
"Sudah lama aku tak melihat kau menulis surat lagi, Noel?" Gesthal berucap saat melihat Noel yang tampak sedang melamun menatap langit malam di depan api unggun, selepas makan malam. Tampak pria Getzja bertubuh gempal itu bersila di seberang tempat Noel terduduk, sedang mengelap tameng besarnya.
"Oh, benar juga. Biasanya di saat-saat seperti ini, kau sudah sibuk menulis surat. Apa jangan-jangan kau putus dari kekasihmu, itu?" Figor menambahi dari sebelah Gesthal. Terlihat pria Morra itu masih mengunyah daging kering untuk makan malamnya.
"Wah, benarkah? Kenapa, kenapa? Coba cerita ke aku, Noel?" Kali ini Nikea yang berucap seraya menggeser posisi duduknya mendekat ke sebelah Noel. Mata berwarna kuning terang gadis Getzja itu, terlihat berbinar.
"Aku tidak mau membicarakan tentang hal itu," saut Noel cepat seraya mengacuhkan keberadaan Nikea di sampingnya.
"Ayolah Noel... sudah lama kita tidak berbincang tentang dirimu, kan?" Nikea terlihat memelas sambil menarik-narik kecil lengan baju Noel.
"Tapi memang menulis surat itu hal yang paling aneh dari dirimu, Noel. Apa lagi bila melihat kemampuan lain yang kau punya." Gesthal menambahi dengan sedikit tertawa.
"Benar. Petarung kelas atas, penyihir kelas atas, pemburu kelas atas, tapi tiap ada kesempatan pasti meluangkan waktu untuk menulis surat. Benar-benar kepribadian yang manis untuk seseorang dengan kemampuan sekelas itu," ucap Nikea ikut menambahi.
"Sudah, jangan membicarakan urusan pribadiku lagi. Istirahatlah kalian. Perjalanan kita besok tidak mudah." Noel berucap seraya melepas tangan Nikea dari lengan bajunya. "Terutama kau, Nik. Jangan sampai aku mendengar kau mengeluh lagi besok di sepanjang perjalanan seperti hari ini," tambahnya lagi.
"Iya, iya, aku tahu. Kau selalu saja kolot dan kaku seperti biasanya. Padahal baru saja ku puji-puji." Nikea menggeser posisi duduknya sedikit menjauh. Membuat jarak dengan Noel. Wajahnya terlihat sedikit kesal. "Lagi pula kalau memang sulit, kenapa kita tidak menggunakan batu Arcane seperti biasanya saja?"
"Karena menurut Magna, tempat yang akan kita datangi ini memiliki pelindung untuk menahan sihir pemindah." Noel menjawab seraya mengambil teko besi yang tergantung di atas api ungun, dan kemudian menuangkan isinya ke dalam gelas kayu di tangannya.
"Tapi aku tidak suka perjalanan di gurun pasir seperti sekarang. Kalau siang panas sekali. Kalau malam dingin seperti sekarang." Nikea mulai terlihat uring-uringan sendiri.
"Itu juga termasuk tanggung jawab dari pekerjaan, kau tahu Nik?" sahut Figor yang masih terlihat sedang mengunyah.
"Aku tahu, Fig. Sudah! Jangan mulai!" seru Nikea jengkel seraya menunjuk ke arah Figor. Mencoba memperingatkan dan memerintah Figor agar tidak berucap yang dapat menyinggungnya.
"Aku hanya ingin mengingatkan mu saja. Tidak ingin memulai apapun," jawab Figor yang terlihat tak acuh dengan peringatan dan perintah dari Nikea sebelumnya.
"Tapi tidak ada salahnya, kan? Kalau aku memilih jalan yang lebih mudah, bila memang ada," ucap Nikea memberi alasan.
"Tapi apa suku Azorgia memang sekuat itu, Noel? Sampai Magna dan Mirinda tidak berhasil menyelesaikan tugas ini?" Kali ini Figor bertanya kepada Noel dengan topik yang berbeda, dan sengaja mengacuhkan ucapan Nikea.
