Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
16. Para Juara II


__ADS_3

Namun tampaknya para Juara dari kerajaan Urbar itu masih bisa bertahan dari serangan petir Parpera.


Dengan menggabungkan sihir dari pemuda berpedang ganda dan pria bersarung tangan cakar, yang kemudian menembakan sebuah bola api keangkasa untuk mengurangi dampak dari sihir petir tersebut. Sementara mereka masing-masing menggunakan sihir penguat untuk melindungi tubuh mereka.


Dan saat Caspian, Vossler, Jean, dan Helen menyerang mereka, hanya si perempuan yang bisa menahannya dengan mudah. Sementara sisanya tampak kesulitan untuk mengerakan badan saat semua pelindung dan bahkan senjata mereka harus terus di tahan agar tidak ikut terlepas.


Terlihat Vossler mengarahkan serangannya pada si pengguna tameng. Sedang Caspian mengarahkan serangannya pada si pengguna sarung tangan bercakar.


Jean menyerang pria yang sekarang hanya menggunakan satu pedang. Dan Helen menyerang perempuan dengan pedang tulang.


Namun hanya si perempuan yang bisa memberikan perlawanan secara penuh. Karena sama dengan para ksatria dari Pharos, gerakannya tidak dibatasi oleh magnet.


\=\=\=


Tampak pertarungan antara Helen dan perempuan berpedang tulang itu paling dasyat dari yang lain. Hingga semua prajurit harus menjauh dan menjaga jarak dari mereka.


Itu karena pedang tulang yang dipakai perempuan itu dapat memanjang seperti sebuah cambuk. Yang berarti serangannya memiliki jangkauan yang sangat luas.


Sedang Helen sendiri yang sebelumnya terkenal karena kecepatannya meski menggunakan zirah yang lengkap, yang ditambah dengan sihir jenis penguat yang dapat meringankan benda itu, kini menjadi lebih cepat dan lebih lincah dari sebelumnya.


Ia terus menghindar serangan lawan yang terlihat tanpa sela itu, seraya berusaha terus mendekat.


Bahkan bila bilah dari cambuk pedang itu tidak sempat dihindari, goresan dari bilah pedang tersebut tidak mampu menembus baju pelindung yang Helen pakai. Pedang tersebut hanya meninggalkan bekas sobekan di kain dan kulit baju tersebut.


Namun lain halnya dengan lawannya. Perempuan berpedang cambuk itu tidak memiliki pelindung yang layak. Yang menyebabkan ia rentan akan serangan ke bagian vital.


Dan itulah yang dilakukan oleh Helen. Ia terus berusaha mendekat dengan menyerang bagian vital lawannya. Seperti perut, dada, leher, kepala, kaki. Hingga membuat kualahan perempuan berpedang cambuk itu.


"Apakah itu pakaian sihir marga Vaelum? Bagaimana kau bisa bertahan dari racun pedang ini?" ucap perempuan berpedang cambuk saat ia berhasil mengambil langkah mundur menjauh dari Helen.


Namun Helen tidak menanggapi ucapan perempuan tersebut, dan terus bergerak maju menyerang.


"Beraninya kau mengabaikan Versica yang agung ini! Kau akan kubuat menyesal!" teriak perempuan yang mengaku sebagai Versica itu seraya menyambut serangan Helen dengan sabetan pedang cambuknya.


Dan setelah berhasil menghindar, akhirnya Helen mendapat celah, dan segera menusukan pedang kristalnya menembus pundak kiri Versica. Yang kemudian membuatnya berteriak dengan kencang.


\=\=\=

__ADS_1


Sementara Vossler yang berhadapan dengan pria bertameng itu, masih belum bisa menembus pertahannya yang kokoh.


Meski pria itu tidak banyak bergerak, namun tetap serangan yang Vossler lakukan tidak berdampak apapun.


"Percumah saja kalian melakukan segala macam siasat. Kami para Juara tidak akan bisa dikalahkan oleh orang seperti kalian" terdengar suara dari balik helm pria bertameng itu.


Vossler tidak menanggapi ucapan lawannya. Ia sedang mencari cara untuk mengalahkan pria bertameng dan berpelindung sihir ini, saat sudut pandangnya tiba-tiba menangkap sosok Nata di depan ruang generator bersama dengan Lily.


Nata terlihat seperti sedang memberikan tanda kepada Vossler. Tangan Nata tampak menunjuk-nunjuk kearah gerbang selatan yang sekarang penuh dengan barang-barang logam menempel disana.


Dan setelah beberapa waktu, Vossler mulai menyadari bahwa yang dimaksud Nata adalah mendorong pria bertameng itu mendekat kearah gerbang selatan.


Kemudian tanpa menunggu lagi, segera Vossler menghantamkan pedang kristalnya kearah tameng lawannya tersebut. Dan kemudian dengan bantuan sihir anginnya, ia mencoba mendorong mundur pria tersebut. Mencoba mendekatkannya kearah gerbang selatan.


"Kenapa? Apa kau sudah merasa frustasi dan ingin mendorongku keluar dengan begitu saja?" cemooh si pria bertameng itu.


Vossler masih tidak menjawab. Ia terus mendorong lawannya itu kearah gerbang selatan. Dan anehnya, semakin mendekat dengan gerbang tersebut, semakin mudah pria itu didorong. Seolah ada tenaga lain yang membantunya mendorong pria tersebut.


