
"Sefier, apa kau dengar tentang Ibunda, Alexander, dan Eden berada di wilayah Lucia sekarang?" tanya Grevier saat ia sedang berada di ruang kerjanya bersama Sefier dan Edea.
"Saya sudah mendengarnya, Tuan Grevier. Saya berniat akan melaporkan pada Anda setelah ini. Tapi sepertinya Tuan sudah mengetahuinya lebih dahulu," jawab Sefier seraya mengangguk kecil. "Lalu bagaimana kehendak Anda mengenai hal ini?" tanyanya kemudian menambahi.
Grevier terdiam. Seperti biasa ia hanya menghembuskan nafas seraya menatap ke atas, hal yang selalu ia lakukan bila sedang merasa resah dan bimbang.
"Apakah mereka baik-baik saja sekarang? Pasti berat melakukan pelarian selama dua minggu ini, melintasi wilayah kerajaan menuju ke selatan," ucap Grecier kekudian masih tetap menatap ke langit-langit ruangan.
"Bila Anda kuatir dengan keselamatan Yang Mulia Ratu, dan kedua adik Anda, kita bisa menjemput dan memindahkannya ketempat yang lebih aman," jawab Sefier dengan cepat dan tanggap.
Grevier menghembuskan nafas untuk kesekian kalinya. "Tidak perlu. Biarkan mereka di tempat Lucia. Kita tidak boleh melakukan sesuatu yang akan menyebabkan orang-orang Roxan dan Voryn itu curiga," jawabnya kemudian.
"Bipa Anda kuatir tentang hal tersebut, serahkan pada saya, Tuan. Saya akan menjemput mereka tanpa sepengetahuan siapa pun," ucap Sefier menjawab dengan cepat dan percaya diri.
"Tidak perlu, Sefier. Berkonsentrasilah pada rencana penyerangan balik ke kotaraja. Biarkan mereka berada di tempat Lucia untuk saat ini. Kita akan urus hal tersebut setelah aku sudah memegang tahta," balas Grevier kemudian.
"Tapi Tuan Grevier, keberadaan Yang Mulia Ratu dan kedua adik Anda akan menarik perhatian bangsawan lain untuk dimanfaatkan. Bisa-bisa hal tersebut juga akan digunakan oleh putri Lucia untuk kepentingannya sendiri," ucap Sefier segera yang terlihat tidak suka dengan keputusan Grevier tersebut.
"Ya, aku mengerti tentang hal itu. Karena keberadaan ku yang tidak jelas bagi mereka, maka Alexander adalah satu-satunya garis keturunan yang bisa digunakan untuk mencari kekuatan dan kekuasaan." Grevier menyondongkan tubuhnya kedepan, dengan kedua sikunya ia letakan di atas meja seraya menautkan jari menopang dagu . "Tapi, kurasa mereka akan aman dari bangsawan-bangsawan pencari kesempatan itu, bila mereka berada di wilayah Lucia," ucapnya kemudian.
"Apa Anda yakin putri Lucia tidak akan memanfaatkan kesempatan ini, Tuan Grevier?
"Ya, aku sangat yakin tentang hal tersebut. Aku memang tidak suka dengan Lucia, karena sifatnya yang naif dan kekanak-kanakan," ucap Grevier menjawab. "Kelakuannya selalu membuat ku geram di tiap kali aku mengingatnya. Melepaskan tahta, bersikap tidak realistis meski dia adalah seorang penerus sah kerajaan Elbrasta. Ia tidak berusaha memperjuangkan haknya, dan malah membuangnya dan membuat sebuah wilayah sendiri. Menghianati warisan leluhurnya.
"Hal itu yang membuatku tidak menyukainya. Dan karena hal itu jugalah aku selalu waspada dengan segala tidakan dan kelakuan yang mungkin bisa ia lakukan. Seorang naif yang tidak realistis itu sangat susah untuk dibaca. Kelakuannya tidak bisa diprediksi," tutup Grevier kemudian.
