Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
23.5. Antology Story : Rencana Mencetak


__ADS_3

Tiga hari setelah Aksa kembali dari tiga hari liburnya, ia menghadiri pertemuan dengan Lucia dan Orland, bersama 3 anggota baru mereka.


Sebenarnya Aksa dipanggil untuk mengikuti pertemuan tersebut. Karena Lucia ingin meminta pendapatnya selama Nata tidak ada di kota tengah tersebut.


Sedang Lily sudah berangkat menuju ke wilayah selatan. Ke tempat Nata. Dari sehari yang lalu.


Tiga orang yang duduk bersama mereka dalam tenda Lucia itu adalah; seorang pria Morra setengah baya dengan kumis lebat yang menyatu dengan jambang disisi wajahnya menutupi daun telingannya saat dilihat dari depan. Lalu ada seorang perempuan Seithr yang tampak seumuran dengan Lucia, dengan rambut hitam lurus sepanjang dagu, dan senyum yang menarik. Kemudian seorang pria Narva dengan rahang tegas dan tatapan tajam, mengenakan baju para bangsawan ksatria.


"Perkenalkan semua, ini Aksa" Lucia membuka pertemuan tersebut dengan mengenalkan Aksa pada yang lain.


"Senang berkenalan dengan kalian semua" ucap Aksa sambil melambaikan tangannya.


"Saya, Vossler Rosemarry. Senang berkenalan dengan anda, tuan Aksa" ucap sang pria ksatria memulai mengenalkan diri.


"Perkenalkan, saya Edward. Sebelum ini saya memiliki usaha kedai makan di kotaraja. Saya berencana ingin membuat kedai makan ditempat ini" ucap si pria Morra berkumis mengenalkan diri. Tampak Aksa tertarik saat mendengar pria tersebut ingin membuka sebuah kedai makan.


"Nama saya Rafa, senang berkenalan dengan anda, tuan Aksa" susul yang gadis Seithr dengan singkat.


"Selain untuk memperkenalkan mereka kepada mu, aku dan paman merasa dengan keahlian mereka bertiga ini, mungkin kau bisa memberi mereka tugas yang lebih tepat untuk pekerjaan kita" ujar Lucia menjelaskan maksudnya kepada Aksa.


"Kurasa untuk tuan Vossler akan lebih tepat bila tuan Caspian atau nona Helen yang memberikan tugas. Karena aku sama sekali tidak mengikuti perkembangan tentang penjagaan dan keamanan tanah ini" Aksa menjawab.


"Ya, siapa tahu setelah kemarin kau berkeliling, kau menemukan sesuatu yang memerlukan prajurit atau ksatria?" Ujar Lucia kemudian.


"Tidak, aku hanya memerlukan lebih banyak pekerja. Itu saja" jawab Aksa sepintas yang lalu ia lanjutkan."Sebelumnya aku ingin mengetahui keahlian anda berdua. Tuan Edward. Nona Rafa"


"Keahlian saya memasak, tuan Aksa. Biasanya makanan berat sehari-hari" ujar Edward menjawab pertama.


"Masakan seperti daging dan kentang yang biasa kita makan tiap siang di kotaraja itu?" Tanya Aksa kepada Lucia dan Orland untuk memastikan.


"Benar. Makanan seperti itu" jawab Lucia cepat.


"Pada dasarnya saya sangat suka memasak. Saya bisa memasak banyak hal. Hanya saja makanan sehari-hari itu lah yang laku dijual" Edward segera menambahi, untuk menghilangkan salah pahaman yang mungkin diterima Aksa.


"Oh, aku paham. Mungkin setelah ini aku bisa mencoba masakan anda, tuan Edward?" Ucap Aksa dengan senyum yang tampak mengembang.


"Boleh, tuan Aksa. Saya merasa senang sekali bila anda mau melakukannya" ujar Edward dengan kumis yang bergerak naik turun. Terlihat pria itu juga sama bersemangatnya dengan Aksa.


"Baiklah, setelah ini kita bisa pakai dapur rumah makan yang ada di dekat penginapan" saut Aksa cepat sambil mengangguk-angguk bahagia.


Vossler dan Rafa tampak sedikit terkejut melihat tingkah Aksa yang diluar bayangan mereka. Sementara Lucia dan Orland hanya bisa menggeleng pelan melihat kelakuan Aksa.


