
Tampak Go sedang berjalan melewati salah satu Atelir Bintang Timur di dasar jurang Ceruk Bintang saat Matyas menyapanya.
Perempuan Morra separuh baya itu mengangguk dengan sopan menjawab sapaan Matyas.
"Hendak pergi kemana, Nona Go? Apa Anda hendak menuju ke tempat Gondola?" tanya Matyas kemudian saat ia sudah mendekat.
"Benar, aku hendak menuju kesana. Keponakanku mengundangku minum di Bar Kota Tengah," jawab Go kemudian.
"Ya, saya rasa hari ini cukup cerah untuk pergi minum ke Bar. Meskipun tergolong masih terlalu pagi," ucap Matyas kemudian, sambil terawa kecil.
"Tidak sepenuhnya minum, menurut mereka aku perlu bersantai sebentar menikmati suasana kota," ucap Go bercerita.
"Saya setuju dengan mereka. Sepertinya Anda selalu berada di area pertambangan sejak kembali kemari. Anda sudah berada di wilayah ini dari seminggu yang lalu, bukan?" Matyas mencoba melanjutkan perbincangan.
"Benar, seminggu yang lalu. Tapi karena rencana pembangunan tambang yang gagal itu, perempuan tua ini harus kesana kemari memikirkan cara untuk mencari jalan keluarnya. Padahal kelebihan ku hanya di otot, bukan di otak," jawab Go dengan sedikit lelucon.
"Semua orang mengalami hal yang sama saat ini. Kami juga yang hanya tahu memukulkan palu ke logam panas ini, sekarang harus memikirkan biaya dan material," balas Matyas sambil terawa kecil.
"Tapi sepertinya Bintang Timur sedang bersemangat. Kulihat dari wilayah pertambangan di ujung barat hingga ujung timur ini, para pengerajin tampak berlalu lalang dari Atelir satu ke Atelir yang lain, dengan kereta dorong yang dipenuhi oleh puluhan barang," ucap Go dengan gerakan tangan saat membicarakan tentang jarak dan ukuran.
"Ya, semua itu karena masalah tadi. Kami jadi harus melakukan pembagian kerja dengan tiap Atelir." Matyas menjawab dengan wajah yang terlihat pasrah.
"Ada berapa Atelir yang dibangun di wilayah Ceruk Bintang ini?" tanya Go lagi sambil memperhatikan beberapa tumpukan kotak kayu yang terletak di sebelah tiga kereta besi tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Empat bila mengikut sertakan Atelir Utama ini, dan Atelir Persenjataan yang berada tak jauh dari tempat pertambangan Anda." Matyas menjawab cepat.
"Oh, iya kurasa aku melihat dua Atelir dalam perjalanan kemari," sahut Go sambil mengangguk kecil seperti mengingat sesuatu.
"Kami juga sedang membangun Atelir baru di ujung timur sana. Dekat dengan Celah Terusan yang menembus langsung ke wilayah daratan rendah Kota Selatan," ucap Matyas lagi seraya menunjuk ke arah timur, dimana sebuah bangunan setengah jadi terlihat di antara dua dinding tebing yang menjulang tinggi. "Tujuannya agar lebih dekat dengan pengiriman dan penerimaan barang dari selatan," lanjutnya menambahi.
"Oh, aku dengar Celah Terusan itu sudah dibangun lebih bagus untuk mempermudahakan melewatinya. Tapi aku belum pernah sekalipun kesana," sahut Go menanggapi.
"Anda harus sesekali mencobanya, Nona Go. Hanya butuh kurang dari satu jam untuk tiba di alun-alun Kota Selatan dengan menggunakan Kereta Besi, bila melewati Celah Terusan tersebut," ucap Matyas yang terlihat antusia mencoba menjelaskan pada Go.
"Ya, mungkin akan kulakukan nanti," jawab Go kemudian. "Baiklah kalau begitu, karena aku tidak mau menghalangi pekerjaan mu lebih lama lagi, jadi aku permisi dulu," tambahnya kemudian seraya mengangguk kecil.
