
Tepat tiga hari kemudian rombongan Parcival kembali untuk mendengar penjelasan tentang kasus buronan itu. Namun kali ini Amithy dan Nata sudah menunggunya di pos jaga gerbang selatan.
"Jadi bagaimana kabar dari wilayah tengah, nyonya Amithy?" Tanya Percival saat ia sudah berada dalam pos jaga.
"Tampaknya buronan tersebut berhasil menembus pertahanan kami di wilayah barat dan kemudian kabur ke daratan utara, tuan Percival" ujar Amithy yang berusaha keras agar terlihat meyakinkan.
"Tampaknya buronan tersebut memiliki kemampuan dan senjata mistik yang tidak bisa dihentikan oleh prajurit penjaga kami yang tidak terlalu handal" Nata menambahi.
Percival menatap penuh selidik kearah Amithy dan Nata. "Kalian tidak sedang berbohong, kan?" Ujarnya kemudian.
"Tidak, tuan. Seperti kata anda, apa untungnya buat kami" ucap Nata menjawab dengan cepat.
"Aku masih tidak percaya" terlihat Percival meletakan tubuhnya ke sandaran kursi, matanya masih terlihat curiga kearah Nata dan Amithy.
"Percayalah, tuan Percival. Oh iya. Ini ada hadiah untuk anda dan para prajurit yang sudah mau bersusah payah datang kemari dua kali" ujar Nata yang dengan halus merubah tema pembicaraan. Ia mengeluarkan sesuatu dari balik meja.
"Apa maksudnya, ini?" Tanya Percival yang tampak merubah wajahnya saat melihat bungkusan yang cukup besar diatas meja.
"Saya tidak bermaksud bila anda merasa tersinggung tuan Percival, tapi ini adalah kebiasaan kami orang utara untuk menjamu tamu kami. Jadi mohon diterima" ujar Nata berbohong.
Pria itu menatap seperti meragu.
"Ini hanya beberapa botol anggur dan beberapa bekal makanan. Tidak banyak. Mohon anda menerimanya" kali ini Amithy yang berucap.
Meski masih terlihat ragu, namun ksatria itu mengambil hadiah yang diberikan Amithy dan Nata padanya. "Baiklah saya akan menerimanya" ucapnya kemudian.
"Lagi pula, apa yang akan kalian lakukan dengan tinggal ditempat ini? Tanah mati ini?" Terlihat Percival sudah ingin menanyakan hal itu sejak pertama kali ia tiba ditempat ini.
"Kami akan membuka jalur perdagangan. Kami baru saja melakukan perjanjian dagang dengan kota Varun, dengan tuan Mateus" jawab Nata.
"Oh, dan apa yang kalian jual? Anggur seperti ini?" Tanya Percival menebak.
"Sebentar. Akan saya ambilkan" ucap Nata yang tampak berjalan menuju ujung ruangan dan mengambil sesuatu dari dalam tasnya.
"Apa ini?" Tanya Percival saat sudah menerima barang dari Nata berbentuk kotak tak lebih besar dari kepalan tangan berwarna cokelat terang.
"Sabun. Gunanya adalah untuk membersihkan" ujar Nata menjawab.
"Semacam bahan untuk wanita berdandan?" Tanya Percival sibuk memperhatikan benda bernama sabun tersebut.
"Kurang lebih. Hanya saja anda bisa memakainya, karena gunanya untuk membersihkan. Benda ini harus dicampur dengan air terlebih dahulu" ujar Nata yang tampak mengambil mangkuk sop dan mengisinya dengan air dari sebuah gentong gerabah di belakang pintu masuk.
__ADS_1
Kemudian Percival memperhatikan Amithy dan Nata memperagakan cara penggunaan sabun itu untuk nya.
"Bila anda menginginkannya anda bisa membawanya sekalian. Kami masih punya beberapa di tempat ini" ucap Amithy mengambil dua buah kotakan sabun lagi.
"Nantinya anda bisa membelinya di tempat tuan Mateus" Nata menambahi.
Percival tidak begitu tertarik dengan benda bernama sabun tersebut, tapi ia tetap membawa semuanya. "Baiklah kalau begitu, saya pamit" ucapnya seraya berjalan pergi meninggalkan ruang pos jaga. "Terima kasih" tambahnya kemudian.
"Sama-sama tuan ksatria, hati-hati dijalan" ucap Nata yang mengantar bersama vossler sampai gerbang. Sementara Amithy tampak sudah tidak memiliki kekuatan untuk beranjak dari kursinya.
"Bagaimana, tuan Nata?" Vossler yang berdiri di sebelah Nata di depan gerbang bertanya.
"Kita masih harus berada diluar perhatian kerajaan Urbar, tuan Vossler. Setidaknya untuk saat ini" jawab Nata dengan pandangan mata tidak beralih dari 25 prajurit berkuda yang berjalan menjauhi gerbang.
"Saya mengerti"
-
Sementara di kota tengah, Aksa tampak sedang berada di bangunan yang merupakan kedai Edward. Tepat diseberang jalan tempat bar Pietro berada.
