Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
Antology 19


__ADS_3

Sedang Fla dan Luke dalam Kereta Besi tampak melaju dengan kecepatan paling tinggi melewati wilayah saban menuju Gerbang Sekai.


"Menurutmu apa yang sebenarnya sedang terjadi, Luke?" tanya Fla yang terlihat kuatir dari kursi pengemudi.


"Aku mendengar langkah kaki, mungkin puluhan. Dan aku tidak mau kejadian seperti di Desa tepian pantai timur itu terulang lagi. Maka dari itu kita harus segera mengabarkan hal ini dan meminta bantuan agar semuanya tidak terlambat," jawab Luke yang juga terlihat sama kuatirnya dari tempat duduk di sebelah Fla.


"Kau benar. Dan ke mana tujuan kita meminta bantuan? Hutan Sekai?" Fla tampak berkonsentrasi melihat jalanan di hadapannya. Meski di bantu cahaya lampu jalanan, tapi tetap saja jalanan itu masih cukup gelap dan berbahaya bila dilalui dengan kecepatan seperti sekarang.


"Benar. Hutan Sekai." Luke menjawab juga dengan menatap lurus ke depan.


-


Sementara di alun-alun kota, Rafa, Yvvone, Ende, Diana, dan Sigurd tampak cukup kesulitan menghadapi puluhan Yllgarian Buaya, yang mulai mengamuk di tengah kota.


Suasana wilayah tengah kota tersebut sangat kacau. Banyak para penduduk yang panik dan takut berlarian menjauh wilayah tersebut. Beberapa Mugger tampak mengejar orang-orang yang terlihat oleh mereka.


Sedang para penjaga kota bukanlah tandingan para Mugger tersebut. Mereka hanya menjadi sasaran empuk para manusia Buaya tersebut.


Untuk Rafa, Yvvone, Ende, Diana, dan Sigurd juga tidak dapat melakukan apapun melihat hal tersebut. Karena posisi mereka saat ini juga sedang sibuk menghadapi beberapa Mugger sekaligus.


"Mereka seperti tidak ada habisnya. Sudah beberapa jatuh tapi masih banyak sekali yang datang. Apa mereka masih membuka sihir Ruang waktu?" sahut Sigurd di tengah engahan nafasnya setelah berhasil menjatuhkan satu Mugger di hadapannya.


Mereka berdiri berputar dengan Diana berada di tengah. Sigurd berdiri di sisi utara, Rafa di sisi timur, Ende di sisi selatan, dan Yvvone di sisi barat.


Sedang para Mugger itu mtngelilingi mereka dan berusaha menyerang dari segala arah.


"Bila mereka memakai batu Arcane, sihirnya hanya akan terbuka selama empat puluh delapan hitungan saja," sahut Yvvone menjelaskan.


"Mereka terus bermunculan dari arah sana," Sigurd menunjuk ke arah utara. Ke arah pinggiran kota sebelah utara, setelah sebuah sungai yang mengalir melewati kota tersebut.


"Ini sudah lebih dari empat puluh delapan hitangan. Apa mereka memiliki banyak batu Arcane?" celetuk Diana kemudian.


"Entahlah yang jelas kita harus menutup pintu masuk mereka, sebelum kita mati kelelahan," timpal Ende setelah berhasil memanggang dua Mugger yang ada di hadapannya dengan sihir petir miliknya.


"Sepertinya memang di sana tempatnya. Lihat banyak Penyihir Petarung di sekitar tempat itu," ucap Rafa kemudian setelah ia memperhatikan ke arah yang di tunjuk oleh Sigurd.


Ende menyempatkan berpaling ke belakang untuk ikut memastikan. "Kurasa dengan sebegitu banyak Penyihir Petarung yang membuat perlindungan seperti itu, bila hanya kita berlima saja, kurasa cukup mustahil untuk menembusnya," ucapnya kemudian setelah kembali menghadang Mugger yang ada di hadapannya.


"Koreksi. Aku penyembuh. Kau tidak bisa menyertakanku dalam hitungan, meski aku bisa bertarung," sahut Diana cepat.


Rafa kemudian mulai berpikir. Ia harus bisa membuat jalan menembus puluhan Mugger yang menghadang itu.


"Aku punya ide. Aku akan mencoba sesuatu. Sementara itu tolong lindungi aku," ucap Rafa yang kemudian menyimpan tongkat sihirnya, dan ganti mengeluarkan sebuah pistol dari kantong di belakang pinggangnya.


