Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
Antology 8


__ADS_3

"Jadi masalah kita sekarang adalah keamanan di wilayah selatan ini. Dan saat ini kita sedang kekurangan tenaga untuk masalah tersebut," ucap Mateus membuka pertemuan Kabinet yang diadakan di kota Varun beberapa hari kemudian.


Pertemuan itu dihadiri oleh Orland, selaku penanggung jawab penuh terhadap seluruh wilayah kerajaan Rhapsodia. Amithy, sebagai penanggung jawab masalah pembangunan di wilayah selatan, yang mencakup Provinsi Timur dan Provinsi Barat.


Lalu ada Vossler dan Evora yang bertanggung jawab atas pasukan keamanan di perbatasan Provinsi Timur dan Provinsi Barat dengan kereajaan lain. Kemudian ada Cedrik yang bertanggung jawab atas keamanan wilayah mencakup seluruh Provinsi Barat, dan Margaret yang bertanggung jawab atas keamanan wilayah yang mencakup seluruh Provinsi Timur.


Setelah itu masih ada Mateus yang menjabat sebagai wakil dari Amity, yang juga kepala pemerintahan Provinsi Timur. Dan Nadir, seorang bangsawan sahabat Mateus yang kini menjabat sebagai kepala pemerintahan Provinsi Barat.


Enam orang itu duduk melingkar di depan meja bundar di salah satu ruangan dalam gedung pemerintahan kota Varun.


"Dan tidak seperti dua bulan yang lalu, sekarang para bangsawan kepala Estat yang melakukan pemberontakan itu seolah sudah mulai bersatu. Gerakan mereka mulai tertata satu dengan yang lain. Dan itu berdampak sangat buruk untuk pihak kita," ucap Mateus melanjutkan. "Sekarang ini harapan kita adalah sebiah rencana, bantuan berupa prajurit, atau senjata yang dapat digunakan untuk mengatasi para pemberontak tersebut," tambahnya kemudian.


"Untuk sebuah rencana besar yang biasa kita dapat dan juga senjata baru, untuk waktu dekat ini tidak bisa kita mengharapkannya terlebih dahulu," jawab Orland dengan sedikit lesu.


"Apa kabar bahwa Tuan Nata dan Tuan Aksa yang tidak dapat dihubungi itu benar?" tanya Nadir, pria Narva setengah baya dengan kumis melintang yang duduk di sebelah Mateus.


"Sudahlah, Tuan Nadir. Kita tidak perlu membahas tentang hal tersebut. Sekarang ini tujuan utama kita adalah mencari solusi yang paling tepat untuk permasalah ini," jawab Orland yang mencoba menghidari topik tersebut.


"Tapi itu juga hal yang penting untuk kita tahu, Tuan Orland. Setidaknya dengan mengetahuinya, kita jadi bisa tahu apa yang seharusnya kita harapkan," ucap Nadir menimpali.


"Saya setuju dengan Tuan Nadir. Apa yang sebenarnya tengah terjadi, Tuan Orland?" Kali ini Vossler yang menambahi. "Bahkan Yang Mulia Ratu juga jarang sekali ikut menghadiri pertemuan Kabinet wilayah Selatan ini. Tidak sedikit orang yang mulai membicarakan tentang hal ini. Dan itu membuat kuatir bukan hanya para pekerja di Wilayah Selatan ini, tapi juga prajurit dan warga," ucapnya kemudian.


"Kabar seperti itu memang cepat sekali tersebar," ujar Amithy lirih.


"Yah... untuk Sang Ratu, saat ini beliau sedang sibuk mengurusi masalah Elbrasta yang semakin bertambah rumit," jawab Orland setelah mengambil nafas panjang. "Mungkin kalian sudah mendengarnya, bahwa ternyata putra pertama Raja Sebastian, Grevier, masih hidup. Dan sekarang ia tengah melakukan serang balik untuk mengambil alih kotaraja," ucapnya kemudian menjedah. "Maka dari itu, beliau menyerahkan seluruh masalah Wilayah Selatan ini kepada kita, sementara beliau akan fokus untuk mengatasi masalah dengan kerajaan Elbrasta," lanjutnya kemudian.


