Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
Epilog Arc Keempat Part 2


__ADS_3

"Nat, aku ingin menayakan sekali lagi, mengapa kau ingin menghancurkan kerajaan Urbar dan mengambil alih tanah Suci? Apa hanya karena rasa dendam kalian saja?" Lucia bertanya begitu ia, Aksa, dan Nata sudah berada di ruang kerja di kediamannya. Beberapa waktu setelah pertemuan sebelumnya ditutup.


"Juga untuk meminta Gadis Suci menyembuhkan tangan Rafa" Aksa menjawab cepat.


"Menyembuhkan apa? Gadis Suci bisa melakukan hal tersebut?" Lucia terkejut mendengar informasi tersebut.


"Mungkin" saut Aksa kemudian.


"Mungkin? Jangan bercanda kalian" Lucia mulai terlihat sewot.


"Ya sebenarnya, kami cukup mencoba menyelinap ke kota Nezarad di tanah Suci, lalu mencari gadis Suci dan kemudian meminta pertolongannya" Nata tiba-tiba berucap.


"Nah, itu bukan nya jauh lebih baik?" Lucia segera menimpali.


"Tapi seperti yang sudah kami katakan sebelumnya, sekarang ini kami sedang merasa sakit hati terhadap kerajaan Urbar. Dan kami sudah bertekad untuk menjatuhkannya" Nata menjawab. Namun sebelum Lucia sempat bersuara, Nata kembali berucap. "Tapi bila kami hanya menjatuhkan kerajaan Urbar saja, maka ada kemungkinan kerajaan lain akan mencoba menguasai tanah Suci, yang mungkin akan berujung pada peperangan lain.


"Maka dari itu, kami berniat untuk sekaligus menguasai tanah Suci tersebut. Hingga tidak akan ada kerajaan lain yang akan memperebutkannya lagi setelah lepas dari kerajaan Urbar" Nata melanjutkan ucapannya.


"Dan apa yang akan kalian lakukan setelah berhasil menguasai tanah Suci itu?" Lucia memburu Nata dengan pertanyaan seperti seseorang penuntut hukum kepada terdakwa.


"Menetepkan satu hari libur dalam seminggu yang berlaku untuk semua kerajaan di region tengah" saut Aksa tiba-tiba. Yang di balas Lucia dengan tatapan sinis.


"Entahlah. Kami belum memikirkannya hingga sejauh itu. Tujuan kami sekarang hanya mengalahkan kerajaan Urbar dan menguasai tanah Suci. Itu dulu" Nata menjawab dengan santai. "Mungkin nanti dengan pengaruh dari tanah Suci, kami bisa merubah cara berpikir kerajaan-kerajaan lain untuk melakukan peperangan dalam bentuk lain. Perang ekonomi mungkin?" Tambahnya kemudian


"Food War" saut Aksa memotong ucapan Nata.


"Yah, pokoknya yang tidak harus saling membunuh" Nata melanjutkan ucapannya.


"Atau mungkin kita berdua harus menjajah semua kerajaan di seluruh daratan selatan untuk menciptakan sebuah perdamaian" tambah Aksa dengan penuh dramatis seraya menggerakan tangannya.


"Bisa jadi, kita tidak pernah tahu" Nata menjawab.


Sedang Lucia tampak hanya menggeleng pasrah mendengar ucapan Aksa dan Nata yang sudah mulai berada di dunia mereka sendiri.


"Lalu mengapa kalian harus meninggalkan tempat ini?" Lucia mengajukan pertanyaan lain, masih dengan sikap yang terlihat curiga.


"Sudah jelas karena kami harus melakukan penyerangan. Anda pikir menyerang kota secara real life, hanya cukup pake tombol Attack di layar hape?" Aksa menyahut sewot mendengar pertanyaan Lucia yang konyol.


"Apa kalian memiliki prajurit? Bagaimana cara kalian melakukan serangan ke tempat mereka?" Lucia bertanya lagi. Tidak memperdulikan ucapan Aksa yang tidak ia pahami.

