Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
Antology 3


__ADS_3

"Harusnya perjalanan itu memang seperti ini," ucap Nikea saat mereka baru saja tiba di perbatasan wilayah kerajaan Durahan dan Gurun Pasir Bhujerba, menggunakan kekuatan batu Arcane. "Untuk apa marga Aeron membuat Arcane Ruang Waktu bila tidak di manfaatkan?" lanjutnya kemudian seraya berjalan mengikuti ketiga rekannya yang lain.


"Itu karena kekuatan anti sihir pemindah sudah hilang, bersama dengan hancurnya gerbang Makam Kuno tersebut," jawab Noel kemudian. Mereka berempat menuruni tebing perbatasan Gurun Bhujerba dan menuju kota Qia. Kota paling barat dari wilayah kerajaan Durahan.


"Tapi sayang juga padahal ada banyak harta dalam Makam Kuno tersebut. Semua jadi hangus sia-sia. Apa kau memikirkan tentang hal tersebut sebelum memutuskan untuk memakai sihir pemanggil, Noel?" lanjut Nikea yang kali ini menyayangkan tindakan yang dilakukan Noel.


"Aku tidak mau melawan para Azorgia itu lebih lama. Dan juga, pasti akan banyak jebakan menunggu kita di dalam Makam Kuno tersebut. Kita tidak punya waktu untuk itu," jawab Noel menjelaskan alasannya.


"Ya. Ucapan mu ada benarnya juga, sih. Aku juga malas bila harus berurusan dengan jebakan-jebakan seperti itu. Terlebih lagi berlama-lama di wilayah dengan cuaca keras seperti itu," balas Nikea yang tampak setuju dengan alasan Noel.


"Lalu setelah ini apa? Kita sudah memiliki empat gelang, sekarang apa yang akan terjadi?" Kali ini Figor yang bertanya saat mereka sudah mencapai dasar tebing.


"Dari gelang ini kita akan tahu Grimore mana yang akan menuntun kita ke tiara untuk melengkapi Alta Larma." Noel menjawab.


"Apa lagi itu?" Figor terdengar bingung dengan maksud ucapan Noel.


"Bukannya gelang Scion hanya ada empat?" Gesthal menambahi dengan pertanyaan memastikan.


"Benar. Apa tiara itu hal lain yang juga diinginkan oleh Tuan Sefier?" Nikea ikut menimpali.


"Tiara itu masih bagian dari gelang Scion. Memang tiara itu tidak pernah disebut. Karena tiara itu dikabarkan hancur saat Perang Besar Elf terjadi," jelas Noel kemudian.


"Lalu mengapa kita mencari barang yang sudah hancur?" Nikea bertanya karena merasa semakin bingung.


"Benar. Kau membuat kami bingung, Noel." Figor menambahi.


"Bukan. Tiara itu dikabarkan hancur. Namun ada bukti mengatakan tiara itu masih utuh dikenakan oleh pemimpin marga Azuar saat beliau menyembunyikan gelang Scion. Dan bila kita bisa menemukan keberadaan Elf pemimpin marga Azuar kalau itu, berarti kita juga akan menemukan keberadaan tiara tersebut," ujar Noel menjawab kebingungan rekan-rekannya.


"Keberadaan Elf itu, maksudmu Nona Stellar? Tidak ada yang tahu apakah Nona Stellar itu masih hidup atau sudah meninggal. Dia hanya dikabarkan menghilang setelah menyebarkan gelang Scion tersebut," sahut Gesthal menjawab penjelasan dari Noel.


"Itulah yang akan kita cari tahu setelah ini." Noel menjawab dengan cepat.


"Sebenarnya, dari mana kau bisa mengetahui hal-hal seperti itu?" Figor terlihat penasaran dengan pengetahuan Noel yang luas.


"Sudah kubilang, aku suka dengan sejarah," jawab Noel dengan santai.


"Kau aneh sekali untuk seorang petarung, Noel. Kau tahu itu?" Figor berucap lagi. Dahinya mengkerut menatap ke arah Noel.


"Ya, aku tahu." Noel menjawab dengan nada sedikit bangga.


"Dan apa kau juga tahu kalau Kavacha ini adalah benda warisan kekaisaran Cindar?" Figor berucap lagi seraya menyapukan tangannya ke bagian dada dari zirahnya.


