Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
Antology 18


__ADS_3

Di kediamannya, Lucia yang baru saja selesai mandi sedang mengeringkan rambutnya di depan meja rias dengan sebuah kaca besar terpasang di hadapannya.


Sudah mengenakan baju tidur yang berupa gaun terusan dari sutra berwarna persik, saat tiba-tiba ia mendengar suara-suara seperti ketukan dari balik jendela kamarnya yang berada di lantai dua itu.


"Siapa?" tanya Lucia yang dengan sigap mengambil sebuah senjata api yang terletak di dalam laci meja riasnya, dan kemudian berjalan perlahan menuju ke arah jendela.


Dan ketika ia sudah berada dekat dengan jendela, tiba-tiba terdengar suara ledakan dasyat yang mengejutkannya. Dan saat ia masih dalam posisi terkejut dan menurunkan kewaspadaannya, tiba-tiba terdengar suara dari arah belakangnya.


Ketika ia berpaling untuk mencari tahu, sudah ada seorang yang berpakaian seperti pemburu dengan penutup muka bergambar tengkorak berwarna darah tepat di hadapannya.


Entah muncul dari mana, sesosok bertopeng itu segera menerjang Lucia dengan pedang panjang terhunus tepat ke bagian jantungnya, bahkan sebelum Lucia sempat terkejut.


Di saat Lucia tidak dapat menghindar dengan cepat, sesosok lain dengan pakaian hitam putih yang juga mengenakan topeng aneh muncul begitu saja di hadapan Lucia. Membelakanginya juga menanggkis pedang lawan yang tadi terhunus padanya.


Melihat muncul seseorang di hadapannya, sosok bertopeng tengkorak tadi melompat mundur kebelakang.


"Oh, benar-benar mengejutkan. Cahaya dari Timur?" Sosok bertopeng itu berucap. Suaranya terdengar berat. "Jadi Anda keturunan asli Pahlawan Elbrasta? Kukira orang itu sedang bermain-main dengan kami, ternyata dia tidaklah berbohong," ucapnya kemudian seraya mengangguk kecil


"Siapa kau?" tanya Lucia yang baru saja mampu mengumpulkan kekuatannya untuk berucap. Tampak ia mengarahkan pistol di tangannya ke sosok bertopeng tengkorak tersebut.


Sementara sosok bertopeng yang satu lagi hanya terdiam tidak berucap atau bergerak sedikitpun. Posisi kuda-kudanya terlihat sempurna untuk segera melakukan pertahanan, dan serangan balik.


"Kata kau terdengar tidak cocok untuk kami. Terkesan lebih pribadi bukan, Ratu Elbrasta?" ucap sesosok bertopeng tengkorak tersebut, yang kemudian muncul beberapa orang bertopeng lainnya. Dengan pakaian yang memiliki corak hitam merah yang senada dengan sosok sebelumnya.


"Ratu!" Bersamaan dengan munculnya Jean dari pintu masuk kamar Lucia, mulailah bermunculan satu persatu sosok dengan topeng aneh yang mengenakan jubah berwarna hitam putih, yang berdiri di hadapan delapan sosok bertopeng lainnya. "Apa yang tengah terjadi?" Jean terkejut mendapati ada enam belas orang bertopeng di dalam kamar Lucia.


Tiba-tiba terdengar teriakan bibi Lucia dari kamar tamu tak jauh dari kamar Lucia.


"Bibi?!" seru Lucia yang dengan segera berlari menuju pintu keluar, yang memicu pergerakan dari semua orang bertopeng itu.


Terdengar dentang pedang beradu menggema di sepanjang Lucia berlari.


Seorang bertopeng tengkorang muncul dengan tiba-tiba tepat di sebelah Lucia sambil menebaskan pedangnya ke arah Lucia, namun di saat bersamaan muncul sesosok lain dengan topeng aneh berwarna hitam putih menangkis serangan tersebut.


Dan hal itulah yang terjadi berulang di sepanjang Lucia berlari hingga melewati pintu keluar kamarnya. Para pengguna topeng tengkorak itu selalu berusaha menyerang Lucia, dan orang-orang bertopeng hitam putih itu berusaha menahan serangan mereka dan melindungi Lucia.