Terdengar Nikea menggeram jengkel karena kelakukan Figor padanya.
"Ya. Suku Azorgia adalah orang-orang yang memiliki jenis sihir langka." Noel menjawab setelah meneguk minuman hangat dari gelasnya.
"Oh, aku pernah mendengarnya. Kalau aku tidak salah ingat, itu adalah sihir Penyelaras, bukan?" sahut Nikea yang tampak sudah melupakan rasa jengkelnya. Perhatian gadis itu memang mudah sekali teralihkan.
"Ya, benar. Sihir itu adalah sihir unik yang selalu berubah-ubah. Alasan yang membuat mereka berbahaya. Karena kita tidak akan bisa tahu sihir apa yang akan mereka gunakan di tiap kali kita bertarung dengan mereka." Noel menjelaskan.
"Berubah-ubah? Memang ada sihir yang seperti itu?" Figor terlihat antara kagum dan juga ragu.
"Benar. Mereka memang menyalahi hukum alam," celetuk Gesthal yang terlihat cukup tahu banyak tentang sihir tersebut.
"Sebenarnya mereka tidak benar-benar memiliki sihir yang berubah-ubah. Mereka hanya memadukan aliran Jiwa dengan benda sihir," ujar Noel mencoba menjelaskan.
"Maksudnya?" Figor, Nikea, dan Gesthal bertanya nyaris bersamaan. Ini adalah pengetahuan baru bagi mereka. Bahkan untuk Nikea dan Gesthal yang sudah banyak mendengar tentang jenis sihir tersebut.
"Pada dasarnya sihir penyelaras itu adalah jenis sihir unik. Bukan jenis serangan atau penyembuh. Jadi nyaris tidak berguna dalam pertarungan. Karakteristik uniknya adalah melakukan penyelarasan jenis aliran Jiwa pengguna dengan aliran Jiwa yang ada di sekitarnya. Lebih khususnya adalah benda yang memiliki aliran Jiwa. Atau dengan kata lain, merubah jenis sihir penggunanya menjadi seperti sihir dari benda-benda tersebut," jelas Noel dengan rinci.
"Benda yang memiliki aliran Jiwa? Apa yang kau maksud adalah batu Arcane dan senjata mistik?" Nikea terlihat menebak dengan ragu.
"Bukan. Batu Arcane adalah benda yang diisi dengan aliran Jiwa, sedang senjata mistik adalah benda yang dibuat untuk merubah dan mengatur aliran Jiwa menjadi bentuk tertentu," jawab Noel masih dengan sabar menjelaskan.
"Apa yang kau maksud adalah totem?" Kali ini Gesthal yang menebak.
"Benar. Karena pada dasarnya totem terbuat dari bagian-bagian mahluk hidup yang memiliki aliran Jiwa, dan menguncinya dalam batu kristal atau dalam bentuk yang lainnya." Noel melanjutkan penjelasannya.
"Dan apakah cara mereka merubah jenis sihir mereka adalah dengan mengganti totem yang mereka gunakan?" Gesthal menebak lagi.
"Benar. Sederhananya, mereka menggunaan sihir penyelaras untuk membuat sihir dari sebuah totem menjadi sihir mereka pribadi," jawab Noel kemudian.
"Itu berarti, selama mereka tidak memiliki totem, mereka tidak akan bisa berbuat banyak, kan?" Figor mencoba memastikan.
"Tidak juga. Karena pada dasarnya mereka adalah Getzja, dan mereka tinggal di tempat yang keras seperti ini. Sudah pasti kemampuan fisik mereka di atas rata-rata." Kali ini Nikea yang memberikan menjawab atas pertanyaan Figor.
"Mungkin melebihi tingakatan fisik kami berdua," ucap Gesthal menambahi.
"Oh, jadi mereka Getzja dengan sihir? Itu baru masalah. Pantas Magna dan Mirinda kualahan." Figor terlihat seperti baru saja memahami sesuatu. "Apa kalian juga memiliki sihir seperti itu?" tanyanya kemudian kepada Nikea dan Gesthal.
