
Esok harinya, tampak Yvvone sudah ada dalam tenda saat Luque baru bangun dari tidurnya. Rafa sudah tidak terlihat di atas ranjangnya.
Mereka berdua, Luque dan Rafa tinggal di tenda Aksa dan Nata. Luque tidur di ranjang Aksa, dan Rafa tidur di ranjang Nata. Sementara tenda mereka sendiri yang terletak tepat di sebelahnya dibiarkan kosong.
"Pagi, Nona Yvvone. Dimana Rafa?" tanya Luque yang terlihat masih setengah mengantuk. Duduk di kursi di sebelah Yvvone yang sedang memindah gambar-gambar dari Smartphone nya ke Laptop Aksa.
Aksa telah mengajarkan Lily, Yvvone, Rafa,dan Couran cara dasar menggunakan Laptopnya.
"Pagi, Nona Primaval. Rafa sedang mengambil persediaan makanan dan minuman di tenda Tuan Couran," jawab Yvvone setengah acuh. "Dia terlihat bersemangat hari ini. Apa yang Anda ucapkan padanya kemarin malam? Sekarang saya jadi semakin yakin bahwa manusia itu mudah sekali dirubah," ucapnya kemudian.
"Bukan mudah dirubah, tapi memang ucapan yang baik bisa merubah hidup seseorang." Luque membalas ucapan Yvvone.
"Ya, mungkin kapan-kapan aku akan mencobanya kepada si Morra satu itu," sahut Yvvone dengan jari yang terlihat sibuk di atas Laptop.
"Pagi, semua," tiba-tiba muncul Rafa dari balik pintu tenda dengan membawa tas dalam genggaman tangannya.
"Pagi. kau terlihat bersemangat pagi ini," ucap Luque menyapa balik.
"Semua berkat Anda, Nona Luque," jawab Rafa kemudian.
"Wah, kau memanggil Primaval dengan nama, Nona Rafa? Ada yang aneh memang hari ini," sahut Yvvone yang tampak benar-benar kagum melihat Rafa bisa berubah hanya dalam satu malam saja.
"Dan setelah ini, akan buat kau jadi semakin bersangat," ucap Luque kemudian seraya menunjuk ke arah Rafa, "dan Nona Yvvone akan melihat hal yang semakin aneh," tambahnya dengan senyum yang mengembang.
"Maksudnya?" Rafa terlihat bingung seraya meletakan jinjingannya tadi ke dalam lemari kecil di ujung tenda.
"Kurasa sudah saatnya untuk memenuhi janji ku kepada Aksa," jawab Luque kemudian.
"Janji Anda? Apa itu, Nona Luque?" Rafa terlihat semakin bingung.
"Aku akan mengembalikan lengan kananmu seperti sedia kala," jawab Luque kemudian dengan senyum lebar mengembang di bibirnya.
"Oh, be-benarkah?" Terdengar Rafa tergagap karena terkejut.
"Benarkah?!" Hampir bersamaan dengan Rafa, Yvvone setengah berteriak setelah mendengar Luque berkata seperti itu.
"Benar. Berdirilah di sini," ucap Luque meminta Rafa mendekat.
"Maksud Anda, Anda akan melakukannya sekarang?" tanya Luque yang masih mencoba mempersiapkan dirinya untuk kembali mendapatkan tangan kirinya.
"Iya, sekarang. Berdirilah disini," panggil Luque sekali lagi.
"Oh, ba-baik." Dengan buru-buru, Rafa berdiri di tempat yang telah ditunjuk oleh Luque.
"Sebentar, aku harus mengabadikan kejadian ini, Nona Primaval." Dengan segera Yvvone mengambil Smartphone nya dan mulai merekam gambar seperti yang telah di ajarkan oleh Aksa sebelumnya.
"Terserah kau lah," sahut Luque. "Baik, aku akan mulai, Nona Rafa." Dan Luque segera mengambil posisi di depan Rafa.
"Ya, saya siap, Nona Luque," ucap Rafa memajukan lengan kanannya sambil memejamkan mata dengan wajah seperti sedang menahan, bersiap mengantisipasi bila sihir tersebut terasa sakit.
Kemudian tampak Luque mulai merapal sesuatu. Dan tiga buah lingkaran sihir mulai muncul bersinar di sekitar lengan kanannya. Berpendar terang berwarna ungu muda.
