Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
30. Mendapat Restu


__ADS_3

"Maafkan kami, yang mulia ratu. Untuk saat ini kami masih harus mengurusi wilayah selatan, kami tidak bisa berurusan dengan para bangsawan Elbrasta" Orland berucap saat ia bersama Lucia dan bekas bangsawan kerajaan Elbrasta sedang mengadakan pertemuan dengan sang ratu. "Jadi kami tidak akan memberikan kabar kepada mereka tentang keberadaan yang mulia ditempat ini" lanjutnya menjelaskan.


Mereka duduk bersembilan di dalam ruang tengah kediaman Lucia. Berurutan searah jarum jam melingkari sebuah meja panjang. Ada sang ratu, Lucia, Orland, Amithy, Cornelius, Madron, Constine, Dirk, dan Caspian.


"Kami tahu hal ini akan meresahkan orang-orang yang sedang menghawatirkan yang mulia ratu, namun hal tersebut juga akan membuat keluarga Roxan dan Voryn ikut bertindak. Dan kami belum siap akan hal tersebut. Jadi kami mohon pengertian dari yang mulia ratu" Kali ini Caspian yang berucap menambahi.


"Ya, aku mengerti permasalahan kalian. Aku tidak keberatan untuk itu" sang ratu menjawab dengan penuh pengertian.


"Setidaknya sampai penobatan putri Lucia selesai dilakukan" Caspian menambahi.


"Aku mengerti. Dan kapan penobatan tersebut akan dilakukan?" Sang ratu menjawab lalu kemudian bertanya.


"Kurang lebih dua minggu dari sekarang, bi" Lucia yang kali menjawab.


"Kalau begitu, ijinkanlah aku memberikan restuku pada mu disaat penobatanmu nanti, Lucia. Sebagai wali mu, dan juga sebagai perwakilan dari paman mu dan para leluhur Elbrasta yang tidak bisa menghadirinya" bibi Lucia itu kemudian berucap.


Semua orang terlihat terkejut mendengar ucapan wanita setengah baya itu. Beberapa orang tampak gelisah dan tidak nyaman mendengar hal tersebut.


"Tidak perlu, bi" Lucia segera menjawab. "Hal itu akan membuat posisi bibi menjadi tidak menguntungkan di mata bangsawan kerajaan nantinya. Disamping juga, saya tidak ingin menyatakan kerajaan ini sebagai kerajaan leluhur Elbrasta" lanjut gadis itu memberi penjelasan.


"Kau tidak perlu menghawatirkan ku, Luc. Tapi kau harus tetap memiliki wali dan mendapat restu dari kerajaan. Setidaknya perwakilan dari keluarga Elbrasta. Karena kau adalah garis keturunan langsung keluarga tersebut" sang bibi masih tetap bersikeras.


Lucia merasa akan tidak sopan bila ia menolak permintaan bibinya itu. "Baiklah bila bibi baik-baik saja dengan hal tersebut" ucapnya kemudian. Yang di tanggapi dengan wajah semakin tidak nyaman oleh yang lain.


Namun meski begitu, tidak ada orang yang keberatan dan mencoba untuk angkat bicara hingga pertemuan itu selesai. Semua orang kecuali Lucia hanya terdiam dengan tetap mempertahankan suasana tidak nyaman itu dalam ruangan.


-

__ADS_1


"Ngomong-ngomong kemana perginya Alexander dan Eden, Luc? Mengapa mereka belum kembali sampai sekarang?" Sang ratu terlihat sedikit gusar, bertanya kepada Lucia yang sedang menyiapkan teko tehnya di halaman depan, beberapa saat setelah mereka selesai melakukan pertemuan.


Mereka berdua sedang berbincang mengenai banyak hal selepas pertemuan tadi. Sambil menikmati teh dan langit yang mulai berwarna lembayung.


"Mereka sedang berkeliling kota bersama Jean dan yang lain. Pasti mereka sedang bersenang-senang sekarang. Jangan kuatir, bi. Mereka aman berada di tempat ini" Lucia menjawab seraya menyerahkan segelas teh hangat kepada bibinya yang tampak beberapa kali menatap ke arah pintu gerbang.


"Kuharap mereka bisa kembali bersenang-sengang dan menikmati hidup sebagai seorang anak kecil" sang bibi terlihat tulus berucap. Seraya menerima gelas teh dari Lucia.


"Mereka berdua anak yang tangguh. Mereka pasti bisa melewati masalah seperti ini" Lucia kembali berucap setelah menyesap teh dengan wangi bunga dalam genggamannya tersebut.


"Benar, Alexander adalah anak yang kuat dan dewasa. Dan Eden selalu menuruti apa kata kakaknya itu" sang bibi tampak setuju dengan ucapan Lucia tentang kedua putranya. "Meski melewati hal yang menyusahakan, namun aku yakin mereka berdua tetap mampu untuk bertahan" ucapnya lagi.


