Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
27.5. Joan Story : Kemarahan


__ADS_3

"Apa yang sebenarnya sedang kau pikirkan?!" Seorang pria Narva ber wajah tirus dengan dagu lancip dan kantung mata yang membuatnya terlihat seperti sedang kelelahan, tampak berteriak kearah Tyrion.


Pakaiannya terlihat sangat mewah dan berkilauan. Ada jubah putih beludru di pundaknya yang jatuh menutupi separuh bagian depan pakaian tersebut. Tampak sebuah mahkota serupa gelang emas seukuran satu jari orang dewasa mengelilingi kepalanya. Pria itu adalah raja kerajaan Urbar. Gladius Grandland.


Sedang Joan terlihat berlutut mengkerut di sebelah Xiggaz, di ujung ruang tahta tersebut. Seperti sedang menunggu hukuman.


Seminggu setelah pihak Pharos melancarkan serangan balik dan berhasil menguasai tiga wilayah Estat selain kota Xin dan kota Varun dalam waktu yang hampir bersamaan.


Dan tiga hari setelah serangan ke tiga Estat tersebut, pihak Pharos mengirimkan surat tuntutan kepada kerajaan Urbar untuk menyerahkan orang yang bertanggung jawab atas penyerangan ke wilayah mereka. Atau mereka akan meneruskan serangan mereka ke wilayah merajaan Urbar yang lain.


Dan alasan Joan dan Xiggaz ada diruang tahta sekarang adalah untuk menemani tuannya, Tyrion, yang dipanggil menghadap raja kerajaan Urbar untuk bertanggung jawab akan hal tersebut.


Tampak pula di ruangan itu, beberapa pemimpin Estat yang mengalami kerugian. Mereka hadir untuk menuntut pertanggung jawaban dari Tyrion.


"Kau sudah menghilangkan sebagian besar senjata mistik yang kita punya. Dan kau tidak mendapatkan hasil apapun. Malah sekarang mereka menggunakan senjata mistik tersebut untuk menyerang wilayah kita dan mengancam kita seperti ini. Itu benar-benar sangat memalukan!" Sang raja terlihat sangat marah dan kecewa.


Tyrion hanya diam berlutut seraya menunduk dihadapan singgasana raja.


"Belum lagi hampir seluruh prajurit kerajaan ini kau kirim semua untuk mengambil alih kota Xin yang juga masih tidak membuahkan hasil" sang raja berucap lagi. "Bagaimana kita akan menghadang bila kerajaan lain menyerang kita dari selatan dan dari barat, sekarang? Apa jangan-jangan tujuanmu sebenarnya adalah untuk menghancurkan kerajaan ini dari dalam?!" Nada ucapan sang raja makin meninggi.


"Bukan seperti itu paduka" saut Tyrion cepat begitu mendengar tuduhan dari sang raja.


"Diam! Jangan berani-beraninya kau menjawab!" Teriak sang raja membalas dengan cepat.


Tidak hanya Tyrion yang segera diam dan kembali menekuk wajahnya kebawah. Namun hampir seluruh orang diruangan tahta itu melakukan hal yang sama karena merasa takut mendengar kemarahan sang raja.


"Sekarang berlakulah ksatria dan serahkan dirimu pada mereka" sang raja mencoba mengatur emosinya.


"Maaf paduka raja. Saya pasti akan bertanggung jawab secara penuh dengan apa yang sudah saya perbuat. Namun bila paduka mengikuti tuntutan dari mereka, maka nama kerajaan Urbar akan diijak-injak" Tyrion menjawab yang membuat semua orang yang ada ditempat tersebut menahan nafas.


Sang raja yang tampak kesulitan menahan emosinya kini kembali meledak-ledak lagi. "Dan siapa yang menyebabkan hal itu?! Kau dan seluru rencanamu untuk melakukan serangan ke tanah mati itulah yang membuat harga diri kerajaan ini di ijak-injak" ujar sang raja dengan nada yang kembali meninggi. "Meski kau sudah berhasil membawa perdamaian di tanah suci, namun hal tersebut tidak akan menghapus kesalahan mu yang kali ini" tambah sang raja lagi.

__ADS_1


Tyrion diam tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Namun dari belakang, Joan bisa melihat bahwa tubuh tuannya itu bergetar pelan. Itu hal yang sering ia lihat saat Tyrion sedang menahan emosi dan merasakan kemarahan yang sangat besar.