"Lalu, mengenai Tuan Aksa dan Tuan Nata?" tanya Nadir kemudian.


"Sebenarnya dua pemuda itu bukan mengunci diri dalam Mahan Staan. Dua pemuda itu hilang. Mereka tidak dapat ditemukan di manapun di Wilayah Pusat maupun area di sekitar tempat ini," ucap Orland yang terlihat ragu.


"Benarkah?!" Hampir semua orang yang ada di tempat itu tampak terkejut. Hanya Amithy saja yang tampaknya sudah mengetahui mengenai hal tersebut selain Orland.


Kemudian tampak semua orang hanya terdiam. Mereka mulai menduga liar tentang penyebab dan kemana Aksa dan Nata menghilang.


"Tapi jangan sampai kabar ini menyebar. Kita masih mencoba mencari mereka saat ini," ucap Orland kemudian memberi larangan.


"Jadi siapa saja yang sudah mengetahui hal ini, Tuan Orland?" tanya Mateus yang tidak dapat menutupi rasa keterkejutannya.


"Hanya kita, kemudian Tuan Couran, Nona Rafa, Caspian, nona Luna, dan Sang Ratu," jawab Orland cepat. "Selama tidak dibutuhkan, ku harap kalian juga tidak membagikan kabar ini ke orang lain," tambahnya memastikan.


"Ini hal yang besar, Tuan Orland." ujar Vossler yang terlihat sedang memikirkan sesuatu. Tatapannya menerawang menembus meja.


"Benar. Tapi bukan berarti tanpa keberadaan mereka berdua, kita jadi tidak dapat mempertahankan wilayah kita sendiri, kan?" sahut Orland yang mencoba menaikan semangat semua orang yang ada di dalam ruangan tersebut.


"Itu benar. Jadi lebih baik sekarang kita gunakan waktu kita untuk memikirkan solusi tentang masalah yang sedang terjadi." Mateus ikut menambahi.


"Bagaimana dengan prajurit Yllgarian?" Amithy mencoba memberikan masukan.


"Kita bisa mengerahkan prajurit Yllgarian untuk membantu, tapi dengan gerakan para pemberontak yang tidak bisa diperkirakan arah tujuannya, akan jadi percumah saja, Nyonya Amithy." Kali ini Evora sang Yllgarian Buring Hantu yang menjawab.


"Benar, kita tidak mungkin melakukan penjaga seharian penuh di setiap tempat bahkan dengan bantuan dari para Yllgarian sekalipun," Vossler menambahi. Yang disetujui oleh Cedrik dan Margaret dengan anggukan pendek.


"Lalu bagaimana menurut Anda, Tuan Vossler?" Nadir bertanya.


"Menurut saya, yang perlu kita lakukan sekarang ini adalah melindungi beberapa hal yang kita anggap penting dan membiarkan hal-hal yang dapat dibiarkan untuk sementara waktu ini," jawab Vossler memberikan pendapatnya.


"Tapi sampai kapan? Sampai mereka kehabisan sumber daya?" tanya Nadir lagi. "Kita tidak bisa terus-terusan seperti ini. Menurut saya kita perlu menumpas mereka sampai ke akarnya secepat mungkin," lanjutnya dengan memberikan pendapat.


"Saya setuju kita memang harus menumpas mereka dengan secepatnya. Tapi masalahnya, kita perlu mengerahkan banyak prajurit untuk melakukan penumpasan tersebut. Mungkin kita bisa tunggu sampai prajurit kita sudah benar-benar siap," ucap Vossler menjawab.


"Dan juga para pemberontak itu tidak akan kehabisan sumber daya. Pasti ada orang yang mendanai mereka dari belakang," potong Orland kemudian.


"Apa mungkin kerajaan lain ikut campur?" Amithy bertanya.


"Bisa jadi. Meski mereka menerima perjanjian damai dan perjanjian dagang yang sudah kita ajukan, tapi aku yakin mereka pasti akan tetap mencari celah untuk menjatuhkan kita," jawab Orland kemudian.