Lalu Luque mengangkat tangan kanannya ke depan ke arah Rafa. Dan nyaris tak berjedah, tanah tempat Rafa berdiri mulai muncul sebuah lingkaran sihir yang tampak bersinar menyilaukan.
Dan tak lama kemudian lengan kanan Rafa mulai bersinar biru terang. Lalu, seolah ditarik ke depan, sinar itu mulai terlihat memanjang.
Sementara Rafa merasakan sensasi aneh yang menggelitik pada lengan kanannya tersebut. Mulai dari bagian pangkal lengannya yang putus, sensasi menggelitik tersebut berjalan hingga ujung jarinya yang harusnya sudah tidak ada lagi.
Dan setelah cahaya itu hilang, terlihat lengan kanan Rafa sudah kembali utuh seperti sedia kala.
Rafa hanya terdiam melihat lengan kirinya yang kembali utuh itu dengan mengejapkan mata berulang kali, sambil mulai menggerakan jari jemari nya satu persatu.
"Demi para dewa..." tiba-tiba terdengar suara Couran dari arah pintu tenda. Nyaris bersamaan dengan suara gaduh beberapa buku yang terjatuh dari genggamannya. "Sihir apa itu tadi?" tanyanya kemudian dengan wajah yang seolah baru saja melihat hantu.
"Tunggu sebentar, Primaval?! Pola lingkaran sihir dan warna ungu itu biasa ku lihat pada formasi sihir batu Arcane. Jangan bilang kalau sihir tadi adalah sihir waktu?!" Yvvone berseru seraya melompat berdiri dari kursinya.
Sedang Luque hanya tersenyum menanggapi tebakan Yvvone.
"Kau... maksud ku Anda. Anda dapat menggunakan sihir Waktu, Primaval?" Tampak Yvvone seperti kehilangan kendali. "Ini luar biasa. Bisakah kau, maksudku Anda, bukan, maksud saya Anda, memberi tahukan saya bagaimana cara memicu lingkaran sihir yang seperti formasi sihir itu?" tanyanya kemudian terlihat menggebu-gebu.
"Tidak. Aku tidak akan membicarakan tentang sihir tadi lebih dari ini. Maksud ku, Kita tidak akan membicarakan tentang sihir ini lebih dari ini. Mengerti?" ucap Luque kemudian seraya menatap berkeliling ke arah Rafa, Yvvone, dan Couran.
"I-iya, saya mengerti." Couran terdengar terbata menjawab.
Sedang Rafa hanya mengangguk, masih mencoba mencerna bahwa kini lengan kanannya sudah kembali utuh.
"Saya tidak akan membicarakan tentang sihir ini asal Anda, setidaknya memberitahukan pada saya tentang cara kerja dan bagaimana Anda bisa menggunakan sihir yang tidak ada satu mahluk hidup pun di dunia ini mampu menggunakannya," sahut Yvvone makin terlihat menggebu-gebu. "Ya, kecuali Anda, tentunya," tambahnya kemudian.
"Baiklah nanti akan kuceritakan, tapi jangan berharap terlalu banyak." Luque memberi jawaban atas permintaan Yvvone.
"Saya mengerti," jawab Yvvone yang terlihat jauh lebih sopan pada Luque, dari sebelumnya.
"Terima kasih, Nona Luque," ucap Rafa yang tiba-tiba memeluk Luque begitu saja. Membuat Luque hampir terjatuh karena tidak siap.
Dan kemudian mereka berempat duduk setelah Rafa selesai membuat empat gelas teh hangat dan menyiapkan beberapa makanan ringan, sambil mulai bercerita tentang sihir waktu, serta alasan mengapa Luque menyembuhkan lengan Rafa.
"Jadi apa kemungkinan kekuatan Anda itu berasal dari Mahan Staan?" tanya Couran kemudian setelah mendengar cerita dari mana Luque mendapatkan kemampuannya itu.
"Entahlah, Tuan Couran. Saya juga tidak mengerti," Luque hanya menggeleng kecil.
"Tapi tetap sulit dipercaya, bahwa Anda bukan hanya mengendalikan Aliran Jiwa. tapi mengendalikan alur waktu sebuah benda." Yvvone terlihat mengeleng tidak percaya. "Apa selama ini Anda tahu benda-bebda yang telah Anda ubah memiliki dampak tertentu pada masa tertentu?" tanyanya lagi.