"Iya.. kurang lebih, sih" Noel menjedah ucapannya seolah sedang menimbang apa yang akan ia katakan. "Sebenarnya buka warisan dari kekaisaran Cindar secara langsung. Karena zirah mistik Kavacha itu sejatinya adalah zirah milik jendral besar dari kekaisaran Cindar yang dikenal dengan sebutan Pedang Abadi pada masa keemasan kekaisaran tersebut. Yang kemudian berada dalam kepemilikan kekaisaran Inanna saat mereka mengalahkan kekaisaran Cindar," tambahnya menjelaskan.


"Wih, menyeramkan. Kau bahkan bisa sampai tahu sejauh itu? Kau mahluk aneh, Noel," ucap Figor yang terlihat merinding dibuat-buat, seraya menyentuhkan kedua tangannya ke kedua lengannya menyilang.


"Hei, kau yang bertanya tadi," ucap Noel saat gerbang kota Qia sudah mulai terlihat.


.


Kota Qia yang mereka tuju itu seperti kota kecil yang biasa ditemui di wilayah-wilayah jauh dari pusat pemerintahan. Dan meski terletak diperbatasan, namun tidak banyak para pelancong yang singgah di kota tersebut. Tidak juga para pedagang. Tidak seperti kota-kota perbatasan pada umumnya. Itu dikarenakan, kota tersebut terletak di ujung mati wilayah kerajaan Durahan. Dimana sudah tidak ada kota atau wilayah lagi kecuali Gurun Pasir Bhujerba.


-


Mereka tinggal dan menginap di kota Qia selama dua hari. Di samping untuk mengistirahatkan diri dari perjalanan keras yang mereka lalui beberapa hari yang lalu, mereka juga sedang menunggu kabar dan perintah selanjutnya.


Dan pagi itu, tampak seorang kurir datang ke satu-satunya penginapan yang ada di kota tersebut, untuk mengirimkan sebuah surat untuk Noel.


"Sepertinya tugas baru kita sudah datang," ucap Figor saat melihat Noel muncul dari ujung pintu masuk, ketika mereka sedang sarapan pagi di rumah makan di seberang penginapan.


"Apa ada hal mendesak yang harus kita lakukan?" Gesthal bertanya saat Noel sudah kembali duduk di sebelahnya.


"Tuan Sefier meminta kita untuk segera berkumpul ke kota Metana," jawab Noel setelah meneguk minuman dari gelas di atas meja di hadapannya.


"Apa segera?" Gesthal bertanya lagi.


"Iya. Beliau meminta kita kembali secepatnya," jawab Noel kemudian.


"Apa sedang terjadi hal darurat di wilayah Elbrasta?" Figor bertanya.


"Aku juga tidak tahu. Tapi yang jelas kita harus segera bersiap-siap. Karena butuh tiga hari berkereta kuda untuk tiba kota Anhui." Noel menyarankan ketiga rekannya untuk segera bersiap.


"Eh... kita tidak menggunakan batu Arcane?" tanya Nikea yang terlihat terkejut akan rencana yang disebutkan oleh Noel itu.


"Kita sudah tidak memiliki batu itu lagi, Nik. Apa kau lupa? Yang terakhir sudah kita gunakan untuk keluar dari wilayah Makam Kuno kemarin," jawab Gesthal menggantikan Noel.


"Yah... berarti kita harus naik kapal laut? Malas sekali." Tampak Nikea menekuk wajahnya dengan kecewa.


"Ya karena hanya itu jalan satu-satunya untuk menuju ke daratan utara bila tidak melewati tanah mati," ucap Noel mencoba memberi penjalasan akan rencana yang ia buat.


"Apa kita tidak mencoba untuk melewati tanah mati itu saja untuk menuju ke utara. Toh, hanya selisih waktu satu dua hari saja, kan?" Celetuk Nikea tiba-tiba memberi ide.


"Tapi cukup berbahaya melewati tanah itu di masa-masa seperti sekarang. Mereka sedang berperang dengan kerajaan Urbar. Pasti penjagaan mereka akan ketat sekali di wilayah perbatasan. Bisa-bisa hal itu akan merepotkan kita," jelas Gesthal kepada Nikea.

__ADS_1


"Dan juga, kudengar dari beberapa pedagang yang singgah selama dua hari kita di kota ini, pihak Tanah Mati itu mulai melancarkan serangan besar-besaran kemarin. Bahkan mereka berhasil menduduki ibukota kerajaan Urbar," tambah Figor. "Gila... wilayah kecil yang baru satu tahun berdiri sudah mampu menaklukan sebuah kerajaan," imbuhnya lagi seraya menggeleng pelan.


