Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
Antology 14


__ADS_3

Di Bar tempat Luna bekerja, saat ini terlihat sepuluh orang yang tengah duduk mengelilingi dua meja bundar yang sengaja di jajar menghadap ke arah meja panjang tempat biasa Luna berada. Menara jam di alun-alun kota menunjukan pukul setengah dua dini hari.


Sepuluh orang itu adalah Loujze, Deuxter, Huebert, Go, Shuri, Axel, Sigurd, Ende, Seigfried dan Luna. Empat anggota Bintang Api itu ikut karena Shuri memang sengaja memberi yahukan hal tersebut kepada rekan-rekannya.


Dua meja itu di kelilingi oleh empat orang. Satu oleh anggota Bintang Api, dan satu lagi oleh trio pemburu dan Go. Sementara Luna duduk di kursi di meja panjang menghadap ke arah dua meja tadi.


Sedang Seigfried terlihat sibuk membawa barang keluar masuk ruang belakang.


"Jadi ceritakan apa yang sebenarnya telah terjadi?" tanya Deuxter begitu Luna sudah duduk nyaman dihadapan mereka.


"Sebenarnya, dua bocah itu tidak mengunci diri di dalam gua," ucap Luna setelah meneguk minuman dari gelasnya. "Mereka menghilang," tambahnya kemudian.


"Menghilang?" tanya hampir semua orang yang ada di ruangan itu, terlihat bingung tidak mengerti dengan maksud ucapan Luna tersebut.


"Maaf, tapi apa yang kau maksud dengan menghilang?" tanya Axel kemudian.


"Hilang, tidak dapat dilihat, tidak dapat ditemukan," sahut Luna menjawab dengan menggerakan tangannya agar terlihat lebih dramatis.


"Benarkah?" Loujze terlihat bingung dan tidak percaya.


"Kami sudah berusaha mencarinya, tapi tidak membuahkan hasil," ucap Luna mencoba meyakinkan yang lain. "Maksud ku, aku dan Caspian. Dan juga secara sembunyi-sembunyi agar tidak menimbulkan kehebohan. Tapi kami tidak bisa menemukan mereka dimanapun," lanjutbya kekudian bercerita.


Semua orang memasang wajah ragu mendengar cerita Luna tersebut.


"Apa kalian sudah mencarinya di semua tempat di wilayah ini?" Kali ini Huebert yang bertanya.


"Percayalah kami sudah melakukannya. Kami sudah mencarinya di semua tempat di wilayah ini. Bahkan kami meminta bebedapa Yllgarian melakukan penyisiran Hutan Sekai secara rahasia," jawab Luna. "Kami juga sudah memperlebar wilayah pencarian sampai ke luar wilayah Pusat ini. Baik itu ke daratan selatan ataupun ke daratan utara. Dan sampai saat ini kami belum menemukannya," lanjutnya menambahi.


"Apa mereka kembali ke dunia mereka?" celetuk Loujze menduga-duga.


"Bagaimana sebenarnya kejadiaan sampai mereka bisa hilang?" Axel bertanya. "Bukankah mereka selalu dikelilingi oleh banyak orang?" ucapnya lagi.


"Benar. Tuan Couran, Nona Lily, Nona Rafa, bahkan Primaval, dan Nona Yvvone selalu berada di sekitar mereka, bukan?" Shuri ikut menambahi ucapan Axel.


Terlihat yang lain ikut mengangguk menanggapi ucapan dari Axel dan Shuri yang terdengar masuk akal itu.


"Tuan Couran dan Nona Lily sedang bersama mereka berdua, beberapa saat sebelum mereka menghilang. Dan menurut Tuan Couran mereka hilang begitu saja," Luna kembali bercerita. "Aku juga tidak tau detail pastinya. Tapi menurut mereka berdua seperti itulah kejadiannya. Dan aku tidak mungkin mengira Tuan Couran dan Nona Lily berbohong, kan?" lanjutnya kemudian.


"Apa itu semacam sihir pemindah atau sihir pemanggil?" Ende mencoba memberikan dugaan dari pengamatannya.


