan materi buku baru tentang aritmatika. Yang akan diperbanyak untuk kebutuhan sekolah.
"Tapi akhir-akhir ini anda terlihat tampak tidak fokus, nona Rafa" ujar Livia tampak kuatir.
"Be, benarkah?" Tampak Rafa salah tingkah. Seperti ada yang coba ia sembunyikan.
"Bila ada sesuatu hal, anda bisa membicarakannya dengan saya, nona Rafa" ucap Livia lagi.
"Livia? Apa kau sudah selesai?" Tiba-tiba Fla muncul dari ruangan lain dan memotong pembicaraan dua gadis tersebut. "Aku ingin mengajakmu makan bersama" imbuhnya kemudian.
"Kurang sedikit lagi, Fla. Tapi kurasa hari ini aku akan makan siang bersama nona Rafa" ucap Livia menjawab ajakan Fla.
"Tidak perlu, Liv. Aku baik-baik saja. Lagi pula nanti aku ada janji bertemu tuan Dirk di bar" saut Rafa buru-buru mencegah Livia.
"Baiklah bila memang begitu" tampak Livia menatap Rafa beberapa saat, sebelum beralih menatap Fla. "Setengah jam lagi ya" ujarnya kemudian dengan memberi tanda kepada Fla untuk segera pergi.
"Baiklah. Aku akan menunggu di depan ya" jawab pemuda tersebut sebelum menghilang dibalik pintu keluar.
"Kembali lagi. Anda bisa bercerita tentang segala hal pada saya, nona Rafa" ucap Livia lagi yang mulai kembali melakukan pekerjaannya memberi tanda pada buku yang sudah ditulis oleh Rafa. "Mungkin saya tidak akan banyak membantu. Tapi setidaknya saya bisa memberikan pandangan saya tentang masalah anda, nona Rafa" tambahnya kemudian.
Tampak Rafa mengela nafas panjang. "Akhir-akhir ini aku memang sedang susah tidur" ucap Rafa kemudian
"Apakah ada yang sedang anda pikirkan, nona Rafa?"
Rafa terdiam sejenak. "Apa kau menyukai Fla?" Tanyanya tiba-tiba.
"Eh, kenapa tiba-tiba anda bertanya seperti itu?" Tampak Livia terkejut mendengar pertanyaan dari Rafa, alih-alih jawaban atas pertanyaannya.
"Aku hanya ingin tahu" jawab Rafa cepat tanpa merubah ekspresi.
"Iya. Saya menyukai Fla. Saya mencintainya" ucap Livia cepat.
"Apa dia tahu kau mencintainya?" Tanya Rafa bersambung.
"Iya, dia tahu itu. Saya pun tahu kalau dia juga mencintai saya" jawab Livia yang terlihat sedikit tersipu.
__ADS_1
Rafa menghela nafas sekali lagi. "Aku doakan kau bahagia selalu bersama Fla" ucapnya kemudian dengan nada seperti sedang berputus asa.
Livia terlihat diam mengamati wajah Rafa. "Apa anda sedang jatuh cinta, nona Rafa?" Tanyanya kemudian yang tampak mengejutkan Rafa.
Tampak Rafa menjawab dengan terbata. "Ku-kurasa, wajar kan? Bila kita jatuh cinta?"
"Sangat wajar, nona Rafa. Tapi syukurlah, bila keresahan anda adalah karena sedang jatuh cinta" ucap Livia yang terlihat lega. "Dan bila boleh saya tahu, siapakah orang yang beruntung itu, nona Rafa?" Susulnya dengan pertanyaan.
Rafa hanya diam dengan wajah yang terlihat seperti sedang kesusahan.
"Bila anda tidak ingin menceritakan sekarang, tidak apa-apa. Dan kesiapapun itu, saya akan selalu mendukung anda, nona Rafa" tambah Livia yang tidak ingin memaksa Rafa yang tampak tidak ingin menjawab pertanyaannya.
Rafa hanya diam. Kemudian tersenyum canggung menatap senyum tulus Livia dan kembali bekerja.
-
Rafa tampak tinggal di dalam bar milik Pietro, setelah pertemuannya dengan Dirk selesai beberapa saat yang lalu.
Ia duduk didepan meja bartender dengan segelas minuman karbonasi beralkohol dihadapannya. Aksa pernah menyebut minuman tersebut dengan nama Sparkling Wine.
Sedang Pietro dan Luna menyebutnya, minuman Bintang Merah. Karena gelembung kecil dalam cairanya itu tampak seperti bintang di langit merah. Sekaligus agar lebih terdengar akrab dan menarik para pembeli.
"Akhir-akhir ini kau terlihat lelah. Apa kau kurang tidur, nona Rafa? Apakah tuan mu Aksa mempekerjakan mu dengan keras?" Tanya Katarina yang duduk disebelah Rafa.
"Tidak. Bukan begitu, nyonya Katarina. Memang akhir-akhir ini saya sedang susah tidur" jawab Rafa kemudian.
"Mimpi buruk?" Tiba-tiba Luna bertanya dari balik meja panjang bartender tersebut.
"Oh, bukan. Saya tidak mengalami mimpi buruk, nona Luna" jawab Rafa.
"Berarti anda sedang memikirkan sesuatu. Apakah ada pekerjaan anda yang tidak terurus? Anda harus berbicara pada tuan Aksa atau putri Lucia" ujar Luna lagi seraya sibuk mengelap gelas-gelas yang ada di rak di belakangnya.