"Hanya Getzja berdarah murni dari suku Azorgia saja yang memilikinya. Aku tidak pernah mendengar Getzja lain memiliki kemampuan itu. Bahkan peranakan campur dengan mereka pun tidak memiliki kemampuan tersebut." Gesthal menjawab.
"Jadi itu semacam sihir turunan?" Figor bertanya memastikan.
"Benar. Tapi kuharap aku juga memiliki kemampuan sihir seperti itu." Tampak Nikea memejamkan matanya seraya membayangkan sesuatu.
"Maka dari itu, sebisa mungkin kita akan menghindari pertarungan dengan mereka. Kita akan langsung menuju ke tempat tujuan, dan setelah mendapatkan gelang tersebut, kita akan segera pergi dari sana." Noel menjelaskan rencana yang akan mereka lakukan.
"Ck, menghindari pertarungan? Untuk apa kau membawa dua Getzja bila hanya untuk menghindari pertarungan?" Figor terdengar tidak menyukai rencana Noel.
"Hei, apa kau sadar dengan apa yang sedang kau bicarakan, Gila Tarung? Meski kami Getzja tapi kami tidak selalu unggul dalam pertarungan. Apa lagi sekarang Edea tidak ikut," potong Gesthal cepat karena merasa tidak setuju dengan ucapan Figor.
"Aku setuju dengan ide Noel. Aku tidak suka bertarung di padang gurun seperti ini. Tidak bagus untuk kulit ku." Nikea berucap.
"Lagi pula siapa yang akan memperhatikan kulit mu, Nik. Yang ada orang-orang akan langsung takut dan membuang muka saat melihatmu datang." Figor menimpali ucapan Nikea.
"Kau jangan sembarangan ngomong, Fig!" Nikea melompat bangkit dari posisi duduknya.
"Sudah hentikan kalian. Ayo, cepat istirahat. Perjalanan kita masih panjang esok pagi" Noel segera menghentikan Figor dan Nikea sebelum terjadi perdebatan yang lebih besar.
__ADS_1
Kemudian mereka berempat mulai menggelar kantong tidur masing-masing, dan mulai beranjak untuk tidur.
-
-
Paginya rombongan Noel tampak masih melanjutkan perjalanan mereka di gurun pasir di bagian barat daratan selatan, yang disebut dengan Gurun Pasir Bhujerba itu.
Mereka berempat berjalan kaki dengan mengenakan kantong tidur untuk menutupi kepala dan tubuh mereka dari cahaya matahari yang sangat menyengat. Dan karena sangat teriknya, sampai-sampai fatamorgana pun terlihat di segala arah dan di sejauh mata memandang.
"Aku sungguh tidak ingin mengeluh, tapi hari ini benar-benar panas. Aku sudah tidak tahan lagi. Kenapa kita tidak menggunakan kereta kuda saja?" Nikea terlihat mulai uring-uringan harus berjalan di dalam cuaca yang sangat panas itu. Tampak kantong tidur yang gadis itu kenakan terlalu panjang hingga menjuntai ke bawah. Terseret ketika ia sedang berjalan.
"Apa harus kuingatkan lagi bahwa kuda tidak akan mampu bertahan berjalan melewati gurun ini. Yang ada, mereka akan lemas dan mati di tengah perjalanan," sahut Figor dari sebelah Nikea. Tampak tubuh pemuda Morra itu tertutup rapat oleh kain dari kantong tudurnya. Yang membuatnya terlihat seperti sedang mengenakan jubah berwarna coklat terang. Menyaru dengan warna pasir di sekelilingnya.
"Bahkan kuda saja tidak tahan berjalan di tempat seperti ini. Kenapa kita harus berjalan di tempat ini?" Nikea masih terlihat uring-uringan dan tidak terima.
"Bukankah kemarin sudah kubilang jangan mengeluh lagi." Noel berucap dari sebelah Figor. Hanya Noel saja yang tidak membawa kantong tidur. Ia mengenakan surban yang tidak terlalu banyak menutupi tubuhnya. Hanya tersampir sekenanya pada pundak, setelah membungkus bagian kepala dengan cukup rapat.