"Bukan, tidak ada tanda-tanda pergerakan Aliran Jiwa di sekitar mereka saat hal tersebut terjadi. Bila tidak Nona Lily pasti akan segera merasakannya," jelas Luna kemudian. "Hal itu juga sudah dipastikan oleh Nona Yvvone yang cukup paham tentang sihir Ruang Waktu. Menurut beliau tidak ada jejak penggunaan sihir pemindah ataupun pengunaan batu Arcane. Dan bahkan pembatas senjata mistik yang dipasang Tuan Val di sekitar Gua tersebut tidak rusak. Yang berarti tidak ada penggunaan senjata mistik di tempat tersebut," lanjutnya kemudian.


"Jadi memang kemungkinan besarnya mereka telah berhasil menemukan cara untuk kembali pulang ke dunia mereka," ucap Loujze memberikan kesimpulan dari apa yang ia dengar.


"Mungkin karena mengetahui kenyataan bahwa mereka telah kembali ke dunia mereka itulah, yang membuat Tuan Couran dan Nona Rafa bersikap seperti itu," Shuri menambahi.


"Tapi itu buka seperti mereka yang pergi tanpa berpamitan. Aku tahu mereka tidak tahu sopan santun, tapi mereka tidak mungkin meninggalkan orang-orang terdekat mereka tanpa ucapan sama sekali," sahut Deuxter menjawab ucapan Shuri.


"Apa jangan-jangan mereka sudah berpamitan dengan mereka?" ucap Shuri dengan dugaan yang lain. "Bisa jadi karena hal itulah yang menyebabkan Nona Lily bisa bersikap tenang seperti sekarang ini. Mungkin mereka tidak mengucapkan apapun kepada kita, di samping karena tidak ingin menimbulkan kegemparan yang dapat menarik perhatian kerajaan lain disaat seperti sekarang ini, juga karena kita tidak terlalu dekat dengan mereka berdua," lanjutnya kemudian yang terlihat cukup antusias.


"Aku meragukan hal tersebut," Luna menjawab sambil menggeleng pelan.


"Lalu bagaimana Sang Ratu menanggapi hal ini?" Axel kembali bertanya.


"Sang Ratu tidak menanggapinya dengan cukup baik. Ditambah banyak hal yang sedang terjadi di wilayah Elbrasta akhir-akhir ini, yang jelas mempengaruhi pikiran Beliau," Luna bercerita dengan wajah yang terlihat sedikit sedih.


"Aku yakin, hal ini pasti berat untuk Beliau," ucap Deuxter kemudian.


"Apa Sang Ratu akan baik-baik saja?" Shuri bertanya kuatir.


"Kita hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk Beliau," jawab Luna yang terlihat setengah pasrah.


"Apa berarti kita akan jatuh kembali dalam peperangan?" Shuri bertanya lagi, kali ini terlihat ketakutan mulai tampak di matanya.


Sementara Luna hanya mampu menggelengkan kepalanya pelan. Yang kemudian diikuti oleh kesunyian dalam ruangan tersebut.


"Kalau kalian sudah selesai, segeralah pulang. Aku sudah mengantuk," tiba-tiba Seigfried berucap dari balik meja Bartender yang mengejutkan yang lain.


Semua orang tidak merasa kesal dengan ucapan tidak sopan dari Seigfried. Mereka sadar bahwa tidak ada gunanya mereka masih berdiam diri di Bar tersebut. Yang malah mengganggu orang lain.


Tampak satu persatu, orang-orang itu bangkit berdiri dengan tampang lesu dan terlihat resah.


"Tidak ada yang bisa kita lakukan untuk berterima kasih keculi berusaha sekuat tenaga untuk melindungi tanah yang sudah mereka wariskan pada kita," gerutu Seigfried lagi seraya berjalan menyeberang ruangan. Yang kemudian mulai membalik kursi-kursi dan meletakannya di atas meja. "Itu juga kalau kita merasa harus berterima kasih pada mereka," tambahnya lagi masih dengan sikap tak perduli terhadap yang lainnya.


Semua orang mulai tampak tersenyum mendengar ucapan Seigfried tersebut. Mereka sadar bahwa memang itulah hal yang harus mereka lakukan sekarang. Dibanding berpikir tentang mengapa dan bagaimana Aksa dan Nata meninggalkan mereka.


Setelah itu empat anggota Bintang Api, Go, dan trio pemburu pun pamit pulang. Sementara Luna masih tinggal untuk membantu Seigfried membersihakan Bar.


