Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
30. Ketetapan Hati


__ADS_3

Dua hari kemudian setelah penyerangan di kota Halmd berbuah kemenangan. Mereka berhasil merebut kota tersebut hanya dalam waktu semalam. Semua yang telah direncanakan Nata berjalan dengan mulus. Hal ini mengejutkan semua pihak dan membuat kedua lawan mereka mulai waspada.


Seiring waktu kekuatan Lugwin pun bertambah. Makin banyak Dux yang sebelumnya memihak Dux Vincent dan Dux Laurant yang mulai berpindah memihak ke Lugwin.


Sebulan setelahnya dengan cara-cara yang di berikan oleh Nata, mereka berhasil membebaskan separuh dari keseluruhan wilayah pusat dari kekuasaan Dux Laurant. Yang juga mengukuhkan bahwa kini kekuatan yang dimiliki Arcdux Lugwin sepadan dengan kedua Dux tersebut.


-


"Karena sekarang anda sudah sejajar dengan para Dux tersebut. Jadi menurut saya inilah saat nya anda bertindak untuk menghentikan peperangan ini" ujar Nata saat Lugwin, Matiu, Nata, Aksa, Lucia, dan Jean tengah mengadakan pertemuan dirumah penginapan Lugwin. Ini kali pertama Nata dan Aksa bertamu ke penginapan Lugwin semenjak rencana penggalangan kekuatan ini dilakukan.


Banyak orang heran akan kehadiran mereka. Beberapa bangsawan dan ksatria tampak penasaran dan mulai mempertanyakannya. Itu karena sesosok Lucia yang mereka sadari sebagai seorang Narva, seorang bangsawan yang belum pernah mereka lihat sebelumnya datang bersama dengan dua pemuda Morra untuk bertemu secara pribadi dengan Arcdux.


Nata memutuskan untuk melakukan pertemuan di penginapan Lugwin ini karena dia harus menanyakan suatu hal secara langsung. Dan sangat tidak mungkin meminta Lugwin yang seorang pemimpin tertinggi di desa ini untuk datang ke kediaman Lily dan bertemu dengannya. Itu akan jadi hal yang lebih mencurigakan.


"Dan menurut tuan Nata, apa yang seharusnya kami lakukan?" tanya Lugwin.


"Untuk saat ini anda sudah punya banyak pilihan tuan putri. Anda bisa mengajukan negosiasi, atau anda bisa bersekutu dengan salah satu dari mereka dan memenangkan peperangan" ujar Nata.


"Namun melihat reputasi putri yang telah terbentuk sampai saat ini, memihak salah satu dari mereka akan membuat para pendukung kita kecewa" ujar Matiu.


"Tapi apa mungkin kita melakukan negosiasi dengan mereka?" Ucap Lucia meragu.


"Yang kemungkinan kecil terjadi adalah meminta mereka menyerah bersyarat dengan baik-baik" ujar Nata kemudian.


"Benar aku tahu watak Dux Laurant dan Dux Vincent. Mereka berdua orang-orang yang berharga diri tinggi dan keras kepala" ucap Lugwin.


"Atau bila tidak, tuan putri bisa tetap mempertahankan tiga kekuatan ini dalam status gencatan senjata" Nata memberi gagasan.

__ADS_1


"Dan membiarkan kerajaan ini terpecah menjadi 3 bagian?" Tanya Matiu memastikan.


"Setidaknya perang ini akan berhenti" saut Nata kemudian.


"Apakah anda punya jalan keluar yang lain selain itu tadi tuan Nata?"


"Pilihan terakhirnya adalah memenangkan perang ini dengan mutlak"


"Melawan dua kekuatan mereka? Kita masih terlalu dini untuk melawan keduanya" ujar Matiu mempertanyakan pilihan yang diajukan Nata.


"Bila anda menunggu untuk mengumpulkan kekuatan melebihi mereka, tanpa sadar anda akan kalah dalam perang ini"


"Maksudnya?" Tanya Lugwin kemudian.