Jean yang melihat hal tersebut segera mengawal Lucia keluar dari kamarnya.


"Demi para dewa! Mugger?! Apa yang sedang terjadi?" Tampak Lucia dan Jean terkejut mendapati sepuluh Yllgarian serupa manusia Buaya ada di koridor di luar kamar Lucia, sedang melawan beberapa prajurit penjaga Ratu.


"Bibi, Alexander, dan Eden," ucap Lucia yang langsung saja berlari menuju ke arah kamar tamu. Yang sekarang sudah menjadi kamar bibinya.


"Ratu tunggu!" Dengan segera Jean berlari mengejar Lucia dan bersiap menahan serangan dari para Mugger yang menyadari keberadaan mereka dan mulai menyerang.


-


Sementara itu di Bar, orang-orang segera keluar untuk memeriksa keadaan. Saat mendadak menara Jam di alun-alun kota tiba-tiba meledak.


Semua tampak terkejut. Beberapa orang yang ada di jalan tampak mulai panik saat melihat api membumbung di tengah kota, setelah sebelumnya mereka telah di kejutkan oleh suara ledakan yang terdengar kencang.


"Apa kita sedang diserang?" tanya Diana seraya memandang berkeliling.


"Sialan, bagaimana bisa?!" sahut Sigurd yang terdengar tidak percaya.


"Sihir ini... Arcane Ruang Waktu!" Yvvone merasakan aliran sihir yang iya kenal.


"Ada yang menggunakan kristal pemindah?" tanya Ende kepada Yvvone untuk memastikan.


"Diana, Ende, Sigurd, kalian periksa ke alun-alun kota," perintah Shuri dengan segera. "Aku, Thomas, dan Axel akan memeriksa arah Stasiun. Dan untuk yang lain segeralah menuju ketempat yang aman," lanjutnya sebelum kemudian dua kelompok Bintang Api tersebut memencar ke arah timur dan barat.


"Kurasa untuk sementara Anda sekalian berlindunglah di tempat ini, aku akan membantu mereka memeriksa," ucap Rafa saat semua orang sudah kembali ke dalam Bar.


"Kalau begitu saya akan menuju timur, untuk memberi kabar dan meminta bantuan," sahut Luke berucap.


"Harusnya sekarang dengan jaringan menara jaga, wilayah lain pasti sudah mengetahui bahwa wilayah ini sedang dalam bahaya," ucap Haldin menanggapi.


"Benar, tapi saya akan memastikannya lahi." balas Luke lagi.


"Biar aku antar dengan Kereta Besi agar lebih cepat," ucap Fla kemudian seraya menatap ke arah Livia, seperti sedang meminta persetujuan.


"Baiklah, hati-hati kalian berdua," balas Livia kemudian.


"Aku akan menemanimu, Nona Rafa," ucap Yvvone kali ini menawarkan diri.


"Baik," jawab Rafa cepat, karena ia tahu bantuan Yvvone akan sangat berguna.


"Hati-hati kalian semua." Luque berucap yang di jawab anggukan dalam oleh yang lain.


Kemudian Yvvone dan Rafa pun keluar dari Bar bersama Luke dan Fla. Dan tepat begitu mereka berada luar, terdengar suara ribut dari arah alun-alun kota.


"Suara itu... Apa itu sebuah pasukan?" ucap Luke yang memiliki indra pendengar yang jauh lebih tajam dari dua manusia dan satu Elf yang ada bersamanya sekarang ini.


Dan tak berselang lama kemudian ledakan beruntun terjadi dari arah alun-alun kota.


"Kita harus segera kesana, Nona Yvvone," sahut Rafa seraya mengeluarkan tongkat sihirnya.


"Kalau begitu, kami akan langsung ke timur," ucap Fla kemudian yang mulai berlari ke arah Kereta Besi milik Pietro yang ada di sebelah Bar.


Sementara Yvvone segera mendekap tubuh Rafa dari belakang, dan melompat ke atas kemudian melesat cepat menuju ke arah ledakan tadi terjadi.


