
Dan akhirnya hari yang sudah di rencanakan untuk melakukan penyerangan ke wilayah kerajaan Urbar pun tiba.
Anna sedang bersiap di dalam kapal besinya. Hari ini ia akan memimpin pasukan untuk melakukan penyerangan ke wilayah Cleyra dengan memutar dari arah laut untuk menghindari baris pertahanan yang dibangun di perbatasan darat antara wilayah Cleyra dengan wilayah kota Xin.
"Kau sudah siap, An?" Tampak Nikolai bertanya saat melihat Anna keluar dari ruang kapten menuju anjungan.
Anna sudah mengenakan seragam baru pasukan Pharos yang dirangkap dengan jas kapten, seperti biasa.
"Aku sangat siap" Anna menjawab dengan tegas.
"Ingat, jangan gegabah dan terlalu bernapsu untuk mengalahkan Arias" Nikolai terdengar memberi nasehat.
"Iya. Aku tahu itu. Tenang saja, aku sudah tidak berambisi untuk membalas dendam. Tapi aku akan tetap memanfaatkannya, bila ada kesempat untuk itu" jawab Anna kemudian.
"Berhati-hatilah" Nikolai berucap sekali lagi. Dengan nada seperti memerintah.
"Kau juga. Jaga kota ini baik-baik" jawab Anna kemudian.
.
Anna memimpin dua kapal besi menuju ke pelabuhan Cleyra. Satu kapal nya hanya berisi beberapa anak kapal dan sebuah kereta penghancur dan beberapa senjata api jenis baru baru. Sementara kapalnya yang lain berisi 40 prajurit, 10 penyihir, dan sebuah kereta tempur jenis lama.
Mereka mengangkat sauh menuju pantai wilayah Cleyra saat langit sudah mulai gelap. Dan tiba di pesisi pantai Cleyra tiga jam kemudian.
Dan seperti yang diperkirakan sebelumnya, pelabuhan wilayah Cleyra itu tidak di jaga dengan ketat. Hanya ada 2 kapal, 20 prajurit, dan 5 penyihir ditempat itu. Tidak ada perlawanan yang berarti dalam merebut pelabuhan tersebut.
Setelah mendarat, segera Anna menuju kearah kota Xa. Ibukota wilayah Estat Cleyra.
Pasukan Anna terdiri dari 25 prajurit dan penyihir yang berada di dalam kereta tempur. Kemudian 15 prajurit yang berada di kereta penghancur. Dan 10 prajurit sisanya tinggal di atas kapal besi untuk berjaga bersama awak kapal.
.
Karena ukuran kereta penghancur yang cukup besar, juga kecepatan jalannya yang pelan, ditambah rantai besi pada rodanya yang menimbulkan suara berisik, membuat pasukan penjaga kota Xa dengan mudah menyadari keberadaannya.
Pasukan penjaga kota Xa dengan segera membentuk formasi siap menyerang diatas tembok gerbang kota.
Anna memerintahkan kereta penghancur untuk berhenti di jarak baku penggunaan alat pelempar batu. Yaitu empat kali jarak tembakan busur panah.
Kemudian ia memberi perintah kepada prajurit yang berada di dalam kereta penghancur untuk menembakan peluru peledak, jika mereka melihat ada cahaya dari arah tembok gerbang kota tersebut. Sedangkan ia bersama kereta tempurnya akan bergerak mendekat.
\=
Sementara itu di dalam kota terlihat beberapa prajurit mendatangi kediaman keluarga Cleyra untuk melaporkan adanya penyerangan dari pasukan tanah mati.
__ADS_1
"Apa? Mereka sudah berada di depan gerbang kota?" Terdengar seorang pria penuh berewok bertanya untuk memastikan.
"Benar tuan Arias. Bila melihat arah datangnya, mereka pasti menyerang melalui lautan" jelas seorang pemuda Narva dengan rambut yang ditata kelimis kebelakang.
Tampak hanya ada dua orang diruangan yang terlihat seperti ruang baca tersebut.
"Berarti pelabuhan Zu sudah di ambil alih?" Arias terlihat seperti sedang menilai dengan tenang. Tak terlihat kepanikan sedikitpun dari wajahnya.
"Sepertinya demikian, tuan Arias. Karena kami tidak mendapat kabar apapun dari prajurit disana" pemuda berambut klimis tadi menjawab.
"Serangan kejutan dari belakang. Boleh juga mereka" Arias terlihat tersenyum meremehkan. "Siapkan perlengkapan perang ku, Mord. Bila mereka berani menginjak tanah ini. Berarti mereka sudah siap untuk menerima kematian" ucapnya kemudian dengan senyum mengembang.
"Baik, tuan" pemuda bernama Mord tadi menjawab seraya berjalan menuju ruangan lain.
.
Arias menggunakan zirah ksatria bangsawan kebanggaannya. Berwarna perak mengkilat dengan jubah berwarna merah di bagian pundak belakangnya. Jubah itu memiliki sulaman berwarna perak bergambar kepala harimau diantara api. Lambang dari Estat Cleyra.
Arias juga tampak menenteng pedang dengan sarung dan pegangan yang terlihat mewah, bertatah permata merah. Yang tampaknya adalah senjata mistik.
Dan kemudian dengan bergegas, Arias memacu kudanya menuju ke gerbang kota.
-
Setelah tiba, Arias segera naik keatas tembok untuk memastikan kondisi diluar kota.
"Oh, tuan Arias. Prajurit lawan hanya dua kereta besi aneh itu" kepala prajurit itu menjelaskan seraya menunjuk ke arah dua kereta besi berbentuk kotak, yang mana salah satu dari kereta tersebut terlihat lebih besar, dan memiliki sebuah tabung besi dibagian atasnya.
