
Menjelang tengah malam di pesisir pantai di wilayah Estat Eblan. Lima belas hari setelah surat tuntutan dari wilayah Pharos tidak ditanggapi oleh kerajaan Urbar.
Tampak sebuah kapal besi membuang jangkar di perairan dalamnya. Dan dari kapal tersebut keluar lima kapal yang lebih kecil menuju ke arah pantainya.
Setelah kelima kapal tersebut berlabuh, turun tiga kereta tempur dari tiga kapal tadi. Dan 75 prajurit dari kapal dua sisanya.
Mereka semua mengenakan pakaian serba hitam. Membawa senjata laras panjang dengan tabung besi menggantung dipunggung. Tampak pula sebuah perang dipinggang, dan tameng hitam seukuran setengah badan mereka terpasang di lengan sebelah kiri. Mereka adalah prajurit khusus tanah Pharos.
Mereka berbaris rapi disebelah kereta tempur yang tungku apinya sudah mulai memanas. Asap terlihat samar keluar dari cerobong dibagian belakang.
Cuaca terasa lembab karena hujan baru saja berhenti. Tanah masih terlihat basah dan lembab. Membuatnya sedikit lunak dan meninggalkan jejak dalam saat dilewati. Terutama kereta tempur.
Tampak tiga sosok dengan pakaian yang juga serba hitam berdiri di depan barisan prajurit. Mereka adalah Caspian, Vossler, dan Helen.
"Kita sudah tiba di pesisir utara wilayah Eblan" Caspian berucap kepada para prajurit sebelum mereka memulai tugas. "Tugas kita kali ini adalah mengambil alih ibukota setiap wilayah sepanjang pesisir ini" tambahnya kemudian.
"Kita akan bergerak dengan cepat sesuai dengan rencana yang sudah kalian dengar sebelum ini" Caspian melanjutkan. "Pasukan dibawah pimpinan tuan Vossler akan menuju ke barat ke wilayah Estat Damcyan. Sedang pasukan nona Helen akan ke timur menuju wilayah Estat Feymarch. Sementara pasukan ku akan menyerang kota Gala. Ibukota wilayah Eblan ini" jedahnya sebentar.
"Dan ingat. Kita akan mundur bila ternyata mereka memiliki jumlah pasukan yang tidak dapat kita hadapi. Juga bila pasukan bantuan dari kerajaan Urbar datang dengan jumlah yang tidak mampu kita hadapi" lanjut Caspian. "Jadi hal yang harus diutamakan adalah keselamatan kita sendiri. Apa kalian semua paham?" Susulnya dengan pertanyaan.
"Siap, paham" para prajurit menjawab dengan serempak.
"Baiklah kalau begitu. Sebelum kalian bersiap-siap, aku hanya ingin mengingatkan satu hal lagi. Meski kita memiliki senjata yang lebih baik dari pasukan kerajaan Urbar, tapi tetap jangan meremehkan lawan kalian. Kalian harus melawan mereka dengan kekuatan penuh kalian" Caspian memberikan nasehat. "Baiklah kalau begitu. Bersiap-siaplah kalian" tambahnya kemudian.
"Siap, tuan Caspian" para prajurit menjawab dengan serempak lagi.
Dan setelah mendengar hal tersebut, dengan segera 75 prajurit tadi mulai membagi diri menjadi tiga kelompok. Dan mulai berbaris di depan kereta tempur mereka masing-masing. Menanti perintah selanjutnya dari pemimpin mereka.
"Bila terjadi hal yang tidak sesuai dengan rencana, kembalilah ketempat ini. Karena kapal besi kita akan tetap ditempat ini selama penyerangan berlangsung" kali ini Caspian berbicara kepada dua rekannya. Helen dan Vossler.
"Kami mengerti" jawab dua ksatria tadi hampir bersamaan.
"Baiklah kalau begitu. Semoga para dewa memberkati kalian" tutup Caspian sebelum mereka menuju ke kereta tempur mereka masing-masing.
Dan setelah beriap-siap, ketiga kereta tempur itu bergerak memencar.
Kereta tempur Vossler menuju ke arah barat ke kota Fu. Kereta tempur Caspian ke arah selatan ke kota Gala, dan kerta tempur Helen kearah timur ke kota Meso.
-
Dari tempat mereka berlabuh, biasanya membutuhkan waktu setengah hari menuju kota Gala bila menggunakan kereta kuda biasa. Namun dengan kereta tempur tersebut, mereka hanya perlu beberapa waktu saja. Tidak lebih dari tiga jam tepatnya.