"Seperti yang telah Anda sebutkan bahwa tindakan putri Lucia tidak dapat diprefiksi, lalu apa yang membuat Anda yakin bahwa Putri Lucia tidak akan menggunakan kesempatan tersebut untuk memanfaatkan Yang Mulia Ratu dan Tuan Alexander, Tuan Grevier?" tanya Sefier kemudian.
"Ya, karena hal yang konsisten dari dia adalah kenaifannya. Aku yakin dia tidak akan menggunakan kesempatan ini. Malahan ia akan mencoba untuk melindungi mereka dengan sepenuh hatinya. Aku yakin akan hal tersebu," ucap Grevier menjawab.
Tampak Sefier sudah tidak bisa lagi membantah ucapan Grevier. Meski terlihat jelas bahwa dia tidak puas dengan keputusan Grevier itu."Baiklah bila memang seperti itu kehendak, Anda. Saya tidak akan melakukan apapun terhadap Yang Mulia Ratu, dan kedua adik Anda," ucapnya kemudian seraya menunduk pelan.
"Lebih baik kita berkp sentrasi dengan rencana penyerangan kita saja," sahut Grevier kemudian.
.
"Sialan! Dari mana si Grevier itu bisa tahu dengan cepat tentang keberadaan Sang Ratu? Menjengkelkan sekali, kalau begini aku harus mulai memikirkan sesuatu untuk hal ini," keluh Sefier di dalam kereta kudanya, setelah meninggalkan kediaman Grevier. "Edea, setelab ini perintahkan Mirinda untuk mencari tahu siapa yang memberi tahukan kabar tersebut kepada Grevier. Kita tidak boleh membiarkan Grevier melakukan sesuatu tanpa sepengetahuan kita," ucapnya kemudian kepada Edea yang tengah duduk di sebelahnya di dalam kedeta kuda tersebut.
"Baik, Tuan." Edea hanya menjawab pendek.
"Dan kenapa juga dia harus percaya dengan Lucia segala. Padahal akan lebih mudah mengendalikan Sang Ratu dan kedua putranya bila kita mengambilnya dari wilayah Tanah Mati itu. Benar-benar menjengkelkan." Tampak Sefier masih terlihat uring-uringan. "Edea, hubungi juga kelompok Glaves setelah ini," lanjutnya memerintah Edea.
"Serikat petarung Glaves,, Tuan?" Edea menjawab dengan wajah yang tampak tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Benar. Kita perlu segera melenyepkan ancaman kita," jawab Sefier kemudian.
"Apa Anda yakin akan berurusan dengan orang-orang itu? Mereka bisa berbalik menjadi beban untuk kita di kemudian hari, Tuan," ucap Edea lagi mencoba membuat Sefier memikirkan ulang keputusannya. "Masih pebih baik para Lycan dan Mugger, dibandin mereka."
"Aku tahu tentang hal itu, Edea. Tapi kau tidak perlu kuatir. Lakukan seperti biasa. Buat agar perintah tersebut berunjung kepada Grevier," jawab Sefier tenang. "Perintahkan kepada mereka untuk melenyapkan sang Ratu dan kedua putranya. Dan bila mereka mampu untuk melenyapkan Lucia sekalian, maka mereka akan mendapat lebih banyak lagi," ucapnya kemudian menambahi.
"Baik, Tuan. Saya mengerti. Saya akan segera menghubungi mereka setelah ini," jawab Edea kemudian seraya mengangguk kecil.
"Sebentar lagi, langkah pertama kita untuk mengambil alih seluruh faratan Elder ini akan segera terwujutkan," ujar Sefier yang terlihat berpuas hati seraya menatap pemandangan yang bergerak cepat di luar jendela kereta kudanya.
Sementara itu di kota Gan di kediaman sementara Tyrion. Tampak Xiggaz sedang mengadakan pertemuan dengan Tyrion di ruang kerjanya.