"Kau ini selalu bertindak sok keren, Sieg. Kau tahu itu?" ucap Luna yang kemudian ikut membantu Seigfried membalik dan meletakan kursi di atas meja.

__ADS_1


"Buat apa? Sok keren tidak membuat kita kenyang," jawab Seigfried yang terdengar seperti sedang bergumam.


-


-


Pagi harinya di wilayah Kota Utara. Cornelius dan Constine sedang berkeliling melakukan pengawasan dan pemeriksaan wilayah berkala.


Wilayah utara sekarang terlihat lebih ramai dari sebelumnya. Terutama Kota Utara dan Gerbang Utara.


Kini terdapat sebuah tempat khusus yang bertugas untuk mendata orang-orang yang masuk dan keluar, yang disebut dengan Balai Perijinan. Tempat itu berada di Gerbang Utara tepat sebelum Danau Utara , danau yang terbentuk dari jurang yang kini telah penuh terisi air. Di antara dua tembok benteng yang sengaja dibangun tepat di celah tebing yang menjadi satu-satunya jalan masuk ke wilayah Kerajaan Rhapsodia dari daratan utara.


Tidak hanya dibedakan oleh surat-surat yang diberikan saat memasuki gerbang saja, dari tempat itu para pedagang dan pengunjung kota dipisah pintu masuknya. Semua orang dengan kereta kuda dan bawaan yanh cukup banyak akan melewati jembatan danau jurang tadi, untuk menuju ke daratan rendah Kota Utara. Yang sekarang disebut sebagai Kota Bawah. Sedang yang tidak membawa kereta kuda dan hanya perorangan bisa menggunakan Gondola kecil yang dibangun dari wilayah Gerbang Utara langsung menuju dataran tinggi Kota Utara yang sekarang disebut dengan Kota Atas.


"Apa bangsawan-bangsawan itu masih terus mencoba untuk masuk ke dalam dengan alasan ingin bertemu Ratu Daisy?" tanya Cornelius kepada salah satu dari tiga petugas yang ada di Balai Perijinan tersebut.


"Benar, Tuan. Bahkan tidak sedikit yang mengancam dengan menggunakan posisi kebangsawanan mereka." jawab pria Morra yang terlihat mengenakan seragam khusus pekerja pemerintah. Yang berupa baju lengan panjang dengan jas berwarna hijau tua, senada dengan warna celananya.


"Jangan kuatir, mereka hanya menggertak saja. Bila memang mereka memiliki kekuatan mereka bahkan tidak akan berhadapan dengan kalian," jawab Cornelius memberi dukungan pada anak buahnya.


"Kami mengerti, Tuan. Kami akan tetap menjalankan tugas kami, kepada siapa pun sesuai aturan yang berlaku," balas pegawai itu dengan tegas.


"Bagus. Baiklah kalau begitu, teruskan tugas kalian. Selamat siang." ucap Cornelius sambil berjalan menuju ke tempat Constine yang sedang menunggu di gerbang sisi dalam.


"Selamat siang, Tuan." Para pegawai dan penjaga yang ada di tempat itu membalas secara bersamaan.


"Mungkin kita perlu memperkerjakan seorang Narva untuk membuat para Bangsawan itu tidak memandang remeh para pegawai kita," ucap Constine begitu Cornelius mendekat.


"Kurasa tidak perlu. Mereka pasti hanya bangsawan kelas bawah. Tidak perlu dihiraukan," jawab Cornelius. "Bagaimana dengan bagian pencatatan?" tanyanya kemudian kepada Constine saat mereka mulai berjalan menuju ke arah Kereta Besi mereka berada.


"Tidak ada hal aneh di bagian pencatatan. Semuanya aman," ucap Constine menjawab saat mereka sudah tiba di samping Kereta Besi tersebut.


"Baguslah," ucap Cornelius setelah mengenyakan tubuhnya di tempat duduk belakang di sebelah Constine.


Dan tanpa menunggu perintah dari Cornelius, seorang pria yang duduk di kursi kemudi Kereta Besi tersebut, segera menyalakan mesin dan melaju melewati jembatan Danau Utara menuju ke Kota Bawah.


Kota Bawah sekarang terlihat jauh dari kumuh dan kotor. Setelah kedatangan seorang seniman dari Estrinx yang bekerja dibawah Cornelius, yang mencoba mengukir dinding tebing dengan gambar-gambar yang indah.