"Oh, benar. Penyihir Senjata Api tunjukan kehebatanmu melubangi logam Darcz pada mereka," sahut Sigurd yang terlihat bersemangat saat melihat Rafa meneluarkan senjata api nya.


Dengan Rafa yang kini tidak lagi dapat menghadang lawan, posisi bertarung kelima orang itu pun berubah. Kini Rafa dan Diana ada di posisi tengah. Sementara Yvvone, Sigurd, dan Ende berdiri mengelilingi mereka dengan lebih rapat. Sebisa mungkin menutup celah untuk para Mugger itu melakukan serangan ke tengah.


Rafa tampak mulai merapal sesuatu saat sedang membidikan pistolnya dengan kedua tangan, mengarah ke kumpulan Mugger Penyihir Petarung yang di sebutkan Sigurd sebelumnya.


Tampak lingkaran sihir mulai muncul di sekitar laras pistol Rafa. Bersinar kuning terang.


Yvvone yang mengamati bagaimana Rafa melakukan rapalan di sela-sela pertarungannya melawan Mugger itu, tampak mengerti dengan apa yang sedang Rafa lakukan.


"Tunggu sebentar, Nona Rafa," tanya Yvvone saat Rafa seperti hendak menarik pemicu pistolnya. "Apa kau menggunakan sihir pemicu yang hanya bekerja saat sesuatu melewati lingkaran sihir itu?" tanyanya kemudian.


"Benar," jawab Rafa yang terlihat bingung, Yvvone bertanya hal seperti itu di tengah pertarungan.


"Oh, baiklah. Aku mengerti. Kurasa aku akan membantu menambahkan sihir ku, Nona Rafa," sahut Yvvone tiba-tiba. "Ambil alih bagian ku, Nona Ende," perintahnya kemudian kepada Ende.


"Eh?" Ende terkejut mendapat perintah seperti itu. Namun karena sihir Ende yang memiliki jangkauan yang luas, mengambil alih wilayah yang harusnya di tangani oleh Yvvone bukan perkara yang cukup susah, untuk jangka waktu tertentu.


Sedangkan Yvvone yang tidak ingin membuang waktu, segera melakukan rapalan pada pistol dalam genggaman Rafa itu. Dan lingkaran sihir dengan warna hijau cerah muncul di depan lingkaran sihir Rafa yang pertama.


"Anda melakujan apa, Nona Yvvone?" Diana terlihat penasaran melihat ada dua lingkaran sihir jenis pemicu di ujung laras senjata Rafa.


"Sepertinya saya juga mengerti apa yang sedang kalian lakukan, maka saya juga akan membantu dengan sihir petir yang saya miliki," sahut Ende yang terlihat antusias melihat Rafa dan Yvvone yang melakukan percobaan dengan sihir. Hal yang sangat ia gemari.


Dan Ende pun segera melakukan rapalan yang sama seperti yang sebelumnya di lakukan oleh Rafa dan Yvvone. Sementara giliran Yvvone yang kini mengambil alih bagian Ende.


Dan kini lingkaran sihir berwarna biru gelap terlihat muncul di depan lingkaran sihir hijau terang milik Yvvone.


"Sudah," ucap Ende kemudian yang sudah kembali ke posisi awalnya.


"Baiklah kalau begitu, sekarang akan aku lepaskan," ucap Rafa seraya melakukan rapalan sekali lagi dan sebuah tembok tinggi muncul begitu saja di depan Sigurd, untuk menahan sisi utara selama Sigurd menyingkir dari arah laju senjata Rafa.


"Sig, mundur!" teriak Ende memerintah Sigurd untuk segera menuju ke belakang Rafa berdiri.


Dan begitu Sigurd sudah berada di belakang Rafa, segera Gadis Seithr itu menarik pelatuk pistolnya. Terdengar suara ledakan, dan kemudian peluru pun meluncur melewati laras pistol sebelum kemudian melesat keluar.


Dan karena saat keluar dari laras pistol, peluru tersebut melewati tiga lingkaran sihir, maka peluru itu kini memiliki sihir penguat, sihir angin, dan juga sihir petir.


Tembakan itu tidak mengeluarkan suara ledakan yang lebih besar dari biasanya, namun suara desing yang dihasilkan dari sihir angin Yvvone yang terbalut di sekitar peluru, menimbulkan suara seperti siul yang sangat keras dan mengganggu saat peluru itu meluncur. Yang karena cukup kerasnya, hingga terdengar sampai wilayah bukit Waduk dan dasar jurang Ceruk Bintang.


