
Rafa sudah mulai melakukan kegiatan dan tugas rutin nya di wilayah Pharos. Tidak ada yang berubah meski kini ia hanya memiliki satu tangan saja. Lebih tepatnya karena ia bersikeras untuk tetap melakukan tugas yang masih memungkinkan untuk ia kerjakan dengan menggunakan satu tangan.
Disamping gadis Seithr itu juga mulai melatih melakukan segala hal dengan menggunakan tangan kirinya. Bahkan membidik senjata dan mengayunkan pisau.
Dan seperti biasa, sekali dalam seminggu ia bertugas untuk melakukan pemeriksaan ke semua tempat di dasar Ceruk Bintang. Mulai dari 3 Atelir yang ada ditempat itu, sampai area gua dan bahkan penjara yang berada di paling ujung barat dasar jurang tersebut.
.
Hari itu saat sedang memeriksa dalam bangunan penjara, salah seorang tawanan yang ada ditempat itu bertanya padanya.
"Hei Seithr, kenapa dengan lenganmu?" Pria Narva berbadan kekar yang Rafa kenal sebagai Zygos bertanya penasaran. Karena sebelum ini ia sering melihat Rafa dan masih belum kehilangan salah satu lengannya.
"Oh, aku mengalami kecelakaan" Rafa menjawab cepat seraya melanjutkan memeriksa barang-barang seperti kunci dan rantai yang tersimpan di dalam rak di sebelah pintu masuk. Ia tidak ingin terlalu lama berbincang dengan para tawanan tersebut. Karena ia merasa sedikit tidak nyaman. Apa lagi membicarakan lengan kanannya.
Ruangan dalam gedung penjara itu berbentuk prisma segi enam. Dimana ruang kurungannya berjajar dipinggiran bangunan, melingkari ruang kosong ditengahnya. Atap bagian tengahnya terbuka dan hanya ditutup dengan jeruji besi, yang bertujuan agar sinar matahari masih tetap bisa masuk kedalam bagunan tersebut.
Lantai dibagian tengah dibangun lebih rendah dari lantai ruang kurungan, terbuat dari semen dengan saluran air terpasang ditengahnya. Agar tidak ada genangan air bila turun hujan. Meskipun hal itu jarang terjadi.
Sedang ruang kurungannya berjumlah 15 buah berjajar 3 buah disetiap sisi ruangan. Dan menyisakan satu sisinya untuk jalan masuk yang hanya ada satu-satunya, dan sebuah ruangan penjaga serta lemari dan rak untuk menyimpan peralatan.
Jadi ketika ada orang di depan pintu masuk atau berada di dalam ruang prnjaga, semua tawanan yang ada di dalam ruang kurungan bisa melihatnya. Berlaku pula sebaliknya.
Dan dari 15 ruang kurungan tersebut, hanya 9 yang terisi. Mereka adalah para Juara dari kerajaan Urbar.
"Apa itu karena pertempuran?" Zygos masih terlihat penasaran.
"Bisa dibilang begitu" Rafa menjawab pendek lagi.
"Bukan. Itu akibat dari siasat licik kerajaan kalian" tiba-tiba terdengar suara wanita dari arah pintu masuk.
Tampak Ende dan juga Sigurd memasuki bangunan penjara tersebut.
"Tuan Sigurd, nona Ende, selamat pagi" sapa Rafa setelah melihat dua orang itu menghampirinya. "Sekarang giliran anda berdua untuk berjaga di wilayah ini?" Tanyanya kemudian.
"Selamat pagi, nona Rafa" Ende menjawab sapaan Rafa.
"Benar nona Rafa, hari ini jadwal kami berdua berjaga di dasar Ceruk Bintang" Sigurd menjawab pertanyaan Rafa.
"Hei cebol, apa yang kau maksud dengan siasat picik kerajaan kami?" Terdengar seorang pemuda Narva yang dikenal dengan nama Pollux bertanya. Yang ia tujukan kepada Ende.
__ADS_1
Tiba-tiba tanpa peringatan sebelumnya petir menyambar jeruji besi ruang kurungan Pollux. Meninggalkan cahaya yang mengejutkan, juga suara seperti retakan ranting yang cukup kencang.
Semua orang terkejut, tidak terkecuali Siguard dan Rafa.