Wilayah tempat penitipan kereta dan kuda, juga gudang penyimpanan sementara masih ada di Kota Bawah tersebut. Hanya saja sekarang semua Garisun dan gudang persenjataan di pindah di sisi barat Kota Atas. Yang kemudian digantikan oleh kawasan kecil berisi penginapan dan restauran, yang membentang dari dinding tebing bagian timur, sampai sebelum air terjun di dinding tebing bagian barat.


Setelah melakukan pemeriksaan cepat di tempat penitipan kereta kuda dan gudang penyimpanan, Kereta Besi yang membawa Cornelius dan Constine menaiki katrol elevator yang kini dibuat lebih besar dan kokoh, agar mampu mengangkat benda seberat Kereta Tempur. Mereka menuju ke Kota Atas.


Sedang Kota Atas ini berisi segala hal yang umum ada pada sebuah kota.


Sedang area perdagangan terletak di sebelah utara alun-alun kota. Tak jauh dari katrol elevator berada.


Kemudian area pemerintahan yang terletak di selatan alun-alun kota, tak jauh dari Stasiun Kereta Uap.


Dan di sebelah barat alun-alun kota, diisi dengan Garisun, gudang senjata, dan pemukiman khusus prajurit dan penyihir.


Cornelius dan Constine melanjutkan perjalanan mereka menuju ke arah selatan. Ke kediaman Cornelius yang dibangun sebelum wilayah itu dibuat menjadi wilayah pemerintahan.


Dan seperti halnya kota-kota lain di wilayah kerajaan Rhapsodia, setiap alun-alun kotanya selalu memiliki menara jam. Yang karena keunikannya, hingga menarik banyak perhatian orang luar dan kemudian membuat konsep perhitungan waktu menggunakan satuan angka menjadi semakin populer di luar wilayah tersebut.


.


Tampak seorang pria Narva setengah baya berdiri di depan pintu masuk kediaman Cornelius. Dan segera menghampiri begitu Kereta Besi Cornelius memasuki gerbang pagar.


"Tuan Caspian sedang menunggu di ruang tengah, Tuan," ucap pria setengah baya itu setelah Cornelius dan Constine turun dari Kereta Besi.


"Terima kasih, Gar. Ayo Constine," ucap Cornelius kemudian yang kemudian memasuki kediamannya.


.


"Masalah kita tidak berkurang sama sekali semenjak berdirinya kerajaan ini," ucap Cornelius saat ia dan Constine sudah duduk di ruang tengah kediamannya, bersama Caspian.


"Benar. Wilayah selatan masih bersusah payah untuk membangun diri, malah sekarang Tuan Grevier melakukan sedangan yang semakin memperburuk keadaan di wilayah Elbrasta." Tampak Constine ikut menambahi.


"Para bangsawa juga mulai menggunakan kesempatan ini untuk menjalankan kepentingan mereka masing-masing," sahut Cornelius menambahi. "Kalau begini terus bisa-bisa kerajaan Elbrasta akan terpecah," lanjutnya kemudian.


"Benar, yang saya takutkan sekarang ini adalah pecahnya perang lain di daratan utara. Padahal kita masih belum pulih benar dari perang sebelumnya," ucap Caspian yang terlihat kuatir.


"Lalu bagaimana cara kita menghadapi bila benar peperangan terjadi lagi?" Kali ini Constine yang bertanya. Terlihat sangat kuatir.


"Yang jelas kita harus secepatnya memiliki pasukan yang kuat. Bila tidak, kita tidak akan punya banyak pilihan dan kesempatan saat peperang itu menghampiri," jawab Caspian yang masih dengan wajah tidak nyaman.


"Tapi kita tidak bisa berbuat apapun. Kita tidak dapat mengadakan wajib militer di tempat ini, Yang Mulia Ratu pasti tidak akan setuju," sahut Cornelius menanggapi ucapan Caspian.


"Lalu apa yang harus kita lakukan?" Constine terlihat mulai sedikit panik.

__ADS_1


"Bila kita hanya memiliki sedikit pasukan, berarti kita harus mengandalkan pada persenjataan yang kuat. Seperti yang selama ini kita lakukan." Caspian menjelaskan. "Atau kita bisa membangun tembok pertahanan di dalam wilayah ini dan bertahan dengan menutup diri seperti sebelumnya," tambahnya kemudian.


