
"Gelap sekali" Rafa berucap dari sebelah Aksa, menatap kedalam pintu yang gelap gulita di hadapannya.
"Kita akan pindahkan lampunya" Lucia tampak berinistiatif.
"Tidak perlu, putri. Karena kita memerlukan semua generator listrik yang ada di sekitar tempat ini" Nata menjegah Lucia.
"Untuk apa, Nat?" Lucia bertanya.
"Untuk menyalakan tempat itu" jawab Nata cepat.
"Apa anda memiliki obor, nona Elaine?" Kali ini Aksa yang bertanya kepada Go.
"Sepertinya ada di ujung gua, biar anak buah ku yang mengambilkannya" Go menjawab tanpa memprotes Aksa memanggil dengan nama depannya. Karena sekarang ia sudah menyerah. Dan membiarkan Aksa memanggilnya dengan sesuka hati.
"Tidak perlu, biar aku saja yang menjadi penerang" tiba-tiba Lily berucap menawarkan diri. Dan kemudian mulai merapal sesuatu. "Apakah seperti ini cukup?" Tanyanya kemudian, setelah tepat di bagian ujung atas tongkatnya muncul sebuah bola sihir berwarna putih yang bersinar cukup terang.
"Ya, kurasa cukup" Nata berucap. "Dan nona Go, minta tolong kepada anak buah anda untuk mengumpulkan generator-generator yang ada di sekitar tempat ini" lanjutnya kemudian kepada Go.
Go hanya mengangguk. Kemudian mulai memerintah anak buahnya.
Sementara itu, Aksa dan Nata bersama Lily, dan Val, mulai berjalan memasuki pintu besi tersebut. Rafa, Luque, Yvvone, dan Lucia menyusul di belakangnya.
Tampak pula 2 Yllgarian macan kumbang dan 3 anggota Bintang Api ikut serta untuk melindungi rombongan tadi.
"Kalian mengenali tempat ini?" Lucia berjalan mengikuti di belakang Nata. Tepat disamping nya ada Billy dan Saul anggota dari kelompok Bintang Api.
Sedang Aksa dan Nata masuk dengan biasa. Berjalan dalam keadaan setengah gelap, seolah mereka sudah mengenali tempat itu dengan baik.
"Tentu saja. Bisa dibilang ini rumah kedua kami" Aksa menyahut.
"Rumah kalian?" Lucia tidak mengerti dengan maksud Aksa.
__ADS_1
"Sudah ku kira tempat ini ada hubungannya dengan kalian" kali ini Luque yang berucap di antara Lily dan Rafa, di depan Yvvone.
Sedang Val, dua prajurit Yllgarian, dan Leon, anggota lain dari kelompok Bintang Api, berjalan dipaling belakang seraya berjaga bila mungkin terjadi serangan dari belakang.
Sementara Couran, Go, Haldin, dan beberapa orang yang tidak memiliki keahlian bertempur, tampak menunggu diluar.
Lalu setelah berjalan cukup dalam, Aksa akhirnya berhenti di depan sebuah benda berwarna gelap. Kemudian mencoba meraba-raba lantai di balik benda tersebut.
"Ya, ini dia" ucap Aksa seraya mengangkat sesuatu yang tampak seperti tali berwarna hitam.
"Sebentar, tolong letakan generator itu di dekat sana" perintah Nata kemudian, kepada beberapa pekerja tambang yang sedang mengangkat 3 generator di luar untuk mulai memasukannya kedalam ruangan yang tadi disebut oleh Aksa sebagai rumah keduanya itu.
Dan setelah melakukan pemasangan tali tembaga dari generator tadi ke sebuah kotak besi berwarna hitam yang memiliki ukuran setinggi tubuh Aksa itu selesai dilakukan, segera Nata mulai menyalakan 3 generator tersebut.
Suara mendengung pun terdengar cukup mengganggu telinga. Semua orang kecuali Aksa dan Nata segera memasang posisi waspada.
Kemudian disusul dengan bunyi-bunyian seperti logam yang dipukul pelan, dan beberapa cahaya kecil berwarna merah dan hijau mulai berkedipan di sekeliling ruangan di dalam kegelapan.
"Wow, tak kusangka semuanya masih berjalan dengan baik" Aksa terdengar kagum.
"Benar-benar luar biasa. Nyalakan saklarnya, Aks" perintah Nata kemudian.