Itu karena kecepatan kereta tempur yang tidak berubah-ubah, juga jalur yang dilalui tidak menggunakan jalan yang sudah ada. Mereka memotong jalan mencari jarak terdekat menuju kota Gala.
__ADS_1
"Tuan Caspian, gerbang kota Gala sudah terlihat" ucap pengemudi kereta tempur itu memberi tahu Caspian saat mereka sudah mulai mendekat kota Gala.
Caspian melongokan kepalanya ke bagian depan kereta tempur tersebut. Melihat melalui celah pada pelindung besi dibagian depan.
Bagian depan kereta, atau yang disebut oleh Aksa dengan ruang kemudi itu, memiliki bentuk seperti tempat duduk kusir, namun dengan sebuah roda kemudi sama seperti kereta besi yang digunakan di dalam kota.
Disamping itu, terdapat banyak tuas untuk mengendalikan berbagai macam alat yang terpasang di kereta tersebut. Seperti untuk memutar mata bor, menyalakan lampu sorot, atau mematikan dan menghidupkan listrik pengejut.
Dua orang berada di ruang kemudi itu. Yang duduk di sisi kanan bertugas untuk memegang kendali roda kemudi. Sedang yang duduk di sisi kiri bertugas untuk mengatur dan menjalankan tuas pengendali alat.
Sedangkan dalam celah pelindung besi uadi, terlihat bayangan sebuah benteng dengan obor penerangan di berbagai tempat.
"Prajurit bersiap. Sebentar lagi kita akan menerobos gerbang kota Gala" ucap Caspian kepada prajurit yang lain setelah kembali dari ruang kemudi.
Tampak 23 prajurit segera berdiri dari tempat duduk mereka. Seraya menjawab 'siap' dengan serempak. Dan kemudian mulai memasang perlengkapan mereka masing-masing.
Tempat di belakang ruang kemudi ini memakan hampir setengah dari keseluruhan ukuran kereta tempur itu. Dengan perbandingan satu per empat untuk ruang kemudi, dua perempat untuk ruang tersebut, dan satu per empat untuk tungku dan tempat generator listrik.
Tempat itu disebuat ruang tengah. Tinggi atapnya setinggi rata-rata pria dewasa. Namun untuk Caspian yang memiliki tinggi lebih dari rata-rata orang kebanyakan, harus sedikit membungkuk saat berdiri di dalamnya.
Memiliki kursi yang memanjang, menempel di sisi kiri dan kanan dinding, yang tampak saling berhadapan. Di ujung belakang terdapat pintu sekat yang memisahkan ruangan itu dengan ruang tungku. Yang berlapis kulit Antelop Cinder untuk mengurangi hawa panas tungku api yang menembus ke ruangan tersebut.
Tampak pula beberapa gantungan besi terpasang di dinding dan atap ruangan tersebut. Yang digunakan untuk para prajurit berpegangan atau menggantung peralatan. Dan juga sebuah tangga untuk menuju keatas ke tempat dimana senjata pelempar harpun terpasang.
.
"Suara apa?" Teman prajuritnya itu berhenti mengaduk gelas, dan mencoba berkonsentrasi memasang pendengaran.
"Apa itu suara kereta kuda?" Kedua prajurit Morra itu bangkit berdiri nyaris secara bersamaan untuk melihat ke jalanan di depan pintu gerbang.
"Apa kau pernah melihat kereta kuda sebesar itu?" Prajurit yang masih setengah mengantuk itu mengusap matanya. Untuk memastikan benda serupa gerobak besi yang ia lihat diantara gelap malam tak jauh dari gerbang kota.
"Itu bukan kereta kuda. Tidak ada yang menarik kereta itu. Apa itu hewan buas?" Prajurit yang satu lagi tampak memincingkan matanya mencoba menebak benda apa yang sedang menuju kearah gerbang kota itu.
"Entahlah. Tapi yang jelas benda itu menuju kemari. Cepat bunyikan lonceng tanda bahaya" Segera prajurit tadi berlari menuju ke ujung tembok tempat lonceng tanda bahaya terpasang.
.
"Sepertinya mereka sudah mengetahui keberadaan kita, tuan Caspian" prajurit pengemudi melapor dengan berteriak dari ruang kemudi saat ia melihat beberapa prajurit pemanah sudah mulai menuju ke posisi mereka masing-masing di dinding gerbang kota.
"Baiklah. Siapkan mata bornya" perintah Caspian kemudian.
Hampir bersamaan dengan mata bor yang mulai berputar, peluit dari cerobong asap pun berbunyi kencang. Yang mengejutkan para prajurit yang berada di gerbang kota Gala. Suara itu terdengar seperti teriakan seekor hewan buas.
