
Sudah hampir seminggu lebih Joan dikurung dalam penjara di kota Guam. Bersama dengan Xiggaz, mereka di tangkap sehari setelah Tyrion melarikan diri.
Mereka berdua sudah bersiap akan hal seperti ini. Bahkan untuk hal yang lebih buruk lagi, seperti menerima hukuman mati. Karena bagi Joan sendiri, tuannya itu adalah seorang penyelamat. Maka ia akan dengan suka rela menukar nyawanya demi keselamatan tuannya.
Dua puluh tahun yang lalu, Tyrion memungutnya dari jalanan kota Guam ini saat ia masih berusia 6 tahun. Dan kemudian memberinya tempat tinggal, makanan, pelatihan bela diri, dan juga sihir yang ia butuhkan untuk menjaga diri. Hingga menjadi seperti ia yang sekarang ini.
Dan oleh sebab itu, ia merasa bahwa kehidupannya ini adalah pinjaman yang suatu saat harus ia kembalikan kepada tuan nya itu. Tidak bedanya dengan Xiggaz.
Joan tidak memiliki sanak keluarga, jadi selama berada dalam penjara tersebut, tak ada satu orang pun yang datang untuk menjenguknya. Sampai kemudian ia kedatangan seorang tamu yang ingin menemuinya. Itu adalah penasehat Chris.
"Ada perlu apa anda datang kemari, penasehat?" Tanya Joan saat ia sudah berada di ruangan lain bersama dengan Chris dan seorang prajurit jaga.
"Silahkan duduk" ujar Chris mempersilahkan Joan duduk di kursi didepan mejanya.
Joan duduk dengan santai. Kemudian mulai berkata-kata lagi. "Saya sudah puluhan kali menjawab bahwa saya tidak tahu-menau kemana tuan Tyrion pergi"
"Bukan. Aku menemuimu sekarang bukan untuk bertanya tentang masalah tersebut. Aku hanya ingin meminta bantuanmu" Chris berucap seraya menegakan postur tubuhnya.
"Dan apa yang bisa saya bantu, penasehat Chris?" Joan menyilangkan kakinya dibawah meja.
"Ku dengar kau sudah pernah tinggal di dalam kota di tanah mati itu" Chris langsung bertanya tanpa basa-basi.
"Benar. Sekitar satu bulan lebih" Joan menjawab.
"Apakah kau bisa menceritakan segala yang kau ketahui tentang tanah mati tersebut, kepadaku? Aku perlu tahu tentang hal tersebut" pinta Chris yang masih tanpa basa-basi.
"Apa anda berniat untuk menyerang balik wilayah Pharos, penasehat Chris?" Joan menyipitkan matanya menyelidik.
"Aku percaya bahwa mereka akan menjadi sebuah ancaman untuk wilayah ini nanti kedepannya. Jadi kita harus menjatuhkannya" Chris menjawab dengan tegas.
"Bukannya tuan Tyrion juga berpikiran sama seperti itu, tapi kenapa anda malah menentang rencannya?" Joan menjawab dengan tenang. "Apa anda melakukannya untuk menjatuhkan tuan Tyrion dan mengambil kembali posisi anda?" Tanyanya kemudian tanpa ada rasa takut.
__ADS_1
"Aku harus menghentikan dan menurunkan tuan mu, karena ia sudah tidak berpikiran secara logis. Kita harus menyerang tanah mati itu dengan rencana yang matang. Sementara tuan mu hanya terbawa emosi ingin membalas dendam. Karena merasa dipermalukan oleh orang-orang dari wilayah tersebut" jawab Chris menjelaskan.
Joan setuju dengan apa yang dikatakan Chris. Bahwa tuannya sudah bertindak gegabah semenjak serangan kejutan ke wilayah timur tanah mati itu gagal total.
"Maka dari itu sebelum mulai membuat rencana untuk menyerang balik wailayah itu, aku ingin mengenali seperti apa wilayah tersebut" Chris berucap lagi.
Joan menatap tajam kearah mata Chris. "Baiklah, saya akan ceritkan" ujarnya kemudian menjawab.
-
"Jadi seperti itu, penasehat Chris" Joan menutup cerita panjang lebarnya tentang semua hal yang ia ketahui mengenai tanah mati tersebut.
"Apa kau yakin mereka memiliki alat ajaib lain selain senjata yang tidak menggunakan sihir?" Tampak Chris bertanya memastikan dengan wajah tidak percaya, yang sudah sering Joan lihat ditiap kali ia menceritkan hal yang ia temui di kota di wilayah Pharos itu.
"Dan bila diingat-ingat lagi, semua hal praktis yang ada wilayah mereka, tidak ada yang mengandalkan sihir sama sekali" Joan berucap sembari memejamkan mata mencoba mengingat-ingat kembali.
"Setelah melihat segala yang mereka punya, apakah menurutmu kita akan menang melawan mereka, nona Joan?" Chris menanyakan pendapat Joan.
"Orang yang sangat handal membuat strategi?" Chris tampak penasaran.