"Apa yang terjadi?" ucap pria bertameng itu mulai panik, saat ia merasakan ada kekuatan yang besar mencoba untuk menariknya kebelakang.


Dan begitu tepat pada posisi sangat dekat dari gerbang selatan, gerakan pria itu benar-benar telah berhenti. Pria itu seolah hanya tinggal menunggu satu dorongan kecil untuk kemudian ikut menempel di dinding gerbang bersama dengan peralatan logam lainnya.


\=\=\=


Sementara Jean menghadapi pemuda dengan pedang yang bilahnya bersinar merah terang.


Tampak pemuda berpedang itu cepat tanggap. Dengan segera ia melepas semua plat besi dari tubuhnya. Kemudian menggenggam pedangnya dengan kedua tangan agar lebih kuat.


Bilah pedangnya semakin menyala merah membara. Dan hawa panas mulai keluar dari pedang tersebut.


Namun dengan pelindung dari kulit Antelop Cinder yang tahan terhadap api dan hawa panas, ditambah sihir penguatnya, membuat dampak sihir dari pedang tersebut tidak terlalu besar untuk Jean.


Dan kini yang menentukan pertarungan ini hanya keahlian bertempur masing-masing dari mereka.


Setelah dua-tiga serangan, terlihat pemuda itu mulai tersudut. Tampak pemuda itu tidak memiliki lebih banyak pengalaman bertempur dibandingkan dengan Jean.


"Berani-beraninya, orang berkemampuan sepertimu meremehkan kami" ujar Jean yang tampak antara jengkel dan kecewa.

__ADS_1


"Itu karena kalian menggunakan siasat licik" jawab pemuda tersebut.


"Kau pikir dua pedang mistik bukan siasat yang licik juga?" Balas Jean, yang tiba-tiba terdengar suara teriakan dari sisi sebelah barat. Tempat dimana Helen sedang bertarung.


"Sica!" Teriak pemuda itu saat melihat teman perempuannya tertusuk pedang lawan.


"Lawan mu ada disini" saut Jean yang segera melancarkan serangan kearah pemuda yang tampak lengah itu.


Jean berhasil melucuti senjata pemuda tersebut. Dan begitu terlepas dari genggaman, pedang itu segera meluncur menuju kearah gerbang selatan.


Dan dalam lajunya, pedang itu menghantam pria bertameng yang menjadi lawan Vossler. Yang membuat pria berzirah lengkap itu ikut terseret mundur dan kemudian menempel pada sisi pilar besi gerbang selatan. Sedangkan Jean berhasil memukul jatuh pemuda yang menjadi lawannya.


\=\=\=


Sementara pertarungan Caspian melawan pria bersarung tangan cakar itu juga tampak sama dasyatnya dengan pertarungan Helen melawan perempuan berpedang cambuk tadi.


Karena tiap sabetan dari cakar pria tersebut, mengeluarkan sebuah pisau angin yang berbalut api merobek dan membakar semua hal dalam lajunya. Membuat para prajurit tidak ingin tetap berada disekitar pria tersebut saat ia sedang bertarung.


Sementara pisau angin api yang tidak mungkin di tangkis oleh pedang kristal itu, hanya meninggalkan goresan saja pada baju pelindung Caspian, saat menghantamnya.


Namun tampaknya, pria bersarung tangan cakar itu memiliki kemampuan bertarung yang lebih tinggi dari ketiga Juara yang lainnya. Hingga Caspian tampak sengit melawannya.


"Kau bertarung dengan sengit melawanku. Siapa namamu?" Pria bersarung tangan cakar itu bertanya. Saat mereka berdua sedang mengatur nafas diantara jedah pertempuran mereka.


"Caspian. Caspian Ortega" jawab Caspian dengan cepat. Nafasnya juga tampak terengah-engah.


"Aku Urgula Leonidas. Namamu akan selalu ku ingat sebagai lawan yang tangguh" ujar pria bernama Urgula itu kemudian.


"Namamu juga akan diingat, bahkan oleh seluruh orang diwilayah ini. Sebagai seorang ksatria bodoh yang datang untuk menghantarkan nyawa" balas Caspian.


"Itu tidak akan terjadi bila tidak ada orang yang masih selamat untuk mengingatnya" saut Urgu dengan senyum yang terkesan sombong.


"Apa kau tidak melihat sekeliling mu sebelum mengeluarkan ucapan seperti itu? Lihat teman-temanmu. Kalian sudah kalah. Kalian sudah tidak memiliki kesempatan lagi" balas Caspian yang sudah mulai bersiap untuk melakukan ancang-ancang menyerang.


Sedang Urgu menatap teman-temannya dan tampak terkejut. Ia tidak menyangka teman-temannya berhasil dikalahkan oleh orang-orang yang tidak menggunakan senjata mistik. Bahkan seorang tampak terluka parah.


Namun di saat pria bersarung tangan cakar itu mulai berpikiri bahwa ia sudah kalah, lantai di atas dinding tebing tiba-tiba mencuat keatas. Yang menyebabkan beberapa prajurit dan senjata pelempar tonggak besi yang ada dinding tebing tersebut terlempar berhamburan ke udara.

__ADS_1


-


__ADS_2