Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
26. Ikut Campur


__ADS_3

Paginya Lucia, Jean, Nata, Aksa, dan Lily mendatangi penginapan Lugwin di pusat desa.


"Kenapa kalian kemari pagi-pagi seperti ini? Apakah ada masalah?" Tanya Lugwin saat semua orang sudah berada dalam ruang tamu penginapannya.


Penginapan kusus para bangsawan ini adalah sebuah rumah yang sengaja di kosongkan dan tidak akan di sewakan bila bukan kepada para bangsawan. Itulah kenapa penginapan ini disebut Penginapan Bangsawan. Hampir disemua desa kecil memilikinya.


"Kami kemari ingin memberikan bantuan untuk menghentikan perang ini" ujar Lucia yang membuat Lugwin, Matiu, dan Nicko terkejut.


"Menghentikan perang ini?" Lugwin meyakinkan.


"Benar. Nata punya cara untuk menghentikan perang ini" ujar Lucia.


"Saya hanya berniat untuk membantu. Tapi semuanya kembali ke tangan putri"


"Dan bagaimana caranya tuan Nata?"


"Pertama kalau boleh saya tahu, bagaimana kondisi di kotaraja sekarang ini?"


"Perang sudah memasuki kotaraja sekarang. Dux Laurent sudah membuat barikade didalam kota, sementara pihak dari Dux Vincent sudah menyiapkan prajurit bayaran mengepung kotaraja tersebut" jelas Lugwin.


"Kudengar juga anda tidak berhasil meyakinkan mereka untuk berdamai dan mengakhiri perang ini"


"Benar"


"Menurut saya itu karena mereka tidak mengganggap keberadaan tuan putri"

__ADS_1


"Lalu apa yang harus kita lakukan?"


"Kalau boleh saya menyarankan, cara yang paling mudah adalah menjadikan anda sebagai kekuatan ketiga"


"Kekuatan ketiga?" Terdengar Matiu mulai tertarik.


"Dengan munculnya kekuatan yang sama besar diantara mereka, maka akan merusak keseimbangan peta kekuatan yang ada. Mereka akan kuatir dengan adanya kekuatan baru ini. Dan itu akan membuat peperangan ini memiliki jalan keluar yang baru.


"Benar" ucap Matiu yang tampak dengan seksama mendengarkan penjelasan Nata.


"Dengan menjadi kekuatan ketiga ini anda akan dianggap saat hendak mengajukan negosiasi"


"Mengajukan negosiasi?" Matiu makin penasaran dengan gagasan Nata yang semua itu seharusnya hanya bisa dilakukan oleh pihak dengan kekuatan besar.


"Benar bagaimana kita memunculkan kekuatan ketiga ini jadi sama besar hingga bisa dengan mudah mengajukan negosiasi terhadap mereka?" Ujar Matiu kali ini yang tidak dapat menahan diri untuk tidak bertanya kepada Nata "Karena kedua Dux yang sedang bertikai ini memiliki prajurit pribadi. Dan menurut kabar ada campur tangan juga dari kerajaan luar yang memberi mereka bantuan prajurit serta sumber daya perang. Yang membuat mereka memiliki kekuatan yang setara dengan sebuah kerajaan kecil.


"Bagaimana cara anda mengimbangi kekuatan seperti itu tuan Nata?" Tanya Lugwin kemudian.


"Kedua kekuatan itu juga baru dua atau tiga bulan berdiri. Mereka masih dapat kita kejar"


"Dengan cara?" Matiu semakin tak mengerti dengan ucapan Nata yang semakin terkesan membual ini.


"Menciptakan figur" ujar Nata.


"Figur?" Tanya Lugwin dan Matiu hampir bersamaan.

__ADS_1


"Pemimpin atau tokoh untuk diikuti. Simbol. Karena disamping sebuah ideologi, sosok tokoh berkarisma juga merupakan satu hal yang berperan penting dalam menciptakan sebuah kekuatan" jawab Nata yang tidak bisa langsung dipahami oleh yang lainnya. "Karena putri Lugwin adalah bangsawan Arcdux yang punya hubungan darah dengan sang raja terdahulu, maka akan lebih mudah bila menjadikan beliau sebagai figurnya" jelas Nata kemudian yang masih belum bisa ditangkap maksudnya oleh yang lain. "Kita akan membuat pamor beliau melesat naik dan perlahan kekuatan yang beliau butuhkan akan terbentuk dengan sendirinya.


"Terbentuk dengan sendirinya?" Tanya Matiu masih belum paham.


"Bagaimana kau membuat pamornya melesat dengan cepat?" Kali ini Aksa yang bertanya karena juga penasaran.


"Mencari simpati rakyat dan mencoba menarik bangsawan lain untuk memihak beliau, dengan cara menyebarkan informasi yang mengatakan bahwa sang putri Lugwin mendapat wahyu dari sang Oracle sebelum beliau wafat, untuk menegakkan keteraturan di tanah ini"


"Apa kau bilang?!" Kali ini bukan hanya Lugwin dan Matiu yang berteriak tak percaya, tapi hampir seluruh orang yang ada diruangan itu.


"Benar juga" sedang Aksa tampak paham akan maksud Nata.


"Kita menggunakan sang Oracle untuk berbohong?" Kali ini Lucia yang berucap tak percaya dengan rencana yang diberikan oleh Nata.


"Membohongi semua orang? Itu perbuatan yang sangat tidak terpuji" ujar Lugwin.


"Itu semua kembali ke bagaimana putri memutuskannya. Saya hanya memberikan gagasan saya saja. Tapi Ingat, untuk mengakhiri sebuah peperangan kita memerlukan kekuatan. Dan apapun bentuknya, kekuatan selalu memerlukan pengorbanan untuk mendapatkannya" ucap Nata. "Dan pengorbanan itu tidak harus selalu dari pihak rakyat lemah" tambah Nata kemudian.


"Maksud anda?"


"Keyakinan, harga diri, kepercayaan, prinsip hidup, kebudayaan, tata krama. Itu semua setara dengan kehidupan kita sebagai manusia. Kehidupan yang bisa kita korbankan dalam mencari kekuatan. Dan bukan nyawa dari rakyat kecil" jawab Nata kemudian "Sekarang kembali ketangan anda putri. Apa yang akan anda korbankan untuk mengakhiri perang ini" tutupnya.


Lugwin dan Matiu hanya terdiam mendengar ucapan Nata.


"Baiklah, karena tampaknya gagasan yang saya tawarkan belum sesuai dengan prinsip anda. Jadi lebih baik kami mengundurkan diri sekarang. Kami ada di tempat kami kemarin bila anda memerlukan kami" ucap Nata kemudian pamit.

__ADS_1


__ADS_2