
Tiga hari kemudian, setelah rombongan pembuat jembatan tiba di perkemahan mereka, Couran mulai mengumpulkan beberapa orang yang terkait untuk membicarakan rencana selanjutnya.
"Karena semua hal yang kita perlukan sudah siap semua, maka mulai besok kita akan menjalankan tahap selanjutnya" Couran membuka pembicaraan.
"Baiklah aku akan memberitau Matyas untuk mulai berkemas"
"Apa kau perlu bantuan Ellian?"
"Mungkin beberapa orang untuk membantu melmbongkar rumah kaca itu bila tidak merepotkan"
"Baiklah akan ku minta beberapa pekerja untuk ke tenda mu setelah ini"
"Terima kasih"
"Kalau anda tuan Val? Ada yang anda butuhkan?"
"Tidak, kurasa Marco saja sudah cukup untuk membantu ku"
"Baiklah kalau begitu. Hari ini saya akan menuju desa Baltra untuk memberitahu kepala desa bahwa mulai besok kita akan pindah ke dalam tanah Pharos" ujar Couran, "Dan akan menyusul kalian setelahnya" tututpnya.
"Haldin dan tuan Val tolong pimpin rombongan ketempat yang kemarin" tambah Couran kemudian. Yang dijawab dengan anggukan oleh Haldin dan Val.
-
Pagi berikutnya, area perkemahan mereka sudah bersih dikemas, kini yang tersisa hanya sebuah tanah lapang yang jarang ditumbuhi rumput, sisa-sisa api unggun, dan beberapa lobang ditanah bekas tiang-tiang pasak.
Mereka membuat delapan gerbong kereta dari kayu yang di kaitkan berjajar mengular pada badan kereta besi. Gerbong itu untuk mengangkut peralatan-peralatan berat.
Sisanya adalah dua puluh kereta kuda yang berjalan beriringan mengikuti kereta besi yang dipimpin Haldin itu berjalan menuju perbukitan tanah Pharos.
-
Dua hari kemudian mereka tiba di jembatan yang baru dibuat dua minggu yang lalu. Beberapa orang yang tidak ikut dalam pembangunan jembatan itu tampak kagum melihatnya.
__ADS_1
Mereka tak percaya melihat jembatan yang meski hanya dibuat dari tiang besi dan papan kayu yang dipaku berjajar diatasnya itu bisa diselesaikan dalam waktu satu minggu, dan hanya dengan 20 orang saja. Sangat mengagumkan bila ditambah dengan melihat lebar lembah yang kurang lebih sepuluh kereta kuda berjajar itu.
"Benarkah jembatan ini hanya dibangun dalam seminggu saja?" Tanya Katarina dari dalam kereta kudanya saat mereka melewati jembatan tersebut.
"Kurasa benar, karena terakhir kali aku melewatinya, kurang lebih sebulan yang lalu. Jembatan ini belum ada. Dan mereka baru berangkat sekitar dua minggu yang lalu untuk membangunnya" ucap Ellian panjang lebar di sebelah Katarina. Duduk rilek sambil memegang cangkir berisi teh herbal.
"Tidak bisa disangkal. Ini pencapaian yang luar biasa. Herico memerlukan pengetahuan tentang rancang bangun seperti ini" ujar Katarina kemudian.
"Kau bisa memintanya pada mereka berdua saat bertemu nanti. Kurasa mereka tidak pelit akan ilmu" jawab Ellian.
Sementara trio pemburu dan bibinya yang sedang menunggang kuda melewati jembatan itu juga tampak terkagum-kagum. Kecuali Loujze.
"Bagaimana kalian bisa menyelesaikannya dalam satu minggu?" Tanya Deuxter pada Loujze dari atas kudanya. Tatapannya terus berputar mengamati jembatan dan tiang-tiang katrol yang belum dilepas disekitaran jembatan itu.
"Benar-benar menghawatirkan" ucap Go kali ini.
"Kenapa bi?" Tanya Loujze yang tidak mengerti dengan maksud dari ucapan bibinya itu.
"Memang benar. Mereka memiliki kekuatan yang sanggup merubah dunia ini. Tapi karena sang Oracle mengirim dua penjaga untuk mereka sebelum beliau wafat, jad menurutku mereka memang sudah ditakdirkan untuk melakukannya" ucap Huebert kemudian yang juga ikut mengeluarkan pendapatnya.
"Kurasa kau benar" jawab Duexter menyetujui ucapan Huebert.
"Kuharap kau benar" kali ini Go yang menjawab dengan masih merasa kuatir.
"Ini benar-benar sangat berguna dan menyingkat waktu" ucap Marco dari atas kudanya di depan rombongan trio pemburu tadi berbicara dengan Val yang berkuda disebelahnya.