"Bagaimana perkembangannya, Xig? Apakah rencana mengenai gerakan terorganisir kita berjalan dengan baik?" tanya Tyrion membuka percakapan.
"Semua berjalan dengan baik, Tuan Tyrion. Pasukan laut Tuan Galvin kini dibantu oleh pasukan Tuan Arias berhasil menggangu jalur perairan mereka dengan wilayah utara. Meski masih belum dapat menghadapi kekuatan laut mereka," ucap Xiggaz mrnjawab. "Namun setidaknya kita berhasil menciptakan ketakutan kapal biasa yang hendak menuju ke kota Xin atau hendak keluar dari kota tersebut," lanjutnya menambahi.
"Kurasa itu sudah cukup. Kita hanya perlu membuat mereka sibuk dan mengalihkan perhatian dari rencana utama kita," ucap Tyrion membalas.
"Sementara kekuatan pasukan darat mereka kini mulai terpecah dengan Tuan Vistralle yang juga mulai melakukan gerakan pemberontakan di wilayah Ceodore. Yang mulai memicu gerakan pemberontakan lain yang muncul di wilayah setiap Estat," ucap Xiggaz melanjutkan penjelasannya.
"Vistralle memang bisa diandalkan untuk masalah seperti ini. Dia adalah orang yang ambisius dan fokus untuk mendapatkan sesuatu. Tak salah kita menghubunginya dan menjanjikan lebih banyak wilayah." Tyrion terlihat bangga akan keputusan yang telah ia ambil.
"Tuan Vistralle memang kepala Estat yang cukup disegani. Bahkan Tuan Julius dan Tuan Arias pun mendengarkannya," ucap Xiggaz menanggapi ucapan Tyiron.
"Itu memang benar. Lalu bagaimana dengan Joan? Apakah dia sudah berhasil menghubungi orang-orang kita yang bekerja dalam pemerintahan wilayah tersebut?" tanya Tyrion lagi melanjutkan topik pembicaraan.
"Menurut laporan dari Joan sendiri, setidaknya ada dua belas orang yang sudah menjawab panggilannya. Tujuh di antaranya berada di posisi penting dalam pemerintahan wilayah tersebut," jawab Xiggaz dengan cepat. "Dua di antaranya bekerja sebagai pengurus pencatatan penduduk di bekas wilayah timur kerajaan, empat yang lain bekerja sebagai pencatat barang dan peralatan, dan yang terakhir bekerja sebagai pengelola Balai Jasa di sekitaran wilayah Solidor. Sedang lima sisanya menjadi prajurit untuk wilayah tersebut," jelasnya kemudian panjang lebar.
__ADS_1
"Bagus sekali. Kumpulkan semua informasi tentang wilayah tersebut. Apapun. Asal dapat kita gunakan untuk menyerang balik mereka," ucap Tyrion yang masih terlihat tersenyum. Suasana hatinya sedang baik sepanjang pagi ini.
"Sekarang Joan dan yang lain sedang melakukan koordinasi untuk mengumpulkan sebanyak mungkin informasi dari wilayah tersebut. Terutama tentang rahasia dari peralatan dan persenjataan mereka." Xiggaz berucap lagi.
"Apa Joan sudah mendapatkan rahasia dari kekuatan dan senjata mereka?" Tampak Tyrion mulai tertarik setelah mendengar ucapan Xiggaz tentang rahasia persenjataan dari wilayah Tanah Mati tersebut.
"Sayang sekali Joan belum mendapatkan rahasia tentang hal tersebut, Tuan. Tapi setidaknya ia dan beberapa rekannya yang lain sudah mendapatkan posisi dan keberadaan gudang persenjataan mereka. Sekaligus pengamanannya." Xiggaz menjawab dengan cepat.
"Kalau begitu apakah memungkinkan untuk kita mendapatkan senjata-senjata itu dan menggunakannya untuk pasukan kita?" tanya Tyrion kemudian. Masih terlihat tertarik.
