
Rombongan Aksa dan Nata tiba disebuah jalan lereng tebing yang bagian kiri jalannya terlihat lautan dari jauh. Begitu indah pantulan matahari membuatnya berkelip-kerlip seperti berlian dari kejauhan. Sehari setelah mereka bertolak dari kotaraja.
Rombongan mereka hanya memakai satu kereta kuda. Kereta kuda miliki rombongan Aksa dan Nata yang sudah mereka rombak abis-abisan itu. Yang akan selalu menarik perhatian orang saat kereta kuda itu lewat.
Kereta itu diisi Nata, Aksa, Lucia, dan Lily. Sedang tampak Jean dan Caspian menunggangi kuda mereka masing-masing. Berjalan mengiringi disamping kiri kanan kereta tersebut.
Terlihat Aksa dan Nata terpukau melihat pemandangan indah itu. Hal yang sudah lama tidak Lucia lihat. Jalanan lereng bukit itu sedikit menanjak dan sepi. Angin bertiup sejuk dari atas bukitnya membawa aroma rerumputan.
Benar-benar hari yang tenang sampai kemudian tampak seseorang tergeletak di tengah jalan setelah tanjakan.
"Siapa itu? Apa dia terluka?" Terdengar Lucia bertanya seraya beranjak turun dari kereta.
"Putri! Jangan sembarangan turun dari kereta" Teriak Jane yang juga turun dari kudanya kemudian berlari mengejar Lucia.
"Hei, Lucia! Jangan gegabah" Berbarengan dengan Jane, Caspian juga berteriak. Namun ia tidak turun dari kudanya tapi memacu kudanya mengejar Lucia.
"Gadis itu ga ada berubahnya sama sekali" Aksa melihat kelakukan Lucia sambil menggelengkan kepala.
"Benar. Sepertinya perjalanan kita ini tidak akan tenang" Nata meyetujui ucapan Aksa.
-
"Apa anda seorang Baron tuan?" Tanya Lucia kepada seorang pria Morra yang mengenakan pakaian bangsawan yang terlihat usuh itu, ketika ia sudah siuman di dalam kereta. Pria itu adalah pria yang tergeletak di jalan tadi. Tampaknya ia pingsan karena kecapean dan kehausan.
"Benar, saya seorang Baron dari kotaraja, Nama saya Pietro" jelas pria yang mengenalkan diri bernama Pietro itu.
"Apa yang terjadi pada anda tuan Pietro?"
"Saat kemarin kami bermalam di timur bukit Karas, tiba-tiba kami diserang oleh segerombolan bandit. Mereka menyebut diri mereka Midas"
"Bandit gunung Midas?" Terdengar Caspian tampak mengenal nama tersebut.
"Benar. Mereka tiba-tiba menyerang, dan karena panik saya berlari dan memisahkan diri dari yang lain"
"Yang lain?" Kali ini Nata bertanya, yang mengindikasikan bahwa Pietro tidak sendirian.
"Benar. Meskipun saya melakukan perjalanan seorang diri namun kemarin saya bermalam bersama rombongan pedagang dari Azure" jelas Pietro lagi.
"Pedagang Azure? Apakah Lumiere?" Kali ini Aksa yang bertanya dengan nada kuatir.
__ADS_1
"Benar, apakah kalian mengenalnya?"
"Benar kami mengenalnya" jawab Lucia seraya mengangguk.
"Apakah mereka di tangkap oleh gerombolan bandit itu?" Kali ini Caspian yang ganti bertanya.
"Yang kutakutkan mungkin mereka tertangkap" jawab Pietro dengan ragu.
"Dimana anda bermalam kemarin? Bisakah anda mengantarkan kami kesana?" Pinta Lucia.
"Kembali ke sana? Apa anda yakin nona?"
"Apa anda hendak menyelamatkan Pedagang Azure?" Tanya Nata menilai tindakan Lucia.
"Benar" jawab Lucia tegas tanpa jedah berpikir.
"Dengan jumlah kalian sekarang, itu mencari maut namanya" ucap Pietro yang mulai kuatir. Ia baru saja lolos dari bahaya dan sekarang ia malah diminta untuk kembali kesana.
"Akhirnya ada orang logis yang angkat bicara" celetuk Aksa. Tapi tidak digubris oleh Lucia.