-


"Bagaimana semua ini bisa terjadi?" Katarina bertanya dengan panik dan takut dari dalam Bar.

__ADS_1


Tampak Seigfried dan James sedang menutup semua jendela dan pintu Bar. Sekarang di Bar itu hanya tinggal sepuluh orang. Yaitu Livia, Luque, Couran, Haldin, Ellian, Katarina, Edward, Luna, Seigfried, dan James.


"Sialan, semua ini salah ku. Harusnya aku memastikan bahwa sudah tidak ada celah sama sekali bagi penyusup untuk memasuki wilayah Pusat ini," ucap Luna yang terdengar marah dan kecewa terhadap dirinya sendiri. "Harusnya aku memaksakan pada Yang Mulia Ratu untuk memasang alat mistik pengacau Aliran Jiwa di dalam kota," tambahnya lagi yang mulai terlihat kecewa pada dirinya sendiri.


"Anda sudah melakukan yang terbaik, Nona Luna. Kita memang tidak mungkin menebak dengan tepat apa yang akan terjadi di masa depan," ucap Ellian yang berusaha menyemangati Luna.


"Bukan, Nona Ellian. Ini adalah sesuatu yang sangat jelas, dan aku masih tidak dapat melihatnya," jawab Luna kemudian. "Sekarang begitu satu penyusup saja berhasil masuk, dengan Arcane Ruang Waktu, mereka bisa membuat jalan masuk untuk seluruh pasukan," ucapnya lagi menjelaskan kesalahan besar yang telah ia lakukan.


"Anda tidak perlu menyalahkan diri, Nona Luna. Sekarang semuanya sudah terjadi, kita hanya bisa berharap apa pun yang sedang terjadi sekarang ini bisa segera ditangani oleh para prajurit," ucap Luque kemudian, mencoba merubah suasana ruangan tersehut.


"Wilayah tengah ini bahkan tidak memiliki prajurit sama sekali. Hanya ada penjaga kota dan beberapa petarung," ucap Luna lagi yang terlihat ingin menyerah. "Itu semua karena semua prajurit dikirim ke wilayah pinggiran, karena kita kekurangan prajurit dan merasa bahwa wilayah ini sudah cukup aman," lanjutnya kemudian.


"Mari kita tidak berputus asa terlebih dahulu," sahut Luque kemudian seraya tersenyum menatap ke arah Luna.


-


Sementara itu kembali ke kediaman Lucia. Tampak Jean bersama empat prajurit penjaga tengah bertarung melawan lima Mugger di koridor di luar kamar Lucia.


Sedang Lucia mulai menggunakan senjata api yang ia punya untuk membersihkan jalurnya menuju ke kamar bibinya.


Beberapa Mugger terlihat sudah tergeletak sambil mengerang karena tertembus beberapa peluru panas di bagian kaki dan lengannya.


Dan dengan terus melakukan hal tersebut, Lucia pun akhirnya berhasil sampai di depan kamar sang bibi. Lalu tanpa pikir panjang, segera Lucia membuka pintu dan memasuki kamar tamu tersebut.


"Ratu, tunggu!" teriak Jean saat melihat Lucia menghilang dari pandangannya. Memasuki Kamar Tamu itu seorang diri. "Gadis itu!!" serunya dengan geram seraya mengayunkan pedangnya dengan marah ke arah lawan di hadapannya. Berusaha secepat mungkin mengalahkannya dan mengejar Lucia.


Lucia sendiri tiba di dalam kamar sang bibi tepat saat salah satu Mugger berhasil menusukan sebuah pedang ke perut bibinya.


"Tidak, bibi!" Seru Lucia seraya menarik pelatuk senjata di tangannya dengan membabi buta. Yang membuat Yllgarian Buaya yang menusuk bibinya itu tidak sempat menghindar dan tewas seketika. Dengan beberapa peluru dari senjata Lucia yang menembus jantung dan kepala Mugger tersebut.


Kemudian dengan segera Lucia berlari menghampiri bibinya yang kini telah tergeletak berlumur darah di atas lantai.


