
"Apa menurutmu melakukan hal tersebut benar-benar perlu, Nat?" Tanya Lucia saat ia sudah kembali berada di kediamannya di kota Tengah.
"Kita memang perlu membuat rangsangan kejut seperti itu, untuk membuat lawan merasa takut dan ragu untuk menyerang kita" jawab Nata yang duduk disebelahnya.
Ada Nata, Aksa, Lucia, Lily, Rafa, Orland, Jean, dan Caspian di ruangan tengah tersebut.
"Juga, dengan sikap angkuh seperti itu. Aku benar-benar tegang setengah mati diluar tadi. Aku mencengkeram tali kekang kudaku dengan sangat kuat, hingga tak terasa sarung tangan besi ku melukai telapak tangan" ujar Lucia lagi seraya menunjukan tangan kanannya yang terbalut kain.
"Tapi anda tadi terlihat meyakinkan sekali, putri. Sepertinya anda memang dilahirkan untuk menjadi seorang pemain peran yang sangat handal" ucap Nata kemudian.
Lucia segera menatap sinis kearah Nata tanpa kata-kata.
"Kurasa kini kau sudah menjadi seorang pemimpin yang baik, Luc" saut Caspian.
"Baik kalau begitu. Sekarang kita akan masuk ke tahap berikutnya" ucap Nata membahas tujuan awalnya. "Kita akan bersiap untuk menerima serangan-serangan dari kerajaan Urbar setelah ini. Dan kita akan mencoba mengalihakan perhatian mereka, selama kita mempersiapkan diri untuk melakukan serangan balik" lanjutnya kemudian.
"Jadi kita akan menyerang balik?" Terdengar Jean mencoba untuk meyakinkan.
"Jelas. Tapi, kita bukan mereka. Kita akan memberi tahukan kepada mereka bahwa kita akan melakukan penyerangan balik, bila mereka tidak menghentikan semua ini" jawab Nata menjelaskan.
__ADS_1
Terlihat Jean mengangguk paham.
"Lalu bagaimana dengan kapalnya, Aks?" Tanya Nata yang kini kepada Aksa.
"Sepertinya masih butuh waktu sekitar sebulan lagi" jawab Aksa singkat.
"Untuk senjata yang lain?" Nata bertanya lagi.
"Bahan-bahan untuk bom asap, sudah aku terima dari nona Ellain dan tuan Selene. Launchernya sudah selesai dibuat tuan Haldin kemarin" jawab Aksa menjelaskan sesuatu yang tidak dipahami oleh yang lain.
-
"Sepertinya memang tidak bisa dihindari" Lily menjawab dari sebelah Nata yang sedang berada dikursi kemudi.
"Tapi aku tidak akan membuatmu turun ke dalam medan perangan ini" ujar Nata lagi sambil tetap menatap kedepan dengan tangan pada roda kemudi.
"Aku tahu kau dan Aksa memikirkan perasaan ku dan Val. Tapi kalian tidak perlu kuatir. Kami yang memilih untuk mempercayai sang Oracle, mempercayai kalian berdua" jawab Lily yang terdengar tulus.
Nata tersenyum samar kemudian menatap Lily sebentar. "Terima kasih" ujarnya kemudian.
__ADS_1
-
Sehari setelah kejadian tersebut perkemahan pasukan kerajaan Urbar mulai dibongkar. Mereka memindahkan perkemahan mereka lebih jauh lagi dari gerbang selatan. Itu karena, mereka mewaspadai serangan tonggak besi dari senjata yang terpasang diatas tembok tebing gerbang tersebut.
Dan kemudian siang harinya, setelah pasukan kerajaan Urbar itu sudah benar-benar tidak ada di dekat gerbang, para pekerja dan penyihir Pharos tampak keluar dari gerbang. Lalu mulai menggali tanah disekitaran tempat tersebut, sesuai arahan dari Nata.
Dan juga untuk sementara pemukiman di wilayah selatan, dipindahkan sedikit lebih jauh ke utara. Untuk berjaga-jaga bila hal yang tidak diinginkan terjadi. Karena wilayah gerbang selatan akan menjadi medan pertempuran.
Sedang wilayah pesisir pantai timur kini sudah mulai dibersihkan. Desa Sekai yang terbakar itu mulai dibereskan sebelum nantinya akan dibangun ulang. Sementara penduduknya kini tinggal di desa Timur.
Jalur penyeberangan menuju ke pantai Mado ditutup untuk sementara. Karena dermaga kini mulai dipasangi beberapa kayu penghalang.
Aksa juga memberikan beberapa senjata ke para prajurit Yllgarian, untuk membantu mereka menjaga wilayah pesisir timur.
Namun meski begitu, Nata tidak memerintah untuk mencari prajurit dari para penduduk. Dan tidak meminta penyihir yang sudah meninggalkan militer untuk berhabung kembali.
Untuk kelompok Bintang Api yang sudah memiliki cukup anak kelompok, mulai membagi diri untuk berjaga diwilayah-wilayah bukan gerbang. Seperti desa Waduk, kota Tengah, dan Ceruk Bintang. Untuk mengantisipasi adanya penyerang yang mencoba menaiki tembok tebing Pharos.
Sedangkan untuk kehidupan sehari-hari masih berjalan seperti biasa. Meski pembicaraan tentang perang dan musibah yang menimpa desa Sekai itu masih menjadi topik pembicaraan yang hangat dikalangan penduduk.
__ADS_1
-