"Bila memang begitu, hal ini akan semakin memperburuk keadaan kita." Nadir kembali angkat bicara. "Mereka akan lebih berani bertindak bila mendapati kita tidak mampu meredam kekacauan seperti ini," ujarnya menambahi.


"Benar juga," celetuk pendek Mateus.


"Seperti halnya wilayah laut, sudah saatnya juga kita melakukan sesuatu dengan para bajak laut yang mengganggu jalur laut kita dengan wilayah Utara." Nadir melanjutkan ucapannya.


"Masalah yang terjadi di laut itu juga sama. Kita tidak memiliki cukup tenaga untuk menggerakan lebih dari tiga kapal besi. Dan hanya dengan tiga kapal saja. Sulit untuk melakukan patroli di area yang cukup luas itu." Orland menjawab.


"Apa Nona Anna tidak ikut serta dalam melakukan pengamanan wilayah laut?" tanya Cedrik memotong penjelasan Orland.


"Tidak. Itu karena Nona Anna sedang berkonsentrasi untuk mengurusi pembangunan Pesisir Barat Wilayah Pusat." Orland menjawab.


"Tapi bila hal ini dibiarkan lebih lanjut, maka pandangan warga di wilayah yang terkena dampak permasalahan tersebut akan menurun terhadap kita. Dan hal tersebut dapat menimbulkan pemberontakan yang lebih besar lagi," ucap Nadir menimpali. "Kota-kota di wilayah tersebut mungkin akan mencoba melepaskan diri dari wilayah kita," tambahnya kemudian.


"Ya, Aku sadar betul akan hal tersebut. Tapi meskipun begitu, kita harus tetap mengusahakan hal yang tebaik untuk mencegahnya," jawab Orland dengan tidak bersemangat.


-

__ADS_1


-


"Yang kudengar dari pelaut yang melakukan patroli sekarang ini, jalur laut dari Kota Xin menuju ke utara sering diganggu oleh para bajak laut," ucap Nikolai dari tempat duduk di hadapan Anna, di sebuah balkon lantai dua yang menghadap ke arah laut dan langit senja.


Tempat itu adalah kediaman Anna yang baru. Yang dibangun tepat di pinggiran tebing sebelum bangunan dermaga tambahan yang menjorok ke atas perairan dangkal. Tak jauh dari galangan kapal yang tampak masih setengah jadi.


"Ironis sekali, sekarang mereka melakukan sesuatu yang pernah aku lakukan," ucap Anna yang masih memperhatikan jalanan di atas dermaga dan pembangunan galangan kapal yang sudah mulai berhenti untuk hari ini. Angin hangat dari darat mulai bertiup sepoi.


"Dan sepertinya semua itu didalangi oleh Galvin dan Arias," ucap Nikolai lagi memberi tahu.


"Bukannya seingatku dulu Galvin sudah tertangkap dan di bawa ke kota Wang?" Kali ini Anna mengarahkan pandangannya kepada Nikolai.


"Sepertinya ia berhasil kabur setelah pemberontak menyerang fasilitas penting di kota tersebut," jawab Nikolai menjelaskan.


"Oh, begitu ternyata." Anna menanggapi. "Dan apa bajak laut itu banyak membawa korban?" lanjutnya dengan pertanyaan.


"Tidak banyak. Karena setelah itu orang-orang mulai menggunakan jalur darat memutar untuk menuju ke wilayah utara," ucap Nikolai menjawab.


"Sebentar lagi setelah galangan kapal kita selesai, kita bisa mulai membuka jasa penyeberangan kapal laut yang akan membuat orang kembali merasa aman melakukan perjalanan melewati lautan," ujar Anna menimpali.


Nikolai menatap Anna dengan senyuman kecil. "Apa kau tidak rindu untuk berlayar lagi, An?" tanyanya kemudian.


"Aku bisa melakukan hal itu sepanjang hidup ku nantinya. Namun sekarang ini yang terpenting adalah membangun wilayah ini terlebih dahulu." Anna kembali menatap ke arah pembangunan galangan kapal yang tampak sudah mulai sepi orang, seiring dengan semakin bertambah gelapnya langit. "Tanggung jawab kita sekarang adalah untuk memastikan orang-orang yang tinggal di wilayah ini merasa kecukupan dan diperlakukan secara adil," ucapnya lagi menambahi.


