
Mereka sudah memperkirakan akan memakan waktu lebih lama untuk sampai ke tempat tujuan mereka.
Itu karena berjalan dalam jumlah besar sangat susah untuk menjaga fase kecepatan. Mereka harus berjajar mengular panjang saat melewati medan-medan sempit. Harus saling menunggu saat melewati medan-medan yang susah untuk dilalui.
Saat hendak beristirahat pun, mereka membutuhkan waktu lebih untuk memasang dan mengemas peralatan tenda.
Membutuhkan waktu untuk membuat dan membagi makanan. Bahkan mereka membutuhkan setengah hari lebih untuk melakukan pemburuan hewan sebagai tambahan bahan makanan. Karena bekal makanan yang mereka bawa tidaklah cukup untuk mereka makan lebih dari 10 hari.
Disamping itu memang pemburuan besar yang dilakukan juga untuk Selene mengumpulkan hewan-hewan selama perjalanan ini. Mereka berhasil mendapatkan hewan yang cukup beragam. Mulai dari hewan kelas 1 sampai kelas 3. Baik yang liar maupun hewan mistik. Namun yang masih masuk akal untuk mereka masukan kedalam kereta kandang atau mereka tuntun jalan bersama rombongan.
"Jadi sudah berapa hewan yang kita dapat sekarang tuan Selene?" Tanya Nata saat mereka sedang duduk memutari api unggun setelah makan malam.
Mereka berada di perbatasan hutan wilayah selatan seminggu setelah bertolak dari kediaman Cornelius.
"Untungnya tiap kali kita melakukan buruan kita selalu menemui jenis hewan yang berbeda. Kita sekarang punya enam jenis hewan, dan total delapan ekor" jawab Selene yang duduk dihadapannya di sebelah Lumire dan Pietro.
"Apa mereka semua itu sudah jinak, tuan Selene?" Kali ini Aksa yang bertanya dari sebelah Nata.
"Sudah tuan Aksa" Jawab Selen yang kemudian bersiul cepat.
Tampak dari angkasa menukik seekor burung elang yang kemudian merentangkan sayap dan hinggap di pundak Selene. Elang itu memiliki warna bulu cokelat hitam dengan ekor berwarna merah menyala.
"Wah, seekor elang. Apakah mereka terlatih untuk mengawasi situasi atau mengirim pesan? Atau jangan-jangan anda bisa berbagi penglihatan dengan mereka?" Tanya Aksa dengan bersemangat setelah melihat elang tersebut.
"Hahaha, tidak tuan Aksa, saya tidak bisa melakukan hal tersebut. Tapi elang Ekor Merah ini memang sangat berguna, mereka memiliki kecerdasan dan insting berburu yang sangat bagus. Yang memang cocok untuk membantu dalam pengintaian dan berburu. Sama seperti Popo" jelas Selene sambil menunjuk kearah serigalanya.
Serigala sebesar kuda itu duduk dengan ekor yang bergoyang-goyang cepat bermain dengan Andele dan beberapa anak, di ujung tak jauh dari api unggun.
__ADS_1
"Dan apakah semua hewan yang anda jinakan itu semuanya memiliki kegunaan seperti itu, tuan Selene?" Kali ini Nata yang ganti bertanya.
"Benar, semua berguna. Namun beberapa tidak langsung berguna untuk membantu kegiatan sehari-hari seperti elang Ekor Merah dan serigala Perak" jawab Selene.
"Dari Enam jenis hewan yang kita punya saat ini selain elang itu ada; Salamander Hutan. Habitat kebanyakan Salamander adalah di rawa atau tepian sungai tenang. Tapi jenis Salamander yang hidup di tengah hutan ini memiliki kulit yang kuat. Bahkan pisau atau anak panah tidak dapat menembusnya" Selene mulai menjelaskan.
"Ini akan jadi malam yang panjang" celetuk Lumire yang tahu bila Selene sudah membicarakan hal yang ia suka, maka akan panjang lebar dan mendetil. Susah untuk dihentikan.
"Lantas kalau kita ingin mengambil kulitnya bagaimana caranya, tuan Selene?" Tanya Nata yang tampak tidak memperdulikan ucapan Lumire. Ia dan Aksa sama tertariknya dengan Selene dalam topik yang sedang mereka bahas sekarang.
