Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
29. Menjatuhkan Kota Benteng


__ADS_3

Dua minggu kemudian tampak desa Dyms mulai terlihat seperti sebuah markas militer. Hanya dalam sebulan setelah Lugwin mengumumkan diri ikut andi dalam perang ini.


Sebuah panji dengan lambang tiga lingkaran diatas empat garis melintang terpasang berkibar dialun-alun pusat desa. Itu adalah panji pasukan Lugwin yang baru. Di luar perbatasan desa sudah banyak berdiri perkemahan dan tempat latihan bertarung.


Di dalam desa sudah banyak terlihat bangsawan-bangsawan dan ksatria-ksatria yang berlalu lalang. Penginapan Lugwin sekarang sudah berubah menjadi balai pertemuan para pemimpin dan jendral-jendral. Dan sampai saat ini, keberadaan Nata masih tetap dirahasiakan.


"Tampaknya kabar mengenai bantuan kerjaan lain itu mulai memberi dampak tuan. Kini beberapa Baron yang ada diwilayah kotaraja mulai memihak kita. Kekuatan pasukan lawan sudah mulai melemah" lapor Matiu saat kembali mereka mengadakan pertemuan rahasia di rumah Lily.


"Seluruh desa dan kota-kota kecil di wilayah timur sudah kita bebaskan" ucap Nicko memberi laporan. "Strategi gerilya itu efektif sekali. Dan seperti dugaan prajurit yang dikirim untuk menghadang kita adalah prajurit bayaran dengan jumlah yang masih bisa kita atasi" tambahnya.


"Itu karena mereka memusatkan kekuatan mereka untuk memperebutkan kotaraja. Dengan melemahnya dukungan, jalan yang paling bagus adalah dengan segera menduduki kotaraja dan kemudian bertahan"


"Dan sekarang hanya tinggal kota Halmd dari seluruh wilayah timur ini yang belum kita bebaskan. Kota paling besar yang memiliki benteng paling kuat di seluruh wilayah timur ini. Jelas gerilya tidak akan bisa menjatuhkannya" ujar Nicko.


"Benar tuan Nicko. Kota ini tidak akan mempan oleh strategi gerilya" ucap Nata.


"Kota itu berdiri disebuah lembah. Sisi barat kota tersebut terdapat tebing tinggi dan terjal. Sangat curam untuk dapat dilalui sebuah pasukan. Yang menjadikan nya sebuah benteng perlindungan alami. Kemudian benteng kotanya sendiri yang kokoh yang dikelilingi parit untuk menjaga dari sebuah Ram pendobrak gerbang. Kota ini dirancang untuk mampu bertahan dari serangan militer" jelas Matiu kemudian.


"Lalu bagaimana cara kita menaklukan benteng ini tuan Nata?" Tanya Nicko.


Nata tersenyum. "Kota itu tidak memiliki tentara yang sebanding dengan prajurit yang kalian punya sekarang ini. Mereka hanya bertumpu pada tembok benteng mereka saja. Jadi bila tanpa tembok benteng tersebut mereka bukanlah apa-apa." ucapnya kemudian menjedah, "maka dari itu yang perlu kita lakukan adalah melakukan peperangan di dalam kota" tutupnya keemudian


"Peperangan didalam kota?" Terdengar Matiu tak percaya. Bahkan mereka masih belum mengetahui cara menjatuhkan benteng kota tersebut.


"Kita akan menggunakan pintu air parit untuk pintu masuk" ujar Nata.

__ADS_1


"Maaf tuan Nata, bukankah untuk masuk melewati parit itu berarti pasukan kita harus bergerak dalam jumlah kecil karena ukuran pintu air yang hanya setinggi orang membungkuk? Belum lagi cara tersebut sangatlah rawan karena disisi lain prajurit lawan pasti sudah siap menghadang. Prajurit kita akan jadi sasaran empuk mereka.


"Anda tidak salah tuan Matiu. Maka dari itu kita akan memasang pasukan palsu di depan gerbang agar lawan mengira pasukan utama kita sedang melakukan penyerangan di gerbang depan, sementara kita akan masuk melewati parit kedalam kota untuk bergabung dengan para budak yang sudah mengamankan sisi lain pintu parit tersebut" jelas Nata.


