Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
06. Penghadangan


__ADS_3

"Wah, gawat" ujar Amithy mengintip keluar melalui jendela depan kereta, dibelakang kusir. Terlihat ketakutan.


"Siapa mereka, bi?" Lucia tampak penasaran.


"Mereka adalah pasukan keamanan kerajaan Urbar. Pemimpin mereka itu adalah Vossler, yang sebelum ini pernah datang ke tampat kita untuk bertanya soal Anna" jawab Amithy.


"Oh, dia orangnya? Lalu apa yang ia lakukan di tempat ini?"


"Entahlah, tapi aku mulai kuatir" saut Amithy kemudian.


"Anda berdua tetaplah di dalam kereta, saya akan berjaga-jaga bila tuan Vossler dan nona Jean membutuhkan bantuan" ucar Parpera yang kemudian keluar dari dalam kereta.


"Hati-hati" ujar Amithy.


"Apa yang kau inginkan kali ini?" Tanya Vossler kepada Percival dari atas kudanya. Meski tangannya tidak bersiap digagang pedang, namun pria Narva itu telah siap bila sewaktu-waktu harus melakukan bertempuran.


"Aku masih menginginkan sesuatu yang aku inginkan terakhir aku ke tempatmu" jawab Percival kemudian.


"Apa yang sedang kau bicarakan? Apa kau sedang mabuk? Bukankah kami sudah menjawabnya, bahwa kami tidak mengetahui hal tersebut" jawab Vossler lagi.


Tampak Jean mulai meletakan tangan diatas gagang pedangnya. Ia merasa hal ini hanya akan bertambah buruk.


"Padahal aku sudah baik-baik meminta dan memperingatkan kalian. Tapi kalian malah membohongiku" ucap Percival yang menurunkan nada suaranya. Meski berada dibalik helm yang tertutup, namun masih bisa terasa kalau ia sedang marah. "Jadi, jangan salahkan bila aku harus bersikap kasar" imbuhnya kemudian.


"Lalu apa yang akan kalian lakukan? Melukai kami sebagai balasannya?" Tanya Vossler kemudian. Ia percaya bahwa Percival adalah seseorang dengan jiwa ksatria. Jadi ia merasa ragu bila Percival menyerang tanpa alasan yang jelas. Atau hanya karena sakit hati.


"Bukan. Kami akan menangkap kalian dan meminta pertukaran pada penguasa kalian" ucap Percival yang menjawab keraguan Vossler.


Meski masih menjadi pertanyaan lagi bagi Vossler, siapa yang memberi pria tersebut ide seperti itu. Karena menurut yang Vossler lihat, Percival adalah jenis ksatria yang mementikan kehormatan dan kekuatan. Dia tak akan memiliki ide seperti itu. Terlebih lagi, siapa yang memberi tahukan Parcival tentang keberadaan rombongannya sekarang.


"Itu tidak akan terjadi" saut Jean kali ini dari atas kuda disebelah Vossler.


"Kurasa, kalian kalah jumlah dengan kami. Maka bekerja samalah, agar tidak terjadi hal yang tidak kita inginkan" saut Percival kemudian.


"Maaf, tapi kami tidak bisa menjanjikah hal tersebut. Kami akan melawan bila kalian tidak menyingkir dari jalur kami" ujar Vossler yang kali ini tampak sudah mengenggam gagang pedangnya.


"Baiklah, bila kalian meminta hal tersebut" ucap Percival dengan cepat.


"Biggs, Wedge, lindungi kereta kuda" Vossler memerintah kedua ksatrianya untuk berjaga.

__ADS_1


"Siap, tuan!" Jawab dua ksatria tersebut dengan cepat, seraya menarik pedang mereka keluar dari sarungnya.


Percival juga mengeluarkan pedangnya. Kemudian mengangkatnya ke atas.


Vossler pun ikut menarik pedangnya keluar. Hal yang sama juga dilakukan oleh Jean.


"Maju!" Perintah Percival kemudian. Yang langsung ditanggapi oleh 24 ksatria penunggang kuda bawahannya, dengan memacu kuda mereka maju. Menyerbu Vossler dan Jean.


Tak selang berapa lama, tiba-tiba sebuah petir menyambar jalan tepat diantara para ksatria Percival dan rombongan Lucia berada.


Suaranya menggelagar, dan kilatan cahayanya tampak menyilaukan. Petir tersebut mengejutkan kedua belah pihak.


Sementara pihak Parcival tampak kebingungan dengan apa yang baru saja terjadi, Vossler tahu dari mana petir itu berasal.


Ia dengan cepat menatap kebelakang. Terlihat Parpera sudah berdiri didepan kereta dengan posisi tongkat sihir terangkat kedepan. Itu tadi adalah sihir petir Parpera.


"Sial. Kukira tidak ada penyihir diantara mereka. Jatuhkan penyihir itu dulu" perintah Parcival lagi.


Dan kemudian 24 ksatria berkuda itu memecah menjadi empat kelompok, dengan masing-masing 6 orang menyebar ke empat arah yang berbeda.


Dua kelompok mencoba memutari kereta kuda Lucia, dari kiri dan kanan. Sementara dua sisanya menyerang maju kearah Vossler dan Jean.


