Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
03. Merencanakan Serangan II


__ADS_3

Di dasar Ceruk Bintang, tampak Aksa, Nata, Lucia, Caspian, Helen, Vossler, Jean, bersama Haldin, dan Matyas berkumpul di tenda Aksa untuk menunjukan rancangan senjata terbaru mereka.


"Jadi pada dasarnya ini adalah kereta tempur namun dengan ukuran jauh lebih besar" Aksa berucap seraya membagikan gulungan kertas berisi gambar rancangan senjata tersebut.


"Mungkin tiga sampai empat hari lagi kita baru bisa menyelesaikannya" Matyas menambahi.


"Apa ini yang akan kita gunakan untuk melakukan serangan?" Caspian bertanya setelah mengamati isi gulungan tersebut.


Bentuk gambar dalam gulungan tersebut sama seperti bentuk dari kereta tempur. Hanya saja yang kali ini memiliki empat roda dibagian depan dan enam roda dibagian belakang yang dilapisi rantai pelindung seperti roda kereta tempur sebelumnya.


Tidak memiliki mata bor di bagian depannya, namun memiliki kerangka logam yang sangat tebal. Jauh lebih tebal dibanding kereta tempur sehelumnya.


Dibagian atasnya terdapat senjata laras panjang seperti senjata pelontar harpun sebelumnya, hanya saja yang kali ini berukuran jauh lebih besar dan panjang.


Tinggi kereta tersebut lebih pendek dibanding kereta tempur sebelumnya, namun terlihat lebih lebar dan kokoh.


Selain itu masih banyak hal lagi yang tidak terlalu dipahami Caspian dari gambar tersebut. Tapi ia tidak berniat untuk menanyakan hal tersebut kepada Aksa. Ia akan bertanya bila alat tersebut sudah benar-benar selesai.


"Benar. Kita akan menggunakan kendaraan ini untuk menyerang" Aksa menjawab. "Bagian atas dari kendaraan ini dapat di ganti, hingga kita juga bisa mengunakannya untuk membangun jalan dan rel kereta uap bila diperlukan. Armored Multi-Purpose Vehicle" tambahnya kemudian.


"Bila dilihat dari bentuknya, sepertinya kereta yang ini tidak secepat kereta tempur sebelumnya" Helen berucap setelah mengamati gambar rancangan tersebut.


"Benar sekali, nona Helen. Karena harus menopang kerangka tubuh yang lebih besar dan berat. Maka dari itu kendaraan ini mulai mengganti tungku lokomotif dengan mesin pembakaran yang jauh lebih kecil" jawab Aksa kemudian.


"Berarti kita sudah tidak akan menggunakan kayu dan air lagi?" Lucia menyela.


"Benar. Bahan bakarnya akan kita ganti dengan biogas cair yang akhirnya bisa kita panen" Aksa menjawab seperti sedang menyombongkan diri.

__ADS_1


"Sebentar, anda memanen apa? Bahan bakar?" Helen terlihat tidak mengerti.


"Dan dari mana baiyo tersebut berasal?" Caspian yang kali ini bertanya.


"Dari perternakan tuan Selene. Dan anda bisa menyebutnya bahan bakar cair, agar lebih mudah" Aksa menjawab.


"Lalu apa peluru yang akan ditembakan melewati laras sebesar ini, tuan Aksa?" Kali ini Vossler yang bertanya setelah terlihat sedari tadi ia mencoba untuk menebak dan tidak bisa ia temukan. "Apa tekanan udara cukup kuat untuk mendorongnya? Ini bukan digunakan dalam air seperti torpedo, kan?" Tanyanya memastikan.


"Bukan, tuan Vossler. Senjata itu tidak menggunakan tekanan uap. Tapi menggunakan bubuk mesiu" Aksa menjawab.


"Oh, bubuk ledak itu?" Vossler seperti baru saja mengingat sesuatu.


"Benar. Karena sekarang kita juga sudah mulai menghasilkan Nitrat sendiri di peternakan tuan Selene, jadi mulai sekarang kita sudah bisa memproduksi bubuk mesiu" jawab Aksa yang terlihat gembira. "Dengan begitu, kita bisa mulai membuat senjata api untuk digunakan oleh para prajurit" tambahnya kemudian.


"Kita juga akan mulai melatih mereka menggunakan senjata tersebut serta metode yang berguna dalam pertempuran dengan jumlah pasukan kecil" Nata menambahi.


"Nanti bila alat ini sudah selesai. Kita juga akan ajarkan cara penggunannya" saut Aksa kemudian.


