Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
11. Menjawab Tantangan II


__ADS_3

Tidak menunggu lama, di hari itu juga terlihat pasukan kerajaan Urbar sudah mulai berbaris membuat perkemahan di depan gerbang selatan. Ada sekitar tiga ratus prajurit dalam tenda tersebut.


"Sebenarnya berapa jauh patokan jarak untuk membuat perkemahan pengepungan benteng seperti ini?" Tanya Aksa saat ia berada diatas dinding tebing tembok selatan. Disebelah Huebert yang sudah siap didepan senjata pelontar harpun yang ada di tempat tersebut.


"Harusnya sih dua kali jangkauan panah" jawab Hubert sambil terlihat menimbang.


"Mungkin setelah ini, patokan tersebut harus dikaji ulang" saut Aksa kemudian.


Sementara dibawah, tampak gerbang selatan dibuka. Lucia terlihat keluar bersama Caspian, Helen, Jean, dan Vossler yang berada diatas kuda mereka masing-masing.


Bersamaan dengan lima penunggang kuda tersebut, tampak juga sebuah gerobak yang ditarik oleh seekor keledai. Mereka berlima beserta gerobak tersebut berjalan maju mendekati perkemahan pasukan kerajaan Urbar.


Mereka berhenti begitu sudah berada tepat di depan perkemahan tersebut. Keledai penarik gerobak dan orang yang mengendalikannya tadi segera kembali menuju ke gerbang selatan. Meninggalkan gerobak itu bersama Lucia dan empat ksatrianya.


"Dengarkan, pasukan Urbar!" Teriak Lucia dari atas kudanya. "Aku, Lucia Eleanor Elbrasta kelima. Penguasa wilayah Pharos. Memerintahkan kepada kalian untuk segera meninggalkan tempat ini" lanjutnya dengan lantang dan terdengar menantang.


Lucia terlihat mengenakan baju ksatria bangsawan yang serupa dengan yang dikenakan Lugwin. Hanya saja, miliknya di dominasi oleh warna merah dan aksen emas.

__ADS_1


Semua prajurit yang ada di perkemahan itu tampak terkejut melihat kehadiran pemimpin lawan ditempat mereka. Beberapa segera bersiap mengangkat senjata dan busur panah mereka.


Tampak salah satu prajurit Urbar tanpa pikir panjang melepaskan anak panahnya kearah Lucia, ditengah-tengah Lucia sedang berbicara.


Dan belum sampai memasuki jarak dua langkah dari tempat Lucia, anak panah itu tiba-tiba terpental kesamping menjadi dua bagian. Seolah ada seseorang yang telah membelahnya.


Belum yang lain menanggapi hal tersebut, tiba-tiba sebuah tonggak besi sepanjang setengah tubuh orang dewasa meluncur dari arah tembok gerbang. Menghancurkan semua benda yang ada dalam laju jalurnya, dan mendarat dengan keras tepat ditanah didepan prajurit yang telah melepaskan anak panah kearah Lucia tadi.


"Sok ide prajurit itu" ujar Aksa yang masih berada disamping Huebert, dengan sebuah teropong didepan wajahnya.


Yang berarti mereka masih berada dalam jangkauan serang senjata yang berada diatas tembok gerbang. Dan bila mau, pihak Pharos bisa menghabisi mereka sejak dari mereka tiba ditempat itu.


Sedang prajurit pemanah tadi kini jatuh lemas setelah nyaris saja nyawanya melayang.


Menanggapi hal tersebut, tiga ksatria bangsawan yang tampaknya adalah pemimpin pasukan-pasukan itu, terlihat maju kedepan dengan kuda-kuda siap bertempur.


"Aku memiliki surat untuk atasan kalian" ujar Lucia dengan masih penuh percaya diri, melempar sebuah gulungan kertas ke arah tiga ksatria itu tadi. Yang kemudian jatuh di dekat kaki salah satu dari ksatria tersebut. Namun tak juga diperdulikan.

__ADS_1


"Juga mengembalikan sesuatu yang telah ia kirimkan" tambah Lucia menunjuk kearah gerobak dibelakang nya.


Para prajurit dan juga para ksatria bangsawan itu tidak menjawab, bahkan mereka tidak mengeluarkan suara apapun. Mereka hanya diam dan terlihat waspada.


"Pertimbangkan itu sebagai sebuah peringatan" ujar Lucia yang kemudian mengarahkan kudanya berbalik menuju gerbang selatan. Yang kemudian diikuti oleh Caspian, Helen, Jean, dan Vossler.


"Kalau sedang seperti itu. dia memang terlihat seperti seorang pemimpin" ujar Aksa kemudian.


"Mungkin itu bawaan dari garis keturuannya" Huebert menimpali.


"Bisa jadi" jawab Aksa cepat seraya mengangkat teropongnya kedepan mata. "Kita akan mulai bagian serunya" tambahnya kemudian.


Ksatria bangsawan itu masih belum juga bergerak dari posisi kuda-kuda mereka. Saat kemudian Lucia mengangkat tangannya keatas, dan sebuah tonggak besi meluncur lagi dari arah dinding gerbang, yang kali ini menghantam gerobak yang dibawa keluar oleh Lucia tadi.


Dengan mudah tonggak besi tadi menghancurakan gerobak tersebut hingga berkeping-keping, dan kemudian puluhan kepala prajurit Urbar yang menyerang pesisir timur semalam, berhamburan tepat di depan perkemahan tersebut.


-

__ADS_1


__ADS_2