Tidak hanya suara saja yang mengejutkan bahkan Rafa dan yang lainnya. Dampak yang dihasilkan juga sangat besar di sekitaran arah lajunya.


Peluru itu bergerak dengan sangat cepat yang sudah tidak dapat diikuti oleh pandangan mata. Yang terlihat hanya jejak ekor petir yang mengelilingi peluru itu. Yang terlihat seperti garis sinar berwarna biru gelap. Yang melaju lurus ke arah dimana para Mugger tadi berkumpul.


Dan dalam radius kurang dari satu kereta kuda di sekeliling sinar tadi, semua benda hancur dengan begitu saja. Berkeping-keping seperti buih ombak saat menghantam karang.


Dan sinar biru itu terus bergerak lurus ke arah utara hingga tak terlihat lagi. Yang bukan saja melubangi tembok yang baru di bentuk oleh Rafa sebagai perlindungan, tapi juga melubangi dua bangunan rumah dan sebuah jembatan kota yang berada dalam lajunya. Kemudian masih juga menghancurkan sebuah generator listrik, dan satu menara jaga yang terletak di pinggiran kota sebelah utara yang cukup jauh dari posisi Rafa menarik pelatuk.


Sementara para Mugger yang dilewati tembakan itu, kini hanya tinggal genangan darah dan gumpalan-gumpalan sisa dari tubuh mereka yang hancur.


"Kurasa kita harus berhati-hati saat menggunakan hal tersebut setelah ini," Sigurd berucap dengan beberapa kali mengejapkan matanya. Mencoba memastikan apa yang ia lihat.


"Benar. Kita bisa menghancurka kota ini lebih cepat dari menghabisi para Mugger itu," sahut Diana menambahi.

__ADS_1


"Baiklah, sebelum para Mugger yang lain muncul dan kembali menutup jalan, kita harus segera menutup pintu masuk mereka," ucap Ende menyarankan.


"Benar. Ayo." Dan mereka berlima pun segera berlari menuju ke jalanan yang kini dipenuhi oleh genangan darah.


-


"Suara apa itu?" Fla terkejut saat mendengar suara seperti sebuah siulan yang melengking tinggi dari arah Kota Tengah.


Kini mereka sudah berada di sekitar tempat para pedagang Azzur tinggal dan membuka pasar. Tampak wilayah tersebut juga mulai terlihat ribut dan ramai. Dari kejauhan terlihat orang-orang mulai keluar dari tenda-tenda mereka.


"Entahlah," sahut Luke yang kini sedang berdiri di atas tempat duduknya menatap ke arah belakang untuk mencari tahu. "Sepertinya itu sebuah sihir. Kini ada api terlihat membumbung di utara kota," ucapnya lagi seraya kembali duduk menghadap ke depan.


"Sepertinya situasi bertambah parah." Fla mengira-ngira.


"Kita harus bergegas," sahut Luke kemudian.


Dan tak berapa lama setelah Luke berhenti berucap, di hadapan mereka, terlihat puluhan prajurit Yllgarian yang sedang bergerak menuju ke arah barat.


"Itu, para Yllgarian?" Fla mencoba memastikan ke Luke.


"Syukurlah. Benar, itu mereka," sahut Luke yang terlihat sangat lega mendapati rombongan besar Yllgarian di depan mereka itu.


-


"Suara apa itu?" Shuri nyaris berteriak saat mendengar suara kencang yang terdengar nyaris seperti siulan yang menggaung itu.


"Dari arah alun-alun kota," sahut Thomas dari belakang Shuri, yang sedang membantu menyembuhkan seorang pria Morra yang lengannya tampak bersimbah darah.


"Ayo kita segera selesaikan ini dan membantu yang lain. Aku penya firasat buruk mengenai hal ini," sahut Axel yang sedang menahan sebuah tiang besi yang menghalangi jalan keluar dari sebuah gerbong kereta yang tampak terbalik, sementara yang lain membantu Shuri menarik seorang perempuan Morra keluar.


"Ketua..." Pria botak anak anggota Bintang Api yang sebelumnya, tampak kembali dengan terengah.


"Kenapa? Ada apa?" tanya Shuri dengan wajah semakin kuatir dan panik.


"Puluhan Mugger..." pria botak itu mengatur nafasnya. "Puluhan Mugger menyerang alun-alun kota," ucapnya kemudian.