"Bibi, bertahanlah," ucap Lucia kemudian seraya mengangkat tubuh sang bibi ke atas pangkuannya. Tampak darah mulai membasahi baju tidur yang Lucia kenakan.


"Tidak, Lucia. Alexander... Eden..." Sang bibi tampak kesulitan untuk bernafas. Wajahnya terlihat sedang menahan rasa sakit.


"Tidak Bibi, bertahanlah dulu," ucap Lucia dengan wajah setengah menangis menggenggam tangan sang bibi dengan erat.


"Lucia... selamatkan Alexander dan Eden...." ucap lirih sang bibi yang kemudian putus sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya. Dan bersamaan dengan itu tangan dan kepalanya mulai terjatuh lunglai tidak bertenaga di atas pangkuan Lucia.


"Tidak, bibi. Bibi.... Tidak... jangan." Lucia hanya menangis sesenggukan dengan tangan masih menggenggam erat tangan bibinya.


"Ratu!" Tiba-tiba Jean muncul dari arah pintu masuk, yang kemudian dengan cepat menghampiri Lucia dan memerikasa keadaan sang bibi yang ada di atas pangkuan gadis Narva tersebut.


"Beliau sudah meninggal, Ratu," jawab Jean setelah selesai memeriksa denyut nadi di leher sang bibi.


"Tidak..." Lucia berucap lirih.


"Sekarang bukan waktunya untuk bersedih dulu, Ratu. Kita perlu melakukan sesuatu terhadap semua ini," ucap Jean kemudian. "Kemungkinan para Mugger itu masih banyak berkeliaran dalam kediaman ini. Belum lagi orang-orang yang mengunakan topeng itu," lanjutnya menjelaskan.


"Ratu, tunggu! Ck, gadis itu!" sahut Jean mendapati Lucia kembali berlari keluar kamar tersebut. "Yang lain berjaga dan minta beberpa pelayan yang masih ada di kediaman ini untuk mengurus jasad Yang Mulai Ratu Daisy. Dan sisanya ikut aku kebawah," perintahnya kemudian kepada beberapa prajurit penjaga yang kemudia berlari menyusul Lucia.


-


Sementara itu di alun-alun kota, tampak Diana, Ende, dan Sigurd sedang menghadapi puluhan Mugger, yang sebagian dari mereka adalah para penyihir petarung yang cukup handal.


"Apa mereka Serikat Petarung Mugger, Rawa Darah?" Sigurd berucap setelah berhasil menjatuhkan satu Mugger yang berpakaian seperti seorang petarung dengan kapak dua sisi sebagai senjatanya.


"Bagaimana mereka bisa sampai berada di tempat ini?" Diana bertanya dari belakang Sigurd dan Ende.


"Pertanyaan yang lebih tepat lagi adalah siapa orang yang mampu menyewa dan memerintah mereka untuk menyerang kemari," balas Sigurd yang masih memasang kuda-kuda bertahan dengan tetap waspada mengamati pergerakan lawannya.


"Apa sihir dan senjata tidak dapat melukai mereka?" tanya Ende yang tidak habis pikir setelah ia melihat salah satu dari Mugger itu berdiri kembali setelah menerima sihir petir yang ia keluarkan.


"Bukan, mereka hanya memiliki kemauan bertempur yang sangat tinggi. Hingga batas kemampuan mereka menahan rasa sakit sangatlah tinggi," balas Sigurd dengan cepat. "Ditambah dengan stamina dan cara bertarung yang sangat bagus, membuat mereka terlihat seperti kebal senjata dan sihir. Dan hal itulah yang membantu mereka membangun reputasi sampai seperti sekarang," jelasnya kemudian.


"Baiklah, informasi yang kau berikan sangat jelas, Sig," sahut Diana menanggapi penjelasan Sigurd.


"Dan jelas, ini akan jadi malam yang sangat panjang," ucap Ende menimpali.


Mereka bertiga sudah mulai di kepung oleh para Mugger itu dari berbagai arah, saat kemudian Yvvone dan Rafa turun dari atas langit dengan sihir siap di keluarkan.