"Hahaha... Anda bisa saja, Nona Go. Kalau begitu saya juga permisi, hati-hati dijalan," jawab Matyas yang kemudian ikut beranjak pergi berlawanan dengan arah tujuan Go.
.
Tak lama kemudian Go tiba di batas timur dari jurang Ceruk Bintang. Tempat dimana tebing Ceruk Bintang bertemu dengan tebing Dinding Sekai.
Di sudut dari pertemuan dua tebing itu berdiri sebuah bangunan dengan bentuk seperti Stasiun Kereta Uap, yang terlihat cukup ramai oleh orang. Terlihat pula beberapa kereta besi dan juga kereta kuda, berjajar tak jauh dari pintu masuknya.
Namun yang membuat tempat itu mengagumkan adalah di bagian tebing sebelah utara dari Stasiun itu berdiri beberapa pasang pilar logam yang terlihat mengkilat dan dibangun kokoh di tepian tebingnya, berpola menuju ke atas.
Tampak sepasang tali tambang dari logam menghubungkan seluruh pilar-pilar tadi menjadi seperti sebuah jalur. Dan dari tali tambang logam tersebut, terlihat menggantung, seperti gerbong kereta uap namun dalam ukuran yang lebih kecil. Yang hanya memiliki dua tempat duduk untuk empat orang saja.
Gerbong-gerbong itu terlihat bergerak naik ke puncak tebing secara teratur berurutan di satu sisi tali tambang, dan kemudian kembali turun ke bawah melewati sisi tali tambang yang lainnya. Seperti sedang berputar satu arah.
Tampak Go menghembuskan nafas dan menggeleng kecil. Terlihat kagum mendongakan kepalanya menatap ke puncak tebing. "Tempat ini selalu membuatku kagum meski sudah sering sekali ku lihat," ujarnya kemudian.
Go sedang mencari bangku kosong di ruang tunggu Stasiun itu, ketika ia melihat Shuri sedang duduk di salah satu bangku tak jauh dari pintu keluar. Tampak serius membaca buku selagi menunggu gerbong Gondola nya datang.
"Selamat pagi, Nona Shuri." sapa Go seraya mendekat ke tempat Shuri duduk.
"Oh, Nona Go?" Shuri terkejut saat mengangkat pandangannya dari buku, dan mendapati sosok Go berdiri dihadapannya. "Selamat pagi. Apa kabar Anda? Lama sekali kita tidak bertemu," sapanya kemudian seraya mengeser posisi duduknya untuk memberikan tempat kepada Go.
"Aku baik-baik saja, bagaimana kabarmu sekarang, Nona Shuri?" ucap Go seraya duduk di tempat yang telah Shuri siapkan di sebelahnya.
"Kabar saya baik, Nona Go. Kapan Anda kembali dari Selatan? Apa Anda hendak menuju Kota Tengah?" tanya Shuri setelah menyimpan bukunya ke dalam tas kecil yang menggantung di pundak.
"Aku kembali kurang lebih seminggu yang lalu. Keponakan ku mengundangku ke Kota Tengah. Karena menurut mereka ada banyak hal baru yang harus ku lihat di wilayah ini, dan kurasa mereka benar." Go menjawab. "Dan kau sendiri dari mana, nona Shuri?" lanjutnya dengan pertanyaan.
"Tidak terlalu banyak hal baru sebenarnya, bila kita bicara tentang Kota Tengah." jawab Shuri dengan sopan. "Kalau saya baru saja dari Atelir Persenjataan. Biasa, melakukan tugas rutin. Berjaga," tambahnya kemudian.
"Oh, benar juga. Dari yang sudah kudengar, sekarang kau bertanggung jawab terhadap pengawasan di wilayah Tengah ini? Pasti cukup berat mengawasi seluruh wilayah hanya dengan dua orang saja." Go menanggapi.
"Ya, bisa dibilang seperti itu, Nona Go. Tapi saya rasa jauh lebih baik dari pada rekan saya yang lain. Karena saya tidak harus jauh dari kedai roti Tuan Edward, dan dapat minum-minum semudah dan semau saya," jawab Shuri dengan tertawa.