"Apa?! Mugger?!" Shuri tampak tidak percaya dengan ucapan anak anggotanya itu.


"Benar, ketua. Para penjaga tidak dapat bertahan melawan mereka," ucap pria botak tadi masih dengan nafas terengah.


"Aku akan kesana, kalian bantu tempat ini," sahut Axel begitu perempuan Morra yang tadi ditarik sudah berada di luar, dan ia sudah kembali meletakan tiang besi yang tadi ditahan.


"Tunggu, Ax. Aku juga ikut. Thom, tolong urus yang disini," ucap Shuri seraya mengenakan kembali pelindung dada dan pundaknya yang sempat ia lepas agar memudahkannya untuk bergerak di ruang sempit saat menarik perempuan Morra tadi.


"Baik, serahkan padaku," sahut Thomas cepat.


Dan setelah mengangkat ibu jarinya ke arah Thomas, Shuri pun bergegas meninggalkan tempat tersebut bersama Axel menuju ke alun-alun kota.


"Minta orang-orang yang tinggal di tempat ini untuk membantu mengurus para korban. Dan juga minta untuk mereka menyiapkan air bersih dan selimut," perintah Thomas pada pria botak tadi kemudian.


"Baik, ketua!"


-


Di belakang mereka puluhan Mugger yang tadi melihat apa yang telah terjadi, mulai mengejar dan memusatkan serangan mereka ke lima orang tersebut.


Yvvone berada di posisi paling depan, kemudian terlihat Diana yang mencoba menyusulnya. Di belakang Diana, terlihat Sigurd, Ende, dan Rafa sedang melakukan serangan untuk menahan para Mugger yang mengejar mereka.


Dan akhirnya tampak dua Mugger di ujung dari tempat yang mereka sangka sebagai tempat dimana pintu masuk itu tadi berada.


Yvvone merasakan ada beberapa batu Arcane di dalam tas pinggang yang dipakai oleh salah satu dari Mugger tersebut. Dan tanpa menunggu dua Mugger tadi bertindak, Yvvone segera menggunakan sihir anginnya.


Dua Mugger itu segera menyentuh leher mereka, dan kemudian seperti sedang berusaha untuk bernafas, mulut mereka terbuka tertutup seolah sedang mencoba menarik udara. Dan tak butuh waktu lama mereka pun akhirnya jatuh pingsan.


Hanya Diana yang tidak sedang bertarung melawan para Mugger lain lah, yang menyaksikan kengerian dari wajah dua Mugger yang jatuh lemas karena kehabisan udara itu.


Dan begitu Mugger-Mugger itu sudah tidak bergerak lagi, Yvvone mulai berjalan mendekat untuk mengambil batuan Arcane yang mereka miliki itu.


Namun tiba-tiba sesosok bertopeng tengkorak muncul begitu saja di hadapannya, yang membuat Yvvone terkejut dan segera melompat ke belakang.


Yvvone bahkan tidak merasakan keberadaan sosok tersebut sebelumnya. Ia tidak merasakan Aliran Jiwa bergerak, saat sebelum sosok itu muncul di hadapannya.


"Tak ku sangka di sini ada banyak sekali orang-orang yang menarik," ucap sosok bertopeng itu yang kemudian mengambil tas yang berisi batuan Arcane dari tubuh Mugger yang tergeletak tadi.


Bukannya membalas ucapan lawannya, Yvvone segera melancarkan serangan sihir peluru angin ke arah sosok bertopeng tersebut.


Namun sosok bertopeng itu dengan mudah menghindari peluru angin milik Yvvone yang nyaris tak terlihat oleh mata. Dan kemudian melompat ke atas dan mendarat di salah satu atap rumah penduduk.


"Dari dulu Elf selalu bertindak tanpa banyak bicara," ucap sosok bertopeng itu kemudian.


"Siapa kau?"


"Kau tidak perlu tahu tentang siapa aku, Aeron muda,"


-


Sementara itu Fla dan Luke akhirnya bertemu dengan rombongan besar pasukan Yllgarian yang hendak menuju ke arah Kota Tengah.


"Nona Lily, bersyukur Anda sudah menggerakan pasukan untuk datang membantu," ucap Fla begitu ia dan Luke melihat ada Lily di antara pasukan Yllgarian tersebut.


"Apa yang terjadi?" tanya Lily yang sedikit terkejut mendapati Fla dan Luke di tempat itu.