Dan Yvvone dengan sihir angin dan Rafa dengan sihir tanah langsung menyapu sebagian sisi yang sedang mengepung Ende, Diana, dan Sigurd sebelumnya.


"Akhirnya, bantuan kita datang," ucap Diana yang terlihat lega.


"Matilah kalian Rawa Darah! Kalian tidak akan bertahan di hadapan Aeron dan Penyihir Senjata Api Kerajaan Rhalsodia," sahut Sigurd yang membuat Rafa merasa malu.


-


Sementara Shuri, Axel, dan Thomas yang sedang memeriksa Stasiun Kereta Uap mendapati orang-orang yang terlihat panik berlarian. Beberpa penjaga kota dan pekerja di Stasiun tersebut berusaha untuk menenangkan dan mengarahkan mereka.


Sedang di jalur kereta di sebelah selatan terlihat api membumbung tinggi. Dan tampak pemandangan yang cukup mengerikan. Beberapa penjaga terlihat sedang melakukan penyelamatan terhadap orang yang tampak terluka dan terjebak diantara puluhan gerbong yang terbalik di sekitaran jalur kereta tersebut.


Dan dengan segera, tiga anggota Bintang Api itu berlari ke tempat puluhan gerbong tadi berada, untuk ikut memberikan bantuan.


Ternyata sudah ada beberapa anak anggota dari Bintang Api di tempat itu.


"Apa yang sedang terjadi?" tanya Shuri kemudian, kepada seorang Morra berkepala botak yang tampak mengenakan pakaian seorang petarung.


"Menurut saksi yang melihat mengatakan bahwa Lokomotif Kereta Uap ini tiba-tiba meledak saat sedang berjalan. Dan membuat gerbong-gerbong di belakangnya terlempar ke segala arah seperti yang kita lihat sekarang ini," jawab pria botak itu kemudian.


"Baiklah kalau begitu. Segeralah minta bantuan pada penjaga yang lain untuk mengamankan penduduk yang lain. Alun-alun kota juga sedang berada dalam bahaya saat ini. Jadi berhati-hatilah," ucap Shuri memerintah dan sekaligus juga memberi peringat kepada anak anggotanya. "Dan pastikan sekali lagi kepada wilayah lain. Bila memang memungkinkan, minta mereka mengirim bantuan ke Kota Tengah ini," tambahnya kemudian.

__ADS_1


"Baik, ketua!" jawab pria botak itu sebelum kemudian berlari menuju ke arah kota.


"Sialan!" umpat Shuri yang kemudian segera membantu Axel yang sudah lebih dulu membantu orang-orang keluar dari gerbong-gerbong tersebut.


Sementara Thomas sudah mulai menyembuhkan beberapa orang yang terluka yang sedang di geletakan di pinggiran jalur kereta tersebut.


-


Kembali ke kediaman Lucia. Tampak beberapa prajurit penjaga sedang sengit bertarung menghadapi beberapa Mugger di ruang tengah, ketika Lucia sedang menuruni anak tangga ke bawah.


Dengan sigap Lucia mulai membidik beberapa Mugger dari atas tangga dan menjatuhkan mereka satu demi satu. Memberi para prajurit penjaga kesempatan untuk membalik keadaan.


Kemudian Lucia segera menuju ke ruang kerjanya yang berada tak jauh dari posisi tangga tadi, ketika para prajurit penjaganya sudah terlihat lebih unggul dibanding lawannya.


Lucia langsung menuju ke lemari kayu di sebelah kanan pintu masuk di ruang kerjanya itu. Membuka laci di bagian dalam lemari tersebut untuk mengambil pistol yang lain dan beberapa wadah peluru. Tak lupa Lucia juga menyahut jas lengan panjangnya yang menggantung di sandaran kursi kerjanya saat hendak berjalan keluar.


Dan setelah Jean berhasil menyusul Lucia dengan para prajurit penjaga yang lain, jumlah Mugger yang berada di ruang tengah itu hanya tinggal tiga saja, yang kemudian dengan mudah dihabisi oleh para prajurit yang baru saja datang bersama Jean.