"Ya, ku rasa itu memang bukan hal yang buruk," ucap Go yang dipotong oleh suara petugas yang memberi tahukan bahwa gerbong Gondola mereka sudah tiba.
Perbincangan merekapun dilanjutkan di dalam gerbong Gondala tersebut. Di tengah perjalanan mereka menaiki tembok tebing Ceruk Bintang. Mereka hanya berdua dalam gerbong b.yang berisi dua kursi panjang saling berhadapan itu.
"Tidak pernah bosan melihat pemandangan dari dalam Gondola seperti ini," ucap Shuri yang sedang menatap pemandangan luar melalui jendela kaca yang ukurannya nyaris setengah dari tinggi gerbong Gondola tersebut. "Meski banyak orang beranggapan menggunakan Gondala ini menakutkan, dan lebih memilih untuk memutar melwati Celah Terusan dari Kota Selatan, tapi dengan pemandangan seperti ini, mana mungkin aku lewatkan?" lanjutnya yang masih terlihat kagum menatap jajaran bukit yang semakin lama semakin terlihat mengecil, bersamaan dengan posisi Gondola yang semakin naik ke atas.
"Aku juga merasa, bahwa pemandangan dari lereng tebing seperti ini sangat indah," jawab Go yang juga tampak sangat puas melihat hampir seluruh bagian di dasar Ceruk Bintang itu mengecil dan kemudian hilang tertutup dinding tebing. "Menurutku Gondola ini adalah salah satu dari pencapaian umat manusia," ucapnya kemudian seraya tertawa kecil.
"Hahaha... saya pikir juga demikian. Nona Go." Shuri menyahut dengan tertawa. "Tidak bisa dibayangkan orang yang memiliki ide untuk membuat semua ini adalah seorang anak muda," tambahnya kemudian masih dengan tawa.
__ADS_1
"Benar. Utusan dewa yang sekarang malah bersembunyi di dajam gua," balas Go dengan lelucon.
"Mereka memang orang-orang yang tidak biasa," balas Shuri kemudian.
"Benar. Karena tidak ada orang biasa yang tidak menggunakan kemampuan seperti itu untuk menguasai," ucap Go yang terlihat bersungguh-sungguh.
"Benar." Shuri terlihat tersenyum.
.
Tak lama kemudian gerbong Gondola mereka pun tiba di atas tebing. Goncangan yang membuat tidak nyaman itu terasa begitu gerbong yang mereka naiki memasuki gedung Stasiunnya.
Stasiun di bagian atas ini tidak ada bedanya dengan Stasiun di bagian bawah. Mulai dari bentuk bangunannya sampai kesibukannya.
Shuri berjalan keluar Stasiun tersebut bersama-sama.
"Anda hendak ke Bar Tuan Pietro bukan, Nona Go?" tanya Shuri kemudian.
"Benar. Tiga bocah itu sudah menunggu disana," jawab Go dengan cepat.
"Kalau begitu, biar saya antar," balas Shuri seraya mengarahkan tangannya ke sebuah Kereta Besi tak jauh dari pintu keluar Stasiun Gondola tadi.
"Oh, jadi sekarang Kereta Besi seperti ini sudah dimiliki oleh semua orang di wilayah ini?" tanya Go yang terlihat cukup kagum.
"Ya, mungkin karena lebih menguntungkan dibanding dengan memiliki kuda yang harus dipelihara dengan penuh perhatian," jawab Shuri seraya mempersilahakan Go untuk berjalan lebih dulu ke arah Kereta Besinya.
"Apa tidak susah untuk mengendalikannya?" tanya Go kemudian. Setelah mereka sudah berada di dalam Kereta Besi tersebut.
"Menurut saya sih, tidak lebih susah dari mengendalikan kuda penarik. Karena yang perlu kita lakukan adalah menghapal, tidak perlu menggunakan perasaan untuk memahami seekor kuda," jelas Shuri dengan sedikit candaan.
Setelah itu, Kereta Besi berisi Shuri dan Go itu segera meninggalkan area Stasiun Gondola, menuju ke utara, ke Kota Tengah.