"Tapi ini panas sekali, Noel. Apa kalian tidak merasakan panas?" Nikea menjawab dengan wajah masam dari balik syall dan lilitan kantong tidurnya.
"Jelas kami juga merasakan panas yang sama seperti yang kau rasakan. Aku malah di tambah dengan bawaan berat," sahut Gesthal seraya menunjuk ke arah tameng besi besar di belakang punggungnya, yang hanya bisa tertutup sebagian saja dengan jubah dan kantong tidur yang ia kenakan.
"Aku malah memakai pakaian besi, kau pikir apa tidak lebih panas?" Figor menambahi jawaban Gesthal.
"Kalau yang itu kan, masalahmu sendiri, Fig," sahut Nikea dengan ketus.
"Ya berarti kau juga jangan mengeluh. Itu juga masalahmu sendiri, Nik," balas Figor tidak mau mengalah.
"Sudah. Berhentilah. Kalian hanya akan membuat diri kalian semakin lelah," sergah Noel kemudian, menghentikan perang mulut antara Figor dan Nikea.
.
Mereka masih terus melanjutkan perjalanan mereka sampai akhirnya matahari mulai turun ke garis cakrawala di ujung barat. Dan begitu sebagian langit sudah mulai gelap, terasa angin dingin mulai bertiup. Dan udara mulai berganti menjadi cukup dingin setelah hari sudah benar-benar berganti malam.
Noel mengeluarkan tongkat kecil dengan sebuah permata berwarna putih tertatah di bagian ujungnya. Dan setelah melakukan rapalan pendek, cahaya mulai terpancar dari permata tersebut. Meski tidak terlalu terang, namun cahaya itu cukup untuk menerangi jalan yang ia dan ketiga temannya lalui.
.
Dan tak lama kemudian mereka berempat pun tiba di kawasan yang dipenuhi oleh tebing padas yang cukup tinggi. Yang juga merupakan tanda bahwa mereka sudah sampai di ujung barat dari gurun pasir tersebut.
"Kita sudah tiba," ucap Noel kemudian, saat mereka sudah berada di hadapan salah satu tebing yang paling dekat.
"Benarkah? Akhirnya setelah tiga hari kita berhasil menyeberangi gurun pasir ini." Terlihat Nikea mulai tampak bersamangat lagi. Senyuman kembali terlihat di wajahnya.
Dan setelah itu, mereka berempat naik ke atas tebing tersebut agar mendapatkan pandangan yang lebih jelas tentang wilayah di sekitar tempat itu.
Tampak beberapa tebing tinggi dan juga jurang, berdiri memanjang berlapis seperti sebuah dinding yang membatasi Gurun Pasir Bhujerba dengan daerah di sebelah baratnya.
"Bagaimana bisa ada pemukiman di tempat seperti ini?" Nikea terlihat benar-benar penasaran. Ia tidak habis pikir ada orang yang mau tinggal di tempat dengan cuaca yang keras seperti itu.
"Tempat itu dulunya adalah oasis. Jadi ada cukup air untuk mereka bertahan hidup," jawab Noel kemudian.
"Tapi bagaimana cara mereka makan? Apa hanya dengan tumbuhan dan buah-buahan saja? Apa ada hewan yang bisa hidup di wilayah ini untuk diburu?" Nikea masih terlihat tak habis pikir.
"Di sisi barat di balik kawasan tebing ini, sudah bukan daerah gurun pasir lagi. Jadi kemungkinan besar mereka berburu di wilayah tersebut." Noel kembali menjawab.
"Sebentar. Bila ada jalan yang tidak harus melalui gurun pasir untuk dapat sampai ke tempat ini, kenapa kita tidak lewat tempat itu, Noel?" Terlihat Nikea memasang wajah kesal menatap ke arah Noel sambil berkacak pinggang.