"Menurut laporan, hal tersebut sangat mungkin, Tuan. Kita bisa melakukan serangan kejutan untuk menjarah gudang persenjataan mereka, atau dengan menyelundupkan senjata-senjata tersebut sedikit demi sedikit agar tidak diketahui pihak Tanah Mati tersebut," jawab Xiggaz dengan bangga yang sekaligus memberi masukan.
"Tapi apa senjata itu bisa digunakan dengan mudah oleh orang umum? Karena senjata-senjata mereka adalah hal yang baru di wilayah ini. Tidak ada satu orang pun yang pernah melihat jenis senjata seperti itu sebelimnya," ucap Tyrion kemudian yang mulai terlihat sedikit ragu.
"Anda tidak perlu kuatir, Tuan. Orang-orang kita yang bekerja sebagai prajurit diajarkan untuk menggunakan senjata dan peralatan tempur tersebut. Menurut mereka senjata-senjata tersebut sangat mudah untuk digunakan. Tidak memerlukan keterampilan khusus atau penguasaan Aliran Jiwa yang tinggi," jawab Xiggaz menjelaskan.
"Benarkah? Wilayah itu benar-benar sangat ceroboh," sahut Tyrion yang terlihat tidak percaya dengan penjelasan dari Xiggaz.
"Sepertinya pemimpin mereka terlalu naif, Tuan." Xiggaz menimpali.
"Kalau tentang hal itu, aku sudah tahu sejak lama. Tapi tak kukira akan senaif ini. Membongkar rahasia tentang persenjata mereka kesembarang orang." Tyrion tampak menggeleng pelan. "Apa mereka terlalu percaya diri dengan kemampuan pasukan mereka sendiri?" Tyrion bertanya kepada dirinya sendiri.
"Menurut Joan mereka memiliki seorang ahli strategi yang handal, dan seorang pengerajin jenius yang menciptakan berbagai peralatan aneh tersebut. Dan mungkin karena mereka berdualah, wilayah itu sangat percaya diri," ucap Xiggaz mencoba menjelaskan.
Tyrion terlihat mengeryitkan dahinya. "Bila memang benar seperti itu, minta Joan untuk menyelidiki tentang kedua orang itu," perintahnya kemudian.
"Baik, Tuan. Saya akan sampaikan perintah Tuan tersebut kepada Joan," jawab Xiggaz seraya mengangguk kecil.
"Lalu bagaimana dengan keputusan kerajaan lainnya? Apa mereka sudah memberikan jawaban?" Tyrion kembali melanjutkan topik pembicaraannya.
"Sampai saat ini belum ada kabar dari kerajaan lain, Tuan." Xiggaz menjawab dengan sedikit ragu.
"Sudah lebih dari seminggu sejak pertemuan dengan mereka. Apa mereka masih belum cukup waktu untuk memikirkan hal tersebut?" Terlihat Tyrion mengetukan jari telunjuknya ke atas meja. Tampak ia mulai terlihat sedikit gelisah.
"Tapi apa Anda yakin akan memberikan separuh wilayah kerajaan Urbar untuk dibagi kepada kerajaan-kerajaan tersebut, Tuan? Bukankah itu akan membuat berang para kepala Estat bila mengetahuinya?" tanya Xiggaz kemudian yang terlihat kuatir dengan keputusan yang diambil oleh tuannya.
"Kau tidak perlu kuatir, Xig. Semua sudah ku rencanakan. Kita akan mengambil kembali wilayah kita setelah kita berhasil mengalahkan wilayah Tanah Mati tersebut dan mendapatkan kekuatan dari senjata-senjata mereka," ucap Tyrion yang mencoba meredakan kekuatiran Xiggaz.
"Saya mengerti, Tuan," jawab Xiggaz kemudian, seraya mengangguk kecil.
"Baiklah kalau begitu. Tugas utama mu saat ini adalah memastikan Joan mendapat segala hal yang ia butuhkan untuk memperoleh rahasia dan senjata wilayah Tanah Mati itu," perintah Tyrion kemudian.