Jalan antara Stasiun Gondola dengan Kota Tengah yang tidak terlalu panjang itu di dominasi dengan dataran landai yang di beberapa tempat berdiri sebuah menara jaga. Dan serupa dengan jalanan di wilayah yang lain, lampu jalan juga terpasang rapi di tepian jalannya.
"Kota ini terus bekembang setiap harinya," ucap Go kemudian saat mereka baru saja melewati sebuah gerbang besar yang dibuat sebagai tanda batas wilayah.
"Benar, tapi tidak terlalu terlihat berubah. Masih seperti kota pada umumnya." Shuri menjawab saat mereka sudah memasuki wilayah pemukiman. "Hanya saja sekarang ini pertumbuhan penduduk kota ini bertambah dengan cepat. Menurut yang saya dengar kemungkinan bulan depan saat pedaftaran dan pencatatan ulang penduduk dilakukan, kota ini akan ditutup dari para pendatang untuk tinggal. Mereka akan diarahkan ke wilayah lain seperti Kota Barat yang sedang dalam pembangunan saat ini," tambahnya kemudian menjelaskan.
"Kota Barat, ya?" Go terlihat sedang mengingat-ingat. "Terakhir aku datang ke wialyah barat itu saat pertama kali mencoba kereta uap. Dan sekarang sudah ada sebuah kota di pantai berkarang terjal itu? Padahal seingatku baru kemarin," ucapnya kemudian.
"Hahaha... kita sudah tinggal di tempat ini hampir dua tahun lebih, Nona Go," sahut Shuri yang juga terlihat sedang mengingat masa lalu. "Saya juga merasa baru kemarin rasanya berburu kawanan Hyena Padas di wilayah ini," ucapnya menambahkan.
"Dua tahun, ya? Waktu berjalan dengan cepat saat kita melakukan sesuatu yang menarik," ucap Go menjawab.
-
"Sudah lama sekali terakhir melihat kalian ditempat ini," ucap Luna saat mendapati Loujze, Deuxter, dan Huebert mendatangi Bar tempatnya bekerja.
"Ya, sudah lama memang, sejak terakhir kami mendatangi wilayah ini. Kota ini berkembang dengan pesat," sahut Loujze menjawab.
"Kalian pesan minum apa?" tanya Luna kemudian setelah ketiga pemuda tadi sudah duduk berjajar di meja panjang di hadapannya.
"Aku sudah lama tidak kemari, jadi bagaimana kalau pilihan bartender?" Loujze menjawab seraya melakukan gerakan tangan seperti sedang mempersilahkan Luna untuk melakukan apapun yang perempuan Getjza itu inginkan.
"Baiklah, kalau kau Dex?" tanya Luna bersambung kepada Deuxter yang duduk tepat di sebelah Loujze.
"Aku juga sama seperti Loujze, kau yang pilihkan," jawab Deuxter kemudian.
"Kalau kau, Hue?" Luna melanjutkan pada Huebert yang duduk tepat di sebelah Deuxter.
"Aku Anggur Bintang saja," jawab Huebert yang tidak mengekor kedua sahabatnya yang lain.
"Baiklah." Dan Luna segera mengambil beberapa botol minum dan gelas dari rak di belakangnya.
Karena waktu pada menara jam di alun-alun kota masih menunjukan pukul setengah dua belas, yang berarti masih terlalu pagi untuk orang-orang datang minum ke Bar, maka saat ini hanya ada trio pemburu bersama Luna dan Seigfried di dalam Bar tersebut.
Sedang Seigfried tampak sedang mengelap meja yang terletak di ujung ruangan. Terlihat tidak perduli dengan keberadaan trio pemburu.
"Lalu, ngomong-ngomong, bagaimana kabar wilayah ini sekarang?" Deuxter bertanya lagi saat Luna masih sibuk meracik minuman untuk mereka bertiga.
"Belum bertambah baik," jawab Luna cepat.
"Lalu bagaimana kabar dua orang itu?" Deuxter melanjutkan pertanyaannya.
"Masih tidak menjawab," Luna kembali menjawab dengan singkat.