"Siapa yang kau panggil cebol?" Ende bertanya dengan penekanan nada seraya mengarahkan tongkat sihirnya kearah ruang kurungan Pollux. disisi sebelah kiri dari pintu masuk.
"Apa kau sudah gila?! Kau membuatku terkejut tahu?" Sigurd segera memprotes Ende.
"Dia yang mencari gara-gara" jawab Ende dengan santai.
"Sudah turunkan tongkatmu. Dasar gadis gila" sewot Sigurd kemudian.
Dengan enggan dan berat hati Ende menurunkan tongkat sihirnya dan menyimpannya kembali di gantungan bagian belakang pinggangnya.
"Apa kalian ingin mengetahui siasat busuk yang kerajaan kalian lakukan hingga menghilangkan lengan gadis ini?" Ende berucap lagi.
Semua tawanan hanya terdiam tidak menjawab.
"Baiklah, bila kalian ingin sekali mendengarnya, aku akan ceritakan" Ende kembali berucap. Debgan gaya sombong yang dibuat-buat. "Kerajaan kalian meminta kami untuk melakukan perundingan sebagai ganti karena tidak dapat memenuhi tuntutan kami untuk menyerahkan Tyrion" gadis itu menjedah ucapannya. "Oh iya, ngomong-ngomong tuan kalian Tyrion melarikan diri dari kerajaan saat hendak dimintai pertanggung jawaban" lanjutnya kemudian seraya menutupkan tangannya kedepan mulut. Menirukan gaya para bangsawan wanita saat sedang mencemooh seseorang.
"Tuan Tyrion kabur? Kau pasti mengada-ada. Itu cerita yang tidak masuk akal" kali ini perempuan bernama Ihkties yang berucap. Bukannya tidak percaya, perempuan itu lebih terlihat seperti tidak terima.
"Mereka meledakan gedung pertemuan dan juga menghanguskan tiga puluh rumah penduduk di kota Meso" Ende berucap lagi.
"Kau bilang kota Meso? Kau pasti berbohong. Tidak mungkin kerajaan melakukan hal tersebut" Ksli ini perempuan lain yang menyahut ucapan Ende. Dia adalah Versica. Yang sepertinya baru terpancing setelah mendengar kata Kota Meso.
"Kalian hanya tawanan tidak berguna, untuk apa aku berbohong pada kalian" Ende membalas ucapan perempuan itu dengan tenang. "Dan akibat dari ledakan itulah, gadis ini kehilangan lengannya"
"Kau pasti berkata bohong" Versica masih tidak mau percaya akan ucapan Ende.
"Lalu, bagaimana keadaan kota Meso sekarang ini?" Kali ini pria Narva bernama Guanna yang bertanya.
"Meski setelah itu pasukan gabungan dari Saronia dan Magrace melakukan serangan, tapi jangan kuatir, kota Meso masih dalam kekuasaan kami. Kami sudah membangunnya kembali. Setidaknya kami menghargai kota dan warga dari wilayah yang kami kuasai. Tidak seperti kerajaan kalian" Ende berucap dengan nada menghina yang memang disengaja.
"Kalau boleh saya tanya sekali lagi, wilayah mana saja dari kerajaan kami yang sudah berhasil kalian kuasai?" Guanna bertanya lagi.
"Ya, mungkin dalam waktu dua bulan ini kalian tidak mendengar perkebangannya. Baiklah karena aku sedang memiliki suasana hati yang baik, maka aku akan beritahu kalian" Ende berucap lagi. "Sampai saat ini kami sudah menguasai wilayah Ignus, Ceodore, Feymarch, Eblan, Damcyan, dan kota Xin" jelasnya denga nada sombong seperti sebelunya.
"Apa?!" Semua tawanan terdengar tidak percaya dengan cerita Ende.
__ADS_1
"Sebenarnya kami berniat untuk mengembalikan wilayah-wilayah tersebut bila perundingan tersebut berhasil. Toh, kami tidak memerlukan wilayah kalian untuk bisa bertahan hidup" Ende berkata tajam lagi.
Kini Rafa mulai sedikit merasa kasihan terhadap para tawanan tersebut. Sementara Sigurd hanya tersenyum kecil. Pemuda ksatria itu sedang menikmati ucapan tajam Ende itu kepada para tawanan.