Aksa sedang duduk bersama Rafa dan Livia setelah mereka selesai membuat rancangan kerja untuk percetakan dan penyebarannya.
Sekarang mereka bertiga sedang menunggu untuk mencoba makanan buatan Edward yang kedepannya akan dijual di kedainya tersebut. Aksa yang memberikan saran dan masukan kepada Edward sebelumnya.
"Benar. Kenapa Fla dan Luke tidak diajak juga?" Livia ikut bertanya.
"Kalian akan tahu nanti. Karena test food kali ini memang dikhususkan untuk perempuan" jawab Aksa kemudian.
"Tes fut? Khusus untuk perempuan?" Tanya Rafa kemudian.
"Sudah, lihat saja nanti" jawab Aksa dengan santai.
Tak berapa lama Edward keluar dari dapur dengan membawa 3 piring kecil berisi makanan yang berbentuk seperti potongan balok kayu berwarna kuning gelap dengan seperti lumpur berwarna putih menutupi beberapa tempat diatasnya.
Kemudian menghidangkan piring tersebut pada ketiga tamunya yang duduk menanti.
"Apa ini, tuan Edward?" Tanya Rafa yang penasaran dengan makanan aneh dihadapannya.
"Saya mencium bau manis" Livia menambahi.
"Seperti yang diajarkan, tuan Aksa. Makanan ini disebut Chiffon Cake. Lemon Chiffon Cake dengan Cream gula" ujar Edward menjelaskan dengan nada bangga dan penuh percaya diri.
__ADS_1
"Aku coba!" Ujar Aksa yang dengan segera menancapkan sendoknya keatas makanan tersebut.
Tidak seperti bentuknya yang terlihat keras seperti balok kayu. Makanan itu tampaknya lembut dan mudah hancur. Karena dengan mudah Aksa memotong dengan sendoknya dan kemudian segera menyuapkan potongan besar kedalam mulutnya.
Rafa dan Livia hanya diam melihat apa yang dilakukan Aksa dan reaksi setelahnya.
"Cake ini enak sekali, tuan Edward! Setelah sekian lama, akhirnya aku merasakan lagi masakan beradab ini!" Ujar Aksa yang terlihat riang dan penuh semangat.
Melihat reaksi Aksa membuat Rafa dan Livia ikut mencoba dengan segera.
"Wah! Manis! Terbuat dari apa makanan ini, tuan Edward?" Rafa tampak terkejut.
"Wah, benar. Juga lembut" saut Livia menambahi.
"Benarkah enak? Syukurlah kalau begitu" ucap Edward dengan wajah lega. "Tapi masih ada lagi" ujarnya kemudian seraya pergi menuju ke dalam.
Dan tak lama kemudian Edward keluar dengan 3 buah gelas bening berkaki tunggal yang biasa digunakan oleh para bangsawan. Hanya saja gelas ini polos tidak memiliki ornamen sama sekali.
Namun yang menjadi perhatian Rafa dan Livia saat melihatnya bukanlah bentuk dari gelas tersebut, melainkan isinya. Karena bening tembus pandang, isi dalam gelas tersebut dapat dilihat dengan jelas.
Terlihat kali ini seperti sebuah sedimen tanah berlapis. Hanya saja penuh dengan warna yang menarik.
Dari bawah tampak seperti sebuah lumpur berwarna putih, kemudian diatasnya ada potongan buah berwarna hijau cerah, kemudian ditutup lumpur putih lagi, dan seperti buah berry diatasnya. Dan kemudian yang paling akhir adalah lapisan seperti tanah berwarna cokelat dan buah anggur.
Hanya dengan melihatnya saja sudah membuat Aksa tersenyum lebar. Bahkan sekarang piringnya sebelumnya sudah kosong.
Edward menyajikan gelas-gelas itu kepada para tamunya.
"Yang ini bernama Parfait" ujar Edward kemudian dengan singkat.
Dan sekali lagi, tanpa di persilahkan terlebih dahulu, Aksa segera menancapkan sendoknya dan mulai menyuapkan potongan besar kedalam mulutnya.
Tidak menunggu reaksi dari Aksa, Rafa dan Livia segera ikut memulai merasakan makanan meriah itu.
"Dingin! Apa ini, tuan Edward?!"
"Rasanya manis dan masam"
"Akhirnya! Ku kira aku sudah tak akan bisa merasakan Ice Yogurt lagi" ujar Aksa dengan memejamkan matanya seolah sedang meresapi makanan Edward tersebut. "Terima kasih banyak, tuan Edward" ujarnya kemudian.
"Saya yang harus berterima kasih, tuan Aksa. Anda memperkenalkan banyak jenis bahan dan cara mengolahnya yang tidak terpikirkan sama sekali" ujar Edward yang tampak berseri-seri dibalik kumisnya yang melintang.
__ADS_1
"Sekarang saya mengerti mengapa anda mengajak kami berdua, tuan Aksa" ujar Rafa yang mulai lahap.
-