"Baik, Tuan."
"Apa Anda sudah mendengarnya, Tuan Tyrion? Bahwa wilayah Tanah Mati itu akan mendeklarasikan diri mereka menjadi sebuah kerajaan," ucap Xiggaz dengan sedikit tergesa melaporkan kepada Tyrion di ruang kerjanya, beberapa minggu kemudian.
"Benarkah itu?" Tampak Tyrion terkejut namun tidak terlalu. Seolah ia sudah menebak hal tersebut akan terjadi.
"Semua kerajaan selatan dan utara sudah mendapat surat undangan untuk menghadiri penobatan pemimpin mereka menjadi seorang Ratu," ucap Xiggaz kemudian.
"Aku sudah menduga ujung dari semua tindakan mereka adalah hal ini. Tapi berani-beraninya mereka mendeklarasikan diri sebagai sebuah kerajaan tanpa adanya persetujuan dari kerajaan-kerajaan lainnya?" Tyrion terdengar sedikit kesal dengan apa yang sudah dilakukan oleh wilayah Tanah Mati tersebut.
"Sepertinya Gadis Suci yang akan menobatkan pemimpin mereka. Dan hal itu berarti sebuah pengakuan yang tidak mudah untuk diabaikan oleh kerajaan-kerajaan lain, terutama di wilayah selatan ini," jawab Xiggaz menjelaskan.
"Aku hampir saja lupa bahwa Tanah Suci sudah berada dalam kekuasaan mereka sekarang," ucap Tyrion kemudian seraya menghembuskan nafas cepat. "Jadi dia menggunakan cara yang sebelum ini kita gunakan. Aku tidak suka dengan hal tersebut," ujarnya kemudian seraya mengusapkan tangan ke pelipisnya.
Xiggaz hanya berdiri diam di hadapan Tyrion. Ia tidak tahu harus bagaimana menanggapi hal tersebut.
"Lalu bagaimana tanggapan kerajaan lainnya?" tanya Tyrion kemudian seraya menyandarkan tubuhnya ke kebalakang.
"Sepertinya hanya kerajaan utara yang menjawab undangan mereka," jawab Xiggaz kemudian. "Untuk kerajaan-kerajaan di wilayah selatan ini, belum ada yang menjawabnya," lanjutnya menambahi.
"Baguslah. Sepertinya kerajaan-kerajaan selatan sudah menyadari bahayanya wilayah tersebut bagi mereka semua. Jadi meski memiliki pengakuan dari Tanah Suci, kurasa kekuatiranku tidak akan terjadi," ujar Tyrion dengan wajah yang terlihat sedikit cerah. "Dan kapan mereka akan melakukan penobatan tersebut?" tanyanya kemudian.
"Sepertinya seminggu lagi, Tuan." Xiggaz menjawab dengan cepat.
"Baiklah kalau begitu, segeralah siapkan segala yang kita butuhkan sebelum semuanya terlambat. Sebelum mereka melakukan perubahan pemerintahan setelah ini," perintah Tyrion kemudian.
"Baik, Tuan," jawab Xiggaz lagi.
"Mungkin sekarang saatnya untuk mengingatkan kepada kerajaan lain tentang ajakan kerjasama kita." Tyrion terlihat mulai kembali tersenyum.
__ADS_1
"Apa kau bilang? Lucia mendirikan kerajaan sendiri? Di saat seperti ini?" tanya Grevier yang terlihat setengah terkejut setengah kesal, kepada seseorang di hadapannya. Beberapa minggu setelah ia mendengar kabar bahwa ibu dan kedua adiknya berada di wilayah Lucia.
"Benar, Tuan Grevier. Dan tampaknya Yang Mulia Ratu akan memberikan restu sebagai perwakilan dari keluarga Elbrasta," jawab pria yang berdiri di hadapan Grevier.