"Kau hanya berkata manis saja saat berbicara seperti itu" Pollux berucap lagi. "Jelas-jelas kalian menyerang hampir setengah dari wilayah kerajaan kami. Jangan munafik, kalian sebenarnya juga menginginkan wilayah kami, kan?" Lanjutnya dengan pertanyaan.
"Inilah hasil dari kalian yang tidak mampu membuat kaca yang bening seperti yang kami punya ini" Ende berucap lagi seraya menujukan sebuah kaca bening seukuran telapak tangan yang ia keluarkan dari tas pinggangnya. "Kami menyerang karena membalas serangan kalian. Lagi pula kami menyerang dengan cepat. Bahkan penyerangan kami tidak sempat berdampak apapun pada warga dan bahkan para bangsawan wilayah tersebut" Lanjutnya kemudian.
"Sedang kalian? Apa kalian tahu serangan mendadak yang pertama kali kalian lancarkan di sisi timur itu menghangguskan satu desa dan membunuh empat puluh penduduk? Itu termasuk wanita dan anak kecil. Lalu bagaimana kau mau menilai hal tersebut?" Ende masih terus melontarkan perkataan tajamnya yang tidak dapat dibalas oleh para tawanan tersebut. "Bila kalian berdalih itu adalah hal yang tidak bisa dielakan dalam sebuah perang, lalu mengapa kami bisa melakukan penyerangan dengan hanya menyerang para prajurit dan jendral perang saja?" Tambahnya semakin menjadi-jadi.
Sigurd tampak semakin gembira melihat apa yang dilakukan oleh Ende tersebut. Dalam hati ia menyemangati Ende untuk terus melanjutkannya.
"Kalau begitu kenapa kami masih berada tempat ini? Apa kalian berniat menghukum mati kami saat kalian sudah menguasai seluruh wilayah kerajaan?" Pollux terlihat merubah topik pembicaraan yang sudah tidak bisa ia lawan.
"Tidak. Kami akan melepaskan kalian semua begitu semua ini berakhir" jawab Ende yang kali ini sudah terlihat puas.
Terlihat reaksi tidak percaya dari beberapa tawanan tersebut.
"Aku tidak ingin menghakimi moral kalian. Tapi bila kalian melepaskan kami setelah ini, mungkin kami akan menuntut balas suatu saat nanti" kali ini Zygos yang berucap.
"Bersyukurlah karena kami memiliki pemimpin yang sangat naif. Bila tidak, dengan senjata yang kami punya, kalian tidak akan ada yang tersisa" jawab Ende lagi. "Jadi pada dasarnya kami tidak takut bila dikemudian hari kalian melakukan pembrontakan atau apapun itu" lanjutnya lagi.
"Percaya diri sekali. Apa menurutmu, senjata-senjata kalian tidak akan bisa dikalahkan?" Pollux bertanya dengan nada sinis.
"Menurut saya, bukan senjata yang bisa melawan pemberontakan. Tapi dengan membuat rakyat sejahtera" tiba-tiba Rafa yang sedari tadi menahan diri mulai tidak tahan untuk berbicara.
"Apa maksudmu, nona Rafa?" Ende tampak tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Rafa.
"Saat rakyat sejahtera dan taraf hidup mereka sudah mulai meningkat, maka tidak akan ada satupun dari mereka yang akan memberontak. Bahkan mereka sendiri yang akan menjatuhkan benih-benih pemberobtakan yang muncul, sebelum pemerintahan turun tangan" Rafa mulai menjelaskan maksudnya.
"Wah, kau sudah benar-benar jadi seperti tuan Aksa, nona Rafa" celetuk Ende kemudian.
"Tapi memang dengan dasar itulah, yang membuat wilayah ini bisa berkembang sampai seperti sekarang" ujar Rafa melanjutkan.
Siguard bertepuk tangan kecil. "Benar sekali, nona Rafa" ujarnya kemudian.
Sementara para tawanan hanya bisa terdiam mendengar ucapan Rafa tersebut.
Dan selepas itu, Rafa kembali melanjutkan tugasnya. Ia berpamitan dengan Ende dan Sigurd sebelum kemudian kembali ke perkemahannya didepan mulut gua.
__ADS_1
-