"Selama ini tuan Tyrion dibantu oleh dua belas panglima perang yang cukup berpengalaman dalam peperangan di region tengah ini" Joan mulai menjelaskan. "Dan meskipun tuan Tyrion memerintahkan penyerangan tanpa mengunakan rencana apapun, namun dengan pengalaman dari para panglima perang, harusnya mereka bisa mengantisipasi serangan lawan yang memiliki jumlah kekuatan yang jauh lebih kecil" lanjutnya kemudian.
Chris hanya diam memperhatikan ucapan Joan dengan seksama.
"Tapi tetap saja para panglima perang itu tidak dapat mengalahkan wilayah tersebut. Dan yang kudengar dari prajurit dan bahkan dari para Juara yang berhasil selamat, bahwa cara berperang wilayah itu tidak seperti cara berperang yang umum kita ketahui" Joan melanjutkan ucapannya. "Mereka bisa secara efiktif memanfaatkan segala hal yang mereka punya untuk melawan. Seperti mengunakan hewan buas dan lebah untuk senjata. Menurut saya itu bukan sebuah rencana konyol dan asal buat" tambahnya kemudian.
"Oh benar. Aku juga menganggap itu sebuah strategi yang hebat" Chris menyetujui pendapat Joan. "Tapi yang kudengar, kemenangan mereka itu di karenakan senjata mereka yang hebat. Yang bahkan mampu bertahan melawan senjata mistik" ucapnya melanjutkan.
"Meski senjata mereka hebat, namun tetap senjata mereka terbatas. Harusnya bila mereka tidak menggunakan strategi yang benar, mereka tetap tidak akan bisa menang dengan jumlah pasukan kita yang hampir tiga puluh kali lebih banyak" Joan menjawab ucapan Chris. "Setidaknya itulah yang saya simpulkan selama mengamati peperangan ini" imbuhnya lagi.
"Dan apakah kau sudah memberi tahukan hal tersebut kepada tuan mu?"
__ADS_1
"Sudah. Namun memang saat itu penilaian tuan Tyrion sedang tertutup emosinya" jawab Joan mengakui.
"Pengamatan mu sangat tajam, nona Joan" Chris berucap seraya memindah posisi duduknya. "Lalu menurutmu apakah ada cara untuk mengalahkan mereka? Apakah mereka memiliki kelemahan?" Tanyanya kemudian.
"Secara perdagangan mereka lebih unggul dibanding kita. Secara aturan, entah bagaimana pemerintahan mereka bekerja, saya juga tidak mengerti. Maka dari itu saya tidak tahu dimana letak celah aturan mereka, dan bagaimana memanfaatkannya" Joan kembali melakukan penjelasan panjang. "Mereka tidak memiliki status kasta yang menyebabkan kita tidak bisa 'membeli' bangsawan untuk mau berkhianat. Ditambah lagi sepertinya penduduk wilayah itu sangat mengagumi dan setia terhadap penguasa mereka" tambahnya lagi.
"Apakah hal seperti itu ada?" Chris terdengar meragukan.
"Itu adalah wilayah yang membuat para penyihir bekerja membangun kota. Jadi hal yang mustahil bisa sangat mungkin terjadi ditempat itu" saut Joan mengingatkan Chris akan keanehan di wilayah itu.
Chris terdiam sesaat menatap raut wajah Joan. Seolah sedang menilai. "Baiklah kalau begitu, terima kasih, nona Joan" ucapnya kemudian.
"Baiklah kalau begitu saya permisi dulu" Joan berdiri dari tempat duduknya.
"Maaf, nona Joan. Satu lagi" saut Chris tiba-tiba. Yang membuat Joan kembali duduk.
"Silahkan, penasehat Chris" ucap Joan kemudian.
"Menurut mu, bila kau bisa memilih. Apakah kau ingin kerajaan kita berada dalam kekuasaan wilayah tanah mati itu, atau sebaliknya?" Tanya Chris kemudian. Yang membuat raut wajah Joan berubah.
Joan terlihat berpikir sebentar. "Saya adalah orang yang sangat setia terhadap kerajaan ini. Jadi saya tidak ingin kerajaan ini ditaklukan oleh wilayah lain" jawabnya kemudian.
"Tapi...?" Chris bertanya seolah ia tahu bahwa ucapan Joan belum selesai.
"Tapi bila saya melihatnya sebagai warga biasa, maka saya akan memilih berada dalam kekuasaan tanah mati tersebut" jawab Joan kemudian.
Chris menatap raut wajah Joan sekali lagi. Masih terlihat sedang menilai. Untuk yang kali ini sedikit lebih lama dari sebelumnya.
Dan setelah sudah merasa yakin, Chris mulai berucap. "Baiklah, kalau begitu. Terima kasih, nona Joan" yang kemudian mulai tersenyum. Tampak wajahnya puas.
"Baiklah kalau begitu. Saya pamit, penasehat Chris" ujar Joan yang mulai beranjak pergi meninggalkan ruangan tedsebut.
__ADS_1
-