"Maka dari itu, kita harus sebisa mungkin menghindari mereka. Setidaknya untuk saat ini," ujar Gesthal menimpali.


"Benar. Kita tidak bisa mengambil resiko. Jadi rencananya, besok kita akan mulai berangkat menuju ke perbatasan wilayah Joren. Kita akan ke kota Gan untuk mencari kereta kuda menuju kota Anhui, dan menyeberang melalui kota tersebut menuju daratan utara," ucap Noel kemudian menjelaskan ulang rencana mereka.


Tampak yang lain setuju dengan rencana tersebut, kecuali Nikea yang terlihat berwajah masam, kemudian berjalan dengan lesu meninggalkan rumah makan tersebut.


-


-


Sehari berjalan menuju ke arah timur, akhirnya mereka berempat tiba di kota Gan. Kota perbatasan antara kerajaan Durahan dan kerajaan Joren. Dan berbeda dengan kota Qia, kota Gan tampak lebih hidup. Meski tak terlalu ramai juga bila dibanding dengan kota perbatasan yang lain.


Banyak pedagang antar kota dan wilayah singgah di kota tersebut. Terlihat dari jumlah dan ragam kereta kuda yang keluar masuk dari gerbang kota.


Rombongan Noel segera menuju ke Balai Jasa Pengantaran untuk menyewa kereta kuda guna mengantarkan mereka ke kota Anhui di pesisir utara kerajaan Durahan. Namun sayangnya seluruh kereta kuda yang dimiliki Balai Jasa Pengantaran kota tersebut sedang terpakai, yang mengharuskan mereka menunggu sekitar dua hari lagi di kota tersebut.


"Kurasa kita harus menunggu," ujar Noel saat keluar dari gedung Balai Jasa teesebut. "Karena bila kita melakukan perjalanan ke utara menuju kota Anhui dengan berjalan kaki, maka akan memakan waktu kurang lebih satu minggu. Sedang dengan kereta kuda hanya butuh tiga hari. Yang berarti meski kita menunggu dua hari lagi, kita masih tetap menghemat waktu dua hari," lanjutnya menjelaskan.


"Ya. Aku juga setuju!" seru Nikea sambil melompat kecil. "Tapi tumben sekali Balai Jasa Pengantaran sampai kehabisan kereta kuda?" tambahnya kemudian.


"Mungkin karena masalah yang sedang terjadi di timur," jawab Gesthal. "Yang kudengar dari beberapa orang di sekitar gedung Balai Jasa tadi, kabarnya pihak Tanah Mati akan melakukan serangan ke Tanah Suci," lanjutnya.


"Memang benar-benar gila. Tanah Mati melawan Tanah Suci." Figor terlihat sangat tertarik.


"Apa kelak mereka juga akan jadi ancaman wilayah utara juga?" Kali ini Nikea yang bertanya.


"Entahlah. Lebih baik sekarang kita mencari penginapan terlebih dahulu," ajak Gesthal kemudian. Yang dijawab angukan oleh yang lain.


.


Setelah mereka menemukan tempat penginapan, Nikea dan Gesthal segera pamit untuk berkeliling kota. Gesthal perlu mencari pandai besi, sedang Nikea hanya ingun berkeliling kota sambil berbelanja.


Sementara Figor hanya ingin tidur seharian. Dengan alasan ia rindu tidur diatas kasur. Sedang Noel juga tinggal dikamarnya untuk memeriksa Gelang Scion yang haru saja mereka dapatkan.


.


Tampak langit sudah mulai gelap saat pintu kamar Noel diketuk dari luar.


"Noel, ayo makan malam." Terdengar suara Figor dari balik daun pintu.


Noel yang tampak sudah selesai menulis sesuatu gulungan kertas di atas meja itu, mulai beranjak dari tempat duduknya dan kemudian memasukan gulungan kecil kertas tempatnya menulis sesuatu tadi ke dalam sebuah wadah. Lalu berjalan menuju ke arah pintu.


"Oh, kau menulis surat lagi?" tanya Figor saat melihat Noel membawa wadah berbentuk tabung sebesar jari telunjuk. "Jadi kalian tidak putus?" tanyanya kemudian sambil tersenyum lebar.


"Sudah. Diam saja kau, Fig," sahut Noel seraya berjalan keluar penginapan meninggalkan Figor.