"Apa yang sebenarnya sedang terjadi, Lun?" tanya Deuxter sekali lagi, saat Luna mulai membagikan minuman ke mereka.
"Apa yang apa?" tanya Luna yang terlihat kebingungan.
__ADS_1
"Tidak perlu berlaga bodoh seperti itu. Kau pasti tahu kalau kami pasti curiga dengan situasi aneh yang terjadi sekarang ini. Dan kau juga pasti tahu, kalau kami pasti akan beranggapan bahwa kau mengetahui sesuatu tentang hal ini," ucap Deuxter berkata panjang lebar kepada Luna.
"Kenapa kau bicara berputar-putar seperti itu, Dex?" Loujze terlihat bingung dengan ucapan Deuxter tersebut.
"Benar, kenapa kau bicara berputar-putar?" Luna ikut bertanya.
"Agar kau tidak mencoba untuk menyembunyikan sesuatu yang kau tahu dengan memutar balik kata mencoba menghindari pertanyaanku." Deuxter masih berucap dengan perkataan yang cukup membingungkan.
"Sebenarnya apa yang kau maksud?" Luna bertanya lagi mencoba memastikan maksud Deuxter.
"Aku tahu, kau pasti tahu sesuatu tentang apa yang sedang terjadi dengan kedua pemuda itu." Deuxter bertanya lagi dengan sejelas mungkin kepada Luna.
"Jelas seperti yang sudah kau dengar sebelumnya." Luna menjawab dengan cepat. "Bila tidak, jangankan Sang Ratu, Tuan Val dan Nona Lily pasti sudah kebingingan," lanjutnya kemudian.
"Tidak mungkin seperti itu." Duexter terlihat masih belum percaya dengan jawaban dari Luna. "Tuan Couran dan Nona Rafa bertindak sangat aneh, belum lagi Tuan Orland yang menurut kabar yang ku dengar, selalu menghindari topik pembicaraan tentang mereka berdua," ucapnya menambahi.
"Aku tidak tahu mengapa Tuan Val dan Nona Lily tetap bersikap tenang, tapi aku juga merasa pasti ada sesuatu yang telah terjadi." Kaii ini Huebert yang berbicara.
"Benar. Bila tidak, percayalah, tidak akan mungkin ada rencana kerja kita yang gagal sampai seperti sekarang ini, bila mereka berdua bertindak," Sahut Deuxter kemudian. "Dan pasti telah terjadi sesuatu sampai dua orang itu tidak melakukan apapun sama sekali," tambahnya kemudian.
"Padahal mereka adalah orang-orang yang tidak akan diam saja ketika melihat teman-teman mereka kesusahan seperti saat ini, meski omongan mereka kadang tidak punya aturan," sahut Loujze kali ini yang menambahi.
Tampak Luna menghela nafas dalam mendengar tiga orang itu menderanya dengan pertanyaan dan ucapan yang menyudutkan.
"Apa kami tidak cukup dipercaya untuk mengetahui kebenaran yang tengah terjadi?" Deuxter bertanya sekali lagi.
Luna menghembuskan nafas panjang. "Kalian tahu ini Bar umum, kan?" ucapnya kemudian. "Dan kalian berharap aku mengatakan sesuatu yang mungkin adalah sebuah rahasia di tempat seperti ini?" tambahnya seraya menggeleng pelan.
"Orang-orang yang tidak tahu tempat," terdengar Seigfried bergumam saat berjalan lewat dibelakang trio pemburu itu. Yang cukup kencang hingga Luna pun bisa mendengarnya.
"Baiklah, kapan Bar ini tutup?" tanya Loujze yang menanggapi ucapan Luna dengan cepat.
"Kalian ini..." Luna terlihat menggeleng pelan dengan wajah pasrah, saat kemudian pintu masuk Bar terbuka.
"Selamat siang," ucap Shuri yang muncul pertama dari balik pintu masuk Bar tersebut.
"Selamat siang, Nona Shuri," Luna menjawab sopan dengan nada ceria, seperti seorang bartender yang baik.
Kemudian terlihat sosok Go menyusul masuk di belakang Shuri.