"Wah, sedari tadi kuperhatikan kau sudah mulai berubah, An. Semenjak serangan kita ke wilayah selatan kemarin." Nikolai mulai mengungkapkan hal yang sedari tadi ia pikirkan tentang Anna.


"Ya, kurasa memang begitu." Anna menjawab dengan tenang. "Banyak sekali yang telah terjadi selama beberapa bulan terakhir ini," tambahnya kemudian.


"Apa kau sudah berdamai dengan dirimu?" tanya Nikolai lagi.


"Entahlah, Nik. Tapi yang jelas aku sudah tidak semarah dulu terhadap segala hal," jawab Anna kemudian dengan senyum tipis mengembang.


"Ya, aku juga melihatnya seperti itu. Sekarang kau jadi terlihat lebih tenang. Telihat lebih seperti seorang kapten yang sesungguhnya," jawab Nikolai dengan bercanda.


"Oh, kau hilang apa? Aku memang seorang kapten yang sesungguhnya." Terlihat Anna berpura-pura marah.


"Apa kau tidak ingin melihat keadaan kota Xin?" tanya Nikolai lagi, dengan nada yang lebih pelan.


"Mungkin tidak untuk waktu dekat ini. Tapi kurasa kota itu akan baik-baik saja dibawah kepemimpinan Tuan Sabil," jawab Anna cepat.


"Sore, Nona Anna! Tuan Nikolai!" Tiba-tiba terdengar seruan dari arah jalanan di luar kediaman Anna.


"Oh, Nona Ende, Tuan Sigurd," balas Nikolai begitu ia sudah berdiri dari kursinya dan mendapati Ende yang sedang berdiri di jalanan yang terbuat dari kayu di bawah balkon, tampak melambai kecil di sebelah Sigurd.


Di saat yang bersamaan lampu-lampu penerangan jalan mulai menyala satu demi satu di sepanjang jalan tersebut. Kuning muram, mencoba mengimbangi cahaya di langit yang semakin meremang. Terdengar pula suara dengung dari bola lampu saat dialiri oleh listrik.


"Benar, Nona Anna. Ende sudah tidak sabar untuk segera menempatinya," jawab Sigurd kemudian seraya mendongak menatap Anna dan Nikolai.


"Hentikan itu, Sig! Jangan dengarkan omong kosong Sigurd, nona Anna," sahut Ende yang terlihat sedikit kesal.


"Kenapa, Nona Ende? Apa kota Pesisir Barat ini tidak sebagus kota-kota lainnya di kerajaan Rhapsodia, hingga Anda tidak mau tinggal di tempat ini?" tanya Anna kemudian.


"Benar sekali. Apa kau tidak melihat peluang di kota ini? Kota ini sedang berkembang dengan pesat, En? Galangan kapal itu, dan juga area yang akan menjadi tempat hiburan di atas perairan dangkal itu, apa kau tidak melihat hal tersebut sebagai peluang untuk ke depannya?" Siguard sengaja menambah-nambahi ucapan dari Anna.


"Oh, dan juga masih ada Mercusuar yang akan menjadi Suar Pembimbing bagi dunia, yang akan menjadi kebanggaan kota ini. Bukan... tapi kebanggaan kerajaan ini," tambah Sigurd lagi seraya menunjuk ke arah tebing di sebelah kanan kediaman Anna. Yang mana berdiri sebuah bangunan seukuran dua kereta kuda yang berbentuk seperti menara jaga dengan tinggi tiga kali tinggi benteng kota pada umumnya. Dan sebuah ruangan kaca melingkar di bagian puncaknya. Yang memancarkan sebuah cahaya kuning terang dari dalamnya.


"Sudah jangan mulai, Sig" sergah Ende dengan segera. Terlihat ia mulai benar-benar kesal kepada Sigurd. "Bukan begitu maksud saya, Nona Anna. Saya memang tidak mau menjadi pengurus cabang manapun. Karena saya tidak suka dengan pekerjaan mengurusi kertas dan hanya diam saja di balik meja," ucapanya buru-buru berusaha menjelaskan maksud perkataannya kepada Anna, agar tidak menimbulkan kesalahpahaman. Yang kemudian ditanggapi oleh yang lain dengan tawa.


