Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
23.5. Antology Story : Memberi Pertolongan


__ADS_3

Sementara itu tepat hari setelah Nata dan Amithy menuju selatan. Di kota tengah, Lucia mendapat kunjungan dari Selene. Sebelum nantinya Selene akan langsung menuju ke hutan Sekai. Untuk memulai membangun penangkaran hewan ditempat tersebut.


Namun tujuan Selene yang lain adalah, untuk mengantar seseorang yang ingin bertemu dengan Lucia. Orang itu adalah Nikolai. Seorang pelaut dari desa di pinggiran pantai barat.


"Selamat siang tuan putri. Maaf mengganggu kerja anda. Tapi ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda" ucap Selene tanpa basa-basi begitu ia memasuki tenda Lucia.


Mereka semua memang masih tinggal didalam tenda, karena rumah mereka belum selesai dibuat. Pengerjaan kota baru itu mengejar bangunan umum terlebih dahulu. Sedang rumah-rumah penduduknya tetap dibangun hanya saja bukan yang dituamakan. Termasuk rumah Lucia dan para bangsawan.


"Siapa yang ingin bertemu saya, tuan Selene?" Tanya Lucia yang tampak sedang berbincang dengan Orland.


"Orang dari desa nelayan" jawab Selene kemudian.


"Oh, benarkah? Ajak dia masuk" jawab Lucia kemudian.


"Baik, tuan putri" setelah bedicap, Selebe segera keluar untuk menjemput seorang pria memasuki tenda Lucia.


Terlihat pria yang pernah Lucia temui. Tampak sedikit canggung dan bingung harus bersikap. Lucia langsung tahu bahwa pria ini tidak pernah berada dalam situasi resim atau menghadap bangsawan, sebelumnya.


Atau mungin dia berasal dari selatan dan tidak tahu seperti apa tata kesopanan kerajaan utara. Begitulah yang dipikirkan Lucia.


"Perkenalkan tian putri, beliau adalah tuan Nikolai yang ingin bertemu dengan anda" Selene kemudian memperkenalkan prid tersebut.


"Silahkan duduk" ucap Lucia mempersilahkan duduk.


Lucia dudiuk dimeja disebelah Orland. Sementara Selene mengambil tempat duduk tepat diseberang Orland. Dan mempersilahkan Nikolai duduk tepat di depan Lucia.


"Perkenalkan, nama saya Lucia. Jadi ada perlu apa anda ingin bertemu dengan saya, tuan Nikolai?" Tanya Lucia kemudian, setelah semuanya sudah duduk.


"Maaf mengganggu anda putri Lucia" ucap Nikolai meniru bagaimana Selene memanggil Lucia, putri.


"Tidak perlu memanggil saya putri, tuan Nikolai" ucap Lucia melarang.


"Baiklah kalau begitu. Nona Lucia. Saya kemari sebenarnya ingin meminta pertolongan dari anda" lanjut Nikolai.


"Orang-orang kami di pantai barat mengandalkan lautan untuk bertahan hidup. Namun sekarang adalah musim pergantian. Dimusim seperti sekarang laut sangat susah untuk dilalui" Nikolai mulai bercerita,


"Sebetulnya kami sudah memiliki persediaan makanan untuk melalui musim pergantian ini. Namun ada musibah yang terjadi, yang menyebabkan persediaan bahan makanan kami hilang semua"


"Maka dari itu, sudinya anda membantu kami dengan memberikan bahan makanan agar kami bisa melewati pergantian musim ini. Setelah kami sudah bisa kembali melaut, kami akan sebisa mungkin membayar kebaikan anda" tutup Nikolai dengan sebuah permintaan.

__ADS_1


"Sudah berapa lama kalian tinggal ditempat tersebut, tuan Nikolai?" Tanga Lucia kemudian.


"Kurang lebih satu setengah tahun ini nona Lucia" Nikolai menjawab.


"Oh, sebelumnya dari mana asal kalian?" Tampak Lucia bertanya lagi karena merasa penasaran.


Namun Nikolai hanya terdiam. Tampak sedang menimbang. Apa yang harus ia katakan.


"Bila memang anda tidak ingin menjawab, tidak apa. Saya juga tidak mau terlalu mencampuri urusan anda dan orang-orang anda" saut Lucia membatalkan pertanyaannya.


"Maaf nona Lucia. Saya tidak bisa menjawab. Karena saya tidak ingin orang lain tahu tentang hal ini, dan juga saya tidak ingin berkata bohong kepada anda" jawab Nikolai kemudian.


"Tidak apa-apa, tuan Nikolai. Saya menghargai privasi anda. Lalu, ada berapa orang ditempat anda?"


"Tiga puluh dua orang, nona Lucia"


"Baiklah kalau begitu. Saya akan segera siapkan" ucap Lucia kemudian nyaris tanpa jeda.