"Biasanya saat melewati wilayah ini kita harus berjalan memutar kebawah kemudian naik kembali untuk sampai di sebedang. Butuh seharian apa lagi dengan kereta kuda" Marco melanjutkan dengan panjang lebar, "dan sekarang hanya perlu beberapa waktu saja" tutupnya dengan tampak gembira. Sedang Val hanya tersenyum melihatnya.
-
Setelah keluar dari dasar jurang berkelok diantara dua bukti yang tinggi menjulang, rombongan mereka akhirnya tiba di tempat tujuan mereka. Yang kemudian kedepannya tempat itu disebut dengan wilayah perkemahan utara. Dan lembah sebelumnya disebut dengan lembah gerbang utara.
"Jadi ini tempat yang akan kita jadikan markas?" Tanya Ellian kepada Haldin saat rombongan mereka sudah mulai menurunkan dan membongkar barang bawaan mereka.
__ADS_1
"Benar. Dan sepertinya Couran memiliki peta rancangan untuk tempat ini. Jadi untuk sekarang kita tidak perlu memasang peralatan dulu. Kita tunggu Couran datang" jawab Haldin yang dijawab anggukan oleh Ellian.
"Baiklah kalau begitu. Tapi ngomong-ngomong, kapan kau akan datang menyapanya? Apa kau berniat akan diam saja seperti itu sampai dia pulang kembali ke Herico?" Ucap Ellian kemudian.
Mendengar ucapan tersebut, Haldin mendadak tersedak dan terbatuk-batuk pendek.
"Sudah urus saja urusanmu sana. Jangan mengurusi urusan orang lain" ucap Haldin yang terdengar sedikit panik. Pria paruh baya itu menyisir rambutnya dengan tangan seraya pergi meninggalkan Ellian.
"Aku sudah peringatkan, jangan sampai kau menyesal nanti" ucap Ellian kemudian dengan sedikit keras agar Haldin yang mulai menjauh itu dapat mendengarnya.
"Sudah sana pergi!" Balas Haldin dengan teriakan seraya terus berjalan menjauh tanpa menatap kearah Ellian.
-
Sehari kemudian Couran tiba ditempat tersebut. Kali ini bersama 10 pria dari desa Baltra. Mereka adalah orang-orang yang mengajukan diri untuk membantu ditempat itu.
-
Mereka membuat daerah itu menjadi seperti sebuah desa perkemahan nomad dalam waktu seminggu. Dengan sebuah rumah kaca diujung utara dan area peternakan domba, sapi, dan kambing disebelahnya.
Mereka masih mengangkut air dari sungai diluar wilayah Pharos dalam tempo dua hari sekali. Menggunakan sebuah wadah dari besi seukuran gerbong kereta dan membawanya masuk kedalam dengan kereta besi. Yang kemudian disimpan dalam tiga menara air yang mereka buat diarea tersebut.
Bahan-bahan seperti besi Dracz dan kayu yang dipesan dari kota-kota di utara pun lebih cepat dan mudah untuk sampai ke perkemahan tersebut.
Disamping karena sudah adanya jembatan, juga karena mereka telah merapikan dan meratakan jalan agar lebih mudah dilalui kereta kuda. Dengan menggunakan pecahan batu yang ditumpuk dan ditimbun dengan tanah. Lalu dipadatkan. Aksa menyebutnya Makadam. Namun oleh para pekerja disebut jalan batu.
Mereka juga telah menyelesaikan sebuah alat seperti tiang katrol yang dipasang berjajar dengan bagian tengahnya tampak rangkaian papan kayu seperti sebuah panggung selebar tiga kereta kuda berjajar, yang dapat bergerak naik dan turun dengan menggunakan cara yang sama seperti saat mereka membangun jembatan sebelumnya. Menggunakan tambang besi yang ditarik oleh tungku Lokomotif.
Terpasang di tebing sebelah selatan, yang digunakan untuk mengangkut barang dari bawah wilayah perkemahan utara tersebut ke dataran tinggi di sisi selatannya. Aksa menulis nama alat itu 'elevator' dalam gulungan rancangannya. Namun para pengerajin menyebutnya papan melayang.
-
Kabar mulai menyebar dari para pengantar bahan-bahan yang datang ke perkemahan tersebut. Mereka mengabarkan bahwa kini gerbang utara Pharos punya sebuah jembatan. Juga perkemahan yang ada di tanah mati tersebut memiliki kereta yang bisa berjalan tanpa ditarik kuda dan alat aneh untuk mengangkat kereta kuda dengan mudah.
__ADS_1