Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
Epilog Arc Ketiga Part 2


__ADS_3

"Apa yang sedang kau ratapi, Xiggy?" Tanya seorang pria Narva berwajah tegas dengan rambut kuning yang sudah mulai terlihat memudar itu, kepada seorang Narva muda bertubuh ramping atletis yang tampak duduk melamun.


Pria tersebut adalah Dux Tyrion dari Estat Raygod. Dia adalah salah satu pejabat kerajaan Urbar yang mengurusi bagian garis batas wilayah. Mulai dari perijinan orang keluar masuk wilayah kerajaan, sampai pengamanan dari ancaman kerajaan lain.


"Oh. Anda, tuan Tyrion?" jawab pemuda yang dipanggil Xiggy itu dengan sedikit terkejut. Ia tidak menyadari ada yang masuk ke dalam ruangannya. "Saya sedang berpikir bagaimana caranya menutup pengeluaran biaya untuk agresi musim ini" tambah pemuda itu.


Pemuda tersebut adalah Xiggaz, dari keluarga bangsawan Greyland. Ia adalah bawahan Tyrion, yang sekaligus adalah anak didiknya.


"Bukannya kau hanya perlu menutupnya dari pajak daerah?" Ucap Tyrion sambil membenahi kerah kemeja sutra mewahnya didepan kaca besar yang terpasang di dinding sisi kiri pintu masuk ruangan tersebut.


"Hal itu tidak bisa jadi pilihan utama sekarang, tuan Tyrion. Sudah tiga bulan ini pengunjung kota Xin berkurang, hampir separuh lebih. Pajak daerah terbesar yang kita terima selama ini adalah dari penyeberangan kapal di kota tersebut" jawab Xiggaz dengan wajah lelahnya. Kemudian menarik rambut kuningnya kebelakang. Terlihat frustasi.


"Bagaimana bisa? Apakah Musim Peralihan kali ini memakan waktu lebih panjang dari biasanya, hingga mengganggu jadwal penyeberangan?" Tyrion menoleh kearah Xiggaz dengan penasaran.


"Bukan, tuan Tyrion. Sepertinya ada kota baru yang berdiri di tanah mati Pharos. Dan mereka, entah bagaimana berhasil membuat jalur yang lebih cepat melewati tanah mati tersebut" jawab Xiggaz menjelaskan.


"Kota baru ditanah mati? Sudah berapa lama kota itu ada di sana?" Tyrion duduk didepan anak didiknya. Ia baru mendengar kabar tentang kota tersebut.


"Mungkin sekitar sepuluh bulan atau satu tahun, tuan" Xiggaz tampak semakin lesu.


"Benarkah? Hanya kota baru sudah bisa melakukan hal seperti itu?" Terlihat Tyrion penasaran. "Apa kota tersebut bagian dari Elbrasta?" Ia menyandarkan tubuhnya kebelakang sambil seperti menimbang sesuatu.


"Entahlah, sepertinya itu adalah kota bebas. Saya belum pernah mencari tahu tentang hal tersebut. Tapi barang-barang berkualitas tinggi yang sedang marak dikalangan bangsawan akhir-akhir ini, dikabarkan berasal dari kota tersebut" Xiggaz menjawab masih dengan lesu.


"Benarkah? Dan bagaimana mereka bisa menjual barang-barang mereka dalam kerajaan ini?" Terlihat Tyrion semakin tertarik dengan kota yang diceritakan Xiggaz tersebut.


"Kalau tidak salah, mereka membuat perjanjian dagang dengan Dux Mateus dari Estat Ignus" jawab Xiggaz kemudian.

__ADS_1


Terlihat senyum culas kini mengembang diwajah Tyrion. "Cerdik juga mereka bisa lolos persetujuan pusat. Ini tidak bisa dibiarkan. Coba kau cari tahu tentang kota tersebut, Xiggy" perintah pria Narva itu kemudian.


Melihat senyuman Tyrion, membuat Xiggaz menjadi lebih bersemangat. Karena ia tahu atasannya itu sedang merencanakan sesuatu, dan itu merupakan pertanda baik untuk masalah yang sedang ia alami sekarang. "Baik tuan" jawab Xiggaz dengan sigap.


"Oh dan juga, Delapan Penjaga sudah tiba sejak semalam. Sekarang tuan Noel sudah menunggu anda diruang tengah, tuan Tyrion" tambah Xiggaz memberi tahu Tyrion.


"Baiklah kalau begitu. Terima kasih Xiggy. Aku akan segera kesana" jawab Tyrion yang tampak memastikan dandanannya sekali lagi di depan kaca, sebelum pergi meninggalkan ruangan tersebut.


