Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
24. Bangsawan Elbrasta


__ADS_3

Tiga hari setelah kedatangan Yvvone, tampak Lucia kedatangan tamu. Beberapa bangsawan dari kerajaan Elbrasta.


Lima pemimpin keluarga bangsawan, bersama 20 prajurit tiba melalui gerbang utara. Tiga diantaranya adalah bangsawan cabang keluarga istana.


Seperti yang telah di perkirakan oleh Nata sebelumnya, tujuan para bangsawan tersebut menemui Lucia karena masalah kerajaan Elbrasta.


Mereka tidak terang-terangan mencoba menekan Lucia untuk bertindak terhadap apa yang telah terjadi di kotaraja. Namun tersirat jelas mereka ingin wilayah yang dipimpin Lucia itu melakukan serangan ke kotaraja Elbrasta.


-


"Mengapa kejadian nya selalu saja menyusahkan seperti ini" Lucia terlihat mengeluh setelah Orland selesai menceritakan maksud kedatangan para bangsawan tersebut. "Menurutmu apa yang harus kita lakukan, Nat?" Tambahnya dengan pertanyaan kepada Nata.


Lucia bersama Nata, Orland, Amithy, Cornelius, dan Caspian sedang mengadakan pertemuan di kediamannya beberapa waktu setelah para bangsawan itu pergi.


"Kita tidak akan memulai peperangan. Itu yang terpenting" Amithy terdengar menyela.


"Saya juga setuju" Caspian juga ikut menambahi. "Lagi pula kita masih harus menjaga wilayah selatan. Karena beberapa minggu yang lalu muncul pemberontakan di wilayah selatan distrik dua. Dan beberapa potensi pemberontakan di wilayah paling barat distrik delapan" tambahnya.


"Saya tidak akan menghalangi bila anda mau melakukan penyerangan ke kotaraja Elbrasta, putri" Nata kemudian berucap. "Karena saya tahu, ini adalah masalah pribadi anda. Sama seperti yang saya dan Aksa lakukan sebelum ini. Dan saya akan mendukung penuh bila anda ingin melakukannya" kemudian ia menjedah.


"Tapi sebelumnya, saya ingin bertanya terlebih dahulu, putri" Tanya Nata menyambung. "Bila anda sudah berhasil menduduki kotaraja, apa yang akan anda lakukan setelahnya? Apa anda ingin berkuasa juga atas kerajaan tersebut? Atau anda akan membiarkannya dan menimbulkan perang antar bangsawan yang lain?"


"Aku juga sudah memikirkan hal tersebut, Nat. Aku tidak mungkin memimpin kerajaan itu tanpa harus melakukan perubahan. Karena aturan kerajaan itu sangat bertentangan dengan prinsipku" Lucia menjawab. "Namun bila aku harus merubahnya, maka aku akan berurusan atau bahkan bermusuhan dengan keluarga-keluarga cabang ku sendiri. Atau malah rakyat yang tidak menginginkan perubahan. Aku tidak mau itu" ucapnya menjelaskan.


"Tak kusangka anda sudah memikirkan sampai sejauh itu" terlihat Nata benar-benar terkejut dan merasa sedikit bangga melihat Lucia sudah bisa mempertimbangkan tindakan yang akan di lakukannya. "Tapi yang menjadi perhatianku sekarang ini, mengapa mereka datang kepada anda? Mengapa mereka tidak datang ke anak sulung raja yang menjabat?" Tanya kemudian.


"Kak Grevier tidak diketahui kabarnya. Saat ini para bangsawan itu juga tengah mencoba melakukan penyelamatan keluarga kerajaan dari istana" Lucia menjawab.


"Lalu, sampai saat ini ada berapa keturunan yang mungkin bisa mewarisi tahta?" Nata bertanya lagi.


"Raja Regulus, kakek Lucia, hanya memiliki dua orang putra, dengan ratu yang sah. Dan raja Albert hanya memiliki satu putri, Lucia seorang" kali ini Orland yang menjawab menjelaskan. "Sedang sang adik, Sebastian, raja yang sedang menjabat itu, memiliki tiga orang putra. Grevier, yang berusia dua puluh tahun. Alexander, putra kedua yang berusia empat belas tahun. Dan yang bungsu bernama Eden, masih berusia sepuluh tahun" lanjutnya menjelaskan.

__ADS_1


Nata terlihat mengangguk paham.


"Kenapa kau tanyakan itu, Nat?" Lucia bertanya.


"Karena akan jauh lebih masuk akal untuk menggunakan ketiga putra raja, bila para bangsawan itu hanya memerlukan sebuah alasan untuk membenarkan tidakan yang akan mereka lakukan" Nata menjawab. "Kecuali, mereka memerlukan pasukan anda" tambahnya kemudian.


"Jadi menurutmu mereka sedang memanfaatkan ku?"


"Benar. Menurut saya seperti itu"


"Lalu apa yang harus ku lakukan? Menolak permintaan mereka?" Lucia terlihat bimbang.


"Kita bisa memberi bantuan kepada orang-orang atau bangsawan yang memerlukan, seperti yang biasa anda lakukan. Kemudian mencoba mencari cara untuk melakukan hubungan dengan pihak pemberontak atau keluarga istana" Nata menjawab.


Tampak yang lain juga setuju dengan ide dari Nata tersebut.


"Mungkin itu satu-satunya hal yang bisa ku lakukan saat ini" Lucia juga sudah menentukan sikap.


