Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
30. Perundingan II


__ADS_3

"Baiklah, tanpa perlu berlama-lama lagi, mari kita langsung masuk ke inti dari pertemuan ini" Chris berucap. "Jadi sekarang apa yang pihak Pharos inginkan sebagai pengganti dari penyerahan Tyrion, tuan Nata?" Tanyanya kemudian.


"Sebenarnya kami masih memiliki sedikit keraguan dengan mudahnya orang menghilang dari kerajaan anda, tuan Chris" Nata menjawab. Yang segera ditanggapi dengan wajah tak nyaman oleh kedua ajudan Chris.


"Saya mengerti dengan keraguan dari pihak Pharos. Tapi kami tidak berbohong tentang hal tersebut. Kami tidak berniat mempertaruhkan kelangsungan kerajaan kami untuk menyembunyikan Tyrion.Tapi memang kami akui itu adalah kecerobohan kami, hingga Tyrion berhasil melarikan diri sebelum kami sempat menahannya" Chris mencoba menjelaskan. "Tapi kami sudah membuat Tyrion sebagai buronan di kerajaan kami. Setidaknya bila ia masih berada di daratan selatan ini, ia pasti akan tertangkap. Cepat ataupun lambat. Dan setelah itu kami pasti dengan segera menyerahkannya pada kalian, diluar kesepakatan yang akan dibuat setelah ini" lanjutnya.


Sedang Nata menatap kearah Aksa seperti sedang menunggu sesuatu. Dan tak lama kemudian Aksa menoleh kearah Nata dan mengangguk kecil.


Nata kembali menatap kedepan. "Lalu kesepakatan apa yang akan anda tawarkan kepada kami?" Tanyanya melanjutkan percakapan.


"Kami hanya mampu mengganti rugi dengan uang dan bahan tambang. Dan sebuah kesepakatan dagang" Chris segera menjawab.


"Dan kira-kira berapa banyak nilainya?" Tanya Nata langsung.


"Kami bisa menyediakan dua puluh ribu keping emas dan lima ratus gerobak tembaga dan besi" Chris menjawab juga dengan cepat.


"Kami tidak membutuhkan besi dan tembaga. Juga dua puluh ribu keping emas itu terlalu sedikit untuk membayar kerugian yang kami terima. Bukannya bermaksud sombong, tapi pendapatan kami dalam satu bulan itu sebesar delapan belas ribu keping emas" Nata berucap dengan tenang.


Terilhat dua ajudan Chris mulai berkasak-kusuk lagi menanggapi ucapan Nata. Mereka berdua menatap Nata dengan wajah jengkel.


"Kami tahu jumlah sebanyak itu tidak ada artinya untuk wilayah anda. Namun kami juga mengalami kerugian dalam peperangan ini" Chris menjawab dengan tenang. "Bahkan kami juga kehilangan beberapa wilayah yang selama ini menjadi sumber penghasilan terbesar kami. Jadi bila lebih dari itu kami tidak akan mampu membayarnya" lanjutnya kemudian.


"Baiklah kalau memang begitu. Bagaimana kalau dua puluh ribu itu dibayar setiap bulannya, selama satu tahun?" Nata memberikan penawaran lagi.


"Lancang sekali kau bocah. Itu sama dengan kalian meminta kami membayar upeti kepada kalian tiap bulannya?" Salah satu dari ajudan Chris tampak sudah tidak dapat menahan emosinya.


"Anda bisa menolaknya dan memberi kesepakatan yang lain, bila mau. Tidak perlu marah-marah" Nata menanggapi ucapan ajudan tersebut dengan tenang.


Chris tersenyum menatap kearah Nata. "Jadi anda si pembuat strategi itu" ucapnya kemudian.

__ADS_1


"Apa maksud anda, tuan Chris?" Nata bertanya.


"Bukan apa-apa, tuan Nata. Tapi bila memang begitu, apakah anda berniat melepaskan wilayah kami agar kami bisa memenuhi pembayaran tersebut?" Chris mengajukan syarat.


"Kurasa itu akan sulit untuk dipenuhi, tuan Chris" Nata menjawab dengan cepat.


"Bila begitu, kami tidak akan mungkin bisa menerima tuntutan anda, tuan Nata. Karena wilayah kami saat ini juga sangat membutuhkan banyak dana untuk menutupi kerugian yang kami terima dari peperangan ini" Chris menjawab.


"Baiklah kalau begitu. Kami akan melepaskan dua wilayah yang telah kami kuasai. Namun kami akan menambahkan waktu pembayarannya menjadi dua tahun. Bagaimana?" Nata memberi penawaran.