__ADS_1
"Apa yang kau maksud adalah benda-benda yang selama ini ku perbarui, kembali rusak atat malah semakin muda dan kemudian hilang begitu?" tanya Luque yang hanya mendapat anggukan dari Yvvone sebagai jawabannya. "Sejauh ini aku tidak pernah menemukan yang seperti itu. Atau mungkin, setidaknya dampak dari sihir ku bertahan selama kurang lebih tiga rutus tahun," jawabnya kemudian.
"Apa ada batasan atau aturan khusus dalam menggunakan sihir tersebut?" Yvvone masih bertanya dengan antusias.
"Selama ini aku tidak menandainya secara khusus. Tapi untuk mengembalikan waktu suatu benda, hanya dapat dilakukan kurang dari satu tahunan. Selebihnya, tidak bisa. Aku pernah mencobanya," jawab Luque kemudian. "Ya setidaknya itu yang ku ketahui sejauh ini. Karena sejujurnya aku tidak pernah benar-benar mencobanya dengan sekuat tenaga," ucapnya lagi menambahi.
"Satu tahun sudah termasuk sesuatu yang luar biasa," sahut Rafa yang sedari tadi hanya diam menyimak.
"Jelas, mengetahui seseorang dapat ikut campur tangan dalam aliran waktu sebuah benda saja sudah sangat luar biasa, Nona Rafa." Couran segera menimpali ucapan Rafa yang terdengar seolah meremehkan.
"Anda salah, Tuan Couran. Hal ini adalah sebuah keajaiban alam," sahut Yvvone dengan cepat. "Karena tidak pernah ada apapun yang dapat merubah aliran waktu di dunia ini. Bahkan cara kerja batu Arcane pun hanya untuk menghentikan waktu saat melakukan perpindahan ruang. Bukan merubah, bahkan membaliknya seperti yang telah dilakukan Primaval," jelasnya kemudian.
"Oh, benar juga. Saya baru menyadarinya, Nona Yvvone," balas Couran sambil mengangguk-angguk.
"Tapi meskipun begitu, yang terpenting adalah, jangan mengatakan apapun tentang sihir waktu ini kepada siapa pun." Luque berucap. "Karena aku sudah sebisa mungkin menyembunyikannya selama ratusan tahun, jadi tolong jangan merusaknya," tambahnya.
"Saya mengerti, Primaval." Couran dan Rafa menjawab nyaris secara bersamaan. Sementara Yvvone hanya mengangguk dalam diam.
"Baiklah kalau begitu." Tiba-tiba Rafa berdiri yang mengejutkan semua orang, "Karena sekarang saya sudah menjadi seorang Rafa yang baru, maka saya akan mulai kembali melakukan tugas saya. Dan meminta maaf kepada yang lain karena telah menjadi beban selama sebulan ini." Rafa terlihat bersemangat seraya mengangkat tinjunya ke atas.
"Bagus sekali, Nona Rafa."
-
-
Suatu sore di Bar tempat Luna bekerja tampak dipenuhi oleh banyak orang. Sehari setelah kabar tentang lengan Rafa yang telah sembuh menyebar.
Kemudian Livia, Fla, dan anggota Bintang Api yang berada di Kota Tengah, memiliki ide untuk mengadakan sebuah perayaan kecil untuk Rafa. Yang juga sebagai penghilang ketegangan sementara dari semua masalah yang terjadi di wilayah tersebut.
Acara itu di hadiri oleh beberapa anggota Bintang Api yang bukan hanya dari markas Kota Tengah, melainkan beberapa wilayh lain yang memungkinkan untuk hadir.
Kemudian beberapa teman yang tinggal di sekitaran kota Tengah, seperti Fla, Livia, Luke, dan James. Juga Couran, Haldin, Ellian, dan Katarina, yang sekaligus mereka gunakan sebagai ajang untuk reuni.
Sedang selebihnya adalah Luna, Seigfried, Rafa, Yvvone dan Luque.
"Anda memang benar-benar sesuai reputasi Anda, Primaval. Sulit dipercaya ada sihir penyembuh sampai setingkat ini," tanya Ende yang terlihat antusias berbicara kepada Luque dari salah satu tempat duduk di seberang meja tempat kursi Luque berada.