"Itu karena pintu masuk dari sisi barat untuk menuju ke kawasan tebing Makam Kuno, dijaga lebih ketat dari pada sisi yang menghadap Gurun Pasir Bhujerba ini. Dan lagi butuh waktu satu bulan di atas kapal dari region tengah untuk sampai di ujung pantai sebelah barat wilayah tersebut." Noel menjelaskan. "Kita tidak memiliki banyak waktu untuk melakukan perjalan dengan rute tersebut. Sementara bila kita menyebarangi gurun pasir, kita hanya butuh waktu sepuluh hari saja untuk sampai di tempat ini," imbuhnya lagi.
"Oh, kurasa aku tetap akan memilih lewat gurun pasir. Karena aku lebih tidak suka berlama-lama di atas kapal laut," balas Nikea setelah mendengarkan penjelasan dari Noel.
"Tapi aku masih tidak mengerti, dengan alasan apa mereka mau tinggal di oasis itu? Padahal ada wilayah yang jauh lebih baik untuk dihuni, tak jauh dari tempat ini" Figor terlihat penasaran.
"Itu karena suku Azorgia dulunya adalah penjaga dari Makam Kuno tersebut. Yang kemudian lambat laun mulai membangun sebuah pemukiman dan berkembang menjadi sebuah suku," jelas Noel.
"Sebenarnya dari mana kau mendapat pengetahuan tentang semua ini, Noel? Kau selalu saja tahu tentang kisah di balik tempat atau suku yang kita temui." Figor terlihat kagum dengan luasnya pengetahuan yang Noel miliki.
"Aku suka sekali dengan sejarah," sahut Noel cepat.
"Aneh sekali." Figor menggeleng pelan.
"Lalu apa yang akan kita lakukan setelah ini?" Gesthal yang kali ini bertanya.
"Kita akan langsung menuju ke tebing itu. Dan sebisa mungkin jangan sampai orang-orang Azorgia itu mengetahui keberadaan kita." Noel menjelaskan rencananya.
"Itu jelas rencana yang susah untuk dilakukan. Kau tahu Getzja memiliki indra yang lebih sensitif dibanding manusia lain, kan?" Gesthal menanggapi rencana Noel.
"Ya, setidaknya jangan sampai menarik banyak perhatian," imbuh Noel cepat.
"Dan kapan kita akan menuju ke tempat tersebut?" Nikea ganti bertanya.
"Kita akan bergerak selepas tengah malam. Sekarang kita perlu beristirahat terlebih dahulu." Noel menjawab.
"Kau pikir apa mereka akan menempatkan penjagaan di tempat tersebut?" Figor menyambung dengan pertanyaan lain.
"Besar kemungkinan. Karena seperti yang kukatakan tadi. Mereka adalah penjaga Makam Kuno," ucap Noel menjawab. "Apa lagi setelah beberapa hari yang lalu Magna dan Mirinda mencoba untuk menyusup," tambahnya lagi.
"Berarti kita harus mempersiapkan hal terburuknya." Kali ini Gesthal yang berucap.
__ADS_1
"Benar. Saatnya untuk bertarung mati-matian," sahut Figor dengan nada suara berapi-api.
"Tidak. Kita tidak perlu bertarung mati-matian. Kita sebisa mungkin akan menghindari pertarungan dan segera pergi dari sana," ujar Noel menimpali.
"Aku juga setuju. Kami buka orang yang gila akan pertarungan seperti dirimu, Fig," celetuk Nikea menyetujui rencana Noel.
-
Setelah lewat tengah malam, rombongan Noel mulai berjalan menuju ke arah tebing di mana Makam Kuno berada. Mereka berjalan dengan waspada dan sebisa mungkin untuk tidak menarik perhatian. Malam itu bulan purnama. Cahayanya sudah cukup terang untuk menerangi wilayah sekitar, tanpa perlu Noel menggunakan tongkat permatanya.
Tak memakan waktu lama, mereka pun tiba di depan sebuah tebing kembar yang berbentuk seperti sebuah gerbang. Terlihat sebuah jalan yang cukup lebar memanjang di antara kedua tebing tersebut.
"Itu tempatnya," ucap Noel begitu mereka tiba di depan jalan di antara tebing tersebut.
"Ayo segera kita akhiri tugas ini, dan segera kembali pulang." Nikea berucap dengan nada bersemangat.