Disamping menyediakan jasa untuk pengantaran orang dan barang, Balai Jasa Pengantaran juga menyediakan jasa pengantaran surat. Baik melalui kurir, ataupun hewan yang sudah terlatih.


Noel dan Figor sudah berada di depan pengurus bagian pengiriman surat menggunakan hewan terlatih. Tampak seekor burung hantu bertengger pada potongan batang kayu kecil di atas meja di depan pengurus tersebut.


"Sampai saat ini aku masih belum mengerti bagaimana burung pengantar surat itu bisa menemukan tempat si penerima?" Figor bertanya dari samping Noel yang sedang mengamati beberapa burung dara di dalam kandang yang serupa seperti rumah kecil berjajar.


"Itu karena pelatihan dari para Penjinak," jawab Noel seraya menyerahkan tempat surat dan cincin yang baru saja ia lepas dari jari telunjuknya.


"Mereka dilatih untuk bisa tahu posisi orang yang bahkan kita pengirimnya saja tidak tahu pasti dimana tempatnya?" Figor terlihat tidak mengerti bagaimana hal tersebut bisa dilatihkan.


"Beberapa hewan memiliki kepekaan yang tinggi terhadap aliran Jiwa. Mereka bisa mencari dan menandai jenis dari aliran Jiwa tertentu," ujar Noel menjelaskan.


"Benarkah? Seperti Sihir Penanda?" Figor memastikan.


"Benar. Terutama untuk burung. Mereka sangat peka dalam menandai aliran Jiwa. Biasanya hal tersebut mereka gunakan saat mereka sedang melakukan migrasi musiman. Mereka bisa kembali ke tempat yang sama meski tanpa peta, karena mereka bisa merasakan aliran Jiwa tertentu dadi tempat mereka sebelumnya," jelas Noel lagi.


"Aku tidak menyangka binatang akan sehebat itu." Figor tampak kagum melihat burung hantu yang bertengger di meja pengurus. "Jadi para Penjinak melatih burung-burung itu untuk mengunakan kemampuan uniknya itu?" tambahnya bertanya.


"Benar. Semua binatang memiliki kemampuan mereka masing-masing. Namun tidak semua hewan bisa menggunakan kemampuan tersebut sesuai yang kita mau. Maka dari itu perlu Penjinak untuk melatih mereka." Noel tampak sudah selesai melakukan pendaftaran permintaannya dengan pengurus Balai Jasa tersebut.


Tak lama setelah pengurus masuk ke dalam, datanglah seorang pria Morra yang berpakaian seperti seorang pemburu dengan seekor burung hantu bertengger pada lengan kanannya.


Dan setelah memasang tabung wadah surat Noel ke gelang kaki burung hantu tersebut, mereka pun mulai berjalan keluar ruangan.


"Jadi benda apa yang kau jadikan tempat untuk menyimpan aliran Jiwa kekasihmu, supaya burung hantu itu tahu tujuannya?" Figor bertanya saat mereka melewati ruang tengah Balai Jasa tersebut.


"Siapa yang bilang kekasihku? Dia adalah temanku," jawab Noel tidak terlalu perduli.


"Setahuku benda untuk menyimpan aliran Jiwa yang paling umum digunakan adalah cincin atau liontin. Dan mana ada teman yang bertukar cincin atau liontin?" balas Figor langsung.


"Memang ada larangan untuk teman saling memberi hadiah? Aku juga pernah memberikan cincin untuk mu dan yang lain." Noel menjawab saat merema sudah berada di luar gedung.


"Itu totem dalam bentuk cincin. Lain cerita." Figor mengkoreksi ucapan Noel, tepat saat burung hantu tadi melompat ke udara dan mulai terbang berputar-putar di atas mereka, sebelum kemudian melesat cepat ke arah timur.


"Apa bedanya, kan sama saja cincin," jawab Noel kemudian setelah terjedah sesaat.

__ADS_1


"Cincin itu tidak menyimpan aliran Jiwa orang lain, Noel. Itu bedanya," balas Figor terlihat sedikit frustasi dengan tanggapan dari Noel.


"Benar. Karena hanya kekasih atau suami istri saja yang bertukar cincin dengan aliran Jiwa masing-masing tersimpan di dalamnya." Tiba-tiba Nikea berucap dari samping Gesthal yang sudah berdiri di depan Noel dan Figor.


