
"Jadi ajaran Istar ini adalah ajaran para pengikut sang Oracle?" tanya Nata saat dia, Aksa, Lily, dan Val sedang beristirahat di tepi sebuah sungai, dua hari kemudian. Lucia dan Jean sedang mandi di ujung sungai yang tidak terlihat. Sementara trio pemburu pergi ke dalam hutan untuk berburu. Dan Fla, pemuda budak yang melarikan diri itu sedang beristirahat dalam kereta.
"Benar. Penganutnya ditandai dengan baju panjang serba putih dan biasanya memiliki altar Leafcla," jelas Lily yang terlihat sedang membersihkan tongkat sihirnya.
"Apa itu Altar Lifkla?" tanya Aksa kemudian.
"Leafcla. Sebuah totem kayu yang biasanya di pasang di alun-alun pusat kota atau desa." Gadis kelinci itu menjawab.
"Oh, aku pernah melihatnya saat di Herld." Aksa mengenali altar tersebut.
"Benar. Desa dan kota di wilayah timur ini adalah penganut Istar."
"Jadi sang Oracle itu semacam nabi atau pemimpin aliran, begitu?" Aksa bertanya lagi.
"Bukan. Para pengikut ajaran Istar ini menganggap sang Oracle adalah orang suci yang dianut. Sedang ajaran Istar sendiri adalah ajaran yang di bangun dari ajaran aliran Musvar. Aliran yang lebih tua dari kerajaan ini," jelas Lily.
"Jadi ajaran Istar ini adalah peremajaan ajaran Musvar yang di padukan dengan sosok Oracle," ujar Aksa seraya mengangguk kecil seolah telah berhasil memahami sesuatu.
"Apa Musvar adalah kepercayaan yang dianut sang Oracle?" Kali ini Nata yang bertanya.
"Bukan. Sang Oracle hanya percaya pada tugas yang beliau emban." Lily menjawab.
"Tugas yang diemban? Apakah itu tentang menjaga kelangsungan dunia?" tebak Nata yang di jawab dengan anggukan oleh Lily.
"Apakah kau juga penganut kepercayaan Istar, Lily?" Nata kembali bertanya.
"Bukan. Kepercayaan Yllgarian tidak seperti manusia. Kepercayaan kami lebih kepada hubungan individu terhadap kekuatan alam," jawab Lily yang kali ini terlihat sedang membersihkan topi kerucutnya.
"Memang seperti apa kepercayaan para manusia itu?" Nata terlihat penasaran dengan hal tersebut.
"Kepercayaan manusia memiliki doktrin dan ajaran yang rawan untuk di salah gunakan. Membuatnya sangat berguna, namun juga bisa jadi sangat menakutkan," jawab Lily kemudian.
"Hahaha..." Nata tertawa lepas mendengar ucapan Lily. Sedang Lily kebingungan kenapa Nata tertawa. "Tidak berbeda dari dunia kami," sela Aksa seraya melahap buah bernama Giri, yang berbentuk seperti apel namun memiliki rasa seperti mangga.
__ADS_1
"Kalau Realn, Val?" Tanya Nata berlanjut.
"Elf hanya punya satu dewa untuk disembah. Dewa Siphar penenun jagat raya. Dan ajarannya hanya tentang bersyukur dan berdamai dengan alam ini" jelas Val padat dan singkat.
"Apakah ada kepercayaan manusia yang ikut campur dalam pemerintahan dan politik?"
"Kurasa Elbrasta punya Kuil Bintang Jatuh. Mereka berperan sebagai penasehat untuk kerajaan." Lily menjawab.
"Aku paham." Terlihat Nata mengangguk pelan.
"Kalau kalian, apa kepercayaan yang kalian ikuti?" Kini giliran Lily yang mengajukan pertanyaan.
Nata dan Aksa saling menatap kemudian dengan senyum renyah mereka berucap bersamaan "kepercayaan kami adalah sains."
-
Akhirnya mereka tiba di desa Dyms tidak sesuai jadwal. Lebih dari dua hari perjalanan. Tampak sepertinya desa itu sedang dalam sebuah upacara ritual. Banyak warganya terlihat sibuk dengan berbagai macam perbekalan dan pakaian adat yang seragam. Desa ini terlihat lebih sibuk dari desa Baltra.