Chris segera mencegah kedua ajudannya yang tampak terlihat sudah ingin marah mendengar ucapan Nata itu tadi.


"Bagaimana kalau tiga wilayah, dan kami boleh memilih wilayah mana yang kami inginkan" Chris masih berusaha untuk melakukan penawaran.


Nata tampak diam sebentar. Kemudian menjawab "Baik. Kami bisa menerima syarat tersebut"


"Bagus bila anda menyetujuinya. Maka kami akan meminta kota Xin, wilayah Estat Damcyan, dan wilayah Estat Eblan. Bagaimana?" Chris menyebutkan pilihannya.


"Baguslah bila kita sudah mendapat kesepakatan. Kami akan membuatkan surat perjanjian tersebut sekarang juga" Chris segera memberi tanda kepada kedua ajudannya. Dan kemudian tampak dua ajudan itu mulai mengeluarkan gulungan kertas dan pena. Dan mulai menulis rincian isi dari kesepakatan mereka.


"Oh, dan satu lagi. Kita tidak akan mengikuti agama tanah Suci, apakah itu tidak akan jadi masalah kedepannya?" Nata menambahi dengan pertanyaan.


"Itu bukan masalah, tuan Nata" Chris menjawab dengan cepat.


"Baguslah kalau begitu" Nata tampak tersenyum lebar.


"Maaf bukan saya ingin berlaku tidak sopan, tapi jikalau boleh saya tahu, berapa usia anda, tuan Nata?" Chris bertanya dengan wajah penasaran.


"Saya berusia delapan belas di tahun ini" Nata menjawab cepat.

__ADS_1


.


Setelah surat perjanjian itu selesai ditulis, Aksa mulai membaca isi dari kedua kertas tersebut untuk memastikan tidak ada kesepakatan yang salah atai tidak ditulis, sebelum kemudian mereka menanda tanganinya.


Dan karena Pharos bukan berupa kerajaan dan tidak memiliki segel. Maka mereka hanya menggunakan tanda tangan dan cap darah dari Nata. Sesuai dengan ketentuan yang berlaku di daratan selatan.


"Terima kasih, tuan Nata. Anda telah menghentikan peperangan ini"


"Saya juga berterima kasih atas hal ini, tuan Chris"


Kemudian Chris dan Nata tampak bersalaman, dan sisa orang yang ada di depan meja mulai berdiri.


Disaat yang bersamaan, tiba-tiba Lily dan Rafa dikejutkan oleh sesuatu. Begitu pula Val yang ada diluar gedung. Mereka bertiga merasakan ada pergerakan aliran Jiwa yang besar dan mendadak.


Belum sempat mereka bertiga melakukan sesuatu, beberapa permata yang ada di dada dan gagang pedang para prajurit kerajaan Urbar mulai bersinar merah terang. Baik prajurit yang ada di dalam gedung, maupun yang ada diluar disekeliling gedung tersebut.


Kali ini baru Caspian, Chris, Parcival, ksatria bertombak, dan para prajurit itu sendiri menyadari ada hal yang tidak beres sedang terjadi. Begitu pula Helen dan para prajurit yang ada di luar gedung.


Dan begitu melihat hal tersebut, ksatria bertombak tadi segera maju dengan cepat meraih tubuh Chris yang berada di depannya. Yang kemudian hampir tanpa jedah, ia melakukan lompatan dan melesat cepat keatas. Menjebol atap gedung tersebut.


Saat kemudian hanya dalam hitungan detik, permata-permata merah itu kemudian meledak dengan mengeluarkan sihir api yang sangat dasyat.


Dengan sigap Rafa dan Lily membuat pelindung didepan Aksa, Nata, dan Caspian.


Namun karena ledakan tersebut terjadi terlalu dekat dan nyaris dari segala arah, membuat Rafa yang tidak kuat menahan kekuatan ledakan itu tadi, terpental kebelakang. Hal itu menyebabkan ketimpangan pelindung sihir yang dibuat Lily. Dan kemudian Nata, Aksa, dan Caspian pun terhempas oleh kekuatan ledakan tersebut.


Dalam waktu singkat bangunan tempat mereka melakukan pertemuan itu hancur. Bahkan area sejauh tiga bangunan di sekeliling gedung pertemuan itu juga terkena dampak dari ledakan tersebut.


Val dan Helen, beserta para prajurit dan kereta tempur yang mengelilingi gedung tersebut tampak tersapu oleh sihir api tersebut.

__ADS_1


Suara ledakan itu menggaung kencang, mengejutkan semua orang. Bahkan suara dan cahaya ledakannya terdengar dan terlihat hingga kota terdekat.


-


__ADS_2