Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
--. Joan Story : Epilog


__ADS_3

Sudah sekitar sebulan Joan berada dalam penjara kota Guam. Penampilannya sekarang sudah tidak seperti sebelumnya. Rambutnya sudah mulai terlihat kusut dan kusam. Jari-jari tangannya juga tampak kotor dan dekil. Pakaiannya juga hanya sepasang baju biasa berwarna coklat tua. Dan meski tidak nyaman, namun masih layak digunakan.


Sedangkan untuk kondisi tubuhnya, tidak terlalu banyak perubahan. Joan masih mendapat makan dan istirahat yang layak. Meski sekarang berat tubuhnya mulai sedikit berkurang.


Joan sudah mulai terbiasa dengan suasana pagi yang cukup sunyi di dalam penjara. Sampai pada pagi itu, ia dikejutkan oleh dua orang prajurit yang tiba-tiba datang dengan menggiring seorang pria baya yang ia kenali. Dan kemudian memasukannya ke dalam ruang kurungan tepat di depan ruang kurungannya.


Pria baya itu adalah Chris. Penasehat yang sekitar tiga minggu yang lalu datang menjenguknya untuk bertanya sesuatu.


"Penasehat Chris?! Apa yang anda lakukan ditempat ini?" Joan terlihat heran mendapati Chris berada di dalam penjara bersamanya.


"Aku bukan seorang penasehat lagi sekarang, jadi kau tidak perlu memanggilku penasehat lagi" ujar Chris yang mencoba membenahi rantai kekang di kedua tangannya.


"Apa yang terjadi pada anda?" Joan masih terlihat penasaran.


"Kurasa pada dasarnya paduka memang sudah tidak mempercayai kemampuanku lagi. Beliau mengangkat ku kembali mungkin karena terpaksa untuk menenangkan para penguasa yang lain" ucap Chris seraya duduk bersila dilantai.


"Apa terjadi masalah dalam rencana penyerangan anda?" Joan yang belum mendapat jawaban, masih terus bertanya.


"Aku bahkan belum membuat rencana untuk menyerang, tapi sepertinya orang-orang di kerajaan ini memiliki pemikiran dangkal sama seperti Tyrion" saut Chris terdengar ketus. "Maaf, aku tidak bermaksud untuk menghina tuan mu" tambahnya kemudian setelah sadar bahwa mungkin Joan akan tersinggung dengan ucapannya tadi.

__ADS_1


Joan tidak menjawab atau mengeluarkan kata-kata. Ia hanya diam menanti penjelasan selanjutnya dari Chris.


"Aku mencoba mengundurkan diri dari posisi penasehat, tapi paduka melarang ku" Tampak Chris akhirnya menjawab hal yang ditanyakan Joan. "Dan karena aku tetap bersikeras untuk mengundurkan diri, paduka menjadi berang. Dan jadilah sekarang aku berada ditempat ini" tambahnya kemudian.


"Mengapa anda ingin kengundurkan diri dari jabatan penasehat, tuan Chris? Seingat saya terakhir kita bertemu, anda sangat antusias untuk menyelesaikan permasalahan kerajaan dengan tanah mati" kali ini Joan terlihat tidak mengerti dengan hal yang lain.


"Seperti yang kubilang sebelumnya. Paduka sepertinya tidak berniat untuk mengangkatku kembali menjadi penasehat. Dan aku tidak bisa menerimanya, bila aku hanya dijadikan sebuah pajangan saja" Chris terlihat sedang mengeluarkan curahan hatinya yang terpendam.


"Apa yang membuat anda berpikir seperti itu, tuan Chris?" Joan bertanya lagi.


"Jadi ceritanya, sebelum aku berbicara dengan mu kemarin, aku juga sudah merasa bahwa terlalu berbahaya bila kita melakukan serangan secara langsung. Maka dari itu aku berencana untuk melakukan perundingan dengan wilayah tanah mati itu. Disamping bisa memberi kita waktu untuk memulihakan kekuatan, juga untuk mencari tahu apa kelemahan yang mereka punya" Chris mulai bercerita panjang lebar. Ia menyandarkan tubuhnya kedinding ruangan. "Mereka menyetujui, dan perundingan berjalan dengan mulus. Bahkan kami sampai pada kesepakatan yang cukup menguntungkan untuk kerajaan" lanjutnya kemudian.


"Tapi tampaknya Arias dan beberapa penguasa yang lain telah membuat rencana di belakang ku. Dan melakukan serangan mendadak saat perundingan itu sedang berlangsung" Chris melanjutkan.


"Mengapa mereka berani melakukan hal tersebut? Apa paduka raja mengetahuinya?" Joan yang tidak tahan akhirnya bertanya juga.


"Itulah kenapa tadi aku mengatakan bahwa aku hanya sebuah pajangan. Karena paduka raja menyetujui rencana tersebut" Chris menjawab. "Yang ironisnya, semua utusan dari tanah mati itu selamat. Hanya prajurit penjaga yang menjadi korban" imbuhnya.


"Berarti agresi dari tanah mati itu akan semakin menjadi setelah ini" Joan menghela nafas sekali lagi.

__ADS_1


"Ya, kurasa juga begitu" saut Chris yang kali ini menyandarkan kepalanya ke belakang. Ke dinding ruangan. "Oh, dan sepertinya aku sudah bertemu dengan si pembuat strategi itu" ucap nya kemudian dengan tiba-tiba.


"Apa dia seorang pemuda Morra?" Joan terlihat seperti sedang memastikan.


"Benar. Kau sudah tau?" Chris kembali menegakan tubuhnya.


"Ya, saya sudah mengiranya sejak lama. Mereka berdua, dan terlihat seperti orang penting di wilayah tanah mati itu. Mereka selalu tampak bersama Yllgarian Lagoom dan seorang gadis Seithr" Joan berucap.


"Benar. Kemarin mereka juga datang berempat. Juga dengan beberapa ksatria. Hanya saja pemuda yang satunya tidak berkata apapun. Dia hanya diam sambil terlihat mengamati segala gerak-gerik kami. Gaya berpakaiannya sangat aneh" Chris menimpali.


"Hm... harusnya pemuda yang berpakaian aneh itu orang yang cukup banyak bicara. Dia yang bertugas membuat senjata-senjata aneh wilayah itu, dan yang satu lagi bertugas membuat rencana" Joan terlihat seperti sedang mengingat-ingat.


"Dari semuanya hanya pemuda yang mengenalkan diri sebagai Nata itu saja yang berbicara. Sedang yang lainnya hanya diam"


"Sebentar..." Joan tiba-tiba memotong ucapan Chris. Ia seperti baru mengingat sesuatu. "Maaf, tuan Chris. Jadi maksud anda dua pemuda itu ikut dalam perundingan dan menjadi korban yang selamat dalam penyerangan tersebut?" Tanyanya lagi seolah sedang memastikan.


"Benar" Chris menjawab cepat.


Joan menghela nafas untuk kesekian kalinya. "Kurasa akan terjadi pergolakan besar di tanah ini" ucapnya kemudian.

__ADS_1


"Ya saya juga merasa seperti itu. Mari kita doakan yang terbaik untuk kerajaan ini" Chris terlihat pasrah.


-


__ADS_2