"Tidak ada ketentuan untuk memberikan atau menerima cincin yang mengandung aliran Jiwa hanya kepada atau dari pasangan saja. Kita bisa memberikannya kepada sanak keluarga, dan juga rekan." Noel terlihat melangkah mundur kemudian membenahi posisi kulit pelindung lengannya. Mencoba untuk mengabaikan tatapan Figor, Nikea dan Gesthal.


"Jadi memang benar kalau itu adalah cincin," ucap Figor sambil mengangguk sendiri.


"Oh, jadi apa surat yang baru saja kau kirim itu untuk orang tuamu? Atau untuk anakmu mungkin? Atau ke rekan kerjamu yang lain?" Kali ini Gesthal yang bertanya dengan nada sarkas.


"Kalian berhentilah mencampuri urusan pribadiku," ucap Noel kemudian. "Sudah aku mau makan malam dulu," lanjutnya seraya berjalan ke arah rumah makan di ujung jalan. Yang kemudian disusul oleh tiga rekannya sambil tetap membicarakan tentang cincin dan hubungannya.


Sementara burung hantu tadi terlihat meluncur terbang di angkasa yang sudah mulai benar-benar gelap.


-


-


Sementara di suatu tempat di wilayah kerajaan Elbrasta, tampak dua pria Seithr dan seorang perempuan Getzja tengah duduk di depan meja panjang. Dalam ruangan yang tampak kotor dan lusuh.


"Bagaimana, Magna? Apa mereka berhasil mendapatkan gelang terakhir?" tanya salah satu pria Seithr berambut lurus panjang sebahu kepada pria Seithr lainnya.


Pria itu mengenakan baju bangsawan mewah berwarna putih dengan rangkapan jas yang juga berwarna putih dan motif berwarna hitam. Celananya berwarna hitam yang terlihat halus mengkilat. Tampak sebuah tongkat berbentuk pipih dengan ukiran rumit tersandar di samping penahan lengan kursi tempat pria itu duduk.


"Iya, mereka berhasil, Tuan Sefier. Sekarang mereka sedang berada di kota Gan di wilayah Durahan dan hendak menuju kemari," jawab pria Seithr yang di panggil Magna itu dengan sopan.


Pria Seithr bernama Magna itu mengenakan pakaian dengan jubah khas para penyihir. Baju lengan panjang berwarna hijau gelap dan jubah hitam. Tampak tongkat sihirnya tergeletak di atas meja di hadapannya. Serupa batang kayu sepanjang setengah tubuh dengan bentuk lengkung terpelintir di bagian ujungnya.


Sedang perempuan Getzja yang ada di tempat itu hanya duduk diam di samping Sefier. Mendengarkan dengan seksama. Perempuan itu menggunakan baju yang hampir serupa dengan Sefier. Baju bangsawan mewah yang dirangkap jas dengan potongan di atas pinggang berwarna putih, dan motif berwana merah. Mengenakan celana yang biasa digunakan para bangsawan untuk menunggang kuda. Rambut pendeknya yang berwarna abu-abu terlihat di sisir licin ke belakang. Namun meski demikian parasnya masih menunjukan keanggunan seorang wanita.


"Mereka memang tidak pernah mengecewakan. Terutama Noel. Ia selalu bisa diandalkan." Seithr bernama Sefier itu berucap.


"Maafkan saya karena tidak berhasil melakukannya, Tuan Sefier," sahut Magna dengan cepat seraya membungku kecil.


"Tak perlu kuatir. Aku tidak menganggap kau gagal, Mag. Sebelumnya kita memang salah cara dan tidak perhitungan para penjaga Azorgia," balas Sefier dengan cepat. "Karena jelas tidak akan berhasil mengirim seorang Seithr dan Narva untuk menghadapi empat Getzja dengan kekuatan sihir," lanjutnya yang berusaha meninggikan hati Magna.


"Terima kasih atas kebaikan Anda, Tuan Sefier." Terlihat Magna menanggapi dengan mengangguk sopan.


"Lalu Edea, bagaimana dengan rencana untuk menjatuhkan kotaraja?" tanya Sefier yang kali ini kepada perempuan Getzja di sebelahnya.


"Mirinda dan Narshe sedang melakukan persiapan untuk membantu prajurit keluarga Roxan dan Voryn, Tuanku." Perempuan yang dipanggil Edea itu menjawab. "Kurang lebih seminggu lagi semua akan siap di kota ini," jelasnya kemudian.