__ADS_1
Hal itu membuat prajurit kota Gala segera melancarkan serangan kearah kereta tempur tersebut. Namun anak panah mereka tampak melompat terpental setelah menghantam besi pelindung. Dan bahkan sihir bola api dan petir tidak meninggalkan bekas pada dinding logamnya.
Kereta tempur tersebut tidak bergeming sedikitpun. Terus melaju kearah gerbang tanpa mengurangi kecepatan. Dan begitu menghantam pintu gerbang, kekuatan dari dorongan kereta dan putaran mata bor nya, membuat gerbang kayu tersebut hancur dengan mudah dan cepat.
Kereta tempur itu masih belum berhenti setelah berhasil menembus gerbang kota. Sementara beberapa prajurit penjaga kota mencoba menghadang dengan berusaha menyerangnya secara langsung, yang kemudian segera berjatuhan karena sengatan dari listrik pelumpuh yang mengalir di pelindung besi kereta tersebut.
"Bersiap untuk menyerang keluar" Caspian memberi perintah seraya menaiki tangga ke atas. Ke tempat dimana senjata pelempar harpun berada.
Kereta tempur pun berhenti, dan para prajurit Pharos tampak mulai bersiap-siap di depan pintu keluar di sisi samping, menunggu aba-aba selanjutnya dari Caspian. Sementara listrik pelumpuh yang mengaliri pelindung besi kereta tersebut sudah dimatikan.
Sedang dari atas atap kereta tempur tersebut, Caspian sudah mengangkat pedang mistiknya ke angkasa. Dan bersiap merapal sihir. Anak panah dan juga tembakan sihir tidak dapat mengenainya, karena Caspian berada tepat dibalik senjata pelempar harpun yang dikelilingi oleh tameng pelindung.
Dan begitu ia selesai melakukan rapalan, tiba-tiba angin mulai berhembus kencang disekeliling kereta tempur tersebut. Dan kemudian mulai bergerak melebar menuju ke arah para prajurit penjaga kota Gala yang sudah mulai mengepung.
Para prajurit yang tidak sempat melarikan diri, mulai terlempar diterbangkan oleh angin tersebut. Dan begitu angin itu hilang dan posisi prajurit penjaga kota sudah terlihat kacau, Caspian segera berteriak memberi aba-aba kepada prajurit bawahannya untuk menyerang.
Dan dengan segera pintu samping kereta tempur itu bergeser dan terbuka. Para prajurit bawahan Caspian itu menyeruak keluar dengan senjata siap dibidikan. Dan kemudian mulai menjatuhkan satu persatu prajurit penjaga yang ada disekitar mereka.
Tak memakan waktu lama 50 prajurit penjaga dan 5 penyihir dapat di kalahkan oleh 23 prajurit dibawah pimpinan Caspian,
Lalu setelah itu, mereka mulai bergerak menyerang pos jaga dan garisun kota. Dan dilanjut dengan menyerang kediaman para bangsawan. Menangkap dan mengurung mereka semua dalam penjara di pinggir kota. Kecuali anak-anak dan perempuan tua.
Langit masih terlihat gelap saat pasukan Caspian berhasil mengambil alih kota Gala, Ibukota Estat Eblan secara penuh.
-
Sementara tak jauh berbeda dengan pasukan Caspian, dua pasukan yang bertugas menyerang wilayah yang lain juga berhasil menguasai ibukota wilayah tersebut tanpa mengalami banyak kendala. Hanya waktunya saja yang membedakan.
Karena jarak antara tempat kapal besi Pharos berlabuh ke kota Fu di barat dan ke kota Meso di timur memakan waktu sekitar seharian dengan menggunakan kereta biasa. Dan butuh sekitar enam jam untuk kereta tempur itu sampai ditempat tersebut.
Jadi pasukan Vossler dan Helen menyerang kota saat langit sudah mulai berwarna ungu kebiruan. Dimana para prajurit penjaga dapat melihat saat kereta tempur mereka melaju menuju gerbang kota.
Tapi hal tersebut tidak menjadi masalah untuk mereka berdua. Helen membakar dinding gerbang kota Meso dengan senjata mistiknya sebelum kereta tempurnya berhasil menerobos pintu gerbang kota tersebut.
Sedang Vossler menggunakan senjata mistiknya untuk membanjiri seluruh kota, begitu kereta tempurnya berhasil menembus kota Fu.
Dan oleh sebab itu, tanpa perlu waktu lama, kota Meso dan kota Fu juga berhasil dikuasai pihak Pharos secara penuh.
-
Peta Wilayah Urbar
__ADS_1