Tiba-tiba terlihat dua sosok dari bayang-bayang tebing di hadapan mereka. "Hei, siapa kalian?" tanya salah satu dari sosok tersebut, yang mengejutkan Noel dan rombongan. Sosok itu berucap dengan bahasa suku Azorgia yang hanya dapat dipahami oleh Noel seorang.
Dan begitu mereka melangkah keluar dari naungan bayang-bayang tersebut, barulah terlihat dua sosok itu adalah dua pria Getzja. Dengan rambut putih panjang yang diikat ke atas menggunakan kain berwarna hijau. Dan tampak di wajah mereka beberapa garis berwarna putih keruh yang seperti digambar dengan menggunakan abu dari sisa kayu bakar.
Mereka mengenakan pakaian seperti pakaian para pemburu namun dengan bahan kulit yang berwarna putih kusam, di balut dengan kain bermotif garis dan kotak berwarna hijau dan merah.
Mengenakan beberapa gelang manik berwarna warni di pergelangan tangan dan kaki, dan beberapa kalung yang saling tumpang tindih di bagian leher. Tampak pula menyandang sebuah busur dan kantong kulit berisi anak panah terselempang di pundak kanan. Dan pedang dalam sarung menggantung di pinggan kiri. Mereka adalah penjaga dari suku Azorgia.
"Kalian pasti komplotan para Penjarah Makam yang kemarin datang kemari, kan?" Salah satu dari pria Getzja tadi berucap masih dengan bahasa suku mereka, tanpa menunggu jawaban atas pertanyaan yang sebelumnya.
"Bagaimana sekarang, Noel?" Figor bertanya dengan berbisik dari belakang Noel. Pemuda itu tidak menayakan apa yang baru saja diucapkan oleh para Getzja penjaga, karena ia tidak peduli akan hal tersebut.
"Kita akan tetap melanjutkan rencana kita," jawab Noel juga dengan berbisik.
"Baiklah kalau begitu. Kalian pergi duluan, biar aku yang menghadapi para penjaga ini," ujar Figor kemudian memberi perintah.
"Hati-hati, sepertinya masih ada lagi beberapa diatas sana." Noel memberi tanda ke arah atas tebing dengan menggunakan gerakan kepala kepada Figor.
"Ya, aku juga menyadarinya. Jangan kuatir," ucap Figor menjawab.
"Kalau begitu kami pergi dulu. Segeralah menyusul," ucap Noel yang kemudian segera berlari maju bersama Nikea dan Gesthal menuju jalan di antara dua tebing dihadapan mereka, melewati dua penjaga Azorgia tadi.
"Hei, mau kemana kalian? Penjaga hentikan mereka!"
Dengan segera terjun dari atas, dua Getzja lain yang mencoba menghadang langkah Noel dan rombongan.
Dua penjaga Azorgia itu terjun dengan menghunuskan tombaknya ke arah Noel yang berlari paling depan.
Namun sebelum tombak mereka mengentuh tubuh Noel, tampak Figor sudah berada di hadapan dua penjaga tersebut, menghadangnya saat masih berada di udara.
Pedang panjang yang menempel pada punggung sarung tangan besinya berhasil memotong ujung mata tombak mereka yang terbuat dari kayu tersebut.
Dua penjaga tadi menghindar ke samping begitu tombak mereka terpotong. Sedang dua penjaga sebelumnya tampak juga mengejar Noel dan yang lain, yang masih tetap berlari maju.
Figor melakukan putaran tubuh akrobatik di udara dan mendarat tepat di hadapan ke dua penjaga tadi. Menghadang mereka. "Mau kemana kalian?" tanya kemudian seraya mengibaskan jubah merahnya kebelakang. Kini di hadapannya ada empat Getzja penjaga Makam Kuno. "Coba tunjukan padaku sihir unik suku Azorgia yang terkenal itu." Dan Figor mulai melesat maju menyerang salah satu dari empat penjaga yang ada di hadapannya itu dengan seringai tampak di wajahnya.
