Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
--. Joan Story : Prolog


__ADS_3

Joan tampak menyilangkan tangan dan kakinya diatas tempat duduk yang terlihat mewah itu. Ia masih tidak begitu mengerti dengan maksud dari ucapan pria bernama Xiggaz dihadapannya ini.


"Jadi apa maksudmu dengan menyusupi kota ditanah mati itu?" Joan terdengar mengulang ucapannya. Ia menyandarkan tubuhnya kebelakang. Tidak memperdulikan pakaian kebangsawanannya yang mewahnya itu lecek.


Sekarang ia berada dalam rumah kediaman Dux Tyrion. Di bagunan sisi timur. Yang memang sengaja dikhususkan untuk tempat anak buah Dux Tyrion bekerja menjalanankan pemerintahan wilayah Estat Raygod.


Ia kemari karena undangan Xiggaz. Sahabatnya, dan juga kepala dari pemerintahan wilayah Estat Raygod tersebut.


"Ya seperti apa yang terdengar. Menyusup. Kau perlu masuk kedalam kota tersebut dan memata-matai apa yang yang sedang terjadi di tempat itu. Seperti tugas mu yang biasanya" ujar pemuda Narva berwajah menawan tersebut dari tempatnya duduk diseberang ruangan.


Joan menyibakan poni panjangnya yang jatuh menutupi mata. Kemudian menegakan badannya. Rambut kuningnya yang tergerai tampak berjatuhan ke belakang punggungnya.


"Apa kau tidak salah sasaran? Itu kota kecil di tanah mati. Apa yang ingin kau peroleh dari kota seperti itu?" Mata gadis itu menyipit. Melemparkan tatapan tidak terima, karena merasa Xiggaz telah mempermainkannya.


"Jangan salah, kota itu bukan kota biasa. Kota itu baru berdiri mungkin sekitar satu tahun. Tapi kota itu berhasil mengambil alih jalur penyeberangan sekaligus jalur dagang antara daratan selatan dan daratan utara" jelas Xiggaz yang terlihat bersungguh-sungguh.


Joan kembali menyipitkan matanya masih tidak percaya. Seolah apa yang baru saja Xiggaz katakan adalah bualan belaka.


"Apa itu mungkin? Untuk bertahan hidup di tanah itu saja, mereka mungkin akan berjuang setengah mati" Ujar Joan yang kali ini memindah posisi kakinya yang menyilang. "Itu tanah mati, Xig" susulnya kemudian.


"Tapi kenyataannya memang seperti itu. Maka dari itu aku ingin kau masuk ke kota tersebut dan mencari tahu tentang mereka. Kekuatan seperti apa yang mereka punya, hingga mereka bisa melakukan hal tersebut" jawab Xiggaz yang terlihat tidak sedang bercanda.

__ADS_1


"Benarkah?" Terdengar Joan masih belum mempercayainya.


"Ini laporan yang kami tahu tentang kota tersebut" ujar Xiggaz kemudian seraya berdiri dari tempatnya duduk dan menyerahkan gulungan kertas kepada Joan.


"Oh, mereka memiliki kerjasama dagang dengan Dux di ujung utara itu? Hm, menarik" ujar Joan setelah ia membaca isi dari gulungan tersebut.


"Dan seperti biasa, laporkan pada ku secara berkala" ucap Xiggaz yang berjalan bukan kembali ke tempat duduknya, melainkan menuju ke ujung ruangan untuk mengambil dua gelas dan sebotol anggur.


"Iya, aku tahu. Aku akan bersiap setelah ini. Lusa mungkin aku akan menuju ke tempat tersebut" jawab Joan setelah menerima segelas anggur dari Xiggaz.


"Dan terima kasih pada informasimu tentang penyergapan pasuka Joren di kota Karanis. Pasukan kita berhasi melakukan serangan kejutan dan menyapu bersih pasukan mereka" ujar Xiggaz setelah ia sudah kembali duduk di tempatnya.


"Syukurlah" jawab Joan dengan wajah terlihat lega. "Kurasa akhir-akhir ini kerajaan Joren mulai lebih agresif melakukan penyerangan. Beberapa wilayah timur sudah berhasil mereka kuasai. Lalu bila seperti ini terus, kapan perang ini akan berakhir?" Imbuh gadis itu setelah meneguk anggur dalam gelasnya. Terdengar prihatin.


"Wah, tak kusangka kau bisa berpikir bijak seperti itu, Xig" saut Joan dengan sedikit tertawa geli.


"Kau pikir aku siapa? Kau meremehkanku sekali" jawab Xiggaz tidak terima. "Tapi kabar baiknya, tuan Tyrion memiliki rencana untuk menghentikannya" tambahnya kemudian.


"Oh, benarkah? Dengan cara apa?" Tanya Joan terlihat penasaran.


"Jelas dengan cara memenangkan peperangan ini. Itu jalan yang paling sederhana" ujar Xiggaz cepat.

__ADS_1


"Jawabanmu itu sangat ambigu, kau tau itu?"


"Maksudku dengan menguasai Tanah Suci dan mendapat pengakuan gadis Suci, sebagai kerajaan pelindung. Dengan begitu tak akan ada lagi alasan untuk meneruskan peperangan ini, kan?" jelas Xiggaz kemudian.


"Oh. Dengan memanfaatkan nama gadis Suci? Bukan pemikiran yang baru. Hanya saja sampai saat ini, tidak ada yang pernah berhasil melakukannya" ujar Joan yang kini sudah kembali keposisi duduknya yang santai.


"Sudah delapan tahun ini tak sedikit kerajaan yang mencoba dan harus mundur karena gempuran langsung dari tiga arah sekaligus. Itu sesuatu yang tidak pernah bisa dilewati oleh tiga kerajaan ini" Joan melanjutkan penilaiannya.


"Itu karena kekuatan ketiga kerajaan ini sama besarnya" Xiggaz menjawab cepat.


"Apa itu berarti, tuan Tyrion memiliki rencana untuk membuat kekuatan kita melampaui kekuatan kedua kerajaan yang lain?" Joan segera memotong dengan dugaan.


"Benar sekali" dan Xiggaz hanya menjawab dengan singkat


"Wah, benarkah? Dan bagaimana caranya? Apakah ini berhubungan dengan beberapa anggota Delapan Pelindung yang kemarin datang dengan beberapa peti besi itu?" Tanya Joan yang mulai terlihat tertarik. "Apakah itu semacam senjata rahasia?" Susulnya kemudian.


"Oh. Kau sudah mengetahuinya? Benar. Itu adalah senjata rahasia kita untuk membalik peperangan ini" jawab Xiggaz dengan wajah yang terlihat penuh dengan harapan.


"Semoga tuan Tyrion berhasil melakukannya. Dan segera menghentikan peperangan tidak berguna ini" ujar Joan kemudian.


"Ya, kita doakan saja yang terbaik" Xiggaz menambahi.

__ADS_1


-


__ADS_2