
Terlihat Caspian berdiri di paling depan diantara para ksatria yang menutupi gerbang masuk ke tanah Pharos. Helen terlihat berdiri sedikit dibelakangnya. Dan sama seperti ksatria yang lain tangannya juga sudah berada pada gagang pedang, siap untuk mencabutnya sewaktu-waktu.
Sedang dihadapan Caspian tampak ratusan bangsa Yllgarian berdiri berjajar menutupi jalan. Yllgarian itu tampak beragam. Mulai dari klan burung, macan kumbang, beruang, banteng, dan kelelawar. Mulai dari anak kecil, pria, wanita, tua, sampai para petarung dengan senjata siap di tangan.
Terlihat dibaris paling depan, disamping para petarung, adalah seorang gadis Elf yang dikenali oleh Caspian. Dia adalah Aeron yang memperkenalkan diri sebagai Yvvone saat setelah penyerangan Lucia di bukit Karas beberapa bulan yang lalu.
"Ah, tak kusangka kita akan bertemu lagi disini" tampaknya gadis Elf itu juga masih mengingat Caspian. Kemudian ia berjalan maju mendekati Caspian.
"Apa maksud semua ini?" Tanya Caspian kemudian saat gadis Elf itu sudah cukup dekat dihadapannya.
"Apa kau sedang mencegat kami disini? Apa kau ingin menangkap para Yllgarian ini?" Tanya Aeron berperawakan mungil itu kepada Caspian.
"Apa maksud mu dengan mencegat kalian? Kami tinggal disini. Harusnya aku yang tanya apa urusan kalian datang kemari? Membawa jumlah sebanyak ini?" Ucap Caspian kemudian menjelaskan keberadaannya di tanah mati tersebut.
"Sejak kapan tanah mati berpenghuni?" Tanya Yvvone sedikit terkejut. Ia mengerutkan keningnya menatap Caspian.
"Mulai dari lima bulan yang lalu kami pindah ketempat ini. Dan secara sah menurut kerajaan Elbrasta, tanah ini sudah diberikan kepada tuan kami" jelas Caspian yang tampak membuat Yvvone dan beberapa Yllgarian terkejut. Beberapa dari mereka mulai kasak-kusuk dibelakang.
"Jadi kalian memang orang-orang kerajaan Elbrasta" terdengar salah satu Yllgarian macan kumbang dibelakang Yvvone berucap seraya mengangkat pedangnya.
Hal tersebut segera dijawab oleh para ksatria dibelakang Caspian dan Helen, yang juga mulai menarik pedang mereka dari sarungnya.
Situasi pun terasa mencekam. Hanya tinggal menunggu pemicu saja, maka pertumpahan darah akan terjadi.
Yvvone mengangkat tangannya memerintahkan para Yllgarian untuk tenang dan menurunkan senjata mereka.
"Kau orang kerajaan Elbrasta, tapi tidak ingin menangkap kami. Lalu apa yang kau inginkan?" Tanya Yvvone kemudian.
"Apa yang kau maksud dengan yang kami inginkan? Jangan mengalihkan pembicaraan. Aku yang yang lebih dulu bertanya pada kalian. Apa yang kalian inginkan ditempat ini?" Caspian terlihat sudah tidak bisa menahan sabar. Namun kemudian ia mulai memperhatikan wajah Yvvone yang terlihat bingung.
Kemudian Caspian menghela nafas panjang, "Kami memang berasal dari kerajaan tersebut. Tapi tuan kami sudah melepaskan diri dari kerajaan tersebut. Sekarang tanah Pharos ini bukan bagian dari kerajaan Elbrasta. Jadi kami tidak tahu menahu urusan kalian dengan kerajaan Elbrasta" jelas Caspian kemudian, mencoba untuk meluruskan kesalah pahaman yang tampaknya sedang terjadi.
"Hm, kalau begitu ijinkan kami untuk lewat. Kami dalam berjalanan hendak menuju hutan Tua di selatan" jawab Yvvone kemudian.
__ADS_1
-
Sementara di saat yang bersamaan di dalam tenda pertemuan di perkemahan bangsawan, tampak Lucia, Nata, Orland, Amithy, Madron, Dirk, dan Jean berkumpul untuk membicarakan masalah ini.
"Bagaimana ini? Mengapa bisa ada tiga ratus Yllgarian ditempat ini?" Tampak Dirk mulai sedikit panik.
"Kurasa mereka tidak sedang menyerang kita" ucap Amithy menenangkan Dirk.
"Aeron itu adalah Aeron yang kita temui saat penyerangan di bukit Karas. Dan kemungkinan besar para Yllgarian itu adalah penduduk desa Yllgarian di hutan utara yang dikabarkan hancur kemarin" Jean mencoba memberi informasi setelah tadinya ia juga berada di depan gerbang bersama Caspian dan Helen.
