
Sehari setelahnya ada 3 orang tamu yang datang berkunjung. Tepatnya sedang mengunjungi Lucia. Tampak diantaranya sesosok yang dikenal Nata dan Aksa. Gadis yang beberapa hari yang lalu mereka tolong. Putri Lugwin.
Nata tidak terkejut bertemu lagi dengan gadis itu. Dia sudah menduga gadis itu akan kembali mencari Lucia.
"Lug? Sukurlah kau baik-baik saja. Apa yang membuatmu sampai datang kemari?" Ucap Lucia seraya mempersilahkan mereka duduk. Sementara tampak Fla segera ke dapur untuk membuatkan tamu mereka teh tanpa diperintah.
"Kami memang ada perlu dengan mu" ujar Lugwin seraya melepas mantel yang digunakannya.
"Ada perlu apa? Apakah kalian baru saja sampai di desa ini? Apakah kalian perlu istirahat terlebih dahulu?"
"Tidak perlu Lug, kami baru saja beristirahat. Kami tiba pagi dini hari tadi, dan menyewa penginapan di pusat desa untuk beristirahat"
"Oh, baiklah kalau begitu. Jadi apa yang kau perlukan dariku Lug?"
"Maaf, pertama-tama perkenalkan, beliau adalah Matiu. Mantan penasehat kerajaan" Lugwin kemudian memperkenalkan dua orang yang datang bersamanya.
"Perkenalkan saya Matiu, penasehat raja Estros" Pria bernama Matiu ini membungkung sopan dalam posisinya yang masih duduk dihadapan Lucia. Matiu adalah seorang pria Narva separuh baya yang berpenampilan rapi dan menarik layaknya seorang bangsawan terhormat. Dengan wajah yang terlihat bersih dan potongan rambut kuning kemerahan yang ditarik lurus kebelakang, membuat tak heran bila banyak wanita jatuh hati meski di usia paruhnya sekarang.
"Dan ini Nicko. Mantan panglima kerajaan" Lugwin mengenalkan satunya. Masih seorang pria Narva yang kali ini lebih muda dari Matiu.
"Nama saya Nicko tuan putri. Panglima raja Estros" ucap pria bernama Nicko itu seraya membungkuk sopan mengikuti gerakan Matiu. Pria bernama Nicko ini terlihat seperti Jean dalam hal berpakaian. Ia mengenakan pelindung besi dan menenteng sebuah pedang dipinggangnya. Terlihat gahar dan menakutkan. Karena beda dengan Matiu, wajah Nicko ini dipenuhi brewok kekuningan yang sekilas terlihat seperti seekor singa.
__ADS_1
"Perkenalkan saya Lucia" jawab Lucia pendek dan kemudian mengenalkan sisa orang yang ada diruangan tersebut. Yang hanya ada Jean, Nata, dan Aksa saja. Lily dan Val ada diruangan lain, sedang trio pemburu tidak sedang dirumah.
"Maaf, kudengar Oracle wafat sebelum kalian sempat bertemu, apakah semua baik-baik saja?" Lanjut Lugwin dengan pertanyaan yang sudah diketahui oleh semua bahwa itu hanya untuk berbasa-basi saja.
"Memang sangat disayangkan, namun kami baik-baik saja kok. Terlebih lagi apa yang telah terjadi? Seminggu terakhir banyak sekali para pengungsi datang ke desa ini" Jawab Lucia yang dilanjutkan dengan pertanyaan.
Namun ketika Lugwin akan menjawab, tampak Matiu menghentikannya. Kemudian menatap kearah Nata dan Aksa yang duduk di kursi panjang di ujung ruangan.
"Oh, apakah aku harus masuk?" Saut Aksa tanpa basa basi.
"Oh, ini perbincangan penting orang dalam ternyata. Baiklah. Kami permisi dulu" ujar Nata yang kemudian beranjak dari kursinya menuju kedalam diikuti Aksa.
"Tidak perlu" ujar Lucia kemudian. "Bila kalian ingin membicarakan sesuatu denganku, mereka juga harus mendengarnya"
Segera Jean yang berdiri dibelakang tempat duduk Lucia, menatapan tajam kearah Aksa dalam diam. Yang direspon Aksa dengan mengangkat tangannya, kemudian dengan malas kembali ketempat duduk.
Matiu terlihat enggan dengan permintaan Lucia yang membiarkan dua orang Morra mendengarkan pembicaraan mereka tentang situasi kerajaan sekarang. Namun tampak Lugwin memaksanya setuju dengan tatapan yang terlihat serius. "Baiklah, silahkan tuan putri" ujarnya kemudian menyerah.
"Baiklah bila begitu. Jadi keadaan sekarang semakin parah" jawab Lugwin kemudian. "Pertikaian antar kedua Dux itu kini makin menjadi. Kami sudah mencoba mengajak mereka berdiskusi untuk menyudahi peperangan yang merugikan ini. Tapi mereka tidak mendengar dan kemudian mengancam akan menyingkirkan kami bila menghalangi jalan mereka" tambahnya kemudian.
Lucia masih belum sempat mulai berucap saat Lugwin kembali berkata-kata.
__ADS_1
"Dan sekarang yang bisa kami lakukan hanyalah membantu mencarikan tempat untuk para pengungsi ini" Lugwin terdengar menjedah seraya menatap mata Lucia lekat-lekat. "Dan untuk itulah sekarang kami sengaja kemari. Kami ingin meminta bantuan mu Luc" imbuhnya.
"Membantu apa?" Mulai terdengar nada kekuatiran dari ucapan Lucia.
"Setidaknya bila kau tidak bisa membantu kami menghentikan perang ini, biarkan para pengungsi menuju ketempatmu. Beri mereka suaka. Mereka sudah tidak memiliki tempat untuk pulang"
"Menghentikan perang ini? Memberi suaka?" Gumam Nata tertahan.
Tampak Lucia terdiam, dari pandangan matanya yang nanar terlihat ia sedang dalam kegundahan.
"Mungkin ini adalah permintaan yang egois, tapi kumohon bantulah orang-orang ini. Cukup sampai perang saudara ini selesai. Kami akan mencari cara untuk menghentikan peperangan konyol ini secepat. Aku berjanji" ujar Lugwin kembali memohon.
"Aku tidak bisa" Lucia akhirnya memecah kesunyiannya.
Mendengar jawaban tersebut membuat semua orang terkejut. Terlebih-lebih Aksa dan Nata. Mereka tak menyangka Lucia akan menolak permintaan tolong seseorang.
"Kau tahu, kan? Aku bukalah siapa-siapa meski ditanahku sendiri, Lug" ucap Lucia yang tampak bersungguh-sungguh. "Bila kau memerlukanku untuk mengurusi para pengungsi yang ada di desa ini, akan aku lakukan, tapi" tambahnya kemudian tertahan.
Lugwin terdiam menatap Lucia "Baiklah kalau memang begitu. Aku mengerti, maaf sudah membuatmu ikut memikirkan semua hal ini, Luc. Terima kasih sebelumnya" ujarnya kemudian.
"Dan apa yang akan kau lakukan setelah ini?"
__ADS_1
"Kami harus tetap berusaha untuk menyelamatkan rakyat yang menjadi korban"
-