"Dan sampai saat ini serangan kita masih belum bisa menembus pelindung besi mereka" lanjut kepala prajurit itu kemudian.
"Hanya dua kereta besi itu saja? Apa kau yakin mereka tidak mengirimkan pasukan lain disekitar tempat ini?" Arias tampak sedang berpikir dan mengamati situasi dengan teliti.
"Menurut prajurit yang bertugas memeriksa, mereka tidak menemukan pasukan lain kecuali dua kereta aneh itu dan sebuah kapal besi di pelabukan kota Zu" kepala prajurit tadi menjawab.
"Apa mereka sedang melakukan siasat mengecohan untuk serangan lain?" Duga Arias.
"Sepertinya mereka juga sedang melakukan penyerangan ke wilayah Solidor, tuan Arias" ucap Mord kemudian ketika ia baru saja mendapat sebuah gulungan kertas kecil dari seorang prajurit.
"Oh, jadi ini semacam gertakan agar kita tidak melakukan penyerangan kearah kota Xin. Benar-benar mudah ditebak" terdengar Arias berucap dengan bangga. "Tapi siasat seperti ini tidak akan berhasil terhadap ku" tambahnya kemudian.
"Mord, siapkan pasukan untuk melakukan penyerangan kearah kota Xin setelah ini. Aku akan segera menyudahi penyerangan konyol ini" ucap Arias memerintah. Yang kemudian menarik pedangnya dari sarung.
Tampak bilah pedang tersebut mulai bersinar merah terang saat diangkat keudara oleh Arias.
__ADS_1
"Berdoalah untuk keselamatan kalian, orang-orang bodoh" teriak Arias, yang dilanjutkan dengan memasang kuda-kuda dan mulai melakukan rapalan.
Dan hampir bersamaan dengan itu, kereta aneh yang berada di posisi belakang mengeluarkan suara yang nyaring, dengan tampak seperti percik api dan asap keluar dari tabung besi yang ada di bagian atasnya.
Dan beberapa saat kemudian, bahkan belum selesai para prajurit penjaga kota itu terkejut, terjadi ledakan tepat di pintu gerbang kota. Yang menghamburkan beberapa orang yang ada diatas temboknya. Termasuk Arias.
\=
Anna hanya diam di dalam kereta tempurnya pada posisi yang cukup dekat dengan pintu gerbang kota. Meski dihujani oleh anak panah dan tembakan sihir api maupun petir.
Yang ia tunggu adalah kedatangan Arias. Karena ia yakin Arias akan muncul dan menggunakan senjata mistik untuk menghadapi pasukannya sekarang ini.
Dan tampaknya dugaan Anna tidak salah.
Meskipun di lingkungan gelap, namun cahaya dari bilah pedang mistik Arias terlihat jelas dari tempat kereta penghancur berada. Dan itu adalah tanda bagi prajurit di kereta penghancur tersebut untuk menembakan peluru ledaknya.
Dan setelah disiapkan, dan kemudian ditembakan, dalam hitungan detik, gerbang kota Xa meledak dan hancur herkeping-keping.
.
"Sekarang giliran kita menyerang. Ayo maju!" Perintah Anna dari dalam kereta tempurnya setelah serangan dari kereta penghancur tadi berhasil menjebol gerbang kota.
Dan tidak menunggu asap dari ledakan tadi menghilang, kereta tempur Anna melaju menembus puing-puing gerbang kota.
Tidak membutuhkan waktu lama, para prajurit penjaga kota yang terkejut, bingung, dan ketakutan itu berhasil dilumpuhkan oleh pasukan Anna dengan mudah. Bahkan Anna tidak perlu menggunakan senjata mistiknya.
Anna menemukan Arias yang tergeletak tak berdaya tertimpa pecahan tembok yang cukup besar, tak jauh dari gerbang yang tadi meledak. Tampaknya ia telah kehilangan pedang mistik nya.
"Apa kabar, tuan Arias. Lama kita tidak berjumpa" Anna menyapa seraya berjalan mendekat.
"Kau, perempuan keluarga Mounty? Ku kira kau sudah mati ditengah laut Barat" ucap Arias yang masih terdengar tangguh. Meski sekarang separuh tubuhnya tertutup tembok.
"Sepertinya saya masih punya banyak persoalan yang harus saya selesaikan di dunia ini" Anna duduk berjongkok disebelah Arias. Menatap dengan senyuman puas.
"Jadi kau datang untuk menuntut balas?" Arias bertanya.
"Ya, kurang lebih" jawab Anna pendek.
"Dan kau tidak membunuhku sekarang juga?" Tanya Arias kemudian. Yang dijawab Anna dengan gelengan kecil. "Meski kau tidak mengambil nyawaku sekarang, aku tetap akan mengamhil nyawa mu suatu hari nanti" ancamnya kemudian.
"Anda berucap cukup tinggi untuk orang yang sudah kalah, tuan Arias" Anna menjawab. "Tapi aku memang tidak menginginkan nyawa anda tuan Arias. Aku hanya ingin menginjak-injak harga diri anda" lanjutnya lagi seraya bangkit berdiri.
"Aku hanya akan mengurung anda dalam penjara hina bersama dengan pencuri jalanan. Dan selama itu cobalah untuk melarikan diri dan membalas dendam padaku" ucap Anna lagi seraya berjalan pergi meninggalkan Arias yang terlihat penuh emosi.
__ADS_1
Tak lama kemudian beberapa prajurit datang untuk mengeluarkan Arias dari himpitan tembok gerbang. Dan setelah melakukan penyembuhan secukupnya, Arias di masukan kedalam penjara kota tersebut.
-