"Karena kita akan melakukan serangan ke delapan tempat secara sekaligus maka sudah jelas kita akan membagi prajurit kita menjadi delapan kelompok" Nata menjawab.


"Keseluruhan prajurit yang kita miliki sekarang sekitar lima ratus orang. Maka, untuk penyerangan kali ini kita akan membaginya menjadi lima puluh prajurit di tiap kelompok. Yang nantinya tiap kelompok akan dilengkapi masing-masing dengan kereta tempur baru tersebut. Sedang sisa prajurit kita, akan bersiap untuk menjaga wilayah perbatasan" Nata mulai menjelaskan.


"Kemudian dari lima puluh prajurit itu, akan kita bagi lagi menjadi kelompok kecil yang disebut dengan satuan. Yang kurang lebih berisi sepuluh atau lima belas orang dengan keahlian dan tugas kusus dalam kelompok tersebut. Mungkin seperti pasukan berkuda, atau pasukan pemanah. Dan nantinya mereka akan memiliki pemimpin satuan. Yang memungkinkan untuk mereka bekerja secara mandiri sebagai sebuah pasukan kecil saat diperlukan" Nata menjedah ucapannya. Sementara yang lain tampak menyimaknya dengan seksama.


"Tapi mungkin penerapan tersebut masih butuh waktu untuk dapat benar-benar berjalan secara penuh. Untuk penyerangan kali ini kita akan menggunakan cara yang biasa kita gunakan sebelumnya"Lanjut Nata kemudian.


"Kira-kira kapan para prajurit kita mendapat pelatihan untuk menggunakan senjata baru tersebut, tuan Nata?" Caspian bertanya lagi.

__ADS_1


"Kira-kira kapan senjata api untuk para prajurit selesai dibuat, tuan Hildan?" Ganti Nata yang bertanya keiada Haldin.


"Untuk senjata api dan perlengkapan para prajurit itu mungkin seminggu lagi baru selesai. Dan itu juga baru untuk tiga ratus pasukan dulu. Sisanya akan disusulkan" Haldin menjawab.


"Berarti kita akan mulai melakukan pelatihan prajurit seminggu lagi, tuan Caspian" Nata menjawab pertanyaan Caspian.


"Baik, tuan Nata. Akan saya kabarkan pada pemimpin prajurit lainnya" ujar Caspian kemudian.


"Kemudian disamping itu, kita juga akan melatih para penyihir. Agar mereka juga bisa menggunakan pertahanan dan penyerangan disaat mereka tidak terlindung, atau disaat mereka tidak memiliki waktu untuk melakukan rapalan sihir" Nata menambahi.


"Saya setuju, tuan Nata. Saya rasa itu memang ide yang sangat bagus. Karena selama ini para penyihir selalu berada diposisi belakang dan dilindungi oleh prajurit yang lain, karena selama ini mereka memang hanya terfokus pada penggunaan sihir. Baik itu serangan jarak jauh atau sihir perlindungan" Helen terlihat setuju dan tertarik dengan ide dari Nata tersebut.


"Dan lagi, sekarang ini aku, Rafa, dan Val sedang mencoba untuk mengembangkan Debuff Skill Anti-Mage" tiba-tiba Aksa menyeletuk. "Akan jadi masalah bila penyihir kita tidak bisa menyerang dan bertahan saat terkena skill tersebut" lanjutnya kemudian.


"Antime apa?" Untuk kesekian kalinya Caspian bertanya tentang istilah baru kepada Aksa.


"Semacam cara untuk menyegel kemampuan para penyihir" Aksa menjawab cepat, yang mengejutkan seisi tenda tersebut.


"Menyegel sihir para penyihir? Apakah itu mungkin?" Helen bertanya dengan wajah meragukan.


"Val pernah melakukannya. Kurang lebih, sih. Dia membuat seluruh senjata mistik disekitarnya kehilangan kekuatan sihir" Aksa menjawab.


"Meskipun begitu, tuan Val adalah seorang Elf dan juga legenda perang" Caspian seperti sedang mengingatkan.


"Ah, sama saja. Kalau dia bisa, berarti semua pengguna sihir juga pasti bisa. Kita lihat saja nanti" Aksa menjawab dengan ringan.


"Anda optimis sekali, tuan Aksa" Helen menanggapi.

__ADS_1


"Utusan Dewa tidak boleh pesimis, dong" jawab Aksa dengan senyum mengembang.


-


__ADS_2