Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
09. Memulai


__ADS_3

Esok paginya tampak Lucia dan Lily berada di tanah lapang disekitaran tenda para penyihir. Mereka mengumpulkan para penyihir tersebut untuk memberi arahan sebelum berangkat. Di tempat itu hadir pula Ende dan Parpera, meski tidak berada dalam barisan 15 penyihir yang akan berangkat tersebut.


Rencananya Lucia juga akan memberikan kata-kata penyemangat kepada para penyihir yang ada ditempat tersebut sebagai bagian dari meyakinkan mereka.


Lucia berdiri didepan para penyihir tersebut. Terlihat penuh percaya diri. Dengan baju bangsawan kerajaan yang ia kenakan, karisma gadis itu mulai terasa.


Sedang Lily berada disamping Lucia. Hanya berdiri diam. Karena sebelumnya Nata sempat berkata, bahwa Lily adalah sebuah tambahan yang sangat bagus untuk meningkatkan semangat para penyihir.


"Kalian akan berangkat besok menuju ke barat. Bukan untuk melakukan pembersihan atau berperang. Bukan untuk menghancurkan sesuatu, melainkan untuk membangun" Lucia memulai pidatonya. "Kalian tidak perlu malu menggunakan sihir untuk membangun. Karena tujuan mulia dari sihir adalah untuk melindungi. Membangun juga bertujuan untuk melindungi sesuatu. Dan itu adalah intinya" Lucia berucap berdasar dari apa yang pernah ia dengar dari Nata dan Aksa.


"Tapi jangan mengira bila kalian tidak melawan hewan buas atau berperang berarti pekerjaan itu akan menjadi mudah" lanjut Lucia yang tampak serius menatap satu persatu wajah penyihir yang ada dihadapannya. "Tidak, karena ini juga adalah pekerjaan yang keras. Jadi butuh keseriusan dari kalian semua" Lucia memberi jedah untuk kembuat dampak yang dramatis bagi para penyihir. Itu juga adalah cara yang diajarkan oleh Aksa padanya malam sebelumnya.


Lalu dengan wajah yang penuh wibawa, Lucia melanjutkan ucapannya, "Jadi apakah kalian sanggup melakukannya?"


"Kami sanggup!" Dengan serta merta semua penyihir itu menjawab dengan semangat.


Terlihat bahkan Ende dan Parpera pun terkesan dengan ucapan Lucia tersebut.


.


"Kalau seperti itu, dia jadi terlihat seperti seorang ratu" ucap Nata melihat semua itu dari tenda Lucia bersama Aksa.


"Ratu Tanah Mati. Title itu memang sangat cocok untuk nya" saut Aksa dengan santai.


"Jadi Aks, kita harus menyelesaikan jalur transportasi dan sistem distribusi air di wilayah ini kurang dari enam bulan dari sekarang" ucap Nata melanjutkan perbincangan mereka yang tadi tertunda. Dikarenakan mereka ingin menyaksikan Lucia berpidato.

__ADS_1


"Apa kau menghawatirkan sesuatu akan terjadi di enam bulan mendatang, Nat?" Tanya Aksa kemudian.


"Aku dengar dari Luna, politik dalam kerajaan Elbrasta sedang bergejolak. Aku tahu itu hal yang biasa terjadi di sebuah bangsa atau kerajaan. Tapi bukan suatu kebetulan hal tersebut terjadi hanya beberapa bulan setelah hal yang sama terjadi di kerajaan Estrinx" Nata menjelaskan.


"Apa kau menduga sebentar lagi hal, apalah itu, juga akan menuju kemari?" Aksa bertanya seraya kembali duduk didepan meja dan mulai melanjutkan menggambar sesuatu diatas gulungan kertas.


"Mungkin masih lama sampai hal itu menyentuh tanah ini. Tapi aku tak ingin terlambat saat hal itu mulai berimbas ke tanah ini. Kita harus sudah dapat menanganinya, atau bahkan mengatasinya saat hal tersebut datang mengusik kita" jawab Nata seraya mengikuti Aksa duduk di depan meja.


"Apa kau ingin bersiap-siap untuk menghadapi ancaman sihir yang diluar nalar seperti kemarin?" Aksa bertanya tanpa menatap kearah Nata. Pemuda itu sibuk dengan gambaran dihadapannya.


