Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
32. Tamu Kenegaraan III


__ADS_3

Di hari berikutnya, mereka mengadakan perjalanan berkeliling dari wilayah barat sampai wilayah selatan. Rombongan Lugwin memang berencana untuk tinggal di tanah Pharos selama tiga hari.


Rombongan Lugwin diperkenalkan kepada Luna, Ellian, Katarina, Selene, Khan, Lumire, Vossler, kelompok Bintang Api, sampai kepada Anna dan beberapa Yllgarian hutan Sekai.


Setelah itu mereka menggunakan gondola untuk turun ke dasar Ceruk Bintang, dan bertemu dengan trio pemburu. Kemudian lanjut dengan mengenalkan Go, Haldin, Couran dan Rafa, sebelum kembali ke kediaman Lucia.


Lugwin dan ksatria pelindungnya, Hans, mendapat hadiah dari Haldin dan serikat pengerajin Bintang Timur. Berupa pisau dan plat besi untuk Lugwin. Dan sebuah Pedang untuk Hans. Semua itu terbuat dari logam Dracz yang dikirim dari pertambangan utara wilayah Estrinx.


-


"Yang tidak saya sangka-sangka adalah waduk diatas bukit itu. Sebelumnya saya sudah menyiapkan bayangan gila, bagaimana cara tanah ini mendapatkan air. Dan setelah melihat waduk tersebut, semua bayangan saya tadi tidak ada apa-apanya sama sekali" ujar Piere saat mereka sudah kembali di kediaman Lucia setelah seharian tadi berkeliling wilayah Pharos.


Lugwin bersama Piere, Matiu, dan Hans, sedang berbincang dengan Lucia, Nata, Aksa, Jean, dan Lily. Di ruang kerja kediaman Lucia, sambil mencoba jenis teh yang sedang dikembangkan oleh Ellian.


"Dan semua logam Dracz dari pertambangan utara itu bisa diolah menjadi alat-alat serba guna yang sangat kuat. Benar-benar mangagumkan" kali ini Hans yang berucap. Tampak ada rasa bangga dalam tatapannya tiap ia melihat pegang barunya.


"Perdagangan, pengaturan wilayah, pengetahuan, sebenarnya sampai seberapa luas yang anda berdua miliki?" Ujar Matiu kali ini.


"Sebenarnya pengetahuan yang luas juga tidak akan berguna bila kita tidak gunakan demi kebaikan sesama" ujar Aksa tiba-tiba.


"Tumben sekali kau berkata seperti itu, bocah?" Celetuk Jean yang sedang membantu memanaskan air dalam teko kecil diujung ruangan.


"Bagaimana? Terdengar bijak bukan?" Jawab Aksa lagi, yang segera merubah suasana hati yang lain.


"Tapi memang, tujuan kami adalah untuk membantu sesama. Wilayah ini ada untuk memberi tempat bagi mereka yang membutuhkan" Lucia tampak menambahi, seraya membawa teko berisi air panas ke meja tengah. Tempat yang lain duduk berkumpul.


"Juga, tak ku sangka kalian tinggal bersama para Yllgarian yang sangat anti pati terhadap manusia" tutur Lugwin yang mulai dengan acaranya menyedu teh. "Kalian benar-benar luar biasa" imbuhnya.


"Mereka adalah korban. Orang-orang dengan senjata mistik menghancurakan desa dan mencuri pusaka yang mereka jaga selama ratusan tahun. Sungguh menyedihkan kisah hidup mereka" Lucia menjelaskan latar belakang para Yllgarian hutan Sekai itu dengan singkat saja kepada Lugwin.


"Pusaka? Apakah mereka dua pria Morra?" Tiba-tiba terlihat Lugwin tertarik dengan tema pembicaraan itu.


"Bukan. Menurut cerita, mereka adalah wanita dan pemuda Narva, dan seorang pemburu Morra. Teman kami seorang Aeron sedang menyelidikinya. Tapi tampaknya kami menerima informasi yang sedikit mengejutkan" jawab Lucia kemudian.

__ADS_1


"Mengejutkan?" Terdengar Lugwin penasaran.


Lucia terdiam sebentar kemudian menatap Jean, Nata, dan Aksa. Seperti memberi tahukan pada mereka, bahwa ia akan mengatakan hal tersebut kepada Lugwin. "Tapi, hal ini belum dibuktikan kebenarannya. Bahwa orang-orang tersebut adalah utusan dari salah satu bangsawan Elbrasta" ucapnya kemudian.


Tampak Lugwin, Matiu, Piere, dan Hans, cukup terkejut mendengarnya. Mereka tidak menyangkanya.


"Berbicara tentang hal tersebut. Kurasa aku juga akan menceritakan suatu hal pada kalian" tiba-tiba Lugwin juga berucap setelah tampak ia bertukar pandang dengan Matiu sejenak.


"Apa itu?" Terlihat Lucia penasaran dengan sikap Lugwin yang berubah menjadi lebih serius.


"Disaat kalian terjebak peperangan saudara di Estrinx, seminggu sebelum Dux Laurant menutup gerbang kotaraja. Menurut banyak saksi, ia bertemu dengan dua pria Morra bernama Figora dan Noel" Lugwin mulai bercerita.


"Lalu beberapa hari sebelum kami menyerang kotaraja, kabarnya Dux Laurant sudah mengurung diri dalam istana dengan dua orang tadi ikut bersamanya.


"Dan setelah kami berhasil menerobos istana beberapa hari kemudian, Dux Laurant ditemukan sudah tidak bernyawa. Ia bunuh diri" Lugwin menjeda ceritanya.


