
Sementara, Nata sekarang sudah tiba di gedung pertemuan untuk membahas hal-hal mengenai perdagangan, kependudukkan, dan sarana prasarana, bersama Orland, Dirk, dan Madron.
Hadir juga ditempat tersebut, Cornelius dan Constine. Yang akan sekaligus membicarakan mengenai perkembangan keadaan kerajaan Elbrasta.
"Sekarang generator listrik sudah selesai dibangun di semua kota dan desa. Bahkan di pesisir timur pun juga sudah selesai dibuat" Madron berucap memulai laporannya.
"Bagus sekali. Setelah ini kita tinggal membangun menara jaga di berbagai tempat di wilayah ini" Nata berucap. "Nanti akan saya berikan rincian jarak antar menaranya" tambahnya kemudian.
"Untuk apa kita membangun menara jaga di wilayah dalam, tuan Aksa?" Orland terlihat bingung. "Lebih dari satu pula. Bukannya menara jaga hanya dibangun di pinggiran-pinggiran wilayah guna untuk mengamati keberadaan lawan diluar tembok benteng" lanjutnya lagi.
"Benar, tuan Orland. Memang seperti itu guna menara jaga pada umumnya. Tapi kita tidak benar-benar akan membangun sebuah menara untuk berjaga dari lawan diluar benteng" Nata mencoba untuk menjelaskan. "Pada dasarnya kita hanya memerlukan alat, atau jalur, atau jaringan, untuk berkomunikasi" tambanya kemudian.
"Berkomunikasi?" Hampir semua orang yang ada di ruangan tersebut tampak tidak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Nata.
"Benar. Nantinya setiap menara jaga tersebut akan dilengkapi dengan lonceng, dan lampu sorot yang memiliki jangkauan sampai ke menara jaga yang lain" penjelasan Nata berlanjut.
"Apa yang anda maksud bahwa nantinya para penjaga itu akan berkomunikasi dengan lampu dan lonceng?" Madron yang kali ini bertanya.
"Ya kurang lebih seperti itu, tuan Madron" Nata menjawab. "Nantinya setiap penjaga akan diajarkan sebuah cara untuk berkomunikasi menggunakan lampu sorot tersebut kepada penjaga di menara jaga yang lain. Dengan begitu kabar akan cepat sampai ke pusat atau sebaliknya" jelasnya kemudian.
Yang lain terlihat serius menyimak.
"Dan bila suatu saat terjadi hal di wilayah-wilayah di tanah ini, maka pusat atau mungkin wilayah terdekatnya akan dapat bertindak dengan lebih cepat" lanjut Nata kemudian.
"Oh, saya sudah sedikit paham" Orland menjawab.
"Dan setelah itu kita akan mulai membangun menara jaga disepanjang jalur menuju kota Varun juga menuju kota Dios di wilayah Ceodore. Dan juga mulai membangun generator listriknya" Nata melanjutkan. "Karena status kita dengan kerajaan Urbar itu belum resmi genjatan senjata atau mengadakan persetujuan semacamnya. Jadi kita harus tetap waspada" tambahnya.
__ADS_1
"Sekarang beberapa pekerja kita sudah mulai membangun jalan, mulai dari kota Varun hingga ke kota Dion" Madron berucap. "Nyonya Amithy dan tuan Mateus yang mengurusinya" lanjutnya kemudian.
"Baguslah kalau memang begitu" Nata menjawab. "Rencananya nanti untuk alat angkut keluar wilayah Pharos, kita akan membuat kendaraan baru lagi yang lebih kuat dan sekaligus mempermudah para pekerja dalam membangun. Dan kita akan menggunakan sumber tenaga yang baru juga" jelasnya kemudian.
"Sumber tenaga baru?" Madron bertanya.
"Maksud saya tenaga penggeraknya. Sebelum ini kita menggunakan kayu dan air, kan? Nah, kedepannya itu semua akan diganti. Disamping akan jadi masalah bila kita menggunakan terlalu banyak kayu untuk peralatan yang juga semakin bertambah itu. Juga dalam segi kepraktis guna, bentuk dari tungku lokomotif itu terlalu besar" Nata menjelaskan panjang lebar.
"Dan apa penggantinya, tuan Nata?" Kali ini Orland yang terlihat penasaran.
"Nanti anda sekalian akan dijelaskan oleh Aksa. Dia sedang mengurusnya bersama tuan Selene" jawab Nata kemudian. "Lalu kita juga harus bersiap untuk membuat jalur melewati tanah bebas Azure menuju ke tempat atau kerajaan di balik wilayah kerajaan Urbar. Untuk menembus perdagangan wilayah selatan dimasa-masa sekarang ini" ucapnya menambahi.
"Saya setuju. Untuk perdagangan sekarang ini, kita masih mengandalkan wilayah daratan utara. Tapi sepertinya dengan adanya pergolakan di beberapa wilayah di kerajaan Elbrasta, membuat beberapa jalur perdagangan kita juga terganggu" Dirk mengambil alih pembicaraan dalam pertemuan tersebut.