"Benar, sebagai seorang penyembuh, kami benar-benar takjub." Kali ini Diana yang menambahi dari kursi tepat di sebelah Luque duduk.
"Saya sangat iri dengan kemampuan itu." Thomas yang berdiri belakang Diana, menimpali.
"Kalian terlalu memuji, ini adalah bakat yang ku dapat sejak kecil, bukan yang ku usahakan. Jadi jauh lebih baik kalian karena ahli dibidang kalian karena hasil dari kerja keras kalian selama ini," ucap Luque mencoba menolak pujian dari para anggota Bintang Api.
"Anda terlalu merendah, Primaval." timpal Diana dengan cepat.
"Bakat tetap adalah bagian dari diri kita, Primaval. Jadi meski bukan sesuatu yang diusahakan, tetap itu kelebihan diri kita," sahut Ende menyetujui ucapan Diana.
"Tapi, sihir ku tidak sempurna. Aku hanya dapat menyembuhkan luka yang baru-baru saja terjadi," jawab Luque kemudian. "Jadi maaf, Luke. Bila kau memiliki pemikiran untuk memintaku menyembuhkan mu juga, sepertinya aku akan mengecewakanmu. Aku tidak dapat menyembuhkan lengan dan kaki mu," ucapnya lagi seraya menunduk kecil ke arah Luke yang tampak berdiri di sebelah Thomas.
"Oh, tidak, Primaval. Anda tidak perlu meminta maaf untuk itu. Saya tidak memiliki pemikiran seperti itu. Saya sudah terbiasa dengan keterbatasan ini. Mungkin saya malah akan kesusahan untuk menyesuaikan diri bila tiba-tiba tangan dan kaki saya kembali utuh," jawab Luke dengan buru-buru. Yang di tanggapi yang lain dengan tertawa.
"Selamat malam, semua!" Tiba-tiba muncul dari pintu masuk dengan berteriak.
"Oh, Tuan Edward," sahut Shuri yang duduk di kursi di meja sebelah meja Rafa.
"Aku bawakan sesuatu untuk mengimbangi minuman kalian," sahut Edward seraya meletakan bungkusan yang ada di kedua tangannya tadi ke atas meja di tengah ruangan. Yang dengan segera menggerakan hampir semua orang untuk berdiri dari kursi mereka dan berjajan menuju ke meja tengah tersebut.
"Wah, terima kasih Tuan Edward. Anda memang yang terhebat," sahut Sigurd setelah mendapati beberapa kotak berisi roti berwarna kuning dan hijau.
"Oh, Nona Rafa. Selamat, ya." Edward tampak mendekati Rafa dan meraih kedua tangannya. "Aku sangat gembira saat kemarin mendengar kabar tersebut." lanjutnya seraya menggenggam erat kedua tangan Rafa.
"Terima kasih, Tuan Edward. Anda tidak perlu sampai membawa makanan seperti itu segala," jawab Rafa yang merasa sedikit sungkan kepada kebaikan yang dilakukan oleh Edward tersebut.
"Tidak apa-apa, Nona Rafa. Lagi pula sekarang adalah saat yang tepat untuk merayakan sesuatu dan membantu orang-orang itu sedikit bersantai, di tengah masalah yang mereka hadapi akhir-akhir ini," ucap Edward lagi menjawab.
"Anda memang orang yang baik, Tuan Edward. Terima kasih," jawab Rafa kemudian.
"Tak perlu," balas Edward seraya menepuk pundak Rafa. "Baiklah, aku akan menyapa serta berterima kasih kepada Primaval, terlebuh dahulu. Datanglah besok ke kedai," tambahnya kemudian seraya berjalan menuju ke tempat Luque.
"Baik, Tuan Edward," jawab Rafa cepat.
"Hei, Morra. Bagaimana kabarmu?" sapa Yvvone saat melihat Segfried di balik meja Bartender, sedang menyimpan beberapa gelas minum ke dalam rak.
Seigfried tampak tidak memperdulikan sapaan dari Yvvone. Ia masih terlihat sibuk menyimpan gelas ke dalam rak, seolah tidak mendengar apapun.
"Hei, kenapa kau hanya diam saja? Apa kau sedang sakit perut?" sahut Yvvone lagi mencoba mendapat perhatian dari Seigfried.
