Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
30.5. Intermezzo Part 5


__ADS_3

"Berati kita bisa membuat Baterai Baghdad untuk mengisi daya peralatan elektronik ini"


"Kau ini bego apa? Butuh berapa besar periuk dan berapa banyak tembaga dan sitrun untuk mengisi dayanya hingga penuh?"


"Atau kita bisa bikin semacam mesin diesel?"


"Dari mana kita bisa dapat bahan-bahan untuk membuat mesin itu? Terlebih dari mana kau bisa mendapatkan bahan bakarnya?"


"Hm, kalau mesin uap?"


"Tetap kita butuh bahan-bahan dan orang yang bisa membuat tungku dan Piston nya"


"Oh-oh, aku punya ide. Bagaimana kalau kita mencari cara untuk mengkonversi sihir menjadi daya energi?"


"Lalu bagaimana kita bisa mencari caranya bila kita saja tidak bisa menggunakan sihir?"


"Oh, kita bisa minta bantuan Lily. Kurasa dia pasti sangat mahir menggunakan sihir. Eh, ngomong-ngomong, kenapa sampai sekarang aku tidak pernah melihat Lily memakai sihirnya ya?"

__ADS_1


"Benar juga, apa jangan-jangan sihir yang ia punya sama seperti sihir milik Jean?"


"Maksudmu yang untuk membuat plat besi bersinar itu?"


"Jadi apa tidak apa-apa kita meninggalkan mereka?" Segera Lucia menyela perdebatan Nata dan Aksa yang sudah terjadi hampir sepagian ini, sebelum Jean sempat bereaksi.


Sudah dua minggu berlalu setelah mereka bertemu dengan Lugwin untuk merencanakan siasat penyerangan ke kotaraja. Kini mereka sudah berada di garis perbatasan wilayah Elbrasta.


"Aku sudah jelaskan situasi dan rencananya secara detail. Aku juga sudah menuliskan rencana cadangan bila ada hal-hal yang tidak di harapkan terjadi" jawab Nata.


"Tapi apa benar akan baik-baik saja?" Terlihat Lucia kuatir.


"Lalu kenapa kalian bertiga masih mengikuti kami? Bukankah kemarin kalian sudah pamit pulang kekampung halaman kalian?" Kali ini Aksa berucap kepada trio pemburu yang berkuda di samping kereta kuda mereka.


"Karena tampaknya menarik mengikuti kalian berdua" jawab Huebert dengan senyum mengembang di atas kudanya.


"Benar. Kami sudah meminta ijin kepada kepala desa, keluarga, dan sanak saudara kami disana, bahwa kami akan melakukan petualangan dan mengasah bakat kami" jawab Deuxter menambahi.

__ADS_1


"Kalian ini memang pemburu yang aneh. Tapi tidak apa-apa keputusan kalian mengikuti utusan dewa tidaklah salah" ujar Aksa yang kembali tidak dihiraukan oleh yang lain.


"Sedang anda putri? Kenapa anda masih mengikuti kami?" Kali ini Nata yang bertanya pada Lucia.


"Aku tidak mengikuti kalian. Jalan kami berdua hanya kebetulan searah dengan kalian" ujar Lucia mengelak, "Lalu setelah dari Garya kalian hendak kemana?" Lanjutnya dengan pertanyaan.


"Entahlah mungkin ke Baltra menjenguk Couran" jawab Nata, "Mungkin kami akan mulai bercocok tanam di desa itu" tambahnya kemudian. Yang dianggap oleh Lucia sebagai jawaban tidak serius.


"Tapi sebelumnya aku ingin bertemu Lumire terlebih dahulu. Aku rindu masakan pedagang Azzure itu. Kuharap kita bisa bertemu mereka saat tiba di Garya nanti" sahut Aksa.


"Kalau anda putri? Apa yang akan anda lakukan setelah sampai ke tempat yang anda tuju?" Tanya Nata kemudian.


"Menikah?" Timpal Aksa dengan nada yang seperti sedang menjelaskan dan bukan sedang bertanya.


Lucia terdiam menatap kearah Nata dan Aksa secara bergantian. Seolah sedang memastikan jawaban yang akan ia utarakan.


Tampak trio pemburu pun menoleh kearah Lucia. Mereka juga penasaran ingin mendengar jawabannya.

__ADS_1


"Entahlah, akan kupikirkan dulu selama dalam perjalanan ke Garya ini" jawab Lucia kemudian.


__ADS_2