"Iya. Karena bila orang kemarin adalah benar-benar suruhan kerajaan, bayangkan apa jadinya bila kerajaan memiliki beberapa orang yang berkekuatan seperti itu? Habislah kita" Nata menyandarkan tubuhnya kebelakang.


"Jadi apa sekarang kau berniat untuk serius membangun tanah ini?" Tanya Aksa yang kali ini menatap kearah Nata.


Nata menghembus kan nafasnya. Seolah ia tidak memiliki pilihan yang lainnya. "Benar. Mau tak mau. Lagian dengan begitu, kesempatan kita untuk mencari tahu tentang keberadaan alat Pemecah Partikel itu juga akan semakin besar" ucapnya kemudian.


"Tapi ingat, jangan keterlaluan" saut Nata buru-buru.


-


Esok paginya tampak hampir semua orang hadir di sebelah barat Perkemahan Atas. Disebuah bangunan yang sebelumnya digunakan untuk merakit kereta uap tersebut. Yang bentuknya seperti sebuah kandang kuda memanjang dengan satu sisi bangunan tidak berdinding. Dan disisi yang tidak berdinding itulah kereta uap itu berada.


Bukan hanya untuk melihat Aksa berangkat menuju bukit di wilayah barat saja, tetapi orang-orang itu datang karena tidak ingin ketinggalan melihat kereta uap baru yang akan digunakan oleh Aksa tersebut. Dan melihat bagaimana benda itu berjalan.


Bentuk dari kereta uap yang dibuat sesuai dengan rancangan Aksa ini, tampak menawan semua orang. Besar dan gagah. Dengan asab yang keluar dari celah-celah tungku lokomotifnya secara terus menerus, seperti seekor banteng besi raksasa yang menghembuskan asap dari hidungnya.

__ADS_1


Kepala kereta uap yang membawa tungku lokomotif itu berukuran tiga kali besar kereta besi. Dan empat kali kereta kuda dijejer untuk panjang gerbong yang ditarik dibelakangnya.


Roda kereta uap itu sengaja dibuat untuk berjalan dijalur khusus. Jalur itu adalah dua buah batang besi yang dijajar bersebelahan. Dibawahnya terdapat puluhan batang kayu yang dilekatkan berjedah menggunakan pasak besi, untuk menjaga agar jarak antara kedua besi itu selalu sama dan tidak berubah. Aksa menyebut jalur tersebut dengan sebutan 'Rel'.


Dan sebelum meletakan rel tersebut, tanah yang akan digunakan sebagai alas, digali sedalam setengah tubuh pria dewasa terlebih dahulu. Setelah itu ditimbun dengan bebatuan kecil agar kembali rata, baru rel tersebut diletakan diatasnya.


Para pekerja sudah paham dengan cara memasang rel kereta tersebut. Dan mereka sudah memulai pekerjaan memasang rel tersebut dari tiga hari yang lalu. Kini pemasangan sudah cukup jauh kearah barat.


"Inikah kereta yang akan menyeberangi tanah ini?" Tanya Madron yang tampak sangat penasaran dengan tatapan menjelajah ke segala tempat di kereta tersebut.


"Jadi ini yang akan kita sewakan untuk orang-orang menyeberangi tanah ini?" Kali ini Dirk yang bertanya. Terdengar sangat tertarik dan bersemangat.


"Benar. Untuk sekarang kita akan menggunakannya untuk mengangkut bahan-bahan yang akan digunakan membangun waduk disisi barat" jawab Nata.


"Jadi, jalur kereta ini yang nantinya akan dipasang menyebar keseluruh penjuru tanah Pharos" ucap Aksa menambahi.


"Aku jadi ingin mencoba menaikinya" ucap Selene,


"Aku juga" yang ditimpali oleh Cedrik yang berdiri disebelah Penjinak itu.


Yang lain juga tampak kagum dan penasaran pada kereta uap tersebut, meski tidak berkata-kata.


Sedang Lucia hanya tersenyum menatap Aksa dan Nata yang berdiri di sampingnya. "Kita akan memulai semuanya dari sini" ucapnya kemudian.


Nata hanya mengangguk menjawab ucapan Lucia itu.

__ADS_1


Sementara Aksa berucap, "Bukan. Kita sudah memulainya dari saat aku tiba di pantai sisi timur"


-


__ADS_2