"Kalau anda, nona Rafa? Apa yang anda lakukan untuk hidup selama ini? Apakah anda penyihir?" Aksa melanjutkan pertanyaannya.


"Saya memang seorang Seithr. Dan sudah pasti anda akan menebak saya seorang penyihir. Tapi saya lebih tertarik dengan pengetahuan. Jadi sayangnya, saya adalah seorang pekerja istana di kotaraja" jawab gadis bermata sipit itu tersenyum.

__ADS_1


"Wah, tidak terduga. Tapi anda bisa menggunakan sihir, kan?" Tanya Aksa kemudian.


"Apa kau mengira nona Rafa menjadi pekerja istana karena ia tidak bisa menggunakan sihir?" Kali ini Lucia memotong, karena ia merasa pertanyaan Aksa sudikit kurang sopan.


"Hei, aku hanya memastikannya" saut Aksa sedikit ketus.


"Saya tercatat sebagai penyihir kelas dua di assossiasi" jawab Rafa kemudian dengan senyuman.


"Wah, anda multi-talent sekali. Dan karena aku sedang lakukan sesuatu, maka sepertinya aku akan meminta bantuan dari anda, nona Rafa" ucap Aksa kemudian.


"Ah, benarkah? Dan apa itu, tuan Aksa?" Rafa terlihat bersemangat.


"Kita akan bicarakan setelah ini. Karena penjelasannya akan cukup panjang" jawab Aksa yang tidak ingin menahan yang lain dengan sesuatu yang tidak akan menjadi urusan mereka.


"Baiklah kalau begitu. Karena sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, kalian bisa meninggalkan tenda" ujar Lucia menyudahi pertemuan tersebut. "Untuk nona Rafa, tidak perlu pergi" tambahnya kemudian.


"Baik"


"Permisi"


"Ingat tuan Edward, di dapur rumah makan ya? Tunggu aku disitu" tampak Aksa mengingatkan Edward sekali lagi.


"Siap, tuan Aksa. Saya juga akan menyiapkan bahan-bahan terlebih dahulu" jawab Edward sebelum kemudian hilang di balik kelambu pintu tenda.


"Jadi apa yang anda lakukan sebagai pekerja istana, nona Rafa?" Aksa melanjutkan pembicaraannya dengan Rafa.


"Hah, kau bisa level up jadi Alchemist kalau begitu" ucap Aksa seraya mengambil beberapa barang dari dalam tasnya yang ia cangklongkan di belakang sandayan kursi.


Sebuah buku. Berbentuk kotak seukuran dua telapak tangan, berisi berlembar kertas ditumpuk dan di jilid seperti kitab Aturan Kerajaan yang dimiliki Orland. Lengkap dengan sampul yang tersamak kulit hewan.


Melihat benda itu di keluarkan, tidak hanya membuat Rafa terkejut. Namun Lucia dan Orland juga tampak terkejut. Mereka juga baru pertama kali melihat buku tersebut.


"Sejak kapan kau memiliki kitab seperti itu? Apa kau mengambilnya dari perpustakaan istana?" Tuduh Lucia yang dibalas Aksa dengan tatapan sinis.


"Bukan, tidak ada kitab sekecil ini di perpustakaan istana. Apa jangan-jangan kau membuatnya sendiri?" Orland menduga.


"Benar. Aku membuat tiga" ujar Aksa seraya mengeluarkan dua buku dengan ukuran yang sama namun berbeda pola pada sampul kulitnya.


Orland membuka satu-satu buku tersebut memastikan. Kemudian Lucia dan Rafa yang sangat penasaran pun ikut membukanya.


"Apa yang kau gunakan untuk menyatukan lembaran kertas ini?" Orland tampak membolak balik buku tersebut. Sisi yang biasanya terdapat tali pengikat, kini tidak tampak apapun.


"Itu adalah sebuah revolusi. Seukuran inilah harusnya buku itu dibuat. Agar dengan mudah dibawa kemana-mana" saut Aksa yang tidak menjawab pertanyaan Orland.


"Tidak ada jahitan untuk menyatukan lembaran kertasnya. Juga bila pun kertas-kertas ini dijahit, pasti tidak akan bisa bertahan karena ukurannya terlalu tipis" Orland masih mencoba menjabarkan apa yang ia ketahui.