"Bagus. Pastikan semua berjalan dengan lancar," ucap Sefier seraya mengangguk kecil. Tampak sebuah kepuasan terlihat dari wajahnya.


"Lalu mengenai masalah Sang Raja?" Edea bertanya lagi.


"Kita tetap pada rencana awal. Sang Raja harus mati. Dan buat seolah semua itu adalah ulah dari para pemberontak yang lepas kendali," ujar Sefier menjawab. "Dan jangan lupa juga dengan Sang Ratu, putra kedua, dan putra ketiga. Habisi juga mereka. Jangan sampai ada yang menghalangi rencana kita dinkemudian hari." Sefier memerintahkan Edea.


"Baik, saya mengerti Tuan. Saya akan sampaikan kepada Mirinda dan Narshe," jawab Edea yang disertai dengan anggukan kepala. "Sedang untuk putra pertama bagaimana, Tuan Sefier?" tanyanya kemudian.


"Grevier biar aku yang urus. Kita masih memerlukannya. Ia harus jadi ujung tombak penggerak rencana kita. Setidaknya untuk beberapa rencana ke depan," ucap Sefier menjawab.


"Saya mengerti," balas Edea dengan kembali mengangguk pelan.


"Sedang untuk wilayah Tanah Mati? Apa yang harus kita lakukan terhadap mereka, Tuan Sefier?" tanya Magna kemudian.


"Kita tidak perlu melakukan apapun untuk saat ini. Kita lihat dulu apa yang akan dilakukan oleh putri terbuang itu," jawab Sefier. "Putri itu masih terlalu muda dan naif untuk memimpin sebuah kerajaan. Kita akan memanfaatkan celah dari setiap keputusannya dan menggunakan kesempatan tersebut untuk menggerakan para bangsawan," lanjutnya lagi.


"Menurut kabar dari mata-mata kita, setelah berhasil menaklukan ibukota kerajaan Urbar, mereka akan mulai bergerak menyerang Tanah Suci untuk mengejar raja Urbar," ucap Magna memberikan kabar yang ia terima.


"Benarkah? Tak kusangka mereka dapat mengalahkan kerajaan Urbar dan mulai menyerang Tanah Suci." Edea tampak sedikit terkejut juga sedikit kagum mendengar kabar tersebut.


"Semua itu karena kepemimpinan Tyrion yang bodoh itu. Sudah mendapat banyak bantuan senjata mistik, tapi masih saja tidak berhasil menaklukan wilayah sekecil itu," jawab Sefier dengan nada sedikit geram. "Untung dia berhasil mendapatkan Grimore untuk gelang terakhir. Bila tidak, aku akan melenyapkannya dan mencari orang lain untuk tugas berikutnya," lanjutnya kemudian.


"Apakah tidak apa-apa kita masih menggunakan orang seperti itu, Tuan Sefier?" Tampak Magna menguatirkan kelancaran rencana mereka bila menyerahkannya pada orang yang tidak mampu.


"Tidak apa-apa. Kita masih memerlukan tenaganya untuk rencana setelah ini. Setelah penyerangan kotaraja berhasil," jawab Sefier kemudian.


"Tapi apa tidak akan membahayakan rencana kita bila mengandalkan orang yang tidak mampu seperti dia, Tuan Sefier?" Magna masih merasa kuatir.


"Jangan kuatir, Mag. Untuk rencana selanjutnya, kita memang memerlukan seseorang sebagai pengalihan perhatian yang tidak terlalu berharga untuk dikorbankan." Sefier mencoba menenangkan kekuatiran Magna.


"Oh, seperti itu ternyata. Saya mengerti, Tuan Sefier." Tampak Magna mulai paham dengan apa yang sedang di rencanakan oleh tuannya itu.


"Baiklah kalau begitu, bila sudah tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi, kita sudahi pertemuan kali ini. Aku harus segera menemui Grevier." Sefier berucap seraya bangkit berdiri. Yang kemudian disusul oleh 2 orang yang lain.


"Oh, dan jangan lupa untuk memastikan kepada Noel, tentang benda terakhir setelah keempat gelang tersebut," perintah Sefier kepada Magna saat ia sudah berada di ambang pintu keluar ruangan tersebut.


"Baik, Tuan. Saya akan pastikan kepada Noel," jawab Magna seraya membungkuk kecil.


Dan kemudian mereka bertiga beranjak meninggalkan ruangan tersebut.


-

__ADS_1


__ADS_2