"Mulai hari ini kau diturunkan dari jabatanmu sebagai penasehat ku" raja kembali berucap.


"Beri saya satu kesempatan lagi, paduka raja. Saya akan menebus segala kesalahan saya" dengan segera Tyrion berucap begitu mendengar keputusan dari sang raja.


"Apa yang akan kau lakukan untuk menebus segala kesalahan ini, Tyrion?" Sang raja kembali berucap. Kali ini ia mulai sedikit lebih tenang. Meski nada suaranya tidak juga menurun. "Mereka meminta orang yang bertanggung jawab terhadap penyerangan ini. Dan itu adalah kau, Tyrion. Dan dengan cara itulah kau akan menebus segala kesalahanmu pada kerajaan ini" tambahnya kemudian.


"Paduka raja, kita masih memiliki kekuatan dari Tanah Suci" jawab Tyrion lagi dengan cepat.


Kali ini bukan hanya sang raja yang terlihat geram akan jawaban Tyrion tersebut. Terdengar dengus cemooh dari para penguasa lain yang berdiri dibelakangnya.


"Apa kau sudah dibutakan ambisi, Tyrion?! Mereka menunjukan kekuatan yang mampu mengungguli kita. Kekuatan apa lagi yang kita punya? Dua belas senjata mistik saja masih tidak bisa mengalahkan mereka. Apa kau akan menyarankan untuk mencari lebih banyak lagi senjata mistik?!" Sang raja mencoba menjawab Tyrion dengan emosi yang ditahan.


Sang raja masih mencoba berlaku sopan dan menahan diri untuk menghadapi Tyrion, karena raja melihat jasanya terhadap kerajaan. Yang telah berhasil menguasai tanah suci Nezarad dan menghentikan peperangan panjang tiga kerajaan.


"Namun setidaknya kita harus mengambil wilayah strategis kita, paduka raja" Tyrion mencoba mempertahankan pemikirannya.


Joan tahu bahwa tuannya itu keras kepala. Namun ia merasa kali ini tuannya sudah keterlaluan dan sangat tidak masuk akal.


Dan tak lama kemudian masuk dari balik pintu dibelakang Tyrion, seorang pria Narva setengah baya dengan pakaian bangsawan yang tidak terlalu mencolok. Joan mengenalnya sebagai penasehat raja sebelum Tyrion.


Tyrion menoleh menatap pria bernama Chris itu masuk. Wajahnya mulai memerah. Sementara ruangan terdengar mulai sedikit riuh oleh bisik-bisik para penguasa perihal kedatangan mantan penasehat raja tersebut.


"Chris akan kembali menjabat menggantikan mu mulai sekarang" ujar sang raja memberikan pengumuman yang membuat para penguasa menjadi lebih ribut. "Sekarang Chris, coba berikan pendapatmu bila kita terus melakukan perlawanan ke tanah mati tersebut" perintahnya lagi.


Chris berdeham sebentar sebelum memulai berucap. "Jadi apa yang akan terjadi bila peperangan ini kita lanjutkan?" Ucapnya kemudian memulai memberikan pendapat. "Pertama, bila pun kota Xin bisa kita rebut. Apa kita bisa menjamin bahwa jalur perdagangan kita dengan wilayah utara bisa pulih? Bahkan seluruh armada kapal kita tidak mampu mengatasi satu kapal mereka. Belum lagi kereta besi yang mereka punya, yang mampu menembus gerbang kota dalam sekali hantam" Chris menjedah.


"Tidak kah kalian berpikir? Dengan kekuatan seperti itu harusnya mereka tidak perlu mengirimi kita surat tuntutan. Mereka bisa langsung menguasai wilayah kita satu demi satu tanpa adanya kesulitan" Chris kembali melanjutkan. "Namun mereka malah mengirim surat tersebut. Mengapa? Jelas itu karena mereka tidak ingin berperang dengan kita. Serangan-serang yang mereka lancarkan selama ini adalah untuk memberikan contoh kepada kerajaan yang lain, agar tidak mengganggu mereka lagi di kemudian hari" tambahnya seraya berjalan mendekati para penguasa yang berdiri di belakang Tyrion.