"Ya, tak bisa dihindari. Kita juga harus mulai membuat jalur lain ke wilayah Estrinx dan juga Cilum melalui jalur Laut" Nata menjawab. "Dengan galangan kapal di kota Barat yang sudah mulai berkembang, saya rasa sudah saatnya juga kita membuka jalur laut. Lagi pula, sekarang kota Xin berada dalam kekuasaan wilayah ini" tambahnya kemudian.
"Oya, ngomong-ngomong tentang kota Xin. Apa kita juga perlu membentuk pasar diluar wilayah ini?" Dirk bertanya lagi.
"Apa maksud anda kita perlu membuat seperti kota Tengah ini di tempat lain agar penduduk tidak berkumpul semua di kota ini? Seperti yang terjadi dikotaraja?" Dirk bertanya.
"Ya, kurang lebih seperti itu. Kepadatan penduduk yang tidak mereta itu akan menyebabkan masalah dalam berbagai aspek. Mau secara kebudayaan, perekonomian, lingkungan, dan bahkan politik" Nata menjelaskan. "Dapat menimbulkan kurangnya lapangan pekerjaan, yang berdampak pada tingkat kejahatan. Menimbulkan masalah kebersihan yang akan berdampak pada kesehatan. Dan kemudian berujung pada ketidak puasan rakyat yang membuatnya mudah untuk dimanfaatkan oleh pihak lain" jelasnya panjang lebar.
Semua orang terlihat baru menyadari masalah yang disebutkan Nata tersebut.
"Berarti kita akan mulai membuat pasar di kota Xin?" Orland yang kali ini bertanya.
"Untuk saat ini, tuan Orland. Mungkin di kota Meso atau kota-kota di sekitaran wilayah tersebut. Tapi bukan hanya pasar saja yang akan kita bangun nantinya" jawab Nata kemudian.
__ADS_1
Semua orang terlihat mengangguk paham.
"Masih menyangkut tentang kependudukan. Akhir-akhir ini jumlah pengungsi dari wilayah Elbrasta mulai meningkat. Bahkan ada beberapa bangsawan kelas bawah yang datang untuk meminta tempat perlindungan" giliran Cornelius berucap. "Meski kita hanya akan menerima mereka yang memenuhi syarat saja, tapi saya mulai kuatir bila begini terus kita akan mendapat masalah baru dengan orang-orang dari utara" tambahnya.
"Hal tersebut memang sulit untuk dihindari, tuan Cornelius. Kita sudah membuat syarat yang paling tidak menguntungkan untuk para bangsawan, agar hanya rakyat biasa sajalah yang mau bergabung dengan kita" Nata menjedah ucapannya. "Tapi bila memang ada beberapa bangsawan yang tetap ingin ikut, berarti itu keputusan mereka. Kita tidak bisa melakukan apapun kecuali menerima mereka bila memang memenuhi syarat" lanjutnya kemudian.
"Apa kita tidak bisa membatasinya untuk bangsawan tertentu saja?" Cornelius mengajukan pendapatnya.
"Anda mau kena omel putri Lucia?" Saut Nata cepat.
Semua orang terlihat ingin tertawa, tapi merasa bukan saat yang tepat untuk melakukan hal tersebut. Alhasil mereka hanya tersenyum tertahan saja menanggapi ucapan Nata tersebut.
"Saya mengerti keresahan anda, tuan Cornelius. Karena bisa saja semua hal tersebut digunakan oleh pihak-pihak tertentu untuk balik menyerang kita" ucap Nata kemudian. "Mungkin kita bisa rubah beberapa syarat dan aturan khusus untuk para bangsawan yang ingin bergabung nantinya" lanjutnya.
"Apa itu berlaku untuk bangsawan-bangsawan dari selatan, juga?" Kali ini Orland yang bertanya.
"Untuk daratan selatan, setelah ini kita akan membuat aturan untuk wilayah-wilayah yang baru kita kuasai. Kita akan tunggu putri Lucia untuk itu" Nata menjawab. "Tapi secara garis besarnya, kita bisa mengundang para bangsawan selatan itu untuk ikut bergabung dengan kita, atau pergi meninggalkan wilayah tersebut" imbuhnya lagi.
Orland hanya mengangguk dalam diam. Tanda bahwa ia sudah mengerti.
"Lalu mengenai rencana anda meninggalkan wilayah ini. Apa anda serius akan melakukannya?" Dirk akhirnya menanyakan pertanyaan yang sedari tadi ingin ditanyakan oleh yang lain.
"Recana itu kami buat sudah dengan banyak pertimbangan. Mungkin itu adalah cara terbaik untuk kita semua" Nata menjawab.
"Anda saja Lucia mau berpikiran sedikit dewasa" Orland terdengar sediki jengkel.
"Kita tidak perlu menyalahkan siapapun, tuan Orland. Lagi pula kami masih di dunia ini. Belum akan kembali ke dunia kami sendiri" jawab Nata dengan sedikit bercanda agar tidak menambah tegang suasana.
__ADS_1
Terlihat yang lain tersenyum kecut menanggapi ucapan Nata tersebut.
-