__ADS_1


"Kemarin saat berada di pinggiran lereng sisi utara gunung Sekai. Aku menemukan ada pohon Akasia. Tepatnya Acacia Senegal. Nah, getah dari tumbuhan itu adalah lem alami" ujar Aksa kemudian.


"Dan apa itu lem? Apa hubungannya dengan kitab ini?" Kali ini Lucia yang bertanya.


"Jadi pertama-tama adalah, lembar kertas ini dibuat dengan menggunakan serat kapas. Serat yang biasa kita gunakan untuk membuat baju. Maka dari itu kita tidak perlu kuatir akan cepat rusak saat membuatnya dengan sangat tipis" Aksa mulai menjelaskan bagaimana buku itu terbuat.


"Dan kemudian lembaran kertas itu dijahit masih dengan benang dari serat kapas yang kemudian diperkuat dengan getah pohon Akasia tadi. Setelahnya, baru dipasang bagian luarnya dengan menggunakan potongan tipis kayu dan disamak dengan kulit hewan" lanjut Aksa kemudian.


"Kau hanya berlibur tiga hari, sudah bisa membuat benda seperti ini?" Ujar Orland.


"Bukankah isi ketiga buku ini sama. Apa anda sengaja menulisnya ulang? Dan juga tulisan ini terkesan aneh" ujar Rafa kemudian seraya membolak-balik isi buku tersebut.


"Aneh kenapa, nona Rafa?" Tanya Lucia tampak ikut membolak-balik isi buku tersebut.


"Pertama, tulisan dalam ketiga buku ini di tiap kata dan halamannya, nyaris sama cara tulisnya. Kemudian goresan dan kedalaman tulisan ini, seperti bukan ditulis menggunakan pena" jelas Rafa yang tampak melihat salah satu halamannya dari sisi samping.


"Akhirnya ada yang menyadari juga. Luar biasa memang pekerja istana itu. Ini, yang sebenarnya ingin ku tunjukan pada anda, nona Rafa. Aku ingin mencetak banyak buku" ujar Aksa yang terlihat bersemangat.


"Mencetak buku?"


"Benar. Kita akan membuat salinan dari sebuah tulisan dengan cepat dan mudah. Dengan begitu orang-orang juga bisa mendapatkannya dengan mudah. Dan dampaknya adalah informasi dan pengetahuan akan mudah untuk disebarkan" Aksa masih dengan bersemangat menjelaskan.


"Ide anda sangat menarik, tuan Aksa. Lalu apa yang anda perlukan dari saya?" Terlihat Rafa juga bersemangat dengan gagasan Aksa.


"Karena anda sudah cukup lama mengenal bidang penulisan, dan juga tertarik dengan ilmu pengetahuan. Maka ku rasa proyek ini cocok untuk anda pegang, nona Rafa"


"Maksud anda?"


"Di tempatku sekarang ada dua orang dan satu Yllgarian. Dan mereka bertiga lah yang membuat salinan buku tersebut" ucap Aksa yang tidak menjawab pertanyaan Rafa.


"Siapa mereka?" Kali ini Orland yang penasaran dengan orang yang bisa membuat buku-buku tersebut.


"Itu, si mantan budak, pacarnya, dan serigala buntung" jawab Aksa asal.


"Fla dan teman-temannya? Apa mereka juga yang menulis semua ini?" Kali ini Lucia yang tampak tak percaya.


"Oh, bukan. Merekan menggunakan alat cetak. Semacam segel kerajaan. Tapi ini terdiri dari angka dan huruf"


"Benarkah?"


"Ya, meski sangat merepotkan dan memakan waktu lama. Rencana aku akan meminta tuan Haldin untuk membuatkannya yang besar dan otomatis" jawab Aksa yang kemudian ia jedah dengan menatap kearah Rafa.


"Jadi, aku ingin anda membimbing mereka bertiga, dan mengawal proses pekerjaan percetakaan ini, sampai bisa berproduksi. Apakah anda menerimanya, nona Rafa?" Ujar Aksa kemudian.


"Saya akan melakukannya, tuan Aksa" Rafa mengangguk dalam dengan senyum lebar mengembang.

__ADS_1


-


__ADS_2