-
"Jadi siapa sebenarnya Bandit Midas itu tuan Caspian?" Tanya Nata saat mereka mulai berjalan menuju ke sisa sebuah api unggun di dekat sebuah pohon besar.
"Midas ini adalah gerombolan bandit yang sering merampok para pedagang di wilayah barat ini. Gerombolan mereka itu terkenal dengan pemimpinnya yang di juluki si tangan terkutuk. Seorang penyihir tempur yang sangat handal. Dan karena hal itu juga lah prajurit kerajaan mengalami kesusah untuk menumpas gerombolan mereka" jelas Caspian panjang lebar seraya mengamati keadaan.
Banyak terlihat bekas rerumputan yang diinjak-injak ditempat itu. Dan yang jadi perhatian mereka adalah jejak seperti roda kereta menjauh dari tempat itu menuju kearah utara bukit.
"Ada jejak beberapa kereta kuda kearah utara. Biar aku dan nona Jean memeriksanya terlebih dahulu. Kalian semua tunggu disini saja" ucap Caspian memerintah. Dan kemudian bersama dengan Jean, mereka berdua memacu kuda mereka menuju ke utara.
"Jadi tuan Pietro, sedang dalam keperluan apa anda melakukan perjalanan?" Lucia memulai percakapan saat mereka siap untuk makan siang.
"Saya sedang kunjungan rutin menuju Zeraza. Saya menjalankan sebuah bar di kota tersebut"
"Oh, anda menjalankan sebuah bar?" Terdengar Nata tertarik dengan jawaban Pietro.
"Benar. Saya memiliki Bar di kota Zeraza dan di wilayah barat kotaraja"
"Kalau boleh saya tau, dari mana anda mengambil minuman beralkohol yang anda jual di bar anda tuan Pietro?"
__ADS_1
"Oh, itu aku mengambilnya langsung dari perkebunan. anggur diutara"
"Apakah semua minuman itu terbuat dari anggur tuan?"
"Tentu saja, memang minuman alkohol terbuat dari apa lagi kalau bukan anggur?"
"Baiklah kalau begitu. Terima kasih atas informasinya tuan Pietro" jawab Nata kemudian mengakhiri percakapannya, dengan meninggalkan wajah Pietro yang tampak kebingungan.
-
Tak berapa lama berselang tampak dua penunggang kuda mendekat. Jean dan Caspian sudah kembali.
"Bagaimana? Apa kalian menemukan mereka?"
"Di balik bukit ini ada perkemahan para bandit itu. Dan tampaknya memang tuan Lumire dan keluarganya disekap disana" ucap Jean menjelaskan.
"Ada sekitar delapan orang disana. Sebenarnya kami bisa saja langsung menyerang mereka saat itu juga, jumlah mereka masih bisa kami berdua tangani. Namun kami kuatir terhadap pedang Azure tersebut" kali ini Caspian yang menambahi.
"Maka dari itu, kita akan melakukan penyerangan begitu malam tiba" timpal Jean.
"Baiklah kalau begitu"
-
Begitu malam menjemput, mereka mulai bergerak menuju perkemahan para bandit tersebut. Kereta kuda mereka berhenti cukup jauh dari area yang terlihat beberapa tenda dipasang melingkari sebuah api unggun. Tampak sekitar lima kereta kuda berada mengelilingi tenda tersebut.
Caspian dan Jean mulai berjalan mengendap menuju perkemahan tersebut. Kuda-kuda mereka ditinggal bersama Lucia dan yang lainnya.
Lily juga tinggal di kereta kuda untuk menjaga Nata, Aksa, Lucia, dan Pietro, seraya mengamati Caspian dan Jean bila mana mereka berdua butuh bantuannya.
Tak lama kemudian terdengar teriakan tertahan dari arah perkemahan itu. Lalu teriakan panjang, kemudian suara dentang logam beradu.
Hanya dengan mendengarkan suara-suara tersebut sudah membuat Aksa dan Nata bergidik.
"Kurasa sudah aman. Para bandit itu sudah tumbang semua" ucap Lily tak berapa lama kemudian.
"Kau bisa melihatnya dari sini?" Tanya Aksa tidak percaya. Seraya memicingkan mata menatap kilauan warna jingga api unggun jauh didepannya.
-
__ADS_1