Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
Epilog Arc Pertama Part 1


__ADS_3

"Jadi ini disebut buah Karan?" Tanya Aksa saat mereka bertujuh sudah berada di pinggiran kota Garya di wilayah Elbrasta tiga minggu dari desa Dyms.


"Benar" jawab Duexter dari atas kudanya. "Buah itu sangat umum di desa kami di Tirgis sana" jelasnya.


"Buah ini rasanya mirip Semangka, namun bentuknya seperti Pir" gumam Aksa setelah merasakan buah yang ada ditangannya itu.


"Sebentar lagi kita akan memasuki wilayah kota Garya" ujar Loujze yang berjalan di paling depan rombongan.


"Kira-kira Val dan Lily sudah sampai belum ya?" Tanya Nata seraya menggigit buah Karan ditangannya.


Tak lama kemudian mereka mulai menikung keluar dari bibir hutan dan memasuki jalan yang lebih besar. Dari ukurannya, jalan itu selebar tiga kereta kuda di jajar. Dan melihat kedalaman juga tak nampak satu pun rumput yang tumbuh diatasnya, menunjukan bahwa jalanan ini sangat sering dilalui.


Mereka menyusuri jalan itu kearah barat. Semakin lama jalanan mulai terlihat semakin ramai. Banyak orang-orang terlihat berlalu lalang baik berjalan kaki, berkuda, atau berkereta kuda.


"Baru kali ini aku melihat jalanan sebegitu ramainya dilalui orang" ujar Nata.


"Benar, sampai-sampai aku rasa kita akan menemukan traffic light didepan sana" ujar Aksa.


"Itu karena Garya adalah kota dagang terdepan di wilayah perbatasan Elbrasta dengan Estrinx" ucap Jean "Juga karena dari kemarin kita memang selalu melewati rute pinggiran hutan untuk memangkas jarak dan waktu' tambahnya kemudian.

__ADS_1


"Oh, kupikir dunia ini masih terlalu primitif untuk memiliki sebuah jalanan ramai seperti ini" jawab Nata.


"Kau pikir jalanan di kota-kota di wilayah Estrinx kemarin apa, dasar bocah iblis?!" Jean langsung sewot mendengar ucapan Nata itu.


Tampak kemudian dari kejauhan sebuah tembok tinggi yang mengelilingi kota Garya. Kota ini tak seperti kota yang pernah Nata dan Aksa lihat sebelumnya saat mereka berada di wilayah kerajaan Estrinx. Kota ini terlihat lebih hidup.


Ukurannya tak lebih besar dari kota Halmd, tembok kotanya pun mirip, namun orang hilir mudik memenuhi jalanannya. Pikir Nata dan Aksa mungkin kota Halmd juga akan terlihat seperti ini dimasa damainya.


Lalu setelah menitipkan kereta beserta kuda mereka ke tempat yang memang khusus untuk penitipan yang terletak diluar tembok kota, mereka pun mulai berjalan kaki memasuki gerbang kota. Disepanjang jalan dari gerbang menuju pusat kota, banyak sekali berbagai jenis pedagang yang menggelar dagangan mereka. Mulai dari buah-buahan, perhiasan, kain dan pakaian, ramuan-ramuan, sampai senjata dan plat pelindung.


Nata dan Aksa tampak kagum melihat semua hal tersebut. Hal ini mengingatkan Lucia pada saat mereka pertama kali keluar dari tanah Pharos.


"Sepertinya ini adalah saat yang tepat untuk mencoba penginapan kota di dunia ini kan, putri?" ujar Nata kepada Lucia saat mereka sudah berada di pusat kota Garya yang sibuk itu.


"Lebih baik rahasia itu mati bersamamu bocah!" Ucap Jean seraya meraih gagang pedang di pinggangnya.


"Baiklah, untuk kali ini aku akan membiayai kalian untuk mencoba penginapan yang ada di dunia ini. Sebagai imbalan kalian sudah membantu Lugwin" ujar Lucia setelah mencegah Jean mengeluarkan pedangnya.


"Cih, murah amat imbalannya" ujar Nata kemudian yang tiba-tiba di potong oleh teriakan Aksa yang serya menarik tangannya.

__ADS_1


"Itu Nat, kota ini punya perpustakaan" ujar Aksa seraya menunjuk-nunjuk bangunan berpilar dan berpintu batu besar di sebelah kanan gerbang kota.


"Bocah itu apa hanya peduli dengan gulungan-gulungan buku?" Ujar Jean saat melihat kedua pemuda itu berlarian gembira menuju perpustakaan tidak menghiraukan yang lain.


Mereka akhirnya menyewa penginapan di sekitaran gerbang kota yang tak jauh dari gedung perpustakaan. Mereka menyewa tiga kamar. Satu untuk Lucia dan Jean, satu lagi untuk Aksa dan Nata, dan yang terakhir untuk trio pemburu.


Kamar yang mereka sewa itu tidak terlalu besar dibanding kamar di rumah Couran atau Lily, namun memiliki perabotan yang lebih bagus. Tempat tidur dan meja kursinya terbuat dari kayu berplitur. Kasurnya terasa lebih empuk. Juga memakai lampu minyak sebagai alat penerangan saat malam, dan bukan lilin seperti dirumah Couran atau Lily.


Nata dan Aksa selalu berada dalam perpustakaan dari pagi hingga tengah hari, kemudian sisa hari mereka digunakan untuk berkeliling kota bersama Lucia dan Jean seraya mempertanyakan tentang segala hal yang belum mereka ketahui. Sesekali mereka keluar kota menuju hutan bersama trio pemburu untuk mempelajari jenis tumbuhan dan hewan yang mereka baca dari gulungan-gulungan buku di perpustakaan.


Hingga lima hari kemudian Val dan Lily sampai ke kota Garya. Mereka datang bersama trio pemburu yang memang setiap hari berada dihutan dipinggiran kota, yang selain untuk berburu juga untuk menunggu kedatangan mereka berdua.


"Bagaimana dengn mereka, Lily?" Tanya Nata saat Lily dan Val berada dikamarnya setelah selesai makan malam.


"Kami hanya mengantarkan mereka sampai tanah Pharos. Mereka bersikeras sudah tidak perlu diantar hingga ke selatan. Karena sebagian dari mereka akan berpisah jalan. Beberapa akan menujun ke selatan melalui Tanah Pharos, sebagian akan ke pesisir timur untuk memulai kehidupan baru mereka" jelas Lily.


"Baguslah kalau begitu" ucap Nata kemudian.


"Fla menitip ucapan terima kasih pada kalian. Katanya, bila suatu hari bisa bertemu dengan kalian lagi, ia akan membalas semua budi baik kalian" ucap Val kemudian.

__ADS_1


"Semoga kita bisa bertemu denganya lagi"


-


__ADS_2