Pria itu terlihat mengenakan jubah berwarna hitam dengan motif garis berwarna merah di beberapa tempat. Di balik jubah tersebut terdapat pakaian yang masih berwarna serba hitam. Mengenakan surban dengan berwarna yang sama seperti jubahnya, membalut bagian kepala hingga menutup sebagian wajahnya. Dan hanya menampakan kedua matanya yang juga berwarna hitam seperti seorang Seithr.
"Apa yang sebenarnya gadis itu pikirkan? Kelakuannya benar-benar tidak dapat diperkirakan," ujar Grevier lebih kepada dirinya sendiri. "Dan juga, apa yang sedang dipikirkan Ibunda sampai mau melakukan hal seperti itu di tengah kondisi Elbrasta yang seperti sekarang ini? Apakah Lucia memaksa Ibunda untuk melakukan hal tersebut?" tabyanya kemudian yang kali ini ditujukan kepada pria serba hitam dihadapannya itu.
"Menurut penyelidikan saya, Tuan Putri Lucia tidak meminta ataupun memaksa. Yang Mulia Ratu sendiri yang mengajukan diri secara sukarela." jawab pria berpakaian serba hitam itu kemudian. "Mungkin Yang Mulia Ratu melihat ini sebagai satu-satunya jalan untuk menyelamatkan Tuan Alexander dari incaran para bangsawan. Yaitu dengan segera menentukan keberpihakan," lanjutnya menambahi.
Grevier terdiam sebentar. Tampak ia menimbang ucapan pria berpakaian serba hitam itu. "Bisa jadi. Itu karena Ibunda tidak mengetahui tentang keberadaan ku sekarang ini," ucapnya kemudian. "Lalu bagaimana tanggapan bangsawan Elbrasta tentang hal tersebut?" Grevier melanjutkan dengan pertanyaan.
"Sekarang bangsawan Elbrasta telah terpecah menjadi dua kubu. Mereka yang berseberangan dengan keluarga Roxan dan Voryn mulai lari ke wilayah Lucia," jawab pria berpakaian serba hitam itu menjelaskan.
"Sial. Kalau begini akan sulit menyatukan mereka kembali, saat aku sudah mendapatkan tahta," ucap Grevier yang terlihat mulai kesal. Tampak ia menggenggamkan tangannya erat-erat.
Sementara pria berpakaian serba hitam itu hanya berdiri diam di hadapan Grevier.
"Pergilah sekarang, Kuro. Pantau terus keadaan Ibunda, Alexander, dan juga Eden. Pastikan mereka tidak sedang bahaya atau sedang dimanfaatkan oleh pihak Lucia," perintah Grevier kemudian.
"Laksanakan, Tuan," jawab pria yang dipanggil Kuro itu dengan cepat. Yang kemudian lenyap dengan begitu saja tanpa jejak setelah menjawab.
.
Tak lama kemudian tampak Sefier memasuki ruangan setelah menerima panggilan dari Grevier.
"Bagaimana persiapan rencana kita, Sefier?" tanya Grevier langsung, tepat setelah Sefier memasuki ruangan. Bahkan sebelum Sefier sempat memberi salam kepadanya. "Kau pasti sudah mengetahui kabar tentang kerajaan baru yang akan dibentuk oleh Lucia, kan?" tambahnya lagi dengan pertanyaan yang lain.
"Saya sudah mendengarnya, Tuan Grevier," jawab Sefier dengan sopan.
"Kita harus segera melakukan sesuatu untuk mengatasi masalah ini. Bila tidak, bangsawan akan benar-benar terpecah dan akan sulit untuk menyatukannya lagi kelak," ucap Grevier kemudian.
"Saya paham, Tuan Grevier." Sefier menunduk kecil. "Anda tidak perlu kuatir. Karena persiapan kita sudah selesai sekarang. Dalam waktu dekat ini kita akan segera melakukan serangan balik ke kotaraja," jawab Sefier seraya tersenyum penuh percaya diri.