"Entahlah kami juga tidak tahu pasti. Kami bergegas menuju ke Hutan Sekai untuk meminta bantuan ketika terjadi beberapa kali ledakan di Kota Tengah sebelum suara kencang yang baru saja terdengar." Fla menjawab.


"Yang kami duga, mungkin Kota Tengah sedang di serang." Kali ini Luke yang berucap menambahi.


"Kalian tidak perlu kuatir. Kami akan segera me...," ucapan Lily tiba-tiba dipotong oleh dirinya sendiri, dengan segera memalingkan pandangannya ke arah garis cakrawala dimana Kota Tengah berada. Kemudian mulai terlihat mengerutkan dahinya. "Jadi benar, Glave ada di tempat ini sekarang," ucapnya lirih yang hanya ditujukan untuk dirinya sendiri.

__ADS_1


"Nona Lily?" Evora si Burung Hantu, salah satu pemimpin pasukan Yllgarian tersebut bertanya kepada Lily yang terlihat aneh.


"Evora ambil alih dari sini, aku akan berangkat lebih dulu," ucap Lily kemudian.


"Baik, Nona Lily," sahut Evora cepat tanpa mempertanyakan alasan Lily. Karena ia tahu bahwa Lily tidak akan melakukan hal seperti itu bila tidak mendesak.


Setelah itu tampak Lily melompat tinggi ke angkasa, dan kemudian melesat cepat ke arah Kota Tengah dengan tubuh yang bersinar putih terang. Sosoknya seperti bintang yang bergerak di langit malam.


-


"Apa itu?" tanya Shuri saat melihat sesuatu melesat di atas langit ketika ia tengah berlari menuju alun-alun kota.


"Apa itu Nona Lily?" Axel terlihat sedikit ragu saat mengamati bahwa sesuatu yang bersinar putih terang melesat di angkasa melewatinya itu berwujud seperti seekor kelinci.


"Benarkah itu Nona Lily?" tanya Shuri memastikan. "Perasaan ku jadi semakin tidak enak, sekarang,"


"Sepertinya keadaan tidak akan bertambah buruk," sahut Axel seraya menunjuk ke arah utara. Tampak siluet beberapa Kereta Besi dan orang-orang berkuda.


"Apakah itu bantuan dari Kota Utara?" Shuri bertanya lagi masih dalam posisi berlari bersama Axel menuju ke tengah kota. "Syukurlah, berarti sekarang kita bisa fokus untuk menghajar Mugger-Mugger itu," tambahnya kemudian.


-


Sedang Lily yang meluncur cepat tadi sengaja mengarah ke posisi sosok bertopeng tengkorak yang tadi berhasil menghindari serangan dari Yvvone.


Lily terlihat telah menyiapkan rapalan sihir sebelumnya. Dan kemudian mulai menembakan beberapa sinar putih ke sosok bertopeng tengkorak yang sedang berdiri di atas atap rumah itu saat ia sudah berada dekat dengannya.


Sosok bertopeng itu menangkis serangan Lily dengan pelindung sihir yang dikeluarkan nyaris tanpa rapalan. Dan kemudian sosok bertopeng itu melompat ke belakang.


Lily yang sudah menginjakan kaki di atas atap tempat sosok bertopeng tadi berdiri, segera melakukan serangan lagi ke arah lawannya yang masih melayang di udara itu.


Sebuah pisau cahaya di keluarkan dari sabetan tongkat kayu Lily, dan meluncur cepat ke arah sosok bertopeng itu. Sebelum kemudian sosok tersebut menghilang begitu saja di antara langit malam, yang meloloskan pisau cahaya milik Lily meluncur menjauh.


"Bahkan kota ini memiliki seorang pahlawan legenda, benar-benar sangat menarik. Tapi cukup sampai disini untuk kali ini. Sampai jumpa lagi. Hahahaha...." Suara berat tanpa sosok terdengar menggema di antara langit malam. Meninggalkan Lily dengan wajah yang terlihat marah.


-


Caspian bersama beberapa regu pasukan dari Kota Utara yang sedang berarak menuju kota Tengah, telah melewati jembatan Jurang Besar saat suara seperti siulan terdengar kencang.


"Suara apa itu?" tanya Billy, anggota Bintang Api yang ditugaskan di Kota Utara, dari dalam Kereta Besinya yang berjalan tepat di sebelah Caspian yang berada di atas kudanya.


"Semoga itu bukan hal buruk," jawab Leon, anggota Bintang Api yang lain, yang duduk di kursi kemudi sebelah Billy dalam Kereta Besi tersebut.