-


"Bagaimana kabarmu, Noel? Kudengar kalian mengalami masalah di hutan utara" ujar Tyrion sesaat setelah ia memasuki ruangan tengah.


"Oh, tuan Tyrion. Itu karena kami sedang sial saja" jawab seorang pria Morra berambut panjang dengan pakaian seperti seorang pemburu, yang segera berdiri dari tempat duduknya saat melihat Tyrion memasuki ruangan.


Pria Morra tersebut adalah Noel. Tak banyak informasi tentangnya. Latar belakang, keluarga, tempat tinggal, semuanya misterius. Tidak ada seorang pun yang tahu. Tapi yang semua orang tahu adalah, pria Morra tersebut seorang pemburu dengan kemampuan seni beladiri dan sihir yang patut diperhitungkan. Ia adalah pemimpin sekelompok ksatria lepas yang dikenal sebagai Delapan Penjaga.


"Tapi aku tidak percaya kalau kalian pernah mengalami nasib buruk. Terutama kau, Noel" jawab Tyrion seraya berjalan menuju kursi di seberang Noel duduk.


"Lalu bagaimana? Apakah semua persiapannya sudah selesai?" Tanya Tyrion yang sudah duduk di hadapan pria Morra itu.


"Jangan kuatir, tuan Tyrion. Senjata mistik dan batuan Arcane yang anda butuhkan sudah siap" jawab Noel dengan tenang dan mantap.


"Saya sudah menyerahkan semuanya pada tuan Xiggaz. Kami berdua juga sudah memastikan bersama bahwa jumlah dan kualitasnya sesuai dengan apa yang tuan inginkan" tambah Noel merinci penjelasannya.


"Kau memang tidak pernah mengecewakan, Noel. Hasil kerja kalian benar-benar sangat memuaskan" ujar Tyrion yang terlihat puas.


"Dan seperti perjanjian kita, ini barang yang kau inginkan" Tampak Tyrion mengambil sebuah gulungan kertas dari balik jubah sutra birunya, dan menyerahkan kepada Noel.

__ADS_1


Noel menerima gulungan tersebut dan tampak tersenyum setelah melihat isinya.


"Juga sangat memuaskan berkerja sama dengan anda, tuan Tyrion" jawab Noel yang juga terlihat puas setelah mendapati barang yang sesuai dengan apa yang ia inginkan.


"Sama-sama, Noel. Bila aku membutuhkan sesuatu lagi, jangan merasa jenuh bila kalian ku panggil lagi" ucap Tyrion dengan senyum yang terlihat lebih mirip sebuah seringai terpajang di bibirnya.


"Malah sebaliknya, tuan Tyrion. Kami menunggu panggilan dan tugas dari anda" jawab Noel yang terlihat membungkuk dengan sopan. "Baiklah kalau begitu. Untuk saat ini, saya permisi pamit" tambahnya kemudian.


"Silahkan-silahkan" ujar Tyrion masih dengan wajah bahagianya melihat sosok Noel meninggalkan ruangan.


-


"Apa yang sekarang ia inginkan sebagai penukarnya, tuan Tyrion?" Tanya Xiggaz yang tampak menyusul ke ruangan tempat Tyrion berada, setelah Noel sudah meninggalkan tempat tersebut.


"Sebuah potongan naskah kuno yang disimpan di perpustakaan istana" jawab Tyrion dengan wajah santainya, memandang potongan kuku di jari tangan kanannya.


"Apa anda mengambilnya dari perpustakaan istana, tuan Tyrion? Bukankah itu pusaka kerajaan?" Terdengar Xiggaz terkejut juga sekaligus kuatir mendengar apa yang telah dilakukan Tyrion.


"Pusaka bernilai sejarah seperti itu, tidak akan memberi apapun bagi kerajaan ini" jawab Tyrion kemudian yang kali ini menatap potongan kuku jari tangan kirinya. "Tenang saja, Ziggy. Tenang" tambahnya.


"Tapi itu tetap tindakan yang berbahaya, tuan Tyrion" Xiggaz masih merasa kuatir.


"Sedikit lagi. Kurang sedikit lagi, dan aku akan menyingkirkan penghalang untuk bisa sampai diposisi pertama, disamping paduka raja" ujar Tyrion dengan seringai mengembang diwajahnya.


"Menurut mu, potongan kuku tangan kiri dan kanan ku ini sama tidak, Xiggy?" Tanya Tyrion kemudian seraya menunjukan kuku di kedua tangannya kepada Xiggaz.


-

__ADS_1


Arc Ketiga Selesai


----iii-----


__ADS_2