-
Sementara beberapa penjaga lain tampak mengejar Noel, Gesthal, dan Nikea dari atas tebing sambil melepaskan puluhan anak panah ke arah bawah. Yang sayangnya tidak berpengaruh sama sekali, karena Gesthal sudah mengeluarkan sihir pelindung yang mengelilingi dirinya dan kedua temannya itu.
"Mereka menjengkelkan juga," ucap Gesthal yang tampak mulai kerepotan untuk tetap mempertahankan sihir pelindungnya sambil tetap berlari.
"Biar aku yang mengatasi mereka." Dan setelah berucap demikian, Nikea melakukan lompatan atletis ke dinding tebing sisi kiri jalan, kemudian dari posisinya tadi ia lanjutkan dengan melakukan lompatan ke dinding tebing sisi kanan jalan. Dan setelah mengulang dua gerakan itu sekali lagi, tampak Nikea sudah berada di atas dinding tebing.
Dan setelah itu terlihat kapak api Nikea mulai berterbangan ke sana kemari di atas dinding tebing, sementara Noel dan Gesthal masih tetap berlari maju.
.
Tak lama kemudian, Noel dan Gesthal tiba di depan sebuah tebing tinggi yang memiliki pahatan dengan motif rumit membingkai sebuah pintu gerbang kayu yang cukup besar. Tampak pula empat Getzja dari suku Azorgia, berdiri menghadang mereka di depan pintu gerbang tersebut.
Dua orang laki-laki dan dua orang perempuan. Mengenakan pakaian yang tidak jauh berbeda dengan para penjaga di depan jalan sebelumnya. Lengkap dengan gambaran garis-garis berwarna putih abu di wajah mereka. Yang membedakan empat orang Getzja itu adalah, senjata yang mereka bawa.
Tampak salah satu dari laki-laki itu terlihat membawa tongkat kayu berwarna gelap yang memiliki ukiran sederhana di sepanjang tongkatnya. Kemudian yang satu lagi terlihat membawa sebuah pedang logam besar berwarna hitam yang ia tancapkan pada tanah tepat di depan tempatnya berdiri. Tampak kedua tangannya bertumpu pada ujung dari gagang pedang tersebut.
Sedang salah satu dari perempuan itu tampak membawa dua buah pedang dalam sarung menggantung menyilang di belakang punggungnya. Sementara yang satu lagi adalah seorang gadis yang tidak terlihat membawa senjata apapun.
"Kalian pasti rekan dari dua Penjarah Makam yang beberapa waktu lalu mencoba untuk menyusup ke mari, kan?" Perempuan yang membawa dua pedang menyilang di punggung, berucap dengan bahasa yang dimengerti tidak hanya oleh Noel, tapi juga oleh Gesthal. Karena perempuan itu berbicara dalam bahasa yang umum digunakan di daratan tengah Elder. "Apa kalian tidak ada kapok-kapoknya? Pergilah kalian, sebelum terlambat," tambahnya kemudian memberi peringatan.
Sedang Noel dan Gesthal terlihat diam dan waspada.
"Sepertinya mereka penjaga elit yang mengalahkan Magna dan Mirinda kemarin. Berhati-hatilah, Gest," ucap Noel berbisik dari sebelah Gesthal.
"Lalu apa rencana mu sekarang?" Gesthal bertanya dengan juga berbisik pada Noel.
"Aku masih tidak bisa merasakan keberadaan gelang tersebut. Mungkin ada semacam pelindung sihir yang dipasang di gerbang itu untuk menyebunyikan keberadaannya." Noel menjelaskan.
"Jadi, kita perlu menembus masuk?" potong Gesthal memastikan.
"Kurasa jauh lebih baik bila kita berada lebih dekat," ucap Noel menjawab pertanyaan Gesthal.
"Aku berharap kau tidak pernah mengucapkan hal tersebut. Karena aku tidak suka berhadapan dengan orang yang telah berhasil mengalahkan Magna dan Mirinda," ujar Gesthal dengan senyum getirnya.
"Aku juga tidak suka. Kuharap Nikea dan Figor segera mengalahkan para penjaga itu dan segera kemari. Karena kita butuh bantuan untuk menghadapi mereka"
__ADS_1
-