__ADS_1


"Jelas kami tidak akan menyerang wilayah-wilayah Estat mereka, putri. Yang perlu kami lakukan adalah melumpuhkan kota pemerintahan mereka dan mengambil alih wilayah tanah Suci. Hanya begitu saja" jawab Nata mencoba menjelaskan. "Dan bila hanya untuk mengambil alih satu atau dua kota, anda pikir keberadaan Lily dan Val saja, tidak cukup?" Imbuhnya kemudian.


Mendengar jawaban tersebut membuat Lucia tidak dapat membantah lagi.


"Lalu kenapa kalian memilih untuk melakukan hal ini sendiri? Kenapa kalian tidak berusaha membujuk ku untuk melakukannya?" Tampak pertanyaan yang sedari tadi mengganjal dan melukai perasaan Lucia itu mulai dikeluarkan. "Apa kalian merasa aku akan membebani tujuan kalian?" Tambahnya lagi.


Gelagat tidak nyaman dan rentetan pertanyaan yang sedari tadi Lucia keluarkan itu adalah hasil dari perasaan gundahnya karena ia merasa ditinggalkan oleh Aksa dan Nata.


"Karena menguasai sebuah kerajaan itu bukan hal yang sederhana, tuan putri" Nata kemudian menjawab.


"Bila anda sudah berhasil mengalahkan sebuah kerajaan, maka wilayah anda sudah bukan hanya sebuah 'wilayah' saja. Daerah kekuasaan anda mau tidak mau harus menjadi sebuah kerajaan. Dan itu berarti anda harus menjadi seorang ratu" Nata mulai menjelaskan alasan ia dan Aksa tidak mencoba untuk membujuk Lucia. "Bila anda yang keturunan asli dari raja Elbrasta sebelumnya mendirikan sebuah kerajaan baru, apa menurut anda tidak akan terjadi masalah di wilayah Elbrasta? Apa lagi sekarang kerajaan itu tengah dilanda konflik" lanjutnya kemudian.


"Oh, dan juga anda akan memicu pergolakan baru di daratan selatan, karena berhasil menguasai tanah Suci. Yang bisa jadi akan memiliki lebih banyak musuh dan mungkin harus menundukan mereka semua sebagai jawabannya" Aksa ikut menambahi. "Apa anda siap dengan segala hal itu tadi?" Susulnya kemudian.


Lucia langsung terdiam mendengar penjelasan tersebut. Ia tidak bisa menjawab. Hal-hal yang baru saja disebutkan Aksa dan Nata itu terlalu besar buatnya.


"Sudah ku duga" saut Aksa kemudian.


"Maka dari itulah, kami tidak mencoba untuk membujuk anda melakukannya. Karena kami tahu anda tidak akan suka menerima dampaknya" Nata berucap lagi. "Tapi jangan kuatir. Wilayah ini sudah mulai mandiri. Kami akan menyiapkan hal-hal yang diperlukan sebelum pergi. Kami juga pasti akan datang kemari lagi karena masih ada rahasia di dalam gua Ceruk Bintang yang belum terungkap" lanjutnya.


"Kami sudah membicarakan hal ini dengan Lily dan Val. Mungkin kami akan berangkat dalam waktu dua atau tiga minggu lagi" Kali ini Aksa yang berucap.


-


Lima hari kemudian, tampak Ivvone kembali dari perjalanannya di wilayah selatan. Dan begitu tiba di kota tengah, yang pertama ia tuju adalah bar Pietro.


"Aku sangat rindu dengan makanan dan minuman dari tempat ini" ujar Yvvone setelah meneguk habis setengah dari isi gelasnya. Minuman Bintang Merah.


Di bar tersebut juga tampak Lucia, Aksa, Nata, Rafa, dan Lily. Yang duduk berjajar di meja panjang bartender. Tampak pula Luna yang sedang mengelap gelas di rak meja, dan Seigfried yang mengelap meja-meja kosong.


"Dan baru aku tinggal beberapa bulan saja, wilayah kalian sudah bertambah luas. Kalian ambisius sekali untuk menguasai dunia" tambah Yvvone kemudian.


