Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
23.5. Antology Story : Hari Libur Aksa IV


__ADS_3

Pagi harinya mereka mulai berjalan menuju ke desa Fla. Pagi-pagi sekali. Aksa sengaja untuk tidak sarapan terlebih dahulu. Ia berencana untuk sarapan di tempat kediaman Fla. Karena ia tidak mau makan dendeng kering milik trio pemburu itu kalau tidak terdesak.


Dan karena tanpa pemberitahuan sebelumnya, kedatangan Aksa sedikit mengejutkan orang-orang desa. Beberapa warga desa yang hendak berangkat bersawah, tiba-tiba berlari kembali kedalam desa saat berpapasan dengan Aksa dan trio pemburu ditengah jalan. Warga itu buru-buru memberi tahu kepala desa mereka.


Dan alhasil saat Aksa dan trio pemburu sampai di desa tersebut, tampak beberapa orang sudah siap menunggu mereka di depan gerbang. Dan kemudian mengantar ke rumah Fla.


"Pagi, tuan Aksa. Tumben sekali pagi-pagi begini anda sudah berada didesa kami? Bahkan tanpa memberi kabar terlebih dahulu. Apakah ada hal yang mendesak?" Khan menyapa saat Aksa dan trio pemburu sampai di depan rumahnya.


"Tidak ada, tuan Khan. Kami baru saja dari pesisir timur. Kemarin kami kemalaman jadi menginap dijalan" jawab Aksa menjelaskan.


"Oh, begitu? Kalau begitu silahkan masuk tuan-tuan" Kepala desa itu mempersilahkan Aksa dan yang lain masuk.


"Ngomong-ngomong, dimana Fla? Apa dia punya rumah sendiri? Tidak jadi satu dengan kalian?" Tanya Aksa begitu mereka sudah duduk di ruang tamu. Tampak selain rombongan Aksa dan Khan, ada adik perempuannya Arian, dan Yllharian singa, Fang, di tempat tersebut. Sementara suami Arian sedang berada di ladang sekarang.


"Oh, Fla menawarkan diri ikut membantu pekerjaan yang dilakukan oleh putri Lucia. Dan juga sebagai tanda sumbangsih kami warga desa ini" jawab Khan kemudian.


"Oh, begitu. Jadi dia pindah dari desa ini?" Aksa terlihat mengangguk kecil.


"Benar, tuan Aksa. Tapi dia mendapat jatah kerja membantu tuan Selene yang sedang memulai membuat sesuatu untuk hewan di bibir hutan Sekai" ucap Khan menjelaskan. "Jadi tidak terlalu jauh juga dari desa ini. Apakah, tujuan anda kemari ingin beretemu Fla?" Tambahnya kemudian.


"Oh, bukan tuan Khan. Berhubung sekarang adalah hari liburku, jadi aku berencana berkeliling wilayah ini. Itu saja" Aksa menjelaskan maksudnya datang ke desa ini.


"Kemarin baru saja dari tempat kami di pesisir timur" ucap Loujze menambahi.


"Oh, begitu rupanya. Lalu apa yang akan anda lakukan selama berada di desa ini, tuan Aksa?" Kali ini Fang yang bertanya.


"Pertama-tama, aku ingin merasakan masakan keluarga anda, tuan Khan" jawab Aksa dengan senyum mengembang.


"Oh, boleh saja. Tapi karena anda datang terlalu pagi dan tidak memberi kabar sebelumnya, kami tidak menyiapkan apapun di dapur sekarang ini. Kalau boleh anda tunggu, kami akan carikan sebentar"


"Tidak ada apa-apa di dapur anda, tuan Khan?" Aksa tampak sedikit terkejut.


"Oh, maksud saya, saya akan mencarikan bahan makanan yang lain. Di dapur hanya ada beras dan sayuran yang biasa" jawab Khan menjelaskan.


"Itu saja, tuan Khan. Tidak perlu yang harus ini atau harus itu. Yang biasa anda dan keluarga anda makan. Itu saja"


"Tapi mungkin, rasanya bukan selera anda" ucap Khan seperti sedang memberi peringatan.

__ADS_1


"Maksud anda tidak enak? Selama ini aku sudah sering makan masakan Lucia yang hambar dan kadang pait. Jadi akan kikatakan pada anda bahwa makanan anda tidak enak, kalau lebih parah dari masakan Lucia" ujap Aksa dengan menggunakan gerakan tangan yang sedikit berlebihan.


"Baiklah, kalau begitu. Tolong siapkan meja makannya, Ar" pinta Khan kepada saudarinya.


"Saya permisi dulu" Arian berdiri dan kemudian masuk kedalam.


"Maaf, tuan Khan, tuan Fang. Anda baru bertemu dan bicara lama dengan tuan Aksa, kan?" Ujar Deuxter kemudian. "Tuan Aksa ini memang kalau ngomong kadang tidak jelas dan tidak mengerti tata krama. Jadi tidak perlu diambil hati ucapannya, anggap saja angin lalu" tambahnya kemudian memberi penjelasan.


"Sebentar-sebentar, kau itu mau membela ku atau malah menjatuhkanku?" Celetuk Aksa kemudian.