"Kita tunggu, karena tiap tiga bulan sekali mereka berganti kulit. Dan kulit luarnya bisa kita gunakan" Selene menjelaskan.
"Oh, jadi begitu. Lalu yang lainnya?" Tanya Nata lagi yang semakin penasaran.
"Ada Burung Dodo" ucap Selene kemudian.
"Karena postur tubuh burung ini yang besar dan kuat. Juga mampu berlari dengan kencang, membuat mereka bisa digunakan untuk perjalanan pengganti kuda" lanjut Selene.
"Wah, aku ingin mencoba mengendari burung itu. Seperti di game-game fantasy" saut Aksa kemudian.
"Gem?" Tanya Selene mendengar kata-kata asing dari Aksa.
"Sudah lanjutkan saja tuan Selene" timpal Nata meminta Selene mengabaikan Aksa.
"Baiklah. Kemudian kita punya Kambing Hutan Edo, kambing ini punya kekuaran lebih besar dibanding kambing ternak dan kambing gunung, hingga ia bisa digunakan untuk penarik kereta kecil lebih baik dari pada keledai" Selene melanjutkan penjelasannya.
"Kemudian **** hutan Taring Hitam. Makanan pokok **** hutan ini adalah jamur Hitam yang sangat beracun bagi manusia. Namun sebaliknya, siung atau taring mereka yang berwarna hitam itu mengandung penawar racunnya. Bahkan ku dengar taring itu bisa menawarkan racun selain racun jamur Hitam"
__ADS_1
"Dan terakhir Rubah Ekor Belah. Mereka sangat hebat dalam mencari jejak di dalam hutan. Tidak kalah dengan anjing pemburu atau serigala. Namun kelebihannya dari anjing pemburu dan serigala adalah, ia memiliki kemampuan untuk memanjat pohon dan gesit mengejar mangsa yang berukuran kecil" tutup Selene akhirnya.
"Wah, hebat sekali. Aku jadi ingin punya hewan pendamping seperti itu. Macan Kumbang mungkin? Atau mungkin seekor beruang?" Ucap Aksa yang langsung ditanggapi Selene dengan mengeryitkan dahi mendengarnya.
"Kau saja bahkan tidak punya aliran Jiwa" celetuk Nata kemudian.
"Sudah kuputaskan, aku ingin tiga ekor naga untuk menjadi hewan pendamping ku" ucap Aksa tanpa mempedulikan Nata.
"Kau dengar tidak apa yang kubilang?"
-
Rombongan besar Lucia membutuhkan waktu 4 hari lebih lama untuk sampai ke tanah Pharos. Yang harusnya dapat ditempuh selama 10 hari, kini mereka memerlukan waktu hampir 2 minggu.
Tampak semua orang terkagum-kagum saat melihat apa yang terjadi dibalik bukit Gerbang Utara tanah Pharos tersebut. Lucia dan para bangsawan lain terlihat tak percaya melihat jalanan yang tampak rata dan tidak mengguncang kereta kuda saat dilewati itu. Meski bentuknya lebih tidak teratur dibanding jalanan batu di kotaraja, namun kerataan jalannya jauh lebih baik.
Kemudian bentuk dari jembatan besi yang membentang diatas lembah Gerbang Utara dan tiang-tiang katrol yang masih belum dilepas, yang menjulang menyembul dari dasar lembahnya. Membuat sebuah pemandangan janggal yang jarang dilihat orang-orang itu selama ini.
Para budak hingga ksatria tampak prnasaran dengan tiang-tiang katrol tersebut. Bahkan Nata dan Aksa pun terlihat terkesan atas apa yang sudah dilakukan oleh Couran dan yang lainnya.
"Apa tuan Couran yang membuat jembatan ini?" Tanya Lucia saat berada diatas jembatan tersebut.
"Benar, tuan Couran dan yang lain yang membangunnya. Aku saja juga terkesan dengan hasil ini" jawab Nata seraya mengamati hasil jembatan dan tiang-tiang katrol diantara lembah tersebut.
"Dan apa tiang-tiang itu, Nat?" Tanya Lucia.
"Tiang itu adalah alat intuk membuat jembatan ini" jawab Nata tanpa penjelasan secara detail.
__ADS_1
-