"Jadi sudah jelas bukan, apa yang akan terjadi bila kita terus melanjutkan peperangan terhadap tanah mati tersebut? Mereka bahkan bisa bertahan hidup tanpa bantuan kerajaan lain. Lalu menurut kalian, apa yang akan terjadi bila mereka menyerang wilayah yang mereka tidak butuhkan, hanya karena rasa kesal? Apa yang akan mereka lakukan pada tanah tersebut?" Chris menjedah ucapannya seraya menatap kearah para penguasa. "Kita menyerang kerajaan lain karena ingin menyatukan daratan ini menjadi satu kerajaan yang utuh. Maka jelas kita akan memelihara dan menjaga wilayah-wilayah yang kita kuasai. Tapi bila tidak, kalian pasti sudah bisa membayangkannya sendiri apa yang akan terjadi" imbuhnya seraya berjalan kembali ke sebelah singgasana raja.

__ADS_1


"Kami tidak mau menanggung semua ini. Serahkan Tyrion pada mereka. Dia harus bertanggung jawab penuh atas hal ini" ucap salah satu pemimpin Estat yang berperawakan tinggi tegap.


"Benar, mereka akan terus menyerang dan merebut kekuasan kita bila kita tidak menjawab tuntutan mereka" susul penguasa lain yang mengenakan pakaian yang tampak kekecilan karena perutnya yang membuncit.


"Saya selalu setuju mengirimkan prajurit ke pusat, karena saya dan wilayah Estat saya merasa terlindungi. Namun sekarang saya dan wilayah saya merasa tidak aman. Jadi saya memohon kepada paduka raja untuk memikirkan menyudahi peperang terhadap tanah mati tersebut" salah satu penguasa Estat dengan postur gagah dan wajah yang tegas berucap, memohon kepada sang raja.


"Kau sudah mengusik sarang hewan buas tanpa sepengetahuanmu, Tyrion" Joan mendengar bisikan dari salah seorang penguasa yang berdiri tak jauh dari tempatnya berlutut.


Dan menurut Joan, ungkapan itu ada benarnya. Tuannya seolah sedang memukul sarang tawon tanpa sadar bahwa itu adalah sarang tawon mematikan.


-


"Kurang ajar! Chris dan orang-orang tanah mati itu sudah membuatku malu di depan paduka raja. Hal ini tidak akan ku biarkan begitu saja!" ucap Tyrion setelah sorenya ia sudah kembali ke kediamannya.


Sementara itu Joan hanya terdiam disebelah Xiggaz.


"Lalu apa yang henda tuan lakukan setelah ini?" Xiggaz bertanya pada Tyrion.


"Aku akan pergi ke utara untuk sementara waktu. Kau urus semua hal yang ada disini Xig. Dan kau Joan, siapakan perjalananku ke utara melewati wilayah Jouren" ujar Tyrion memerintah. "Tapi jangan sampai ketahuan orang lain" tambahnya kemudian.


"Apa anda melarikan melarikan diri dari kerajaan ini, tuan Tyrion?" Xiggaz bertanya untuk meyakinkan bahwa apa yang ia dengar benar.


"Jelas. Aku tidak bisa berada disini lebih lama lagi. Para pemimpin Estat yang lain akan terus mencoba untuk menyerahkan ku sebagai tumbal agar orang-orang tanah mati itu tidak menyerang wilayah mereka" Tyrion berucap tanpa beban. "Aku belum boleh berhenti disini. Aku akan meminta tolong pada kenalan ku di daratan utara. Dan aku pasti akan membalas penghinaan ini kepada Chris dan orang-orang ditanah mati itu" lanjutnya kemudian dengan segala pembenaran.


Mendengar ucapan Tyrion tersebut, membuat Joan dan Xiggaz menghela nafas panjang. Mereka berdua sadar, bahwa kehidupan mereka setelah ini tidak akan pernah mudah lagi.


Tapi mereka sudah menentukan pilihan untuk tetap mendukung tuan ya.


"Kalian tetaplah disini sampai aku kembali. Sangkal dan berpura-puralah tidak mengetahui hal ini" ucap Tyrion kemudian.


"Tak perlu menguatirkan kita berdua, tuan Tyrion" Joan berucap.

__ADS_1


"Benar, tuan Tyrion. Saya dan Joan akan mengurus semuanya" Xiggaz menjawab dengan nada yang terdengar pasrah.


-


__ADS_2