"Karena itu berarti kita akan mengulur perang ini lebih panjang lagi. Dan rakyat yang menjadi korban akan jauh lebih banyak lagi. Bukankah rencana anda mengakhiri perang ini untuk menyelamatkan mereka?"


Seketika Lugwin diam mendengar ucapan Nata. Ia terlihat sedikit terpukul. "Apakah ada cara untuk memenangkan perang ini dengan mutlak meski dengan kekuatan yang kami punya saat ini tuan Nata?" tanyanya kemudian.


"Dan apakah itu?"


"Kita bisa mengirim pembunuh untuk membunuh Dux Laurant dan Dux Vincent saat berada di markas mereka masing-masing"


"Ini dia" ujar Aksa dengan sinisnya.


"Sekarang terlihat juga sifat aslimu bocah iblis" gumam Jean.


Tampak Lugwin terlihat lebih gundah berpikir.

__ADS_1


"Bila tidak memiliki pemimpin sisa dari mereka mau tidak mau akan menyerah atau setuju melakukan perjanjian damai dengan kita"


"Bila kita tidak melakukan siasat tersebut, berarti kita harus mengorbankan banyak prajurit?" Tanya Lugwin seolah memastikan.


"Benar. Dan bila memang anda menginginkan hal tersebut, maka saya akan membantu anda untuk merencanakan strateginya. Tapi perang kali ini bukan melawan prajurit bayaran, atau merebut kota benteng di wilayah timur. Perang ini akan memakan lebih banyak korban prajurit"


Lugwin tampak menatap Matiu, Lucia, Jean, Aksa, dan Nata satu persatu dengan wajah bimbang.


"Anda memiliki hati yang baik putri, dan memang sulit bagi orang berhati baik untuk menjadi seorang pemimpin" ujar Nata kemudian.


"Quotes of the day!" Saut Aksa kemudian.


"Apa kau tidak punya rencana yang tidak melibatkan pembunuhan seperti itu?" Tanya Lucia kemudian.


"Tadinya saya merencanakan untuk mengadakan gencatan senjata dan minta untuk melakukan pertemuan. Sebuah perundingan damai atau semacamnya. Setelah itu bunuh semua pemimpin yang ada disitu. Tapi itu terlalu brutal untuk putri Lugwin lakukan" jelas Nata dengan santai sementara semua orang yang ada ditempat itu terkejut dengan rencananya yang paling licik dan pengecut yang pernah mereka dengar selama ini.


"Jangan bergurau Nat!" Sergah Lucia.


"Lah, itu cara yang paling sedikit memakan korban. Dan paling masuk akal dibanding melakukan peperangan konyol memperebutkan kedudukan seperti yang sekarang sedang terjadi" ujar Nata kemudian.


Lucia diam mendengar kata-kata Nata yang tampak masuk akal itu.


"Tuan Nata, sudah saya putuskan" ujar Lugwin kemudian.


Semua menatap Lugwin dan menanti apa keputusan yang akan di ambil. "Memang dengan begini akan lebih banyak prajurit berjatuhan. Dan saya tau mereka ikut peperangan ini karena mereka percaya akan tujuan untuk mengakhirinya", ucap Lugwin yang kemudian menjedah.


"Benar saya harus berkuasa mutlak akan kerajaan ini agar perang benar-benar selesai. Tapi saya tidak ingin meraihnya dengan menghianati harapan dari mereka yang berjuang bersama saya" tambah Lugwin. Lalu kemudian dengan penuh percaya diri ia kembali berucap "Jadi tuan Nata, kita akan menghancurkan kedua kekuatan itu dan mengambil alih kotaraja"

__ADS_1


Semua orang yang ada diruangan itu terkesima melihat ketegasan dan keyakinannya.


Nata tersenyum menatap mata Lugwin yang penuh percaya diri itu.


__ADS_2