Melihat apa yang dilakukan oleh Parpera, salah satu dari ksatria tersebut segera mengeluarkan busur dan mulai membidik Parpera dari posisinya.


Setelah merasa yakin dengan bidiknya, ksatria itu segera melepaskan anak panahnya kearah lengan Parpera. Tampak tidak memiliki niatan untuk membunuh gadis penyihir tersebut.


Namun tampaknya sia-sia saja. Parpera sudah menyiapkan sihir pelindung disekitar tubuhnya sendiri. Anak panah itu terpental kearah lain saat berbenturan dengan tembok tak kasat mata tersebut. Yang baru memperlihatkan pendara cahaya berwarna ungu saat sesuatu menyentuh atau menghantam pelindung tersebut.


Sementara Vossler dan Jean terlihat memacu kuda mereka maju menghadang dua kelompok kesatria tadi. Masing-masing menangani 6 ksatria.


Namun keanehan terjadi. Kedua belas ksatria dalam dua kelompok tadi, tidak mampu menahan Jean dan Vossler. Yang posisinya adalah enam banding satu.


Percival tampak tidak percaya saat sabetan pedang Vossler atau Jean yang tampak tidak terlalu kuat menyentuh zirah mampu menjatuhkan para ksatria nya. Bahkan anehnya lagi, para ksatria itu jatuh bersama dengan kuda-kuda mereka. Seolah senjata Vossler dan Jean mengandung sihir pelumpuh.


.


Melihat dua belas rekannya tumbang saat berhadapan hanya dengan dua orang saja, membuat dua kelompok yang sedang memutar kebelakang kereta itu, kini mulai balik mengarah ke posisi Vossler dan Jean berada.


Namun di saat mereka sedang merubah arah kuda mereka, tiba-tiba petir menyambar dari atas ke kedua kelompok ksatria tersebut. Baik yang berada disisi kiri maupun sisi kanan kereta kuda. Dan membuat ledakan dasyat diatas tanah, yang mengacaukan formasi kuda mereka. Beberapa ksatria tampak jatuh dari kuda mereka.

__ADS_1


Melihat para ksatria nya dikalahkan hanya oleh tiga orang saja, membuat Percival mulai naik daraih. Ksatria berhelm besi itu segera memacu kudanya menyerang Vossler. Ia sudah siap mengayunkan pedangnya.


Sedang Vossler terlihat bersiap untuk menerima sabetan pedang Percival.


Kemudian terdengar suara nyaring dua pedang beradu.


"Sudah hentikan semua ini. Dan biarkan kami lewat" ujar Vossler masih menahan pedang Percival dari atas kudanya.


"Apa yang kau lakukan terhadap para bawahan ku?" Tanya Percival yang terdengar emosi dari balik helmnya.


"Mereka tidak terluka. Mereka hanya lumpuh sementara. Sudah hentikan semua ini dan biarkan kami lewat" jawab Vossler yang masih mencoba menahan tekanan pedang yang diberikan oleh Percival.


"Langkahi dulu mayat ku" suara Percival terdengar nyaris seperti sedang mengerang.


"Aku sudah menduga kau akan menjawab seperti itu. Jadi apa boleh buat" ujar Vossler yang kemudian tampak menekan semacam pelatuk digagang pedangnya bagian atas.


Yang kemudian, secara tiba-tiba tubuh Percival mengejang kaku, lalu jatuh lemas bersama dengan kudanya keatas tanah.


"Berhenti! Pemimpin kalian sudah jatuh" teriak Jean mencoba menghentikan beberapa ksatria yang sedang bertarung melawan Parpera dan dua ksatria bawahan Vossler di dekat kereta kuda Lucia.


.


"Sepertinya semua sudah terkendali. Ucap Amithy dari balik jendela. Mencoba memantau keadaan di luar.


"Benar. Senjata yang Aksa buat itu bebar-benar sangat hebat" saut Lucia yang berada disebelah Amithy, yang juga ikut memantau keadaan di luar.


"Sepertinya kita sudah bisa melanjukan perjalanan" ucap Parpera ketika ia sudah kembali berada di dalam kereta bersama Lucia dan Amithy.


"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Amithy kepada Parpera yang terlihat tidak terlalu kuatir. Itu karena ia tahu kemampuan pelindungnya tersebut.


"Mereka mencari masalah dengan penyihir yang salah" jawab Parpera ringan.


"Seperti yang diharapkan dari seorang Penyihir Bulan" ujar Lucia memuji Parpera. Yang hanya ditanggapi gadis penyihir itu dengan anggukan sopan dan senyuman kecil.


Dan kemudian kereta kuda Lucia mulai melanjutkan perjalanan, meninggalkan Perciva, yang tampak sedang dibopong berdiri oleh beberapa anak buahnya, dibelakang.


"Meski kita berhasil menghindari hal yang tidak kita inginkan, namun tetap saja hal ini akan berujung panjang" ujar Amithy yang terlihat memandang para ksatria dibelakang mereka. "Kita sudah menjatuhkan pasukan keamanan kerajaan Urbar" tambahnya terdengar sangat kuatir.


-

__ADS_1


__ADS_2