"Kenapa kalian membuat acara di tempat ini? Merepotkan ku saja." sahut Segfried yang kali ini mulai ganti mengelap pinggiran meja Bartender di depan Yvvone.
"Kenapa memangnya?" tanya Yvvone yang terlihat benar-benar bingung.
"Sudah jelas bahwa kalian akan membuat ruangan ini jadi kotor. Dan karena itu, aku harus bekerja lebih untuk membersihkannya," jawab Segfried yang mulai terlihat sewot.
"Kau tak perlu kuatur. Aku yakin kalau hanya hal seperti ini saja, kau pasti bisa melakukannya," sahut Yvvone tiba-tiba. "Aku tahu kau memiliki potensi dan kemampuan untuk melakukannya dan menyelesaikannya dengan cepat dan baik," lanjutnya kemudian, yang ia maksudkan kepada Seigfried.
"Kau sedang bicara apa, Elf? Apa kau sudah gila? Atau kau sedang mabuk sekarang?" sahut Seigfried yang terlihat bingung. Dan kemudian berjalan pergi meninggalakan Yvvone menuju ke ujung ruangan yang lain.
"Huh... sepertinya ucapan dan perkataan baik yang pernah diajarkan oleh Primaval sebelumnya, tidak berlaku terhadap Morra itu," sahut Yvvone begitu Seigfried sudah tidak lagi berada di hadapannya.
"Mau dilihat bagaikanapun, Primaval benar-benar sangat menakjubkan." Ellian berucap dari meja di ujung ruangan duduk mengelilingi meja bersama Couran, Haldin, dan Katarina.
__ADS_1
"Benar, aku saja sampai seperti hampir mati saat melihat tiba-tiba lengan Nona Rafa kembali seperti sedia kala dengan begitu saja," balas Couran yang terlihat menggeleng pelan sambil menyilangkan tangannya ke depan dada.
"Kada para dewa memang tidak hanya diam saja." Katarina menyela seraya masih menatap sosok Rafa yang sedang berbincang dengan Fla dan Livia dari kejauhan.
"Ngomong-ngomong, kenapa kau memakai ikat pinggang untuk menyimpan tongkat sihir, Kat? Bukankah Druid tidak menggunakan tongkat sihir?" tanya Couran tiba-tiba, yang membuat Haldin tersedak mendadak di tengah-tengah minumnya.
"Oh, ini? Ti-tidak apa-apa." Katarina hanya menjawab cepat dengan sedikit tergagap. Sementara tampak Ellian hanya tertawa kecil melihatnya.
"Kau ini memang terkadang sangat aneh," sahut Couran kemudian, tanpa menyadari ada sesuatu hal yang aneh sedang terjadi.
.
"Apa? Kalian sudah menikah? Maafkan aku yang jadi seorang pecundang sebulan belakangan ini," ucap Rafa setelah Licia dan Fla menceritakan tentang pernikahan yang mereka lakukan sefara adat heberapa hari yang lalu.
"Tidak apa-apa, Nona Rafa. Kami mengerti, kami juga minta maaf karena tidak memberi tahukannya pada anda, karena kami takut kabar tentang pernikahan kami akan membuat keadaan Anda jadi lebih buruk," jawab Fla kemudian mencoba memberi penjelasan.
"Tapi saya benar-benar bersyukur, bahwa Anda sudah baik-baik saja," sahut Livia yang sangat lega. "Dan... dan... lengan Anda sudah kembali seperti semula, saya sangat bahagia sekali," tambahnya yang mulai terlihat berkaca-kaca.
"Terima kasih, Livia." Rafa menepuk kecil punggung Livia.
"Jadi bagaimana rasanya, Nona Rafa?" tanya Axel kemudian, yang terlihat baru saja mendekat setelah mengambil roti pemberian Edward.
"Rasanya sedikit aneh," jawab Rafa seraya menggerak-gerakan Lengan dan jari jemari tangan kirinya. "Tapi ini benar-benar sesuatu yang sangat luar biasa," ucapnya menambahi.
"Berarti sekarang saya harus lebih waspada bila kita menyadakan latih tanding ulang," balas Axel kemudian, yang ditanggapi dengan tawa dari yang lain.
"Tapi ide kalian mengadakan acara ini untuk ku, benar-benar membuatku sangat senang. Terima kasih." Rafa berterima kasih sekali lagi kepada Livia, Fla, dan beberapa anggota Bintang Api.
