
"Jelas ini sangat mencurigakan" Orland berucap setelah membaca surat yang dikirimkan oleh kerajaan Urbar seminggu setelah penyerangan mereka ke wilayah Estat Ceodore.
Lucia, Nata, Orland, Amithy, Caspian, dan Jean sedang berada di ruang pertemuan di kota Tengah. Setelah mereka selesai mengadakan pertemuan dengan para pemimpin dan para kabinet untuk membahas rencana kerja mereka kedepannya.
"Lebih baik kita tidak usah menghadirinya" Amithy segera menyahut.
"Benar. Kemungkinan besar mereka merencanakan sesuatu, seperti jebakan" Caspian menambahi.
"Saya juga setuju. Tuan putri tidak perlu datang" Jean juga ikut menambahi.
"Tapi ini adalah iktikad baik dari mereka. Kita harus menanggapinya. Agar semua ini segera berakhir" Lucia menjawab.
"Benar kata tuan putri. Kita harus menghadirinya untuk segera menyelesaikan hal ini. Tapi saya juga setuju dengan yang lain. Saya rasa anda tidak perlu datang, tuan putri. Biar saya dan Aksa yang menghadirinya" Nata berucap.
"Anda juga tidak perlu datang, tuan Nata. Biar saya yang mewakilinya" Caspian segera membalas ucapan Nata.
"Tidak, tuan Caspian. Saya perlu untuk bertemu dengan utusan mereka. Untuk memastikan niatan mereka, guna menentukan rencana kita kedepannya" Nata menjawab.
"Kalau begitu aku juga akan ikut. Bila kalian berdua hadir aku juga akan ikut hadir" Lucia memaksa.
"Jangan becanda, kalian. Kalian bertiga adalah penggerak wilayah ini. Kalau terjadi hal yang tidak diinginkan bagaimana? Sudah serahkan saja pada yang lain" Orland tampak tidak setuju dengan rencana Nata.
"Kira-kira jebakan seperti apa yang akan mereka lakukan, bila mereka benar-benar ingin menjebak kita. Nat?" Jean bertanya.
"Yang paling masik akal adalah melakukan penyergapan. Menangkap kita untuk kemudian mereka jadikan sandera dan alat pertukaran" Nata menjelaskan.
"Begitukah?" Jean terlihat mengangguk kecil mendengar jawaban Nata.
"Tapi bila mereka tahu bahwa pemimpin lawan yang datang, maka masuk akalnya adalah untuk melenyapkannya disaat itu juga" tambah Nata kemudian.
"Itu masalahnya" saut Amithy dengan wajah kuatir menatap Lucia.
"Itu bukan berarti tidak apa-apa juga buat kalian berdua" kali ini Orland berucap kepada Nata.
"Benar itu. Kau juga akan menerima ancaman yang serupa, Nat" Lucia menjawab.
"Kami punya pelindung dua legenda perang. Jangan terlalu kuatir, tuan Orland, putri" Nata menjawab dengan santai.
"Saya dan Helen juga akan mengawal anda berdua, tuan Nata" Caspian menambahi.
__ADS_1
"Terdengar lebih menjanjikan lagi" Nata berucap seraya tersenyum.
"Tetap saja menghawatirkan" Lucia menjawab dengan wajah yang tidak senang.
Dan kemudian pada akhirnya, diputuskanlah bahwa Aksa dan Nata yang akan menghadiri pertemuan yang di ajukan oleh pihak kerajaan Urbar di wilayah Estat Feymarch tiga hari lagi.
-
"Kalian ingin menghadiri pertemuan dengan kerajaan Urbar? Kalian yakin itu bukan sebuah jebakan?" Lily bertanya saat ia, Val, Aksa, Nata, dan Rafa sedang berada di dalam tenda Nata dan Aksa di dasar Ceruk Bintang.
"Bisa jadi. Tapi kita tetap harus menghadirinya" Nata menjawab seraya menulis sesuatu diatas kertas di meja di sebelah Aksa.
"Bila memang ada kemungkinan jebakan, kenapa tidak kalian wakilkan saja?" Tanya Lily lagi sambil berdiri mengamati dibelakan Aksa yang sedang mengerjakan sesuatu di depan Laptopnya.
"Benar. Saya setuju dengan nona Lily. Kalau itu berbahaya mengapa tidak mengirim utusan saja?" Rafa menyetujui ucapan Lily dari sebelah Aksa.
"Kami perlu untuk melihat dan memastikan secara langsung. Bila mereka mengirim utusan yang tidak terlalu pandai bernegosiasi, maka kami bisa memanfaatkannya untuk mendapat kesepakatan yang menguntungkan. Dan bila memang utusan yang mereka kirim handal dalam berunding, maka yang akan terjadi adalah kebalikannya. Bila bukan kita yang menghadapinya" Nata menjelaskan.
"Lalu apa yang kalian rencanakan untuk mendapat kesepakatan yang menguntungkan itu?" Lily menjawab.