"Saya hanya mencoba menjelaskan kepada tuan Khan, dan tuan Fang, sebelum beliau sakit hati karena ucapan anda, tuan Aksa" jawab Deuxter membela diri.


"Saya bukan orang yang mudah tersinggung" saut Khan dengan tertawa kecil.


"Oh, jangan berkata begitu tuan Khan. Anda belum tahu saja cara bicara, tuan Aksa" Loujze ikut menambahi.


"Sudah-sudah, hentikan" saut Aksa kemudian.


-


"Masakan anda sungguh enak, nyonya Arian. Sup itu tadi menggunakan jamur Bulan, ya?" Tanya Aksa saat mereka bsru saja makan bersama. Mereka akhirnya makan dinhalaman belakang rumah, karena meja makan rumah Khan tidak muat ubtuk mereka bertujuh.


"Bukan begitu. Nyonya Fatima sering menggunakan jamur tersebut pada sup atau kuah makanannya. Karena seringnya, jadi hafal" ujar Aksa yang menjelaskan.


"Jadi setelah sarapan, apa yang ingin anda lakukan, tuan Aksa?" Kemudian Fang bertanya.


"Aku ingin berkeliling desa ini" jawab Aksa singkat.


-


Kemudian Aksa dan trio pemburu bersama Khan dan Fang berjalan untuk melihat-lihat desa tersebut. Beserta area pertaniannya.


Dan setelah itu mereka bersantai di halaman belakang rumah Khan. Ditemani dengan jagung rebus dan teh hangat.


"Menurut anda bagaimana desa ini?" Tanya Khan yang duduk dinbangku panjang disebelah Fang tak jauh dari kursi Aksa.


"Desa ini baik-baik saja. Nanti akan ku berikan daftar hal yang harus dibenahi dan di tingkatkan dari desa ini" ujar Aksa menjawab. "Tapi yang terpenting dari semua itu adalah sifat dan pola pikir anda dan penduduk desa ini, tuan Khan" tambahnya kemudian tanpa berbasa-basi.

__ADS_1


"Maaf, yang anda maksud dari sifat kami?" Khan bertanya untuk memastikan.


"Anda dan warga desa memiliki sifat inferior. Merasa diri kalian kecil dan lemah. Dan selalu memandang orang diluar desa anda, orang yang lebih hebat" Aksa mulai berkata-kata.


Tampak wajah serius Aksa membuat Khan, Fang, Adian, dan trio pemburu diam tidak menyela.


"Memang, tidak meremehkan orang lain adalah hal yang bagus. Tapi tidak menghargai diri sendiri itu salah besar. Bukankah sebelum ini Lucia pernah berucap bahwa kita semua setara, tuan Khan?"


Khan hanya mengangguk samar.


"Tapi cara anda dan warga desa memperlakukan kami tadi, seolah kami adalah bangsawan. Kalau aku sih tidak apa-apa. Soalnya utusan dewa" Aksa melanjutkan penjelasannya.


Semua orang terlalu serius untuk merespon ucapan Aksa itu tadi.


"Hal itu tadi akan sangat merepotkan, bila kami memerlukan anda sekalian untuk bergerak mandiri seperti saat sebelum desa ini bergabung dengan Lucia" Aksa tampak masih memiliki banyak kata untuk diucapkan.


"Semua keputusan yang dulu anda rasa adalah yang terbaik, sekarang akan selalu dipertanyakan ulang. Apakah Lucia setuju, apakah tidak masalah dengan yang lain?


"Memang mempertimbangkan keputusan itu juga penting. Tapi bila anda merasa tidak mampu, maka anda akan takut membuat keputusan, atau menyanggah keputusan orang lain.


"Padahal, yang kami harapkan dari bergabungnya desa ini adalah disamping tambahan tenaga kerja, juga bertambahnya pilihan dan pendapat untuk menentukan keputusan yang paling benar" lalu Aksa menyudahi ucapannya.


Semua orang masih diam setelah Aksa berhenti berbicara. Tampak Aksa bangkit berdiri. Kemudian mengambil gelas tehnya. Dan menegak habis tanpa sisa.


"Ngomong panjang bikin haus" ucapnya kemudian.


"Sebentar, akan saya ambilkan lagi di dalam" ujar Arian yang langsung bergegas masuk.


"Saya mengerti tuan Aksa. Semua yang anda katakan memang benar. Namun, sifat itu muncul karena keadaan kami yang tidak pernah mengenal dunia luar sama sekali. Kami yang tertinggal dan terpencil ini, merasa tidak percaya diri terhadap anda-anda sekalian yang berasal dari luar" ujar Khan mengeluarkan apa yang ia rasakan. "Dan saya rasa hal tersebut akan sulit dan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk merubahnya" tambahnya lagi.


"Benar, tuan Khan. Aku juga setuju tentang itu. Tapi aku punya cara ampuh untuk merubah sifat dan pola pikir seperti itu dengan cukup cepat" jawab Aksa kemudian dengan senyum yang mulai mengembang.


"Benarkah? Dan apa itu, tuan Aksa?" Khan merasa mendapat secercah harapan.


"Kalian semua harus bersekolah" saut Aksa dengan lantang.


"Maaf, apa itu sekolah?"

__ADS_1


-


__ADS_2