"Sudah jangan berucap sarkas seperti itu. Jadi bagaimana tentang temanmu si marga Shuuran itu?" Tagih Aksa kemudian.


"Hei, aku melakukan perjalanan ke selatan untuk menyelidiki orang yang sedang pengumpulkan gelang Scion. Bukan untuk membawa seorang Shuuran" terdengar Yvvone tidak uerima dengan tagihan Aksa.


"Lalu apa yang anda temukan, nona Ivvone?" Lucia kemudian bertanya.


"Sepertinya dua orang yang pernah ku lihat di hutan Yllgarian dulu, adalah anggota dari sebuah kelompok ksatria lepas bernama Delapan Penjaga" Yvvone menjawab.

__ADS_1


"Oh, Delapan Penjaga" terdengar Seigfried berucap tanpa sadar. Itu karena ia mengenali nama tersebut.


"Kau tahu tentang kelompok itu, Morra?" Yvvone bertanya seraya memutar arah duduknya menghadap ke Seigfried yang berada dibelakangnya. Yang lain tampak mengikutinya.


"Ck" Seigfried terlihat kesal menatap Ivvone. "Berhenti memanggilku Morra, Elf" ucapnya kemudian.


"Itu bukan masalah. Sekarang yang terpenting, apa kau tau tentang kelompok Delapan Penjaga itu?" Tanya Yvvone tidak memperdulikan ucapan Seigfried sebelumnya.


"Delapan Penjaga itu kelompok ksatria lepas elit" Seigfried menjawab.


"Ksatria lepas?" Nata terdengar penasaran.


"Itu mirip semacam serikat petarung, namun semua anggotanya adalah mantan ksatria kerajaan. Mereka sangat terkenal di dunia bawah. Karena mereka menerima segala jenis pekerjaan tanpa memperdulikan apakah itu baik atau buruk. Susah atau mudah. Asal mereka dibayar dengan sesuai" Seigfried mencoba menjelaskan semampunya. "Setidaknya itu yang pernah ku dengar" tutupnya kemudian.


"Apa kau tahu dimana kita bisa menghubungi mereka?" Yvvone terlihat mulai tertarik.


"Sepertinya mereka punya perantara sendiri untuk menghubungkan mereka dengan para penyewanya" Seigfried menjawab lagi.


"Apa kau tahu siapa perantaranya?"


"Yang ku tahu namanya Yan. Tapi aku tidak pernah bertemu dengannya. Kudengar ia tinggal berpindah-pindah di kota-kota di wilayah barat kerajaan Estrinx" Seigfried menjawab lagi.


"Oh, daerah tempatmu tinggal?" Yvvone bertanya lagi yang kali ini diacuhkan oleh Seigfried. Tidak dijawab.


"Apa kau tahu tentang anggota-anggota mereka?" Yvvone terlihat tidak perduli di acuhkan. Ia mulai bertanya lagi.


"Aku tidak tahu. Kabarnya mereka sering berganti-ganti anggota" jawab Seigfried kali ini.


"Baiklah kalau begitu, setelah ini kau akan ikut bersama dengan ku menuju Estrinx" ujar Yvvone kemudian.


"Apa kau gila, Elf? Aku tidak mau" saut Seigfried cepat.


"Baiklah kalau begitu, sudah diputuskan kita akan berangkat dua minggu lagi. Bersiap-siaplah" Yvvone menjawab dengan santai.


"Jangan seenaknya menentukan. Aku bilang aku tidak setuju" Seigfried tampak mulai sewot.


Sementara Yvvone kembali memutar posisi duduknya menghadap meja dengan santai. Mengacuhkan Seigfried yang mulai mengutuk dengan lirih seraya melanjutkan pekerjaannya mengelap meja. Orang-orang tampak bingung melihat mereka berdua.


"Jadi, kejutan apa lagi yang kalian punya yang aku belum tahu?" Tanya Yvvone kemudian setelah menghabiskan sisa minumannya.

__ADS_1


-


__ADS_2