"Ok, bibi. Kau datang juga," sahut Loujze yang terlihat gembira.
"Oh, Nona Elian... maksud saya Nona Go, lama sekali saya tidak melihat Anda," sapa Luna yang terlihat terkejut dan gembira melihat sosok Go dihadapannya.
"Lama kita tidak bertemu, Nona Luna," jawab Go kemudian.
"Bagaimana kalian bisa datang bersama?" Deuxter bertanya seraya berpindah tempat ke meja di sebelah pintu masuk, agar dapat duduk saling berhadapan dengan Go dan Shuri.
"Kami bertemu saat menaiki Gondola," Shuri menjawab.
Dan mereka pun mulai bercerita panjang lebar.
"Jadi, Anda mengetahui sesuatu, Nona Luna?" tanya Shuri kemudian setelah Trio pemburu mulai masuk dalam pembahasan tentang Aksa dan Nata.
Sedang Luna hanya terdiam di balik meja panjang, terlihat sedang mengelap gelas yang ada di rak belakangnya.
"Apa kau tidak curiga tentang semua itu, Nona Shuri?" tanya Loujze yang tampak benar-benar terkejut Shuri percaya tentang Aksa dan Nata yang mengunci diri di dalam gua.
"Ku pikir karena mereka memang aneh, jadi bisa saja mereka melakukan hal seperti ini," jawab Shuri dengan sungguh-sungguh.
"Mereka memang aneh, tapi mereka pasti tidak akan tinggal diam bila terjadi masalah di wilayah ini, kan? Mau bagaimanapun juga wilayah ini dibangun oleh mereka," ucap Loujze kemudian.
Shuri terlihat mengangguk kecil, "Kalau dipikir seperti itu, memang benar. Mereka tidak akan diam saja melihat kekacauan yang tengah terjadi. Apa lagi Tuan Aksa. Orang itu sangat suka dipuji. Jadi tidak masuk akal dia akan diam saja," ucap Shuri kemudian mencoba memikirkan ulang tentang apa yang terjadi terhadap wilayah kerajaan dengan situasi yang di alami Aksa dan Nata.
"Dan apa benar, Anda mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi, Nona Luna?" tanya Go kemudian, yang membuat pandangan semua orang tertuju kepadanya.
Tampak Luna yang tidak berdaya menghadapi pertanyaan dari Go itu, hanya mampu menghembuskan nafas panjang.
"Apa kau akan tetap merahasiakan hal ini kepada mereka?" tiba-tiba Seigfried bertanya kepada Luna dari ujung ruangan. Yang membuat yang lain terkejut mendengarnya. "Apa aku saja yang menceritakannya kepada mekeka?" tambahnya lagi saat tidak kunjung mendapat jawaban dari Luna.
"Baiklah," ucap Luna menyerah. "Bila kalian ingin mendengar kebenarannya, datanglah kemari nanti malam saat Bar ini tutup. Aku akan menceritakan semuanya," lanjutnya kemudian dengan pasrah.
"Baiklah, kami akan kemari nanti malam," sahut Deuxter dengan cepat. Tampak pemuda Morra itu tersenyum setelah mendengar ucapan dari Luna, menyusul yang lainnya.
"Nah, sekarang biarkan aku tenang." Luna menjawab dengan nada sedikit kesal seraya kembali mengambil gelas untuk di lap.
.
Selepas siang, trio pemburu, Go, dan Shuri meninggalkan Bar tempat Luna bekerja. Sementara Shuri yang harus kembali melakukan patroli penjagaan wilayah, trio pemburu beserta bibi mereka mulai berkeliling Kota Tengah. Kemudian karena masih memiliki banyak waktu, mereka melanjutkan perjalanan menuju ke barat ke wilayah.
__ADS_1
Mereka mengunjungi Kota Pelabuhan terlebih dahulu, yang dilanjut ke wilayah peternakan dan penangkaran hewan milik Selene, kemudian ke wilayah pertanian dan bukit Waduk untuk menyapa Ellian dan Katarina. Sebelum kemudian kembali lagi ke Kota Tengah untuk mendengar cerita dari Luna mengenai Aksa dan Nata.
-