"Memang ada, jenis orang dengan harga diri yang tinggi seperti itu. Biasanya para petarung" ucap Jean menanggapi.


"Apakah Dux tersebut dibunuh?" Tanya Lucia menduga-duga.


"Kemungkinan terbesarnya memang dibunuh. Karena bila menggunakan jarak tusuk yang hanya sepanjang lengannya sendiri, pedang tidak akan mendapat kekuatan untuk menembus tebal kursi tahta" kali ini Hans yang menjawab.


"Kecurigaan kami adalah terhadap dua pria tadi. Yang hilang begitu saja, tidak bisa kami temukan di dalam istana. Juga ruang pusaka kerajaan sudah terjarah bersih. Tidak tersisa satu pusaka pun" lanjut Lugwin. "Itu salah satu pukulan terburuk kami setelah dampak dari peperangan" tambahnya lagi.


"Penyamaran motif pencurian klasik" ujar Nata tiba-tiba.


"Maksudnya, tuan Nata?" Tanya Matiu yang sepertinya sudah menanti-nanti komentar dari Nata dan Aksa.


"Menurut saya, kedua pria tadi menginginkan salah satu dari pusaka yang ada dalam istana Estrinx"


"Salah satu pusaka?" Matiu belum paham.


"Benar. Dan mereka mencoba untuk melebarkan penyelidikan dengan mengambil semua pusaka. Entah apa motivasi dibalik mereka melakukan hal tersebut. Bisa jadi mengulur waktu, atau hal yang lainnya" ujar Nata menjelaskan.

__ADS_1


"Apakah ada pusaka yang sangat berharga dari semua daftar pusaka yang hilang tersebut, tuan Matiu? Bukan secara nilai materi" Aksa menyela dengan pertanyaan.


"Memang ada beberapa pusaka yang sangat berharga, tapi kebanyakan berupa harta kerajaan yang bernilai materi. Sisanya adalah gulungan dan kitab bernilai sejarah, yang diragukan akan laku dijual dipasaran. Dan lagi tdak ada senjata di daftar pusaka yang hilang tersebut" Matiu menjelaskan.


"Mengapa kau bisa yakin bahwa mereka hanya mengincar satu pusaka saja, Nat?" Tanya Lucia yang juga penasaran.


"Dengan rencana seperti itu, tidak mungkin mereka hanya akan mengincar harta yang bernilai materi, putri. Pasti mereka menginginkan hal lain yang lebih berharga. Dan itu pasti salah satu dari pusaka tersebut. Karena bila mereka mengincar hal lain, kenapa mereka harus bersusah payah menjarah semua pusaka. Toh, dengan hilang begitu saja, kita juga tidak akan tahu apa yang diinginkan mereka" jawab Nata panjang lebar.


"Memang mereka merencanakan apa, Nat?" Lucia masih belum paham.


"Mungkin bisa jadi mereka adalah pencuri yang sangat beruntung. Bagi seorang Morra bisa dekat dengan bangsawan yang tepat, disaat yang tepat pula. Dimana sedang terjadi peperangan di kotaraja" Nata mulai menjelaskan.


"Tapi bila tidak kita pikir sabagai keberuntungan atau takdir, maka hal itu adalah sebuah rencana yang matang. Seorang Morra bisa berada di dekat bangsawan yang berhasil menduduki kotaraja. Dan bisa memanfaatkan kekacauan situasi untuk masuk kedalam istana.


"Dan menurutku membunuh bangsawan tersebut adalah salah satu dari pelenyapan bukti akan rencana yang sudah mereka buat. Mungkin saja sang bangsawan tahu apa rencana dua pencuri tersebut. Atau mungkin mereka memang bekerjasama melakukan rencana tersebut dan berakhir dengan perselisihan. Hal itu biasa terjadi" Nata menutup analisa dan dugaannya.


"Benar juga" terdengar kali ini Hans yang bersuara setelah mendengar ucapan Nata.


"Namun bila memang benar mereka bekerjasama merencanakan semuanya, kemungkinan, peperangan tersebut juga bagian dari rencana mereka" tambah Aksa dengan dugaan lainnya.


"Apa maksud anda, Dux Laurent yang melakukan pembunuhan pada keluarga kerajaan?" Matiu terdengar tidak percaya. Begitu pula Lugwin yang terlihat terguncang setelah mendengar dugaan Aksa tersebut.


"Aku tidak tahu, tuan Matiu. Itu hanya dugaanku saja. Namun bila anda bisa mencari apa yang sebenarnya hendak mereka curi, maka anda akan tahu tujuan pencurian tersebut. Dan dari situ anda bisa membuat dugaan lain, dan mendapat petunjuk baru untuk masalah tragedi pembunuhan keluarga raja" jawab Aksa lagi menjelaskan maksudnya.


"Kami sebenarnya sudah mencari tahu tentang kedua orang itu. Dan kami menemukan informasi bahwa mereka adalah orang-orang dari tanah selatan. Sepertinya mereka adalah ksatria sebuah kerajaan" sela Hans kemudian.


"Bagus. Dengan begini anda bisa mendapat petunjuk, kira-kira pusaka apa yang mereka inginkan" Nata menjawab.


"Jahat sekali mereka yang melakukan rencana tersebut. Puluhan orang mati demi mendapatkan sebuah pusaka?" Terlihat wajah Lugwin tampak memerah karena amarah.


"Tenanglah, Lug. Kau pasti bisa menemukan dan membawa keadialan untuk orang-orang yang telah menjadi korban" ujar Lucia seraya mengusap punggung Lugwin disebelahnya.


-

__ADS_1


__ADS_2