Dan begitu Aksa menekan sesuatu di kotak hitam yang ada di dekatnya itu, tiba-tiba cahaya putih terang mulai bermunculan dari berbagai arah di sekitaran ruangan tersebut. Mengungkap ruangan tersebut dari kegelapan.
Semua orang terlihat terperanjat dan kagum melihat hal yang ada di dalam ruangan tersebut.
Ruangan itu cukup luas dan memiliki langit-langit yang tinggi. Hanya di bagian sisi kiri dari pintu masuk, terdapat sebuah panggung logam yang cukup tinggi, dengan sebuah tangga yang juga terbuat dari logam.
Dibagian bawah panggung tersebut terdapat enam kotak tipis seperti kaca berjajar di atas meja yang menempel di sisi dindingnya, dan beberapa kursi aneh yang hanya memiliki satu kaki, dengan roda kecil di bagian bawahnya.
Di kedua belah ujung meja tersebut terdapat dua buah lemari. Yang mana, di sisi yang sejajar dengan pintu masuk berbentuk seperti lemari dari logam yang tampak tertutup rapat.
__ADS_1
Sedang di seberang yang menghadap ke pintu masuk, berbentuk seperti sebuah kerangka dengan tumpukan kotak logam hitam yang mendengung dan memiliki banyak cahaya kecil berkedipan.
Sementara lebih banyak lagi benda yang terbuat dari besi yang mengkilat terletak dibagian atas panggung logam tersebut. Rata-rata berbentuk seperti pipa besi, yang juga tampak menempel di langit-langit menyambung ke pipa lain di beberapa tempat di dalam ruangan tersebut.
Di bagian pinggir panggung besi tadi dan di bagian tangganya, terdapat garis berwarna belang hitam-kuning. Yang memanjang sampai di jalan melintasi ruangan.
Sedang di sisi kanan dari pintu masuk, tampak sebuah kotak setinggi setengah tubuh pria dewasa, yang berwarna hitam dan perak. Yang dibagian atasnya terdapat 3 buah gelang logam yang saling bersinggungan, hingga seperti membuat sebuah kerangka bola sebesar satu bentangan lengan tangan pria dewasa.
Itu yang disebut-sebut oleh Aksa dan Nata dengan Mesin Pemecah Partikel.
Sedangkan tepat diantara tempat Mesin Pemecah Partikel itu dengan ruangan tengah, terdapat sebuah sekat setinggi dada pria dewasa yang terbuat dari logam.
Sebuah meja pendek dan kursi panjang seperti yang sering digunakan oleh para bangsawan, tampak tertata sedikit tidak rapi di bagian tengah ruangan. Seberantakan beberapa tali hitam yang terlihat berserakan di lantainya.
"Ruangan ini masih tak jauh berubah dari saat terakhir kita tinggalkan" Aksa berucap setelah melihat berkeliling ruangan tersebut.
"Ya, ruangan ini masih seperti yang pernah ku ingat dulu" kali ini Luque yang berucap.
"Ruangan apa ini, Nat?" Lucia akhirnya bertanya, setelah sedari tadi ia hanya terdiam menatap berkeliling dengan kagum.
Tapi bukan hanya Lucia saja yang sikap seperti itu. Semua orang tampak terkesima. Tak terkecuali Lily, Val, dan Yvvone. Yvvone bahkan sudah menghambur ke arah meja di sisi kiri ruangan yang memiliki kotak kaca hitam yang ia kenali serupa dengan alat penyalin gambar milik Nata yang sudah jadi miliknya sekarang.
Tak lama kemudian, beberapa orang menyusul masuk ke dalam saat melihat ruangan tersebut menjadi terang dan tampaknya tidak ada bahaya yang sedang menunggu di dalam.
Dan sama seperti yang lain, orang-orang yang baru saja masuk tadi juga sama tercengang dan kagumnya melihat isi dari ruangan yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya itu.
"Apa ruangan ini juga berasal dari dunia kalian juga?" Lily bertanya sambil masih terus memutarkan pandangannya menjelajahi ruangan tersebut.
"Entah bagaimana hal ini bisa terjadi, tapi benar. Ruangan ini adalah ruangan dari dunia kami" Nata menjawab dengan wajah yang juga terlihat kagum dan gembira.
"Ini adalah laboratorium kami" Aksa menjawab cepat dengan senyuman lebar.
__ADS_1
-