"Untuk saat ini, kita butuh mengakhiri pertikaian ini sebelum hal buruk lain terjadi"
"Benar. Kita harus sudah bersiap untuk hal tersebut" Nata kemudian berdiri dari tempat duduknya, kemudian menuju ke papan yang berdiri di sisi barat ruang tenda tersebut.
Dan kemudian dengan menggunakan paku kecil, ia menempel kertas yang baru saja ia tulis ke papan tersebut disamping puluhan kertas yang sudah ada dipapan itu.
"Apa kalian sudah memutuskan untuk tinggal ditempat ini?" Tiba-tiba Val bertanya hal yang tidak terduga dari tempatnya duduk di seberang meja Aksa.
"Kurasa untuk saat ini. Apa lagi dengan adanya tanda-tanda Tiga Bulan Diatas Bukit Jasvar ditembok sihir marga Shuuran itu" Aksa menjawab sambil tetap bekerja di depan laptopnya.
"Apa kau bertanya seperti itu karena melihat kami melakukan hal berlebih untuk wilayah ini?" Nata bertanya dari ujung ruangan.
"Yang kulihat sekarang ini kalian sedang mencoba membesarkan wilayah ini" Val menjawab masih dengan melipat tangan santai.
"Benar. Untuk saat ini, menetap disini adalah hal yang paling masuk akal. Dan benar juga bahwa kami berusaha membesarkan wilayah ini. Karena dengan membesarnya kekuasaan wilayah ini, berarti kita juga akan memiliki lebih banyak lagi informasi dan tenaga untuk melakukan penyelidikan terhadap petunjuk yang bisa membawa kami berdua kembali pulang ke dunia kami" Nata menjelaskan panjang lebar seraya berjalan menuju tempat duduknya.
Val hanya mengangguk samar. "Saranku jangan terlalu dekat bila nantinya kalian berniat untuk meninggalkannya" ucapnya kemudian.
"Itu adalah ungkapan paling ambigu yang pernah judengar dari mu, Val" Aksa menyeletuk dengan masih memasang pandangan kedepan layar Laptopnya.
__ADS_1
"Ya, kurasa itu memang benar" saut Nata seraya kembali duduk.
"Baiklah kalau begitu. Kapan kita akan berangkat? Kami berdua akan bersiap" Lily berucap kemudian.
"Dua hari lagi kita berangkat dari sini" jawab Nata kemudian.
"Saya juga akan ikut" tiba-tiba Rafa menyela.
"Lebih baik anda disini, nona Rafa" Nata menyarankan.
"Benar. Kau disini saja" Aksa menambahi.
"Tidak. Saya akan mengikuti kemana anda pergi, tuan Aksa. Meski saya tidak sekuat nona Lily, atau saya bukan penyihir bulan seperti nona Parpera, namun saya masih cukup mahir dengan sihir pelindung" Rafa bersikeras.
-
Siang hari berikutnya, tampak Aksa sedang melatih Rafa menggunakan pistol di lapangan uji coba di sebelah Atelir persenjataan.
"Ingat, bila kau tak yakin bisa mengenainya jangan menembak. Kecuali kau ingin memberi peringatan atau menakut-nakuti" Aksa mencoba menjelaskan pada Rafa setelah Rafa berhasil menjatuhkan sebuah kaleng dari jarak jauh dengan pistolnya.
"Saya mengerti" Rafa mengangguk paham.
"Apa kau masih bersikeras untuk ikut ke pertemuan itu?" Tanya Aksa kemudian.
"Jelas saya akan ikut, tuan Aksa. Jangan sampai anda melarang saya" segera Rafa menjawab dengan cepat dan tampak sudah mulai memasang persiapan menyerang balik bila Aksa melarangnya untuk ikut.
"Aku tidak akan melarang mu. Tapi jangan coba untuk melindungi kami diatas nyawamu sendiri. Kami sudah punya pelindung yang lebih hebat darimu. Jadi jangan bertindak bodoh" Aksa menjawab seraya memasang wajah malas.
"Saya mengerti, tuan Aksa" Rafa tampak sedikit terkejut mendengar Aksa tidak melarangnya. Dan kemudian ia mulai tersenyum kecil.
"Kemarin tuan Selene memberikan beberapa kulit Salamander Hutan. Dan karena tidak terlalu banyak, para pengerajin Tempest hanya dapat membuat sarung tangan dari kulit tersebut" Aksa berucap seraya mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Dan kemudian melemparkannya ke Rafa.
Rafa menangkap dengan terkejut. "Ini untuk apa, tuan Aksa?" Tanyanya saat ia melihat dua buah sarung tangan sepanjang siku yang memiliki warna hitam mengkilat ditangannya. Dengan warna merah gelap yang terlihat dibagian-bagian yang terkena cahaya.
"Itu rencananya akan diberikan pada Lucia. Tapi untuk uji coba, kau pakailah saat pertemuan nanti" jawab Aksa.
"Oh, baik tuan Aksa. Saya akan kenakan saat pertemuan besok" Rafa menjawab dengan senang. Dan kemudian mulai mencoba mengenakannya.
"Baiklah kalau begitu. Ayo kita kembali" Aksa berjalan meninggalkan lapangan latihan itu mendahului Rafa.
__ADS_1
-