"Oh, si Loli Elf nya Aksa" celetuk Nata tiba-tiba.
"Kau bicara apa Nat?" Tanya Lucia kemudian.
"Oh, bukan. Lupakan saja" balas Nata buru-buru. Tampak Nata mulai kuatir dengan dirinya sendiri. Karena kini ia jadi ketularan Aksa, asal nyeletuk.
"Lalu apa yang mereka lakukan ditempat ini?" Terdengar Madron bertanya lebih kepada dirinya sendiri.
Dan tepat setelah pria baya itu selesai berucap, terdengar suara Helen dari luar.
"Permisi" Helen memasuki ruang tenda tersebut diikuti tatapan semua orang yang tampak sangat penasaran dengan apa yang sedang terjadi diluar sana.
"Bagaimana, nona Helen? Apa yang mereka inginkan?" Tanya Lucia kemudian.
"Para Yllgarian itu hanya ingin melewati tanah Pharos untuk pergi menuju ke hutan Tua di selatan. Mereka tidak tahu bahwa sekarang tanah ini sudah berpenghuni" jelas Helen kemudian.
"Bila mereka ingin lewat, biarkan saja mereka lewat" ucap Madron kemudian.
"Benar, bila memang tidak menimbulkan masalah. Biarkan saja mereka lewat" kali ini Amithy yang berucap.
"Mungkin kita bisa bicara dengan Aeron itu terlebih dahulu. Kita bisa bertanya tentang apa yang terjadi selama ini di hutan utara. Juga hal yang ia tahu tentang tuan Grevier" kali ini Jean yang memberi masukan.
"Bagaimana menurutmu Nat?" Lucia bertanya pada Nata yang duduk tepat dihadapannya, diseberang meja.
__ADS_1
"Kurasa, membiarkan mereka lewat adalah keputusan paling tepat untuk saat ini. Tapi mungkin mereka harus menggunakan jalur yang sedikit lebih susah. Karena beberapa jalan yang biasanya dilalui, sudah mulai ditutup oleh jalur kereta yang sedang dikerjakan oleh Aksa" ucap Nata panjang lebar.
"Oh, benar juga" terdengar Madron baru saja menyadarinya.
"Dan bila mereka ingin menggunakan kereta uap, berarti mereka harus menunggu satu setengah bulan lagi. Sampai Aksa kembali kemari" tambah Nata lagi.
Terlihat Lucia tampak diam berpikir, "Baiklah kalau begitu, biarkan para Yllgarian itu masuk terlebih dahulu. Kurasa bekas perkemahan bawah itu masih cukup luas untuk menampung mereka semua. Dan juga beri para Yllgarian itu tenda untuk beristirahat, makanan, serta minuman. Dan minta Aeron itu bertemu dengan ku" perintah gadis itu kemudian.
"Apa anda hendak memberi mereka makan tuan putri?" Terdengar Dirk bertanya dengan nada ragu.
"Benar" jawab Lucia cepat dan tegas.
"Mereka ada tiga ratus lebih" Dirk masih berucap untuk meyakinkan bahwa Lucia tidak salah memberi perintah.
"Kita masih memiliki simpanan bahan pangan untuk tiga bulan kedepan, kan?" Tanya Lucia kemudian.
"Tapi itu untuk persiapan, bila kita belum bisa menghasilkan bahan pangan sendiri di tiga bulan kedepan" Dirk mencoba untuk menjelaskan pentingnya persediaan bahan makan itu bagi mereka sendiri.
Terlihat Lucia terdiam kemudian tampak menatap kearah Nata.
"Aduh, kepalaku pening sekali akhir-akhir ini. Apa karena aku kurang tidur ya?" Ucap Nata tiba-tiba seraya menunduk sambil memijat-mijat dahinya dengan tangan kanannya.
Sebenarnya Nata melakukan hal itu hanya untuk menghidar dari Lucia yang tampak akan meminta bantuannya.
Dan melihat tingkah Nata seperti itu membuat Lucia jengkel. Kemudian membuang pandangannya dari Nata.
"Baiklah kalau begitu, coba hitung dulu jumlah anak kecil atau perempuan hamil dalam rombongan Yllgarian tersebut. Lalu beri mereka makan sesuai dengan yang kita mampu" ucap Lucia kemudian.
"Baiklah, tuan putri. Saya akan menghitung dan membantu mengiapkannya" jawab Dirk kemudian.
Melihat hal tersebut tampak Nata tersenyum lebar kearah Lucia yang masih menekuk wajahnya kesal.
-
__ADS_1