"Mampirlah kemari. Saya akan buatkan teh," undang Nikolai kemudian.


"Terima kasih, Tuan Nikolai. Tapi kami sedang buru-buru. Sebelum kereta terakhir berangkat," jawab Ende kemudian menolak undangan Nikolai.


"Apa kalian ingin cepat-cepat pulang? Sekarang masih terlalu siang untuk pulang ke rumah, apa lagi bagi seorang petarung dan petualang seperti kalian berdua," balas Nikolai.


"Hahaha... benar sekali Tuan Nikolai. Kami berencana menuju ke Bar di kota Tengah untuk minum-minum. Seharian terkena angin laut membuat saya merasa kurang enak badan." Ende menjawab sambil tertawa.


"Bagaimana kalau Anda berdua ikut bergabung dengan kami ke Bar?" Kali ini ganti Sigurd yang mengundang Anna dan Nikolai.


"Terima kasih, Tuan Sigurd. Tapi, kami berdua sudah terlalu banyak minum dari sepagian tadi," jawab Anna menolak ajakan Sigurd.


"Hahaha... Luar biasa memang kapten kita yang satu ini. Baiklah kalau begitu, kami permisi dulu. Kami harus mengejar kereta," ucap Sigurd kemudian.


"Ya sudah kalau begitu, hati-hati lah kalian." Anna melambai kecil bersama dengan Ende dan Sigurd yang berjalan menuju ke dinding tebing di sisi timur. Tempat dimana Stasiun Kereta dibangun di baliknya.


.


Ende dan Sigurd bertemu dengan kenalan mereka saat kereta yang mereka tumpangi berhenti di stasiun yang terletak tak jauh dari tempat Selene, untuk menaikan dan menurunkan penumpang.


Kenalan mereka itu adalah orang baru di wilayah tersebut. Baru sebulan setengah membuka sebuah toko pakaian di sekitar area Stasiun Kota, berseberangan dengan markas utama Bintang Api di kota Tengah.


Pria Morra bernama Elcid itu memiliki gaya berpakaian yang esentrik. Nyaris seperti gaya berpakaian Aksa. Jas mewah khas para bangsawan yang dikenakannya memiliki tudung kepala berwarna coklat muda. Dipadu dengan celana bangsawan yang memiliki warna senada, namun dengan ornamen seperti rumbai bertali pendek terpasang di sepanjang sisi luar bagian kakinya.


Rambutnya yang ikal dibiarkan terurai menutupi separuh sisi telinganya. Tampak walau samar, bibirnya diwarna merah seperti yang sering dilakukan para perempuan bangsawan saat berdandan.

__ADS_1


"Hai, Nona Ende, Tuan Sigurd, apa kabar kalian?" Sapa Elcid dengan nada sedikit gemulai. Yang kemudian mengenyakan diri di kursi di depan Ende dan Sigurd duduk. Kursi mereka saling berhadapan.


"Baik, Tuan Elcid. Apa Anda sedang mencari bahan untuk pakaian Anda?" jawab Sigurd yang dilanjut dengan pertanyaan.


"Benar sekali, Tuan Sigurd. Sekarang ini syal dari bulu rubah Ekor Belah itu sangat digemari oleh pasar, Anda tahu?" jawab Elcid dengan gerakan tangan yang terlihat berlebihan.


"Dan apa Tuan Selene memiliki bulu rubah tersebut?" Kali ini Ende yang bertanya ketika Elcid mulai sibuk memeriksa sesuatu di dalam tasnya.


"Ada, namun sayangnya hanya ada dua saja," jawab Elcid seraya mengeluarkan gulungan kecil kulit berbulu, yang kemudian ia tunjukan kepada Ende dan Sigurd. "Tapi tidak bisa disalahkan juga, karena Tuan Selene hanya menggunakan bulu dari hewan yang sudah mati di tempat ini," lanjutnya menjelaskan.