"Tapi, itu berarti kita harus melepas wilayah di Daratan Selatan?" ucap Cornelius yang terdengar seperti memberi tahu sekaligus bertanya.


"Benar. Dan pilihan itu akan jadi pilihan yang sangat sulit untuk Yang Mulia Ratu," jawab Caspian seraya mengangguk kecil.


"Ya, jelas itu akan jadi keputusan yang sangat sangat sulit bagi Yang Mulia Ratu." Cornelius menyetujui ucapan Caspian.


"Padahal semua masalah ini akan segera selesai bila Tuan Nata turun tangan sendiri," sahut Constine kemudian.


"Benar, harusnya semua masalah ini pasti akan cepat selesai bila mereka turun tangan. Tapi yang aku heran, mengapa di saat-saat seperti sekarang ini mereka malah memutuskan hubungan seperti itu?" ucap Cornelius yang terlihat tidak mengerti dengan keputusan yang dibuat oleh Aksa dan Nata. "Dan harusnya kita tidak mengikuti kemauan aneh mereka ini. Harusnya kita tetap meminta mereka berdua untuk ikut membantu menyelesaikan semua ini," lanjutnya kemudian yang terlihat lebih tidak mengerti dengan orang-orang yang mau mengikuti keputusan aneh Aksa dan Nata tersebut. "Ini masalah penting, apa kita tidak bisa memaksa masuk ke ruangan di dalam gua itu?"


Caspian terdiam sebentar, kemudian menjawab ragu, "Tidak bisa."


"Tidak bisa? Itu masuk akal. Apa kita harus sampai melawan Nona Lily segala untuk masuk ke dalam ruangan itu?" tanya Cornelius yang terlihat semakin tidak mengerti dengan jawaban dari Caspian.


"Ada masalah yang lebih susah kita lakukan dari pada harus melawan Nona Lily," jawab Caspian lagi dengan semakin ragu.


"Dan apa itu? Apa yang lebih susah dibanding melawan seorang legenda perang Kilat Putih?" Cornelius terlihat semakin geregetan mendengar jawaban dari Caspian.


"Maaf, Tuan Cornelius. Tapi saya tidak bisa mengatakannya," ucap Caspian kemudian sambil menurunkan pandangan ke arah meja di hadapannya.


"Kau merahasiakan sesuatu dariku?" tanya Cornelius yang terlihat terkejut bahwa ada hal yang dirahasiakan darinya di balik semua ini. "Kau merahasiakan sesuatu dariku?" Cornelius mengulang pertanyaannya yang kali ini terdengar menahan emosi.


Sedang Caspian hanya terdiam.


Cornelius kemudian menghembuskan nafas panjang. "Baiklah, aku tidak akan memaksa. Aku anggap Yang Mulia Ratu yang memerintahkanmu untuk merahasiakannya. Aku mengerti," ucapnya yang masih tetap berusaha mengatur nafas. "Apa ayah tahu tentang hal ini?" tanyanya kemudian.


"Beliau tahu." Caspian menjawab cepat.


"Baiklah kalau begitu, setelah ini aku akan bertanya kepadanya," ucap Cornelius kemudian.


"Tanpa sadar kita memang bergantung pada dua orang itu," sahut Constine yang mencoba untuk mengganti topik pembicaraan yang semakin canggung.


"Kurasa karena pada dasarnya semua rencana pembentukan wilayah ini datang dari mereka berdua, jadi sudah jelas kalau kita memang membutuhkan dua orang itu," sahut Cornelius menanggapi ucapan Constine tersebut.


"Sebenarnya Tuan Nata sudah menyiapkan serangkaian rencana untuk kekuatan militer kita," jawab Caspian mencoba menjelaskan. "Namun situasi berubah dengan cepat, dan sekarang mereka berdua sudah tidak dapat dihubungi," lanjutnya lagi menambahkan.


"Berarti kalau sudah seperti ini, tinggal tergantung kita sendiri saja sekarang," ujar Constine yang terlihat sedikit putus asa.


"Benar, kita harus mencoba sekuat kemampuan kita untuk setidaknya bertahan. Sampai semua kembali seperti semula," ucap Caspian kemudian, mencoba untuk kembali menyemangati Constine.