"Kalian selamatkan Alexander dan Eden," ucap Lucia memerintahkan para prajurit penjaganya, seraya berjalan menuju ke kamar kedua keponakannya itu berada.


Dan begitu tiba di depan kamar Alexander dan Eden, tampak pertarungan sengit sedang berlangsung. Sekitar lima belas prajurit penjaga terlihat sedang bertarung melawan delapan Mugger.


Dan begitu mendapati pintu kamar kedua keponakannya itu terbuka, Lucia segera berlari melewati pertarungan dan masuk ke dalam kamar tersebut. Sementara Jean tampak mengikuti seraya berusaha melindunginya.


Tampak di dalam kamar tersebut, tiga Mugger sedang melawan seorang ksatrian yang terlihat terluka parah berusaha melindingi Alexander dan Eden.


Melihat hal tersebut, dengan cekatan Jean segera membantu ksatria tadi, dengan menyerang salah satu dari tiga Mugger yang ada di hadapannya. Lucia juga mulai membidikan pistolnya ke arah salah satu dari Mugger-Mugger itu.


Dan setelah beberapa tarikan pelatuk dari pistol Lucia, dan beberapa tebasan pedang milik Jean, ketiga Mugger tadi pun berhasil dikalahkan. Namun ksatria pelindung Alexander dan Eden tadi, tampak terluka parah. Dia nyaris tak mampu berdiri lagi.


Tampak pula tubuh dua pengasuh Alexander dan Eden yang tergeletak tak jauh dari tempat tidur. Terlihat bersimbah darah.


Kemudian dengan segera Lucia berlari ke arah kedua keponakannya yang terlihat meringkuk di ujung ruangan. Eden terlihat ketakutan. Sedang Alexander terlihat berwajah datar sama seperti biasanya.


"Kalian tidak apa-apa? Al? Ed?" Lucia tampak kuatir. Ia memeluk kepala Eden dan Alexander bergantian.


"Aku baik-baik saja, kak. Eden juga baik-baik saja. Terlebih dari itu, kuatirkan keadaan Rachel, Nanda, dan Nash," ucap Alexander dengan nada datarnya. Yang dimaksudkan kepada dua pelayan perempuan mereka, dan ksatria yang tadi mati-matian melindungi mereka.


"Jangan kuatir, para prajurit akan mengurus mereka," jawab Lucia kemudian sambil mengelus kepala Eden.


"Bagaimana dengan Ibunda?" tanya Alexander kemudian yang membuat Lucia diam mematung.


Lucia tidak tahu harus menjawab apa atas pertanyaan Alexander. Ia tidak tega untuk mengatakan bahwa ibu mereka sudah tiada.


"Sepertinya kita bisa melanjutkan pembicaraan itu nanti," sahut Jean tiba-tiba, yang menyelamatkan Lucia dari pertanyaan Alexander. "Sekarang kita harus segera melakukan sesuatu untuk masalah ini. Sepertinya sekarang ini mereka juga sedang menyerang kota," lanjut Jean memberi tambahan informasi.


"Benarkah? Kalau begitu kita akan bicara lagi setelah ini, Al," ucap Lucia yang kemudian beranjak menuju ke kamarnya. Sementara beberapa pelayan wanita dan laki-laki sudah datang untuk mengurus Alexander dan Eden. Juga membantu para prajurit penjaga menangani yang terluka. Ada seorang penyembuh yang tinggal di kediaman tersebut.


"Kemana orang-orang bertopeng tadi?" tanya Lucia saat ia sudah kembali ke dalam kamarnya sendiri.


"Saya tidak tahu. Mungkin mereka pindah tempat, atau mungkin pertarungan mereka sudah selesai, meski kita tidak tahu siapa pemenangnya," jawab Jean kemudian.


"Lalu, apa mau sudah mendapat kabar dari Caspian? Wilayah mana saja yang mengalami serangan?" tanya Lucia yang mulai mengganti baju tidurnya yang berlumur darah tadi.