"Semua ini adalah kesalahan ku. Semoga tidak terjadi apapun terhadap Yang Mulia Ratu dan seluruh kota," ucap Caspian lirih kepada dirinya sendiri.


Akhirnya Kota Tengah pun mulai terlihat. Tampak beberapa tempat terlihat terbakar. Api membumbung tinggi ke angkasa.


"Oh, Leon lihat," ucap Billy saat mendapati sinar berwarna putih terang melesat dari timur menuju tengah kota.


"Apa itu Sang Kilat Putih?" tanya Leon yang terdengar lebih seperti sedang berharap dari pada memastikan.


"Ayo, kita harus buru-buru," perintah Caspian yang kemudian mulai memacu kudanya setelah melihat sinar putih tadi.


Seluruh pasukan mulai menaikan kecepatan mereka. Dan tak lama kemudian tampak seorang Penjaga Kota berlari mendekat dengan melambaikan tangan, saat pasukan Caspian tiba di batas timur laut Kota Tengah.


"Jendral Caspian, di selatan terdapat kecelakaan. Ada kereta yang terbalik, dan kami perlu tenaga untuk membantu menyelamatkan para penumpang yang masih terjebak di dalamnya," ucap Penjaga Kota tadi saat ia sudah berada di depan kuda Caspian.


"Apa yang terjadi di dalam kota?" Tanya Caspian yang tidak turun dari atas kudanya.


"Para Mugger sedang menyerang kota." Penjaga Kota itu menjawab.


"Mugger? Di kota Tengah? Bagaimana bisa?" Caspian terlihat tidak percaya.


"Saya tidak tahu, tapi sekarang anggota kelompok Bintang Api sedang menghadang mereka," jawab Penjaga Kota itu kemudain.


"Shuri dan Axel?" tanya Billy kemudian.


"Bukan, Tuan Billy. Yang saya lihat tadi Nona Ende, Nona Diana, dan Tuan Sigurd," jawab Penjaga Kota itu lagi.


"Oh, benar. Diana dan Thomas juga sedang berada di tempat ini," sahut Billy kemudian.


"Baiklah kalau begitu, tiga regu bantu para penumpang yang terjebak dalam gerbong kereta di selatan," pertintah Caspian kemudian. "Tunjukan arahnya pada mereka," lanjutnya meminta Penjaga Kota tadi memandu tiga regu pasukan yang ia perintahkan.


"Sedang tujuh sisanya langsung menuju ke tengah kota dan kediaman Yang Mulia Ratu," perintahnya lagi seraya memacu kudanya ke arah kota mendahului yang lain.


Namun baru Caspian tiba di wilayah Stasiun Kota, tampak dari arah selatan sebuah Kereta Besi melaju dengan kecepatan tinggi.


Tampak ia menghentikan gerak kudanya, sementara Kereta Besi Billy dan Leon bersama seluruh pasukannya tetap melaju ke arah alun-alun kota.


"Ada yang datang? Siapa itu?" tanya Caspian kemudian kepada wakilnya yang juga ikut berhenti dan menunggu di atas kuda sebelahnya.


"Dilihat dari warna Kereta Besinya, sepertinya itu adalah Pembawa Pesan, Jendral," jawab sang wakil setelah mengamati Kereta Besi tersebut dengan seksama


"Dari selatan?" tanya Caspian memastikan.


"Benar, Jendral," jawab sang wakil cepat.


"Semoga itu bukan berita buruk." Terlihat wajah Caspian mulai bertambah kuatir.


Tak lama kemudian dua orang keluar dari Kereta Besi dan menghadap kepada Caspian.


"Lapor, Jendral." Dua orang itu berlutut di depan Caspian yang masih di atas kudanya.


"Ada apa dengan wilayah selatan?" tanya Caspian tanpa berbasa-basi.


"Terjadi serangan mendadak dan serentak dari kerajaan Augra dan juga Jouren. Dan juga para pemberontak berhasil menguasai gudang persenjataan kita di wilayah selatan. Provinsi Timur dan Provinsi Barat meminta bantuan," lapor si Pembawa Pesan dengan cepat dan jelas.


"Sial." Caspian menggeram pelan sambil mengepalkan tangannya erat-erat. "Baiklah, kita bersihakan Mugger-Mugger itu terlebih dahulu, baru setelah itu kita segera menuju ke selatan," tambahnya sebelum kemudian mulai memacu kudanya menuju ke alun-alun kota.

__ADS_1


-


__ADS_2