"Tidak perlu merasa sungkan, Nona Rafa. Sebenarnya ini juga jadi alasan kita untuk membuat pesta agar dapat bersenang-senang di tengah masalah yang kini sedang terjadi." Sigurd menyahut dari belakan Axel sambil terdengar bercanda.
"Semoga semua hal ini cepat berlalu," jawab Rafa kemudian.
Tiba-tiba saat mereka sedang asik berbincang, terdengar suara ledakan keras yang menggaung hampir di seluruh penjuru kota dan mengejutkan semua orang.
"Suara Apa, itu?" Beberapa orang bertanya hal yang sama, secara hampir bersamaan.
"Ledakan?"
Dan tak lama suara sirine alaram yang ada di tiap-tiap menara jaga di pinggiran kota mulai berhunyi satu demi satu. Yang membuat wajah-wajah yang tadinya ceria mulai berucah menjadi kuatir dan takut.
-
Sementara itu tampak sosok Lily yang terlihat sedang melakukan meditasi bersama lima Bijak Yllgarian di sebuah bangunan di Desa Yllgarian di dalam Hutan Sekai, tiba-tiba membuka matanya seperti sedang di kejutkan oleh sesuatu.
"Mereka menyerang," ucap Lily yang terdengar penuh kekuatiran.
"Kegelapan dari timur," sahut Golus si Yllgarian banteng dari sebelah Lily.
"Kurasa kita harus segera bergerak," ucap Vurg si Yllgarian Burung Hantu menambahi.
"Benar."
-
-
Terlihat seorang perempuan Morra sedang berada dalam gerbong Kereta Uap dengan seorang anak laki-lakinya, dari Stasiun Atas Kota Selatan hendak menuju ke Kota Utara.
Langit di sebelah barat masih terlihat cukup terang, meski matahari suddh menghilang di balik tebing sisi Barat.
"Sudah, kau tidak boleh makan manisan lebih banyak lagi, tenggorokanmu bisa sakit nantinya," ucap perempuan Morra itu melarang sang anak.
"Tapi, bu... aku belum pernah mencoba yang ini," balas si anak yang mencoba mencari alasan untuk bisa memakan manisan lainnya.
"Masih ada besok. Manisan-manisan itu bisa di simpan dulu sampai besok," jawab si ibu yang tidak merubah keputusannya.
"Tapi..." rengek sang anak kemudian.
"Sudah, tidak ada tapi-tapi," potong sang ibu dengan tegas.
"Anak-anak memang terkadang seperti itu Nyonya," ucap seorang pria Morra yang duduk tepat di depan ibu dan anak itu.
"Benar. Padahal sudah dua manisan yang ia habiskan seharian ini," sahut sang ibu sambil melihat anak laki-lakinya yang terlihat marah dan kesal menatap keluar jendela kereta.
"Apa Anda juga dari Kota Selatan?" Pria Morra itu bertanya melanjutkan.
"Benar, kami dari Kota Selatan hendak menuju ke Kota Utara," jawab sang ibu.
"Apa Anda tinggal di Kota Utara?"
"Benar. Kemarin kami sedang mengunjungi rumah kakak perempuan saya di Kota Selatan. Anda sendiri?" Sang ibu bertanya balik.
"Aku tinggal di Kota Selatan. Sekarang hendak menuju kota Tengah untuk bertemu dengan seorang teman," jawab pria Morra itu. "Kudengar masalah dengan wilayah Elbrasta sedang memburuk, apa Kota Utara baik-baik saja?" tanyanya kemudian.
"Sama dengan Kota Selatan, Kota Utara juga tidak terlalu berdampak dengan masalah yang terjadi di sisi luar tembok gerbang," ucap ibu itu sambil kembali memperhatikan anaknya yang telihat mulai asik memperhatikan pemandangan di luar jendela kereta. Sudah mulai melupakan tentang manisan yang sebelumnya
"Kurasa kita harus bersyukur bahwa wilayah di sisi dalam tembok tebing aman dari..."
Belum pria Morra itu selesai berbicara, tiba-tiba saja kepala lokomotif Kereta tersebut meledak. Dan karena Kereta sedang dalam keadaan berjalan, kekuatan dari ledakan tadi menyebabkan sisa gerbong penumpang di belakangnya terlempar keluar jalur, dan berguling dengan liar.
-
__ADS_1