Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
14. Pertukaran


__ADS_3

Siang harinya, setelah mereka menahan raja kerajaan Urbar dan setelah Luque menyembuhkan prajurit kerajaan Joren yang tadi terluka, akhirnya mereka kembali berkumpul di perkemahan pasukan Pharos yang dibuat di luar kota Nezarad, untuk makan siang.


Tampak Luque, beberapa pendeta, dan beberapa warga kota diundang untuk ikut makan bersama.


Mereka memiliki bahan makanan yang cukup untuk 200 orang selama tiga hari.


Dan karena mereka sudah tidak perlu bertarung lagi, jadi sekaligus untuk merayakan kemenangan mereka, kali ini mereka memutuskan untuk masak besar.


Mereka menggunakan hampir setengah bahan makan yang mereka punya.


"Hm, jadi kereta besi aneh ini kalian yang membuatnya?" Luque bertanya saat sedang berjalan berkeliling perkemahan.


"Para pengerajin yang membuatnya. Aksa yang merancangnya" Nata menjelaskan.


Luque memperhatikan Nata dari belakang saat pemuda itu menjelaskan. Tatapannya tidak bisa dimengerti.


"Primaval, silahkan kemari. Makanan sudah siap" ucap Rafa tiba-tiba membuyarkan pikiran Luque.


Dsn kemudian Luque diantar oleh Rafa menuju ke tengah perkrmahan. Dimana sudah ada meja panjang yang berisi hidangan yang banyak dan beragam.


Mulai dari daging, sayur, buah, masakan berkuah, sampai masakan panggang, dan minuman. Ada beherapa prajurit yang pandai mekasak dalam pasukan mereka. Meski tidak seenak masakan Edwrad atau koki kediaman Lucia.


Mereka menyediakan satu kurs untuk Luquei di depan meja tersebut. Sementara sisa orang yang lain duduk di rerumputan atau bebatuan yang tersebar diseluruh wilayah perkemahan tersebut.


.


"Jadi ini adalah makanan yang anda pasti belum pernah memakannya, nona Luque" Aksa memberikan bungkusan dari kain putih sebesar setengah genggaman tangan kepada Luque.


Mereka tengah beristirahat setelah sudah merasa kenyang. Bahkan makanan tadi masih sisa cukup banyak, yang kemudian bagikan ke penduduk lain di dalam kota.


"Oh, benarkah?" Luque membuka bungkusan tersebut. Tampak beberapa benda yang terpihat seperti batu permata berwarna-warni di dalam bungkusan tersebut.


"Coba lah" Aksa berucap.


Kemudian Luque memakan satu yang berwarna merah. "Wah. Manis. Apa ini?" Tampak ia terkejut setelah merasakannya.


"Permen gula" Aksa menjawab.


"Terbuat dari apa makanan ini?" Luque terlihat sangat tertarik dengan permata berwarna-warni yang memiliki rasa manis itu.


"Rumput tebu" jawab pendek Aksa lagi.


"Wah, ternyata tumbuhan itu bisa dibuat menjadi makanan seperti ini juga" Luque tampak tidak memindahkan pandangannya dari permen gula di tangannya.


"Anda harus pergi ke tempat kami. Disana ada kedai yang menjual Froyo. Itu adalah makanan kesukaan ku" Aksa mulai bercerita kesana kemari.


"Apa itu Froyo?" Luque bertanya.


"Campuran Ice Cream dan Yogurt" Aksa menjawab.


"Apa itu ais krim dan yoger?" Luque bertanya lagi.


"Sudah jangan buat nona Luque bertambah pusing" kali ini Nata yang menyela dan memotong lingkaran tanya jawab antara Luque dan Aksa.

__ADS_1


"Mendengar cerita kalian aku jadi benar-benar ingin pergi ketempat itu. Sudah hampir dua ratus tahun terakhir, aku tidak pergi kemana-mana" Luque berucap. Terlihat wajahnya tersenyum lebar.


"Selama itu? Apa anda tidak bosan?" Aksa bertanya lagi.