"Saya juga berpikir demikian, bi" Lucia menjawab dengan senyuman, saat kemudian terlihat kereta besi berisi rombongan Jean dan kedua sepupu Lucia itu muncul dari balik pintu gerbang. "Panjang umur. Itu mereka datang"


-


Selepas pertemuan sebelumnya di kediaman Lucia bersama sang ratu, kali ini Orland dan yang lain mengadakan pertemuan sendiri di kediaman Dirk di sisi selatan kota Tengah.


"Benar. Sepertinya beliau memang sengaja melakukan hal tersebut untuk memastikan bahwa kerajaan ini memberikan perlindungan" Amithy menambahi.


"Tidak bisa disalahkan juga. Sekarang keberadaan beliau dan kedua putranya memang tengah menjadi incaran banyak keluarga bangsawan kerajaan" kali ini Madron yang berucap.


"Tapi buruknya, hal ini bisa dilihat oleh sebagian keluarga bangsawan sebagai celah untuk meminta Lucia bertindak" Orland berucap masih terlihat resah. "Karena dengan posisi sang ratu yang bertindak sebagai wali, mereka bisa menganggap bahwa kerajaan ini semacam kerajaan cabang dari kerajaan Elbrasta. Dan itu jelas bukan hal yang baik" lanjutnya menjelaskan.


"Belum lagi keluarga Roxan dan Voryn. Mereka pasti juga tidak akan tinggal diam melihat munculnya sebuah ancaman tehadap posisi mereka di kerajaan kedepannya" Caspian ikut menambahi.


"Tapi putri bisa menolak anggapan tersebut dengan memberikan pernyataan secara resmi. Atau membuat pernyataan tidak ingin ikut campur dalam masalah kerajaan lain" Dirk mencoba terdengar optimis.

__ADS_1


"Dengan adanya campur tangan para bangsawan kerajaan, semuanya tetap akan jadi tidak karuan. Meski Lucia mengeluarkan pernyataan macam apapun" Amithy terdengar pesimis.


"Mereka pasti akan mencari celah untuk melawan segala pernyataan yang Lucia keluarkan" Caspian setuju dengan pendapat Amithy.


"Benar juga. Mereka pasti akan berlomba-lomba untuk mendapat tempat dan posisi di kerajaan ini. Apa lagi dengan adanya yang mulia ratu di tempat ini" Dirk tampak mulai mengerti apa yang dimaksud oleh Amithy dan Caspian.


"Serba salah juga. Lucia sudah pasti tidak akan melepaskan yang mulia ratu dan kedua putranya. Bila ia tidak yakin benar bahwa keselamatan mereka akan terjaga" Orland berucap lagi dengan wajah seolah sudah kalah dan menyerah.


"Apa lagi menyerahkan ke tangan para bangsawan yang haus kuasa itu" Amithy menambahi.


"Apa lagi, ada kemungkinan tuan Alexander akan menjadi kepala keluarga Elbrasta. Kandidat untuk menduduki tahta" Caspian ikut menambahi. Yang menambah suram suasana dalam ruangan tersebut.


"Belum selesai kita berurusan dengan bangsawan selatan, sekarang kita juga harus berurusan dengan bangsawan utara. Merepotkan sekali" keluh Amithy kemudian.


"Tapi disamping hal tadi, bagaimana dengan persiapan acara penobatan tersebut, tuan Caspian?" Orland bertanya dan merubah topik pembicaraan.


"Maksud anda tentang keamanannya?" Caspian bertanya memastikan. "Tenang saja tuan Orland, saya sudah mengatur semuanya. Kita akan mengerahkan pasukan untuk berjaga di wilayah ini, selama prosesi penobatan berlangsung" jelasnga kemudian.


"Sebelum kau bertanya, pengurus pemerintahan dari beberapa distrik di selatan akan datang untuk menghadiri acara tersebut. Kerajaan Joren, Augra, Durahan, dan Galasium serta keluarga ksatria bangsawan Maxmiliam dan Dalmasca juga sudah kita undang. Tapi mereka masih belum memberi jawaban, akan hadir atau tidak" Amithy berucap panjang lebar memotong ucapan Orland.


"Kurasa mereka tidak akan menghadirinya" saut Madron.


"Aku juga mengira seperti itu" Amithy tampak menyetujui ucapan Madron.


"Sedang untuk kerajaan utara, kita sudah mengirim undangan kepada kerajaan Estrinx dan Cilum. Dan kedua kerajaan tersebut akan mengirim duta utusan untuk menghadirinya" kali ini Cornelius yang berucap melanjutkan.


"Baguslah kalau begitu. Semoga prosesi tersebut bisa berjalan dengan lancar" ucap Orland berharap. Dan semua orang hanya mengangguk menjawab ucapan tersebut.

__ADS_1


-


__ADS_2