Catatan Dinasti Seribu Tahun

Catatan Dinasti Seribu Tahun
04. Menemukan Celah


__ADS_3

"Bagaimana Aks? Kau sudah menemukannya?" Tanya Nata ke Aksa saat mereka sedang sarapan pagi bersama di hari berikutnya.


"Menemukan apa?" Tanya Cornelius yang terlihat baru memulai mengangkat garpu dan pisau di hadapannya.


"Celah aturan yang bisa kita gunakan untuk mendapatkan tanah Pharos dari kerajaan Elbrasta" jawab Nata kemudian.


"Mencari celah dalam aturan kerajaan?" Terdengar Orland tampak tak percaya.


"Ya, aku menemukan celah untuk membebaskan tanah Pharos." Jawab Aksa dengan acuh dan tetap sibuk dengan makanan diatas piring nya.


"Apa?!" Respon lebih tidak percaya dari Orland dan Cornelius yang hampir bersamaan.


"Di pasal 158 peraturan tentang kriteria tanah bermanfaat, ditulis bahwa yang tidak dapat diolah selama 5 tahun lebih akan di golongkan sebagai tanah mandul, pasal 159 berisi tentang tanah yang memiliki sarang binatang buas yang berbahaya dan tidak dapat ditumpas dalam waktu 5 tahun lebih akan digolongkan sebagai tanah liar.


Dan kesimpulannya ditulis di pasal ke 160 bahwa tanah yang digolongkan sebagai tanah mandul dan tanah liar, akan memiliki status sebagai tanah mati." Aksa menjedah untuk menyuapkan potongan telur kemulutnya.


"Kemudian pasal ke 87 peraturan tentang kepemilikan tanah menuliskan bahwa tanah yang berstatus sebagai tanah mati, harus selalu dalam kepemilikan kerajaan dan tidak dapat di berikan kepemilikannya kepada siapapun." Tambanya dengan masih sibuk mengunyah.


"Terakhir peraturan tambahan menuliskan pelepasan suatu wilayah bisa dilakukan bila, A. Tanah itu membawa masalah berbahaya kepada seluruh wilayah kerajaan dan tidak dapat diatasi. Dan B, bila tanah memiliki status hak khusus yang belum tertera pada peraturan di dalam kitab ini." Tutupnya kemudian.


"Jadi?" Kali ini terdengar Lucia yang tak sabar bertanya.


"Jadi pada dasarnya wilayah Pharos digolongkan sebagai tanah mati. Berarti tidak boleh diberikan kepada siapapun. Maka dari itu bila memang kerajaan akan menghadiahkan tanah itu kepada tuan putri, itu berarti kerajaan akan membuat pengecualian tentang hal ini.


"Dan setelah proses kepemilikan tanah itu selesai berarti tanah itu akan memiliki status hak khusus yang belum pernah ada selama ini." Jelas Aksa kemudian.


Setelah meneguk air dalam gelas, dia kembali melanjutkan. "Memang ada peraturan yang menuliskan penganugrahan sebuah tanah atau wilayah sebagai penghadiahan atau kompensasi suatu hal. Tapi berdasar dari peraturan, mereka hanya bisa menghadiahi tanah atau wilayah yang bukan tanah mati." Tutup Aksa seraya meletakan pisau dan garpu keatas meja.


"Jadi setelah tanah itu menjadi hak tuan putri, berarti secara sah tuan putri bisa meminta kerajaan untuk melepas tanah tersebut dari status daerah otoritas kerajaan?" Kali ini Nata yang bertanya. Yang hanya di jawab dengan anggukan kecil dan senyum sombong dari Aksa.


"Bagaimana bisa?" Terdengar suara Orland tercekat.

__ADS_1


"Kerajaan tidak perlu memerdekakan tanah tersebut, disamping karenan memang tidak ada kota yang berdiri ditanah itu, sekarang ini. Langkah awal kita hanya perlu melepaskan kemilikan tanah itu dari kerajaan, menjadi tanah bebas. Atau bukan wilayah kerajaan lagi." Ucar Aksa yang kali ini mulai mengambil lebaran daging yang disajikan di piring ditengah meja makan.


"Dan bila mereka bersikeras itu bukan daerah dengan hak khusus yang belum pernah ada, maka minta mereka buka halaman ke 282 dari kitab tersebut. Disitu ditulis semua hak-hak istimewa yang berlaku. Hanya ada 40 hak istimewa, jadi tidak banyak untuk dibaca ulang" jawab Aksa kemudian.


"Bagaimana bisa kau tahu semua hal itu?" Orland kembali bertanya tak percaya.