"Kalau dibilang bosan, ya bosan. Tapi aku harus melakukan sesuatu yang tidak boleh ku tinggalkan" jawab Luque masih dengan senyum diwajahnya. Yang kini sedikit terlihat pudar.


"Baiklah kalau begitu, sudah diputuskan bahwa anda akan ikut bersama kami saat nanti kami kembali ke kota Tengah" ucal Aksa tiba-tiba.


"Tuan Aksa, jangan memaksa seperti itu" Rafa mengingatkan dari sebelah Aksa.


Dan kemudian pembicaran mereka pun berlanjut panjang.


"Tapi tak kusangka kalian ingin merubah sistem kasta yang sudah terbentuk selama seratus tahun ini" Luque berucap saat mereka selesai berbicara, bahkan mendebatkan masalah kebudayaan dan politik region tengah daratan selatan itu.


"Iya benar. Meski membutuhkan seratus tahun lagi untuk bisa benar-benar berjalan, dan meski kami tidak bisa menyaksikan perubahan tersebut, tapi kurasa masih tetap pantas untuk dicoba" Nata berucap santai.


Terlihat wajah Luque puas. Baru pertama kali dalam hidupnya menemukan lawan bicara yang bisa mengimbanginya. Mulai dari luasnya pengetahuan, sampai ide-ide yang tidak pernah dipikirkan oleh orang pada umumnya. Dan itu ditemukan pada kedua pemuda, Aksa dan Nata.


"Setelah mendengar semua cerita kalian, aku jadi benar-benar sangsi kalian berumur delapan belas tahun" Luque berucap lagi. Yang langsung memecah tawa yang lainnya.


"Tapi kalau boleh ku tahu, berapa usia anda, nona Luque?" Tiba-tiba Aksa bertanya pada Luque.


"Hentikan candaan anda soal umur dan pasangan, tuan Aksa" Loujze segera memotong. "Itu tidak sopan" lanjutnya kemudian.


"Maafkan Aksa, nona Luque. Anda tidak perlu menjawabnya. Lupakan saja pertanyaan bodoh itu" Nata segera meminta maaf untuk kelakuan Aksa.


"Kalian berpikiran buruk sekali sih, aku kan beneran penasaran" Aksa mencoba membela diri.


"Lalu gimana caranya buat cari tahu? Dia kan tidak punya sosmed buat di stalking" Aksa membalas ucapan Nata.


"Usiaku empat ratus sembilan puluh delapan" tiba-tiba Luque berucap. Mencegah perang mulut antara Aksa dan Nata yang akan terjadi.


"Oh, pantesan Val dari tadi nundak nunduk mulu. Kalah tua seratus lebih ya, Val?" Ucap Aksa kemudian. Yang segera di hardik oleh banyak orang sekaligus


"Tuan Aksa!"


-


Setelah selesai makan siang, Aksa tampak menyusul Luque yang hendak kembali ke kuil di tengah kota. Aksa mengajak Rafa ikut besertanya.


Aksa dan Rafa menghentikan Luque di depan pekarangan kuil.


"Maaf, nona Luque. Aku mendengar rumor bahwa anda memiliki kekuatan penyembuh yang sangat hebat. Apakah mungkin bila saya meminta tolong?" Aksa langsung ke pokok masalahnya


"Dan apa itu?" Luque terlihat penasaran melihat Aksa bersama Rafa mengejarnya saat ia hendak kembali. Karena Aksa bisa saja meminta pertolongannya pada saat makan siang tadi.


"Bisakah anda menumbuhkan kembali lengan teman saya ini" Aksa berucap langsung. Tanpa basa-basi.


Luque menatap kearah Rafa setelah mendengar permintaan Aksa. Kemudian terlihat diam berpikir.


"Dan apa yang akan kau tukar dengan bantuan tersebut?" Luque kemudian bertanya.


"Oh, jadi anda benar-benar bisa melakukannya? Syukurlah" Aksa terlihat sangat lega.

__ADS_1


Rafa juga terlihat lega mengetahui bahwa Luque bisa mengembalikan lengannya seperti semula.


"Aku tidak berkata aku bisa. Aku hanya bertanya apa yang akan kau berikan sebagai gantinya?" Luque mencoba untuk berkilah.