-


"Mungkin aku akan mengecewakan harapan kalian semua, bahwa sekarang yang dapat ku lakukan hanyalah memberi perlindungan dan tempat bernaung bagi yang memerlukan" Lucia berucap dihadapan 21 bangsawan di ruang tengah kediaman Cornelius, di kota Utara.


"Karena tidak mungkin bagi ku untuk melakukan serangan ke kotaraja saat ini. Disamping, kami baru saja memulihkan diri dari peperangan melawan kerajaan Urbar, juga karena aku pribadi juga tidak ingin mencampuri urusan kerajaan Elbrasta lagi" Lucia melanjutkan penjelasan atas keputusannya.


"Apa anda tidak merasa sakit hati terhadap kematian paman anda, putri?" Seorang pria Narva dengan rambut dikuncir rapi kebelakang bertanya tepat setelah Lucia selesai berucap.


"Aku merasa sedih dan sakit hati. Aku ingin sekali membalas dendam ke siapapun yang telah melakukannya Tapi aku tidak boleh gegabah" Lucia menjawab. "Aku tidak bisa asal bertindak yang malah akan memperburuk keadaan" imbuhnya lagi.


"Keadaan sekarang sudah sangat buruk, putri" pria berkucir tadi menjawab. "Kami akan membatu apapun yang anda butuhkan. Kami memiliki orang di setiap sudut kotaraja. Juga prajurit yang lebih dari cukup untuk kembali mengambil alih kotaraja" ucapnya lagi menjelaskan.


"Benar. Yang kami perlukan saat ini adalah anda, putri. Seorang pemimpin yang sah untuk memimpin kami semua" kali ini seorang Narva muda dengan gaya berpakaian rapi dan terlihat menarik, yang menambahi.

__ADS_1


Lucia tampak menghembuskan nafas pelan, "Aku bukan pemimpin sah kalian. Aku hanya memiliki darah dari raja terdahulu. Kerajaan itu tidak memperbolehkan seorang wanita untuk naik tahta" ucapnya kemudian. "Dan juga, salah satu alasan ku meninggalkan kerajaan adalah, aku tidak ingin dijadikan alat oleh pihak-pihak yang menginginkan kekuasaan"


"Anda bisa merubah hal tersebut saat anda sudah menaiki tahta" kali ini pria Morra dengan kumis tipis menawan yang berucap.


"Menurut anda, apakah itu mungkin? Tata cara dan aturan kerajaan itu bukan milik ku sendiri untuk bisa ku rubah dengan sesuka hati" Lucia mencoba menjelaskan. "Meski aku adalah garis keturunan dari raja yang sah, tetap itu bukan kerajaan milik ku"


"Tapi, putri. Keturun sah raja memiliki kekuatan lebih tinggi dari aturan kerajaan" pria Narva berbadan tambun di ujung kanan ruangan, menyela.


"Bila memang seperti itu, lalu bagaimana aku bisa sampai membangun kota di wilayah mati ini?" Lucia sudah siap dengan pertanyaan seperti itu. "Harusnya bila aku benar-benar berkuasa, aku akan diangkat sebagai ratu walau tanpa raja. Tapi, tidak kan? Karena aturan kerajaan lebih tinggi dibanding keturunan perempuan. Meskipun itu keturunan sah" tutupnya kemudian.


Para bangsawan terdiam mendengar ucapan Lucia tersebut.


"Tapi sekarang ini, kita sedang dalam situasi yang mendesak, putri. Anda harusnya bisa memahami hal tersebut" pria Narva berkucir tadi berucap lagi.


"Lalu, apa batasan akhir dari situasi yang mendesak itu? Apa setelah aku sudah naik tahta? Dan bila situasi sudah tidak mendesak lagi, aturan akan kembali ditegakan, dan aku harus tetap mencari pasangan untuk dijadikan seorang raja?" Lucia menjawab panjang lebar.


"Setelah anda naik tahta, anda bisa merubah aturan-aturan tersebut" Narva dengan penampilan menarik tadi berucap.


"Dan bila aku melakukan hal tersebut, apa jaminan bahwa tidak akan ada orang yang akan menggulingkan ku dengan tuduhan telah menodai nilai leluhur dan membawa peperangan baru untuk menjatuhkan tiran?" Lucia masih memiliki jawaban atas pertanyaan para bangsawan.


Dan sekali lagi ruangan dibuat sunyi oleh jawaban Lucia tersebut.


"Aku tidak ingin melawan atau berperang dengan keluarga dan teman ku sendiri. Maka dari itu, inilah cara yang terbaik yang bisa ku lakukan untuk membantu kerajaan. Dengan memberikan pertolongan bagi mereka yang membutuhkan" Lucia berucap dan memecah kesunyian yang cukup lama terbentuk. "Kuharap kalian mengerti perananku di situasi ini" tambahnya lagi.


Terlihat para bangsawan masih belum terima akan keputusan Lucia. Namun mereka tidak bisa membalas ucapan Lucia sebelumnya.


"Kalian bisa mencari kak Grevier" Ucap Lucia lagi, memberi pendapat. "Atau Alexander. Mereka akan lebih bisa menjadi jawaban atas harapan anda sekalian. Jadi sekali lagi maafkan aku" tambahnya sebelum menutup pertemuan tersebut.


Kemudian para bangsawan tersebut kembali tanpa membawa hasil apapun. Tampaknya sebagian dari mereka bisa mengerti akan keputusan Lucia. Namun sebagiannya lagi menganggap Lucia merasa sakit hati dengan kerajaan dan tidak peduli pada mereka semua.


-

__ADS_1


__ADS_2