"Dan juga meski tempat penangkaran milik Tuan Selene itu cukup besar, namun jumlah populasi hewan-hewan di tempat itu tidak terlalu banyak." Sigurd menambahi. "Mungkin Anda bisa mencarinya di wilayah Daratan Utara. Karena populasinya yang terlalu besar, jenis hewan tersebut diburu di sana," ucapnya kemudian memberikan masukan.


"Oh, benarkah? Tapi kenapa Bintang Api tidak membuka jasa untuk berburu hewan? Akan lebih baik bila saya menggunakan jasa orang-orang yang sudah saya tahu kemampuannya." Elcid menjawab masih dengan gerak tangan yang tidak perlu.


"Jasa untuk berburu hanya dibuka di cabang wilayah selatan saja, Tuan Elcid. Tidak di wilayah Pusat ini. Karena sudah tidak ada hewan buas yang harus di buru di wilayah ini," jawab Ende yang terlihat masih mengamati gulungan bulu milik Elcid tadi.


"Kurasa kalian benar, mana mungkin tempat seperti ini ada binatang buasnya?" ucap Elcid seraya menunjukan pemandangan yang ada di luar jendela kereta.


"Kurang lebih setahun yang lalu, tempat ini dipenuhi dengan binatang buas, Tuan Elcid." Sigurd berucap.


"Benarkah?"


"Benar. Saya masih ingat dengan jelas, harus memburu beberapa Hyena Padas dan Antelop Cinder di sekitar wilayah ini. Di wilayah padas yang luas dan berdebu. Yang jadi dingin dan gelap saat malam menjelang," jawab Sigurd kemudian. "Tapi sekarang, lampu penerangan hampir selalu ada ditiap sudut wilayah. Ada jalan yang terlihat kokoh dibangun di sepanjang rel kereta ini. Dan bahkan beberapa kereta besi terlihat ramai berlalu lalang di jalan tersebut," lanjutnya sambil menunjuk ke pemandangan yang terlihat dari balik jendela kereta.


"Itu karena ada pos yang di bangun di tiap jarak tertentu untuk berjaga di sepanjang jalur ini. Jadi para penduduk tetap merasa aman berjalan di area-area yang masih sepi." Ende memotong ucapan Sigurd.


"Belum lagi Air Terjun itu," sahut Elcid tiba-tiba saat bukit bendungan mulai terlihat dari jendela, berlatar bulan yang baru saja muncul di langit malam. "Dan juga sungai-sungai yang mengalir disekitarnya. Yang terlihat seperti dipenuhi berlian, saat terpantul oleh sinar rembulan. Semua itu adalah maha karya yang sangat agung," tambahnya kemudian dengan penuh ekspresi.


"Anda baik-baik saja, Tuan Elcid?" tanya Ende tanpa sadar apakah pertanyaan tersebut dapat menyinggung Elcid atau tidak.


"Ya... Oh, maafkan saya. Malam bulan purnama seperti ini selalu membuat sisi romantis saya bergejolak," jawab Elcid yang kemudian menutup mata dan menyentuhkan tangan kanannya ke dada dengan penuh penghayatan.


Tampak Ende dan Sigurd saling berpandangan dalam diam. Ende terlihat mencoba untuk tersenyum, sementara Sigurd terlihat sedang berusaha menahan tawanya.


"Semua itu tadi dibangun oleh pemuda bernama Aksa," ucap Ende mencoba mengalihkan situasi yang terasa canggung baginya.


"Ya, saya sudah mendengar tentang cerita itu. Tapi sayangnya saya belum pernah bertemu langsung dengan maestro yang telah menciptakan maha karya seperti itu. Kemana sebenarnya Tuan Aksa berada saat ini?" Elcid masih berucap dengan gaya penuh penghayatan. Yang menyebabkan Sigurd semakin terlihat berusaha lebih keras untuk terus menahan tawanya.


"Dari yang saya dengar, mereka sedang mengurung diri di dalam gua di dasar jurang Ceruk Bintang," Sigurd mencoba menjawab untuk mengalihkan perhatiannya dan membuatnya berhenti untuk tertawa.


"Mengurung diri di dalam gua?" tampak Elcid terkejut dengan ekspresi yang berlebih.