"Kalau anda memang bisa mengembalikan lengan Rafa, anda tinggal meminta apa saja sebagai gantinya" Aksa terlihat ssngat gembira "Selama aku bisa melakukannya, pasti akan ku lakukan. Dan jika anda menginginkan sesuatu, bila masih dalam kemampuanku, maka akan aku berikan" lanjutnya kemudian.


Luque menatap Aksa dengab seksama. "Baiklah kalau begitu. Aku ingin kamu" ucapnya kemudian.


"Eh?" ucap Aksa dan Rafa hampir bersamaan.


"Saya? Apa jangan-jangan anda ini adalah ras Vampir?" Aksa yang terkejut mulai berbicara sendiri. "Tapi jadi masuk akal. Anda butuh darah manusia untuk tetap awet muda" racaunya berlanjut.


"Bagaimana? Kau mau tidak? Lengannya di tukar dengan dirimu" Luque bertanya lagi yang membawa Aksa kembali dari dunianya.


"Tapi apakah aku akan mati?" Aksa bertanya ragu setelah itu. Sambil sesekali mencuri lihat kearah mulut Luque. Penasaran apakah gadis itu memiliki taring atau tidak.


"Tidak. Kau tidak akan mati. Kau hanya akan jadi miliku seumur hidupmu" Luque berucap lagi.


"Jangan! Tidak perlu, tuan Aksa. Saya tidak apa-apa dengan hanya satu tangan saja." Rafa terdengar menolak keras.


"Sebentar, tapi anda tidak akan memakan atau meminum darah ku, kan?" Aksa masih bertanya ragu.


"Kau pikir aku apa? Binatang buas?" Luque terlihat mulai jengkel.


"Lalu, apa aku akan menjadi semacam budak anda?" Aksa mencoba untuk memastikan. "Tapi bukannya anda setuju bahwa semua orang harus jadi orang bebas?" Ucapnya lagi mencoba mengingatkan Luque akan perkataannya sebelumnya.


"Kalian berdua ini sama-sama pintar memutar balik kata. Jadi mau tidak? Kalau tidak ya sudah, aku mau tidur siang dulu" ucap Luque sedikit ketus, seraya berbalik badan dan berjalan menuju pintu gerbang kuil.


"Baiklah. Aku mau" ucap Aksa dengan cepat.


"Tuan Aksa!" Rafa menyergah mendengar ucapan Aksa.


Luque menghentikan langkahnya. Kemudian berbalik menatap Aksa. "Kau mau menjadi budak ku untuk ganti lengan temanmu itu?" Tanyanya kemudian.


"Tapi karena kita sama-sama tidak suka adanya perbudakan, maka bagaimana kalau kita berteman saja. Sohib kentel gitu. Bro abis gitu. Bagaimana?" Aksa mencoba untuk merayu Luque.


"Batal" Luque kembali berjalan meninggalkan Aksa dan Rafa.


"Tunggu sebentar, nona Luque. Aku mohon padamu. Aku bisa mengorbankan waktu ku. Atau mungkin tukar dengan lenganku? Asal bukan kebabasanku. Karena masih banyak yang harus kulakukan di dunia ini. Juga masih ada beberapa alasan lain yang belum bisa ku ceritakan pada anda" Aksa menghadang jalan Luque seraya memohon.


"Anda tidak perlu melakukan hal tersebut, tuan Aksa. Saya baik-baik saja dengan kondisi saya sekarang ini. Saya mohon hentikanlah semua ini" sama seperti Aksa, Rafa juga memohon untuk Aksa menghentikan memohon kepada Luque.


Luque hanya diam menatap tingkah Aksa dan Rafa dihadapannya itu.


"Baiklah kalau begitu. Aku akan memberimu satu penawaran lagi" Luque memberi penawaran lain pada Aksa.


"Asal tidak kebebasanku melakukan sesuatu. Juga kalau bisa jangan tukar dengan lengan, ya?" Aksa mencoba memberi syarat-syarat sebelumnya.


"Jadilah suami ku" Luque berucap tegas.


"Sebentar-sebentar"


-

__ADS_1


__ADS_2