"Pasukan palsu?" Nicko tampak kebingungan.


"Para budak?" Matiu juga terlihat tak mengerti.


"Kita bisa gunakan kayu dan jerami untuk membuat sebuah patung. Kita akan pakaikan perlengkapan prajurit. Kemudian kita akan jejer di depan gerbang. Oh iya, sebelumnya kita akan membuat asap untuk mengelabuhi mereka. Mereka tidak memiliki penyihir yang dapat mendeteksi keberadaan manusia atau yang dapat membuat medan perlindungan dari sihir kan?"


"Tidak, penyihir semacam itu hanya ada di istana kerajaan. Tapi terlebih dari itu bisakah anda menjelaskan nya lebih rinci pada kami tuan Nata?" Pinta Matiu yang tampak kebingungan dengan apa yang sedang dibicarakan oleh Nata.


"Jadi pertama kita akan bakar hutan di tebing barat kota tersebut. Menurut perkiraanku angin tebing akan membawa asapnya turun kebawah saat malam tiba. Dan saat asap sudah menutupi permukaan lembah, kita akan menjejerkan pasukan kayu tersebut di depan gerbang.


"Kemudian beberapa orang akan menyalakan obor, membuat suara-suara gaduh, dan mulai menembakkan panah ke arah benteng gerbang depan tersebut. Seharusnya mereka yang tidak dapat melihat dengan jelas karena asap tadi akan mengira itu adalah pasukan utama kita dan mulai membalas serangan kearah pasukan kayu tersebut.


Terlihat Matiu dan Nicko mengangguk-angguk mendengarkan penjelasan Nata tersebut.


"Sementara di dalam kota para budak akan membuat kekacauan dan membantu kita mengamankan pintu air sisi dalam. Lalu setelah itu pasukan utama kita akan menyerang lewat parit dalam kelompok kecil dan bergabung dengan para budak untuk menaklukan kota itu dari dalam" Tambah Nata kemudian.


"Dan tentang para budak itu?" Tampak Matiu mengulang pertanyaan karena masih tak mengerti.


"Oh itu, sekitar sebulan yang lalu saya sudah berhasil menyusupkan seseorang untuk masuk ke kota tersebut dan berhubungan dengan para budak" jelas Nata kemudian.


"Benarkah?" Tampak wajah tak percaya dari Nicko dan Matiu.

__ADS_1


-


"Apa kau ingin menjadikan para budak itu sebagai prajurit Nat?" Tanya Lucia menghampiri Nata yang sedang menulis sesuatu di ruang tengah, setelah lepas makan malam.


"Bukan putri. Saya akan membuat mereka berjuang atas kemerdekaan mereka sendiri" jawab Nata masih tetap menulis.


"Tapi setelah itu?"


"Memiliki prajurit yang seorang budak sangat tidak menguntungkan putri. Mungkin bila hanya untuk menjadikan mereka perisai hidup masih cukup menjanjikan. Tapi selain itu tidak ada untung nya" ujar Nata yang kali ini menatap Lucia "Mereka akan keluar dari medan pedang sebelum perang itu selesai" tambahnya seraya kembali menulis.


"Kenapa?" Lucia duduk dikursi dihadapan Nata.


"Bila mereka masih ada setelah perang selesai, maka moral dari beberapa prajurit dan ksatria bangsawan akan turun. Karena mereka jadi tahu kunci keberhasilan perang ini adalah dari para budak. Dan bila para budak harus sampai ikut berkumpul kembali ke markas besar ini, kemungkinan besar mereka tidak akan pernah jadi orang bebas lagi" ujar Nata masih tetap menulis.


"Lalu bagaimana dengan nasib mereka setelah keluar dari kota itu?"


"Aku sudah meminta sedikit balas budi pada tuan Matiu"


"Dan apa itu?"


"Empat buah kereta, delapan puluh pasang baju dan bekal makanan selama tiga hari untuk setidaknya lima puluh orang. Juga Lily dan Val akan mengawal mereka sampai ke perbatasan daratan selatan"


"Benarkah itu?"


"Kenapa kau selalu meremehkanku puri?"

__ADS_1


-


__ADS_2