"Mereka memang orang-orang yang aneh. Pemikiran mereka tidak seperti orang normal pada umumnya," sahut Ende menimpali.


"Jelas, orang yang memiliki kemampuan menciptakan maha karya seperti itu, tidak akan setingkat dengan manusia pada umum. Saya mungkin sedikit bisa mengerti mengapa ia harus mengurung diri di dalam gua saat ini. Pasti karena intuisi telah memanggil dan menggerakannya," ucap Elcid menanggapi perkataan Ende.


Mendengar tanggapan dari Elcid tersebut membuat Sigurd tanpa sadar tertawa pendek dengan bersuara, yang kemudian dengan buru-buru ia hentikan seraya menutupkan tangan ke arah mulutnya.


-


Sementara itu di kediaman Anna, tampak wanita itu sedang makan malam berdua saja dengan keponakannya, Gale. Karena di kediaman itu sekarang hanya ditinggali oleh mereka berdua saja.


Nikolai dan beberapa pengurus yang sering terlihat di kediaman Anna saat pagi, telah membangun rumah mereka di sekitaran tebing tersebut. Sehingga ketika dilihat dari laut, area itu tampak seperti bangunan-bangunan yang sengaja di tempelkan secara acak di sisi sebuah tebing.


"Kau pulang telat hari ini, Gale?" tanya Anna membuka pembicaraan dengan bocah berusia 9 tahun itu.


"Ya, karena tadi aku mampir ketempat Tuan Selene untuk membantunya mengurus Hewan Mistik," jawab Gale dari tempat duduk di seberang meja di hadapan Anna.


"Oh, kau tertarik dengan hewan-hewan itu?" tanya Anna setelah meneguk air dalam gelasnya.


"Benar. Hewan-hewan itu pintar dan juga hebat," jawab Gale terlihat bersemangat.


"Tapi tetap saja mereka adalah hewan buas. Jadi jangan mendekati mereka bila tanpa pengawasan Tuan Selene. Mengerti?" Anna terdengar memberi peringatan.


"Iya-iya, aku mengerti." Gale menjawab sekenanya.


"Lalu bagaimana kegiatanmu di sekolah?" Anna bertanya lagi melanjutkan topik pembicaraan.


"Hm.. biasa saja," jawab Gale yang sudah selesai dengan porsi makannya. "Hanya saja, beberapa minggu yang lalu kelas kami kedatangan dua orang Pangeran," lanjutnya bercerita dengan nada yang kembali terdengar antusias dan bersemangat.


"Pangeran?" tanya Anna yang terlihat bingung.


"Benar, menurut Herman mereka adalah pangeran dari kerajaan Elbrasta," Gale mencoba menjelaskan.


"Oh, apa yang kau maksud Tuan Alexander dan Tuan Eden?" Anna mulai paham dengan hal yang sedang dibicarakan oleh keponakannya itu. "Jadi mereka berdua mengikuti sekolah bersama yang lain di kota Tengah?" tanyanya kemudian yang sebenarnya ditujukan untuk dirinya sendiri.


"Benar, tapi Alexander itu selalu saja terlihat sedih. Susah sekali mengajaknya bermain. Beda dengan adiknya, Eden. Kami-- maksudnya aku, Andele, dan Matt, lebih suka bermain dengan Eden." Gale melanjutkan ceritanya. "Hanya Herman yang selalu menemani Alexander," tambahnya kemudian.


"Tapi, apa kau belajar dengan giat di sekolah?" Anna bertanya lagi.


"Sudah pasti. Karena aku tidak mau kalah dari Andele. Dia hanya unggul dalam perhitungan saja. Aku unggul dalam Kimia dan Biologi," jawab Gale yang menjelaskan dengan nada sombong.


"Apa itu Kimia dan Biologi?" Anna kembali tidak mengerti dengan apa yang sedang dibicarakan oleh bocah di hadapannya itu.

__ADS_1


"Oh, Bibi An... kau ketinggalan jaman sekali. Kau seharus juga ikut sekolah bersama kami," jawab Gale sambil menggelengkan kepalanya dengan ekspresi pasrah.


-


__ADS_2