"Oh, Nona Lily. Tampaknya anda belum tau kabar ini," jawab seorang perempuan Morra setengah baya yang menyempatkan diri untuk berhenti. "Sang Oracle wafat kemarin," ucapnya kemudian.
"Apa?!" Nyaris semua orang berteriak bersamaan. Mereka tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar.
"Yang benar saja? Masa akhir dari quest kita anti-klimak begini?" Aksa terlihat lemas.
"Ini yang disebut plot twist," saut Nata lesu, kepalanya mulai terasa pening.
-
Mereka kemudian menuju ke rumah Lily saat dia masih tinggal di desa tersebut. Rumah ini jauh dari pusat desa. Dibangun di sebuah lahan di atas tebing di timur desa. Rumah ini tak lebih besar dari rumah Couran. Hanya saja karena tidak memiliki banyak perabot. Rumah ini terasa lebih luas.
"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?" Tanya Lucia setelah mereka menurunkan perbekalan mereka dari atas kereta.
"Itu yang tadinya ingin ku tanyakan ke sang Oracle," saut Nata. "Sekarang aku harus mengatur ulang rencanaku dari awal," ucapnya kemudian semakin lesu.
__ADS_1
"Kita bisa berkunjung ke kediaman Beliau setelah semua ibadah pemakaman ini selesai, bila kau mau." Lily terlihat memberi ide. "Siapa tau ada petunjuk yang mungkin bisa diperoleh," lanjutnya.
-
Jasad sang Oracle dikremasi dan kemudian abunya ditabur di sebuah sungai yang ada di dekat desa Dyms. Namun acara ibadah pemakamannya bertahan hingga tiga hari kemudian. Banyak sekali para peziarah yang datang ke desa tersebut hanya untuk melakukan penghormatan terakhir atau sekedar berdoa menghantar kepergiannya.
Sehari setelahnya Lily dan Val menemani Nata dan Aksa menuju ke kediaman sang Oracle.
Mereka langsung disambut oleh pengurus rumah tersebut begitu tiba. Yang kemudian membawakan sebuah kotak kayu untuk Nata dan Aksa, seolah sudah ia siapkan dan menunggu-nunggu kedatangan kedua pemuda tersebut.
"Jadi beliau berpesan sehari sebelum beliau wafat. Untuk menyerahkan kotak kayu ini kepada dua pemuda yang nanti akan datang bersama nona Lily dan tuan Val," jelas wanita separuh baya, pengurus rumah itu kemudian.
"Apa ini?" tanya Nata seraya menerima kotak kayu seukuran tak lebih dari lebar bahunya, yang terplitur rapi itu.
"Itu adalah relik legendaku," saut Aksa dengan bersemangat.
"Itu adalah kotak miliki sang Oracle, menurut beliau kotak itu sudah ada bersama beliau semenjak tiga ratus tahun yang lalu" jawab sang pengurus rumah.
"Lihat lambang kotak ini, Aks" tanya Nata seperti mengenali lambang yang terpahat di atas kotak tersebut.
"Benar. Seperti tidak asing, tapi apa ya?" jawab Aksa beberapa saat setelah mengamati lambang tiga buah lingkaran dengan posisi satu lingkaran di atas dua lingkaran lainnya. Dan seperti gambar sebuah kotak yang bagian atasnya terlihat bergerigi, terletak di bawah tiga lingkaran itu.
"Itu adalah lambang aliran Musvar cikal bakal kepercayaan Istar," ucap Lily kemudian saat melihat Nata dan Aksa tampak kaget melihat lambang di kotak tersebut. "Itu adalah lambang 3 bulan di atas bukit Jasvar."
"Jasvar?" Aksa dan Nata bertanya nyaris bersamaan.
"Menurut yang pernah ku baca, Jasvar adalah bukit mitos yang tidak ada di dunia ini," jawab Lily kemudian.
"Couran tidak punya gulungan mengenai kepercayaan dan agama dataran utara," ucap Aksa yang terlihat kecewa.
Dan kemudian setelah berterima kasih kepada pengurus rumah tersebut akhirnya mereka pun pamit.
-
__ADS_1