Sementara Cornelius hanya terdiam menatap Aksa, kemudian Lucia, lalu ke wajah ayahnya yang terlihat kaget secara bergantian.


"Itu karena saya membaca kitab yang tuan pinjamkan kemarin" jawab Aksa ringan.


"Kitab itu punya 600 halaman lebih. Dan kau baru memegangnya tengah hari kemarin. Bagaimana mungkin?" Ujar Orland masih tak percaya.


"Itu karena saya adalah utusan dewa" jawab Aksa dengan ringan.


"Apa kau tidak waras?" Sela Cornelius mendengar jawaban Aksa.


"Siapa sebenarnya mereka Luc?" Kali ini Orland yang bertanya.


"Maafkan saya tuan Cornelius. Tapi mungkin memang salah saya tidak memperkenalkan terlebih dahulu, yang membuat tuan Cornelius dan tuan Orland kuatir" jawab Jean.


"Bukan Jean yang salah. Maafkan saya belum memperkenalkan mereka dengan benar pada kalian" ucap Lucia kemudian mengambil alih. "Jadi dua pemuda ini adalah Aksa dan Nata. Kami bertemu dengan mereka saat melintasi tahan Pharos. Mungkin kalian tidak akan percaya tapi mereka tidak berasal dari dunia ini" jelas Lucia dengan mental siap untuk di sanggah oleh paman dan sepupunya setelah penjelasan tidak masuk akalnya itu.


"Apa maksudmu dengan tidak berasal dari dunia ini?"


"Mereka jatuh dari langit saat pertama kami bertemu. Dan setelah mereka sudah mulai mengerti bahasa kita, mereka menceritakan bagaimana mereka bisa sampai ke dunia ini"


"Cerita macam apa itu?" Tanya Orland seraya menatap kearah Lucia kemudian berpindah ke Jean seolah meminta penjelasan. Yang kemudian hanya di jawab dengan anggukan kecil oleh Jean.


"Dan apa dengan cerita dan trik murahan seperti itu kau langsung percaya bahwa mereka dari dunia lain. Tidak memerlukan sihir yang rumit untuk membuat seseorang terlihat seolah jatuh dari langit" kali ini Cornelius yang berucap.


"Itu karena beliau berdua yang meyakinkan ku. Perkenalkan beliau adalah Lily dan Val, beliau berdua diutus oleh sang Oracle dan bersumpah setia pada kedua pemuda ini"

__ADS_1


Terlihat Lily sedikit membungkukan tubuhnya. Kemudian Val juga mengikuti apa yang dilakukan Lily.


"Sumpah setia? Elf dan Yllgarian terhadap manusia?" Cornelius terdengar terkejut.


"Utusan sang Oracle?" Kali ini Orland yang terdengar tak percaya mendengar kata Oracle disebut.


"Oh ya satu lagi, beliau adalah pahlawan legenda sang Kilat Putih" Lucia menambahkan menunjuk ke arah Lily.


"Sang Kilat Putih?!" Terdengar Cornelius dan Orland berteriak lebih tak percaya. Bahkan Cornelius nyaris melompat dari kursinya.


"Benarkah itu, Kau jangan bercanda seperti ini Luc?" Orland tampak memastikan.


"Sekarang saya adalah Yllgarian bernama Lily. Hanya itu. Saya harap tuan Cornelius dan tuan Orland tidak lagi membicarakan hal ini dikemudian hari" jawab Lily kemudian.


"Maafkan kelakuan saya yang tidak sopan sebelumnya" Ucap Orland kemudia setelah memastikan dari mimik muka Lucia bahwa gadis itu tidak sedang bercanda.


"Tidak apa-apa. Saya malah mengharapkan tuan-tuan memperlakukan saya sebagai Yllgarian seperti umumnya"


"Bagaimana mungkin bisa" bisik Aksa.


"Dan mereka bertiga?" Cornelius mencoba merubah topik pembicaraan.


"Mereka adalah para pemburu dari desa Tirgis" jawab Lucia.


Dan trio pemburu itu mengenalkan diri masing-masing dengan sopan.


"Mereka para pemburu yang melakukan perjalanan bersama Aksa dan Nata" tambahan dari Lucia kemudian.


"Mereka orang biasa kok, bukan legenda perang" celetuk Aksa yang melihat gelagat Cornelius yang bersikap hati-hati.


Suasana menjadi hening beberapa waktu setelahnya. Yang terdengar hanya dentingan garpu dan pisau Aksa dan Nata.

__ADS_1


-


__ADS_2