"Maksud Anda tentang Tuan Aksa dan Tuan Nata?" tanya Constine memastikan.


"Benar." Caspian menjawab cepat.


"Lalu bagaimana dengan rencana pencarian prajurit dari utara? Apakah berjalan dengan lancar?" Sekarang giliran Cornelius yang mencoba merubah topik pembicaraan dari Aksa dan Nata.


"Sayangnya dengan situasi yang sedang terjadi, pencarian prajurit di wilayah utara pun tidak berjalan dengan baik." Caspian menjawab dengan tidak bersemangat.


"Bila kita tidak memiliki banyak pasukan, bukankah kita tinggal membuat Kereta Tempur lebih banyak untuk menutupi kekurangan kita?" ucap Constine yang mencoba memberi masukan.


"Masalahnya, kita tidak memiliki banyak material untuk melanjutkan membuat Kereta Tempur itu," sahut Cornelius menimpali.


"Maksud Anda logam Dracz?" tanya Constine memastikan. "Bukankah kita memiliki perjanjian khusus dengan kerajaan Estrinx mengenai hal tersebut? Hubungan kita juga dalam kondisi baik dengan mereka," lanjutnya kemudian yang masih mencoba memastikan.


"Yang Anda bicarakan memang benar, Tuan Constine. Tapi sayangnya kecepatan mereka menambang logam tersebut, tidak cukup cepat untuk memenuhi jumlah kebutuhan kita terhadap logam tersebut," jawab Caspian mencoba menjelaskan pada Constine.


"Pihak Estrinx tidak mampu menyiapkan logam Dracz dalam jumlah yang kita butuhkan untuk membuat Kereta Tempur, dalam waktu dekat," sahut Cornelius menambahi.


"Kalau begitu, bagaimana dengan menyewa serikat petarung bayaran untuk menambah jumlah pasukan kita?" tanya Constine lagi yang sekaligus mencoba memberi masukan.


"Hal itu tidak terlalu berdampak," jawab Caspian cepat. "Di samping kebanyakan dari kelompok serikat petarung bayaran itu tidak memiliki kesetiaan, menyewa mereka untuk berperang akan memboroskan setengah dari keseluruhan pengeluaran kita untuk militer," jelasnya kemudian.


"Dengan biaya pengeluaran sebanyak itu, lebih menghasilkan bila kita gunakan untuk membuat senjata. Atau mungkin akan jauh lebih menghasilkan lagi bila kita gunakan untuk menyuap bangsawan agar berkhianat," sahut Cornelius menambahi dengan memberikan contoh yang asal.


"Bicara tentang pengkhianatan, bagaimana dengan rencana melakukan sabotase sebelum mereka menyerang atau yang sejenisnya?" tanya Constine lagi masih mencoba memberi masukan.


"Itu bukan pilihan. Karena untuk jaringan mata-mata pun kita juga belum memiliki banyak anggota," jawab Caspian masih dengan wajah tidak bersemangat.


"Tapi dari yang ku dengar, pihak selatan sudah mulai mengerakan mata-mata mereka, bukan kah kita seharusnya sudah dapat melawan mereka?" Cornelius bertanya memastikan.


"Meski jaringan yang saya dan Luna bangun sekarang ini sudah cukup kuat, namun kami baru bisa menyediakan hanya sebesar informasi saja," Kembali Caspian menjawab dengan tidak bersemangat. Seolah tidak ada harapan dalam setiap jawabannya.


"Apa kau sedang bercanda? Kita benar-benar dalam masalah besar kalau tetap seperti ini," ucap Cornelius yang terlihat tidak mau percaya dengan apa yang ia dengar.


"Karena selama ini kita melakukan semuanya berdasar dari rencana Tuan Nata, jadi sekarang yang kita perlukan adalah waktu. Baik untuk mulai membuat ulang rencana yang baru, juga untuk membangun pasukan dan senjata kita sedikit demi sedikit." Caspian menjawab mencoba bersikap positif.


"Kurasa kita tidak akan mendapat cukup waktu, karena aku yakin tak lama lagi akan ada peperangan lain yang akan mendatangi kita. Dan kita harus siap dengan hal tersebut," ucap Cornelius menjawab.

__ADS_1


"Mari berharap yang terbaik kepada para dewa," sahut Constine menambahi.


-


__ADS_2