"Tidak, nona Luna. Pekerjaan saya lancar semua" jawab Rafa cepat. Gadis itu selalu serius bila menyangkut masalah pekerjaan. Ia tidak mau orang beranggapan bahwa ia tidak cakap dalam pekerjaannya.
"Kalau begitu, besok akan ku kirim ramuan teh herbal yang biasa ku minum saat aku susah tidur, ketempat mu" ujar Katarina.
"Berarti bila bukan masalah keluarga, pasti masalah cinta" Luna memotong ucapan Rafa yang ingin berterima kasih pada Katarina.
Seketika Rafa menahan ucapannya, kemudian menatap kearah Luna. Wajahnya terlihat ragu.
"Kenapa? Apa ada yang ingin anda tanyakan?" Tanya Luna kemudian setelah mendapati Rafa hanya diam menatapnya.
__ADS_1
"Maaf bila ini tiba-tiba. Anda sekalian boleh tidak menjawabnya, tapi saya ingin bertanya pada anda berdua" ujar Rafa tiba-tiba. "Apa anda berdua pernah jatuh cinta?" Imbuhnya yang tidak terlalu mengejutkan Luna dan Katarina.
Mereka berdua sudah bisa menduga apa yang sedang meresahkan gadis muda itu.
"Jelas pernah. Aku menikah bukan karena martabat dan kedudukan sosial" jawab Katarina yang terdengat menyepelekan pertanyaan Rafa.
"Iya, saya pernah jatuh cinta" kali ini Luna yang menjawab. Dan kemudian bertanya balik. "Apa anda sedang jatuh cinta, nona Rafa?"
Rafa terlihat diam sebentar. Seperti sedang menimbang-nimbang. "Kurasa memang seperti itu" jawabnya kemudian dengan sedikit malu.
"Siapa laki-laki itu, nona Rafa?" Tanya Katarina yang terdengar penasaran.
"Ya... tapi yang ingin saya tanyakan adalah, apakah perasaan jatuh cinta itu akan mengganggu seperti ini?" Rafa menghindari pertanyaan Katarina dengan pertanyaan lain.
"Maksud anda, yang membuat anda susah tidur?" Tanya Luna kemudian.
"Saya juga menjadi tidak fokus dalam melakukan sesuatu akhir-akhir ini. Apakah memang seperti itu? Dan bagaimana cara untuk menghentikan semua hal tersebut?" Rafa tampak benar-benar ingin mendapat jawabannya.
"Itu karena anda tidak mengungkapkannya. Maka perasaan itu akan selalu mengganggu konsentrasi anda" tiba-tiba terdengar suara dari belakang Rafa.
"Oh. Anda mengejutkan saya, nona Diana" Tampak Diana duduk di meja tak jauh dari meja panjang bartender.
"Maaf, aku tidak bermasud untuk mencuri dengar atau ingin mencampuri urusan anda, nona Rafa" ujar Diana yang segera meminta maaf, bila hal tersebut menyinggung Rafa.
"Saya rasa, saya memang memerlukan banyak masukan, nona Diana. Dan apakah anda bisa menjelaskan ucapan anda yang baru saja?" Tanya Rafa yang kali ini duduk memunggungi Luna, menghadap ke arah Diana.
"Ya, itu karena anda masih penasaran. Apakah perasaan yang anda punya berbalas atau tidak? Maka dari itu, hal tersebut akan selalu mengganggu pikiran anda. Beda bila anda sudah tahu jawabannya" Diana menjelaskan dari tempat duduknya.
"Saya setuju dengan nona Diana" saut Katarina setuju.
"Bagaimana bila ternyata perasaan saya ini tidak berbalas? Atau bagaimana bila hubungan yang kami punya sebelumnya menjadi canggung dan tidak sama lagi?" Rafa terlihat benar-benar menguatirkan masalah tersebut.
"Itu masalah untuk dipikirkan nanti. Saat ini masalah anda adalah untuk mengetahui jawabannya. Kita tidak bisa berjalan maju bila kita memikirkan banyak hal yang akan terjadi, bahkan sebelum kita melangkahkan kaki" ujar Diana "Dan setiap pilihan pasti memiliki resiko. Namun bila anda tidak berani melakukan hal tersebut, maka anda harus siap merasakan perasaan yang mengganggu itu sampai anda tidak merasakannya lagi" tambahnya kemudian panjang lebar.
Terlihat Rafa seperti sedang mencerna ucapan Diana tersebut.
"Menurut saya, tidak ada salahnya untuk anda menyatakan perasaan anda ke seseorang lebih dulu" kali ini Luna yang berucap.
"Begitu ya? Saya akan mempertimbangkannya" Jawab Rafa yang terlihat mengambang. Ia masih belum dapat memutuskannya dengan yakin.
"Dan, siapa pun laki-laki itu, kurasa tidak akan berpikir dua kali untuk menerima perasaan cinta mu, nona Rafa" ucap Katarina yang mencoba menyemangati Rafa.
__ADS_1
"Terima kasih, nyonya Katarina. Dan juga nona Diana dan nona Luna. Saya sangat terbantu dengan mendengar pendapat dari anda sekalian. Sepertinya sudah saatnya saya harus kembali ke percetakan. Jadi saya permisi dahulu" ucap Rafa yang kemudian bergegas meninggalkan bar tersebut.
-