"Baguslah kalau begitu," ujar Grevier yang menjadi sedikit tenang setelah melihat kepercayaan diri Sefier.
Seminggu kemudian tampak Tyrion mendapat kiriman surat dari utusan Sefier.
Setelah selesai membaca isinya, Tyrion melemparkan gulungan surat tersebut ke dalam perapian yang menyala, saat kemudian terdengar pintu ruangan diketuk dari luar.
"Masuk," ucap Tyrion mempersilahkan.
Tampak Xiggaz terlihat terburu masuk dan menghadap kepada Tyrion yang seddng berdiri di depan perapian.
"Apa ada masalah, Tuan?" alih-alih menyapa, Xiggaz malah bertanya setelah mendapati beberapa gulungan kertas yang terbakar di dalam perapian di hadapan Tyrion.
"Tidak ada masalah, Xig. Hanya saja rekan kita yang berada di utara sudah mulai menjalankan rencananya. Yang berarti sebentar lagi perlawanan kita terhadap wilayah Tanah Mati itu akan segera tiba," ucap Tyrion menjawab seraya berjalan menjauhi perapian, dan duduk di kuris di hadaian Xiggaz.
"Apa yang Anda maksud dengan rekan di utara itu adalah wilayah Elbrasta yang tengah bergejolak itu?" tanya Xiggaz menduga-duga seraya mengikuti Tyrion duduk.
"Benar. Tak lama lagi, kerajaan itu juga akan melakukan serangan terhadap wilayah Tanah Mati tersebut dari utara." Tyrion menjawab.
"Tapi bukankah pemimpin dari Tanah Mati itu adalah keturunan dari Elbrasta? Apa jangan-jangan Elbrasta akan di pimpin bukan oleh keturunan asli Elbrasta?" tanya Xiggaz yang terlihat penasaran.
"Kau tidak perlu memusingkan hal tersebut, Xig," ucap Tyrion dengan santai. "Yang perlu kita pikirkan sekarang ini adalah bagaimana mengambil alih wilayah kita dan menyingkirkan kerajaan baru itu," lanjutnya menambahi.
"Anda benar, Tuan Tyrion. Maafkan saya. Tidak seharusnya saya memikirkan hal selain rencana kita memerangi wilayah Tanah Mati tersebut," jawab Xiggaz dengan segera.
"Lalu apa yang hendak kau laporkan, sampai kau terlihat tergesa-gesa tadi?" tanya Tyrion yang mengingatkan Xiggaz akan tujuan utamanya datang menemui Tyrion.
"Oh, maafkan saya. Saya ingin melaporkan bahwa kerajaan Joren, Augra, Galasium, dan Durahan telah memberikan jawaban. Dan mereka setuju menjalin kerjasama dengan kita untuk menjatuhkan wilayah Tanah Mati tersebut," ucap Xiggaz kemudian melaporkan.
"Memang sudah seharusnya seperti itu. Mereka selalu saja harus menunggu sebuah pemicu terlebih dahulu," sahut Tyrion yang terlihat bangga dengan hasil dari rencananya.
"Kemudian kabar dari Joan mengatakan, bahwa mereka sudah berhasil mengamankan jalur untuk mulai menyelendupkan senjata-senjata milik wilayah tersebut," ucap Xiggaz kemudian menambahkan laporannya.
"Oh, itu baru kabar bagus." Terlihat Tyrion semakin bertambah grmbira. "Kalau begitu mulai siapkan pembentukan pasukan khusus yang terlatih menggunakan senjata-senjata tersebut," tambahnya memberi perintah kepada Xiggaz.
"Baik, Tuan. Akan segera saya siapkan," jawab Xiggaz yang juga dengan senyum lebar tedpasang di wajahnya.
"Dengan begini, kemenangan kita sudah mulai tampak di depan mata," ujar Tyrion kemudian seraya mengikuti Xiggaz tersenyum.
__ADS_1