"Saya belum mendapat kabar apapun dari Caspian. Kita hanya tahu bahwa kota ini di serang karena ada penjaga kota yang baru saja melapor." Jean menjawab.


"Lalu bagaimana dengan para Mugger yang ada di tempat ini?" tanya Lucia lagi setelah ia sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian siap tempur, yang lengkap dengan pelindung tubuh.


"Mereka sudah berhasil disingkirkan semuanya," jawab Jean cepat.


"Baiklah kalau begitu. Kurung semua Mugger yang masih hidup jadi satu. Kemudian kirim beberapa prajurit ke kota untuk membantu," perintah Lucia seraya mengisi ulang peluru dari kedua pistolnya


"Baik, Yang Mulia Ratu," jawab Jean sambil mengangguk.


Dan begitu Lucia keluar dari kamarnya, tiba-tiba satu Mugger melompat dari samping seraya menebaskan kapak besarnya ke arah kepala Lucia secara vertikal, dari atas ke bawah.


Karena terkejut, Lucia tidak sempat lagi untuk mengelak, namun tepat sebelum bilah kapak milik Mugger itu menyentuh kepala Lucia, Jean melompat ke depan Lucia dan menghadang kapak tersebut dengan pedangnya.


Namun karena kekuatan dari kapak tersebut, ditambah dengan ayunan Mugger yang sangat kuat, menyebabkan pedang Jean tidak mampu menahannya. Pedang itu patah menjadi dua. Sementara bilah kapaknya terus meluncur menghantam pundak kanan Jean. Yang kemudian menacap dalam.


Sementara Lucia yang tadi terdorong kesamping oleh Jean tampak terkejut saat mendapati tubuh Jean yang bersimbah darah.


"Jean!" teriak Lucia tanpa sadar.


Melihat serangannya yang pertama meleset mengenai Lucia, Mugger itu kembali bersiap untuk melancarkan serangan keduanya terhadap Lucia.


Namun karena Jean menggenggam erat kapak yang sebagian bilahnya menancap dalam di tubuhnya itu, membuat Mugger yang kesulitan untuk menarik kapak tersebut, akhirnya melepaskanya dan langsung menyerang Lucia dengan tangan kosong. Sementara beberapa prajurit lain mulai tampak berdatangan ke tempat itu.


"Lari.." ucap Jean lirih.


Lucia yang tidak memiliki gerak reflek yang bagus itu tidak mampu menghindar saat pukulan tangan Mugger tadi menghantam perutnya. Dan membuatnya terpelanting ke belakang menghantam meja di dalam kamarnya hingga hancur.


Tampak Lucia mengeliat di atas lantai. Perutnya terasa sangat nyeri. Sedang Mugger itu tampak tidak ajan memberi Lucia waktu untuk bernafas. Mugger itu mulai melangkah maju mendekati Lucia.


Namun beruntungnya, sebelum Mugger tadi hendak bertindak lagi, tiga prajurit penjaga berhasil menusukan ketiga pedang mereka ke arah Mugger tersebut, mencoba mengunci gerakannya. Namun tampaknya tidak terlalu berhasil. Mugger itu masih mampu menghadapi tiga prajurit tersebut.


Rasa nyeri kini mulai menyebar di sekujur tubuh Lucia. Tampak ia berusaha bangkit dengan tertatih. Ia melihat pistolnya tergeletak tak jauh dari tempatnya berdiri. Dan dengan segera ia mengambil pistol tersebut kemudian membidikannya ke kepala Mugger yang sedang melawan tiga prajurit tadi.


Dan setelah dua tembakan pertamannya hanya menembus pundak dan lengan Mugger tersebut, tembakan yang ketiga berhasil menghantam kepala manusia Buaya itu. Dan menghentikan gerakannya untuk selamanya.


Dan meskipun sedang menahan rasa nyeri di sekujur tubuhnya, Lucia dengan segera berlari menghampiri Jean yang tergeletak di depan pintu kamarnya, berlumuran darah dengan sebuah kapak menancap di bagian depan pundak hingga dada sebelah kanannya.


"Jean!"

__ADS_1


-


__ADS_2