
Sementara Lucia yang berada di kediaman keluarga Bartholomew mulai menghubungi keluarga-keluarga bangsawan yang dekat dengan keluarganya untuk mengadakan pertemuan sebelum Lucia benar-benar menuju ke istana untuk bertemu dengan pamannya Sebastian, raja pengganti.
Sebenarnya ini adalah ide dari paman nya Orland. Yang memiliki tujuan tersembunyi untuk membuat Lucia menyerah terhadap ide gilanya itu, setelah mendapat penolakan dan saran dari keluarga bangsawan lainnya.
Pertemuan itu di hadiri oleh empat keluarga yang berada di kediaman Bartholomew.
Pertama ada keluarga Clover, keluarga kakak perempuan ibunya dan Orland.
Lalu ada keluarga Silver Rose, keluarga Jarl yang sangat dekat dengan ayah dan ibunya.
Keluarga cabang dari keluarga kerajaan. Sepupu ayahnya. Keluarga Dux Madron Devereux yang juga dekat dengan keluarga Bartholomew.
Dan terakhir ada keluarga Macey, Baron Dirk seorang pedagang yang sudah lama mengabdi pada keluarga kerajaan.
Mereka berempat adalah keluarga bangsawan paling akrab dengan keluarga Lucia. Maka dari itu mereka rela menyempatkan diri, melewati tiga hari perjalanan dari kotaraja untuk menjawab panggilan Lucia.
-
"Apa maksud anda tuan putri?" Beberapa suara tampak terkejut dan tidak percaya setelah mendengar penjelasan dari Lucia.
"Seperti yang sudah saya ceritakan baru saja, saya akan melepaskan tahta"
__ADS_1
Semua bangsawan yang ada di tempat itu terlihat diam terkejut dan sangat menyayangkan atas keputusan yang diambil oleh Lucia.
"Orland kenapa kau tidak mencegahnya?" Seorang wanita Narva paruh baya yang terlihat cantik dan elegan bertanya tidak terima ke Orland. Rambutnya yang disanggul kebelakang ia sembunyikan dengan kerudung merah tua berenda yang menjadi ciri seorang janda dalam lingkungan keluarga bangsawan.
"Aku sudah tidak bisa lagi menasehatinya kak Amithy" jawab Orland dengan wajah pasrah kepada kakak perempuannya, Amithy.
"Dan lagi rencana apa itu membangun kota di tanah Pharos?" Tanya seorang pria Narva yang memiliki kumis panjang melintang dengan jenggot rapi meruncing kebawah. Nada suaranya tinggi seperti seorang gadis.
"Saya bersungguh-sunggu Dux Madron, dan juga nanti kedepannya mungkin saya akan memerlukan bantuan anda-anda semuanya"
"Tidak masuk akal sekali putri. Anda ingin bantuan seperti apa untuk membangun kota di tanah mati seperti itu?" Tanya Madron sekali lagi.
"Dukungan sepenuhnya dari anda semua" jawab Lucia cepat.
"Tidak apa-apa bila saat ini anda sekalian tidak percaya pada saya, tapi setelah nanti saya sudah resmi menerima tanah ini, mau kah anda sekalian untuk sekali lagi datang dan mendengarkan rencana saya?" Jelas Lucia yang sekaligus memohon.
Semua orang ragu untuk mengiyakan permintaan Lucia. Mereka saling menatap satu sama lain, saling meminta saran dalam tatapan mata mereka.
"Putri, saya percaya pada apa yang akan anda kerjakan, saya dan keluarga Silver akan mendukung anda secara penuh" tiba-tiba seorang gadis Narva cantik, anggun, mengenakan pakaian ksatria seperti yang biasa dipakai oleh Jean, berucap memecah sepi.
"Jangan malah mengembangkan hatinya Helen" terdengar Amithy melarang gadis bernama Helen itu.
__ADS_1
"Maaf nyonya Amithy, tapi melihat kesungguhan dalam perkataan tuan putri membuat saya yakin bahwa putri pasti sudah memiliki rencana yang matang dan tidak main-main" jawab Helen dengan tegas kemudian.
"Kau yang sudah mendengar rencananya Orland, bagaimana menurutmu?" Kali ini Amithy bertanya kepada Orland.
"Belum, aku belum mendengarnya secara detail. Tapi Lucia bersama dengan orang-orang yang tidak biasa" jawab Orland dengan jujur meski terdengar enggan.
"Maksudmu?"
"Dia akan melakukan hal ini bersama dua pemuda yang menurut mereka bukan dari dunia ini"
"Apa-apaan itu?" Ucap Amithy tidak terima.
"Tidak mungkin anda percaya hanya dengan cerita seperti itu saja kan tuan Orland" kali ini Madron yang berucap.
"Iya, saya tidak percaya, namun dua pemuda itu bersama seorang Elf dan pahlwan legenda sang Kilat Putih" tutup Orland kemudian.
"Apa?! Sang Kilat Putih?!" Teriak semua orang nyaris bersamaan.
"Ceritanya akan sangat panjang dan akan terdengar tidak masuk akal sama sekali" ucap Lucia kemudian dengan wajah tidak bersemangat.
-
__ADS_1
Akhirnya pertemuan itu ditutup dengan Lucia yang tidak juga menyerah atas ide nya, dan para bangsawan yang setuju untuk datang kembali, mendengarkan rencana detail milik Lucia saat proses pelepasan tahtanya telah selesai.
Orland yang sudah tak tahu lagi harus berbuat apa untuk merubah keputusan Lucia, terpaksa setuju dan ikut mendukung.