"Benarkah? Anda akan membantu kami?" Terdengar Nikolai terkejut dengan jawaban Lucia. Pria itu tidak mengira bahwa Lucia akan menyetujuinya secepat itu. Nikolai mengira Lucia akan mengajukan syarat dan penawaran. Bahkan, ia sudah bersiap untuk hal terburuknya. Memohon hingga mengemis-ngemis. Atau menukar dengan haknya srbagai orang bebas. Nikolai siap menjadi budak.


Tapi yang terjadi malah diluar semua perkiraannya. Dan karena hal itulah ia jadi tidak tahu harus bersikap seperti apa.


"Kami masih memiliki persediaan lebih, bila hanya untuk tiga puluh dua orang saja" ucapan Lucia membuyarkan lamunan Nikolai.


Sedang Orland dan Selene hanya tersenyum dalam diam. Mereka juga tidak berniat untuk ikut dalam perbincangan antara Lucia dan Nikolai.


"Mungkin dua hari lagi akan saya antar kesana" ucap Lucia kemudian.


"Tidak perlu anda antar nona Lucia, biar kami saja yang datang mengambil" buru-buru Nikolai menjawab.


"Bahan makan untuk tiga puluh orang mana sanggup anda bawa sendiri. Tidak apa. Nanti akan kami antar kesana. Setidaknya sampai di mulut celah tebing saja, bila anda tidak ingin kami berada di pemukiman anda" ujar Lucia kemudian.


"Bukan. Bukan begitu maksud saya, nona Lucia. Saya hanya tidak ingin lebih banyak lagi merepotkan anda" segera Nikolai menjelaskan kesalah pahaman Lucia.


"Tidak perlu sungkan tuan Nikolai, kita adalah tetangga sekarang. Jadi sudah kewajiban kita menolong bila anda membutuhkan" ucap Lucia kemudian.


"Sudah sewajarnya saya merasa sungkan dengan bantuan anda yang lain, nona Lucia" jawab Nikolai.


"Apakah disana banyak anak kecil? Apakah mereka ada yang memerlukan penyembuh atau tabib?" Lucia bertanya lagi.

__ADS_1


"Kami ada lima anak kecil. Tapi saya rasa kami masih bisa menanganinya sendiri untuk masalah tersebut" jawab Nikolai kemudian.


"Saya bilang tadi, jangan sungkan tuan Nikolai. Kalau kalian memang memerlukan hal yang lain, sebutkan saja. Kami akan bantu sebisa kami" ucap Lucia lagi.


"Terima kasih, nona Lucia. Terima kasih banyak" Tampak Nikolsi terus menunduk-nunduk mengucapkan terima kasih kepada Lucia.


"Sama-sama, tuan Nikolai"


-


"Kau tau, Luc? Kau sudah membuat pria tadi, takut" ucap Orland beberapa saat setelah Selene dan Nikolai meninggalkan tendanya.


"Membuatnya takut?" Tampak Lucia tidak mengerti dengan ucapan Orland.


"Coba pikir. Kau meminta pertolongan kepada seseorang dijalan saat roda kereta kuda mu rusak. Begitu kau bertemu dengan orang yang bersedia membantu mu untuk memperbaiki roda keretamu, apa yang kau pikir terhadap orang tersebut" Orland perandaian.


"Berarti orang itu orang yang baik" jawab Lucia kemudian.


"Nah, kalau kemudian orang itu menawarkan untuk membantu membawakan barang bawaan mu? Lalu berniatan mengantar mu pulang sampai rumah mu, tanpa kau minta. Apa kira-kiranyang kau pikirkan tentang orang tersebut?"


Lucia terdiam sebentar. "Curiga. Dan merasa takut, kalau-kalau orang itu berniat buruk" jawabnya kemudian dengan pelan.


"Sebagai orang baik pun, ada batasan untuk membantu seseorang. Ingatlah hal tersebut, Luc" ucap Orland kemudian.


"Baik paman, saya akan selalu mengingatnya" jawab Lucia dengan menganggukan kepalanya.


"Dan lagi, sejak kapan kita punya tabib?" Orland menanyakan hal yang ia tahan sedari tadi.


"Oh, Aksa. Diakan seorang tabib?" Jawab Lucia dengan cepat.


"Apa? Dia seorang tabib?" Terdengar Orland tidak menyangka akan jawaban Lucia.


"Benar. Dia yang dulu menangani luka Duexter dan Fla" ucap Lucia menjelaskan.


"Bocah itu. Selalu bisa membuat orang terkejut"


"Tapi ngomong-ngomong, ada di mana dia? Aku tidak melihatnya dari sepagian tadi?" Lucia tampak baru menyadari.


"Bukannya kemarin kau menyarankan dia untuk berlibur. Mungkin sekarang dia sedang berkeliling tanah ini" jawab Orland seraya mengambil sebuah kertas dari atas meja dan mulai membaca isinya.

__ADS_1


"Tapi tadi aku melihat nona Lily yang akan menuju hutan Sekai. Apa Aksa pergi sendirian? Semoga dia tidak melakukan hal yang tidak-tidak" ukar Lucia yang kemudian mengikuti Orland mengambil kertas dari atas meja dan mulai membacanya.


-


__ADS_2